Mencari Konsep Nasionalisme Untuk Indonesia Masa kini

Posted by Admin on Sunday, 2 April 2000 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

NASIONALISME MASIH RELEVAN

Dewasa ini ada sementara kalangan yang menganggap bahwa nasionalisme tidak relevan lagi. Mereka mengatakan bahwa sebagai akibat kemajuan teknologi, khususnya dalam komunikasi dan angkutan, dunia dan umat manusia sudah menjadi satu. Karena itu, kata mereka, batas antara negara sudah tidak penting dan pengertian negarabangsa (nationstate) sudah kabur. Itu sebabnya, menurut mereka nasionalisme tidak relevan lagi.

Memang merupakan kenyataan bahwa dewasa ini interrelasi antara bagian-bagian dunia makin erat. Satu kejadian di tempat tertentu di dunia yang tadinya hanya berpengaruih kepada lingkungannya yang langsung, sekarang menimbulkan dampak ke seluruh dunia. Informasi yang dibawa oleh gelombang listrik bergerak dengan kecepatan 300.000km per detik melintasi ruang angkasa. Dengan perantaraan radio, televisi dan alat komunikasi listrik lainnya informasi itu masuk ke setiap rumah tangga tanpa dapat dibendung. Telah terjadi globalisasi.

Kenyataan ini mengharuskan semua pihak, baik itu perorangan maupun bangsa, untuk senantiasa memperhatikan hubungan dan komunikasi satu sama lain. Untuk kebaikan masing-masing harus diusahakan kerjasama. Memang itu merupakan kenyataan, akan tetapi juga ada kenyataan lain. Itu adalah bahwa tetap saja ada pihak atau bangsa yang mau lebih berkuasa dan mendominasi orang dan bangsa lain. Mungkin sekali dengan canggih dikemukakan dalih untuk usaha dominasi itu. Akan tetapi dalam kenyataan yang terwujud adalah tetap kekuasaan atau dominasi dari satu bangsa terhadap yang lain.

Contoh paling jelas adalah negara besar yang berambisi kuat mendominasi dunia dan bertindak sebagai polisinya. Dengan politik luar negeri yang menonjolkan hak azasi manusia, perdagangan bebas dan demokrasi, negara itu menganjurkan semua bangsa di dunia untuk mengikuti jejaknya dan menganut pandangan hidupnya yang dikemukakan sebagai nilai-nilai universal. Kalau ada bangsa tidak memenuhi kehendaknya maka negara itu menggunakan kekuatan ekonominya untuk memaksa bangsa itu menurut. Apalagi kalau ada bangsa lain mempunyai kelemahan dalam memperlakukan warganegaranya. Dengan alasan bahwa pelanggaran terhadap hak azasi manusia tidak boleh ditutupi dengan alasan kedaulatan negara, maka dengan lihay negara itu dapat melakukan intervensi. Secara licin pula diciptakan opini dunia bahwa memang dalam masa kini tidak ada lagi kedaulatan negara yang mutlak seperti masa lalu. Yang menjadi lebih utama adalah bahwa semua orang atau warga negara memperoleh kebebasan untuk menjalankan hidup demokrasi dan diperlakukan sesuai dengan hak azasi manusia. Dengan dalih itu dominasi dan kekuasaan negara besar itu atas dunia makin menjadi kenyataan dan seakan-akan dibenarkan. Karena kekuasaan itu dilandasi nilai-nilai yang belum tentu sama dengan yang dianut bangsa lain, maka yang terwujud adalah dominasi atas bangsa lain.

Melihat kenyataan ini maka nasionalisme masih tetap relevan bersama-sama dengan keharusan untuk selalu memperhatikan kerjasama internasional.

NASIONALISME YANG KITA PERLUKAN

Karena kita sebagai bangsa merdeka tidak sudi didominasi oleh bangsa lain setelah mengalami penjajahan selama 300 tahun, maka kita memerlukan nasionalisme yang menimbulkan daya juang bagi seluruh bangsa untuk menolak dominasi itu.

Bangsa yang ingin mendominasi kita menggunakan dalih HAM, demokrasi dan perdagangan bebas yang menyejahterakan rakyat banyak. Itu semua adalah semboyan yang amat menarik bagi rakyat pada umumnya dan khususnya para pemuda. Memang semua orang ingin diperlakukan secara manusiawi, dapat berperanserta dalam menentukan jalannya pemerintahan negaranya dan hidup sejahtera lahir dan batin. Sebab itu kaum muda, terutama yang terpelajar, mudah tersilau oleh ajakan bangsa itu. Akan tetapi dalam kenyataan bangsa yang mengikuti kehendaknya jauh dari pasti dapat mencapai keadaan yang bagus itu. Contoh paling baru adalah perkembangan Amerika Latin. Sejak akhir tahun 1980-an negara-negara Amerika Latin, kecuali Cuba, dipuji-puji oleh dunia Barat pada umumnya mengenai usahanya membangun demokrasi, ekonomi liberal dan penegakan HAM. Amerika Serikat dan dunia Barat memberikan bantuan yang besar, termasuk dalam ekonomi melalui IMF dan Bank Dunia. Akan tetapi pada tahun 2000 terbukti bahwa usaha itu menemui kegagalan di hampir semua negara Amerika Latin, termasuk di Argentina dan Mexiko yang dipimpin oleh orang-orang yang dijagokan oleh AS. Sebagaimana dilaporkan oleh Anthony Faiola (Washington Post, 13 Maret 2000) korupsi dan salah urus makin merajalela sehingga rakyat yang justru menjadi korban. Akibatnya adalah bahwa timbul kekurangpercayaan rakyat terhadap proses demokrasi dan para pemimpinnya. Dalam penggantian kepemimpinan itu ada kecenderungan bahwa rakyat tidak menolak pemimpin otoriter asalkan dapat mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi mereka. Dengan begitu justru demokrasi menghadapi bahaya.

Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita yang makin memperkuat perlunya nasionalisme. Dan nasionalisme yang kita perlukan itu harus berorientasi peda kepentingan rakyat banyak. Sebab itu nasionalisme harus sama kuat mengarah ke luar maupun ke dalam. Karena nasionalisme harus menimbulkan daya juang rakyat, maka kondisi negara dan bangsa harus sesuai dengan keinginan rakyat. Tanpa itu rakyat tidak akan bergairah untuk menghadapi pihak lain yang hendak mendominasinya.

Kita harus dapat mewujudkan di negara kita bahwa rakyat dapat menjalankan kedaulatannya melalui satu sistem demokrasi yang kita setujui bersama. Kita harus membuktikan bahwa hukum berkuasa dan setiap pelanggaran mendapat ganjaran yang setimpal. Terutama harus dirasakan oleh rakyat bahwa semua orang diperlakukan secara manusiawi tanpa memandang golongan dan daerah asal, gender, agama atau ras. Kesejahteraan rakyat harus terus ditingkatkan. Meskipun mungkin belum sekali gus dapat mencapai tingkat yang sama dengan bangsa tetangga, namun rakyat harus merasakan bahwa ada usaha yang nyata dan terarah untuk meningkatkan kesejahteraannya. Setiap daerah di Indonesia memperoleh otonomi untuk mengurus dirinya sendiri. Ini tidak terbatas pada Kabupaten atau Daerah tk 2, tetapi juga Provinsi atau Daerah Tk 1. Dengan begitu setiap daerah merasa diperlakukan secara adil dan akan lebih tertarik untuk tetap berada sebagai bagian dari Republik Indonesia. Di masa kini dan masa depan adalah lebih menguntungkan menjadi bagian dari satu kesatuan politik yang besar. Perlu disadari pula bahwa kalau ada daerah memisahkan diri dari RI maka sebagai satu negara kecil ia lebih mudah menjadi sasaran dominasi bangsa lain. Sebagai negara yang relatif besar Indonesia akan lebih mampu menghadapi usaha dominasi pihak lain.

Dengan kondisi dalam negeri yang memberikan kepuasan kepada rakyat banyak sebagai modal, kita menghadapi dunia internasional. Nasionalisme masa kini dilandasi kerjasama antar bangsa untuk kepentingan bersama dengan saling menghargai dan menghormati. Untuk itu Indonesia harus sanggup menghasilkan prestasi dalam segala bidang yang tidak kalah dari bangsa lain khususnya tetangganya. Setiap warganegara Indonesia selalu berusaha menghasilkan yang terbaik sehingga meningkatkan hargadiri bangsa dan membuat pihak lain menghargai Indonesia. Hanya dengan begitu tercipta kemitraan atau partnership yang seimbang antara Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Atas dasar itu Indonesia senantiasa bersikap bersahabat terhadap semua bangsa di dunia. Juga terhadap bangsa yang dicurigai mempunyai ambisi buruk terhadap Indonesia. Hal ini selain menjadi konsekuensi kondisi umat manusia dewasa ini juga dilandasi keyakinan bahwa nasionalisme kita harus menunjukkan moralitas tinggi. Umat manusia sekarang adalah umat manusia yang makin menyadari pentingnya spiritualitas dan moralitas. Bahkan faktor ini yang merupakan pendorong bagi perjuangan nasionalisme kita

ALASAN SIKAP NASIONALISME BARU

Dalam Abad ke 20 telah terjadi banyak penemuan baru yang membuka pikiran manusia terhadap kebenaran yang lebih unggul. Satu penemuan yang amat penting adalah yang terjadi dalam Ilmu Fisika. Mula-mula adalah Einstein yang menemukan bahwa ruang dan waktu bukanlah absolut tetapi relatif dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Penemuan ini sudah mulai menggoyahkan pendapat lama yang dihasilkan Isaac Newton dan Rene Descartes yang menyatakan bahwa segala sesuatu di alam ini adalah pasti. Pada 25 tahun kemudian para pakar Fisika, antara lain Niels Bohr dan Heisenberg, membuat penemuan yang amat penting tentang kenyataan alam di dalam atom atau subatom. Inilah yang membuahkan Fisika Quantum dan Teori Quantum yang amat revolusioner dilihat dari keadaan sebelumnya.

Dalam Fisika Newton dan Descartes serta Galileo Galilei yang berlaku sejak Abad ke 16, dianggap bahwa atom itu satuan yang utuh-solid tidak terbagi-bagi. Dan satuan ini yang menentukan bagaimana keseluruhan berkembang. Filsafah yang dikembangkan Descartes atas dasar penemuan fisika itu menimbulkan pandangan dan sikap hidup yang mekanistik dan deterministik. Dunia dan manusia disamakan dengan mesin yang dapat direduksi hingga bagian kecil. Segala sesuatu bersifat lineair dan seakan-akan semua dapat diprediksi asalkan faktor-faktor terpenuhi. Tidak mustahil bahwa filsafah itu berpengaruh kepada John Locke dalam membangun pandangan sosialnya. Itulah yang menghasilkan pandangan individualisme dan materialisme yang berkembang luas di dunia Barat dalam abad ke 16 dan seterusnya. Memang sikap dan pandangan hdiup itu telah membawa kemajuan besar kepada peradaban Barat berupa perkembangan materiil, khususnya ekonomi dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bersama itu juga berkembang politik dan kekuatan militer. Tetapi di pihak lain juga berkembang sikap untuk dominasi dan supremasi terhadap pihak lain. Bahkan manusia diajar untuk menguasai Alam dan menggunakannya seluas-luasnya. Terjadilah kapitalisme dan imperialisme yang di dalam dunia Barat sendiri menimbulkan kesengsaraan kaum buruh dan petani, sedangkan di luar dunia Barat mengakibatkan penderitaan dan pemusnahan rakyat dalam kungkungan kolonialisme. Timbullah sosialisme dan komunisme sebagai reaksi dan perlawanan kaum buruh di dunia Barat terhadap kapitalisme. Maka dapat dikatakan bahwa sosialisme dan komunisme bersumber dari sikap dan pandangan yang sama dengan kapitalisme, yaitu sikap dan pandangan hidup yang mekanistik-deterministik dan materialistik. Di satu pihak memang dunia makin maju dilihat dari sudut materie, tetapi dilihat dari sudut lain juga makin rusak dan sengsara karena manusia dan alam dieksploitasi tanpa batas. Inilah sumber berbagai krisis yang terjadi dalam Abad ke 20, termasuk di dunia Barat sendiri.

Namun kemudian Ilmu Fisika berkembang terus. Terjadi penemuan Fisika Quantum yang membuktikan bahwa atom bukan sesuatu yang utuh dan keras. Ternyata dalam atom ada ruang yang luas dan di dalamnya banyak partikel yang dinamakan electron bergerak mengitari nucleus atau inti. Dalam nucleus terdapat partikel proton dan neutron. Partikel-partikel itu semua tidak ada yang utuh atau solid, melainkan mempunyai dua wujud tergantung bagaimana kita melihatnya. Dapat berwujud partikel tetapi juga berwujud gelombang. Yang paling penting dalam penemuan baru adalah bahwa partikel atau gelombang itu hanya mempunyai makna dalam interelasi yang terjadi antara partikel. Sebagai dirinya sendiri masing-masing partikel tidak mempunyai makna. Kesimpulannya adalah bahwa partkel subatom bukan “sesuatu”, melainkan keterikatan antara “sesuatu”.Karena manusia dan semua yang terdapat dalam alam sekitarnya, termasuk benda yang tercipta, terwujud dari atom-atom yang membentuk molekul dan lebih besar, maka dapat dikatakan bahwa kehidupan pada dasarnya adalah keterikatan, interelasi dan hubungan antara satu bagian dengan yang lain. Berdasarkan itu dapat dikatakan bahwa Alam Semesta adalah satu, terdiri dari bagian-bagian yang terikat satu sama lain. Dan tidak ada yang bersifat absolut serta pasti, melainkan semuanya adalah relatif dan probabilistik.

Berdasarkan pandangan itu dominasi dan supremasi bukanlah hal yang merupakan kebenaran yang timbul dari Alam kita. Ajaran agar Manusia menguasai Alam bukan hal yang benar, sedang yang benar adalah bahwa Manusia hidup bersama Alam dalam keterikatan harmonis. Demikian pula dominasi oleh satu bagian umat manusia atas yang lain adalah bertentangan dengan kehendak alam. Sebab itu nasionalisme yang kita perlu kembangkan bukan pula nasionalisme yang berusaha mendominasi pihak lain. Nasionalisme yang kita perlukan adalah nasionalisme yang di satu pihak melawan supremasi dan dominasi, sedangkan di pihak lain adalah usaha untuk membawa keterikatan dan hubungan satu sama lain. Selama masih ada usaha untuk dominasi dan supremasi, nasionalisme diperlukan untuk menjaga agar kehidupan umat manusia selaras satu sama lain dan dengan Alam Semesta. Karena Alam Semesta adalah milik dan buatan Tuhan Yang Maha Esa, maka di sini terletak unsur spiritual nasionalisme yang kita perlukan. Sebab dalam segala kehidupan yang bersifat relatif dan tidak pasti itu hanya ada satu yang bersifat absolut dan pasti, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Maka kalau kita kembali kepada pertanyaan : Apa Nasionalisme Masa Kini ? jawabannya adalah : Nasionalisme kita adalah Keterikatan dan Interelasi antara bagian-bagian bangsa Indonesia yang terjadi secara dinamis untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis dalam Alam Semesta dan menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin yang hakiki. Dan kalau kita dalami lagi maka ini pula kehendak dari Dasar Negara Panca Sila.

RSS feed | Trackback URI

7 Comments »

Comment by harry
2013-12-18 16:58:39


ok …. lalu bgagaimana dengan kita apakah hanya bisa mencaci atau mencibir saja ,,,,,, apa anda memiliki konsep yg lebih bagus dan yakin akan semua masyarakat indonesia menjalankannya ….

 
Comment by Jungto Sinaga
2011-08-16 19:56:36


Saat ini Konsep Nasional yang ada Tidak Jelas, sehingga tidak tau mau jadi apa Negara dan Bangsa ini.
Sudah saatnya Konsep Nasional ini di jadikan Isu Nasional. Berhubung karena Konsep Nasional yang ada saat ini tidak jelas mari Kita buat Konsep Nasional yang Baru untuk Indonesia ini. Saya yakin ini akan menjawab semua persoalan bangsa saat ini.
Kalau boleh saya bertanya kepada Bapak Sayidiman kemana kira kira Konsep Nasional ini dibicarakan apakah kepada Bapak Presiden Langsung atau kepada yang lain. Terima kasih.

 
Comment by PRIHANDOYO KUSWANTO
2010-04-28 00:13:43


Ditengah pupus nya rasa Nasionalisme bangsa ini maka aktualisasi Pancasila sebagai jati diri harus mulai ditanamkan sejak usia dini bagi anak bangsa ini . kalau tidak karakter kebangsaan kita akan semakin pupus

 
Comment by Tita
2009-10-26 17:00:28


Benar Pak…,menyebarkan pemahaman kepada kaum muda memang pe-er besar. Tugas guru di sekolah dan orangtua di rumah untuk menyelipkan pesan moral setiap saat disertai tindakan nyata dari hal2 yang kecil. Namun begitu pemerintah juga harus mempunyai visi dan blue print kemana negara ini akan dibawa. Kita lihat China, meskipun penduduknya besar, namun mereka juga punya cadangan devisa yg besar. Begitu juga Malaysia yang kalau kita lihat penduduknya banyak menggunakan kendaraan produk dalam negerinya, Banglades yang dulu sangat terbelakang, perlahan bangkit. Kenapa kita sangat tergantung dengan produk luar negeri? Dulu generasi muda banyak menghabiskan waktu di gelanggang olah raga. Sekarang setiap minggu mal menjadi kiblat di akhir pekan. Jadi saya pikir perlu kesadaran dan tindakan nyata semua pihak sesuai dengan perannya. Terima kasih Pak.

2009-10-26 18:02:53


Sdr Tita,

Setuju banget dgn tanggapan Anda. Salam,

Sayidiman

 
 
Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-10-25 10:43:08


Sdr Tita,

Yang penting bagaimana menyebarkan pemahaman itu kepada kaum muda yang belum berpikiran demikian. Salam,

Sayidiman S

 
Comment by Tita
2009-10-24 16:20:24


Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pak Sayidiman. Nasionalisme adalah harga mutlak. Yang harus dilakukan adalah semua pihak menyadari dan melakukan berbagai upaya secara sinergis untuk meningkatkan kompetensi, harga diri, menjaga kekayaan alam dan melakukan kerjasama yang setara, saling menghargai dan saling menguntungkan antar bangsa lain tanpa ada intervensi satu sama lain.

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post