Renungan Seorang Pejuang Kemerdekaan

Posted by Admin on Monday, 13 August 2001 | Catatan

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Pada tanggal 17 Agustus 2001 ini bangsa Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaannya untuk ke-56. Umur enam tahun di atas setengah abad boleh digolongkan usia tua, meskipun dilihat dari sejarah manusia masih amat pendek. Namun pejuang kemerdekaan diliputi berbagai perasaan ketika melihat kondisi bangsanya dewasa ini.

Ketika kemerdekaan bangsa diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 para pemuda Indonesia yang tidak sudi lagi hidup dalam penjajahan dan ingin bangsanya mencapai kehidupan yang maju dan sejahtera, secara spontan dan penuh semangat mengabdikan diri untuk membela kemerdekaan yang baru direnggut. Banyak di antara mereka sama sekali tidak mempunyai minat menjadi tentara. Akan tetapi akal sehatnya berpikir bahwa penjajah tidak akan membiarkan Indonesia merdeka dan akan berbuat apa pun untuk kembali menegakkan kekuasaannya atas bumi Indonesia. Sebab itu perjuangan membela kemerdekaan pada tahap pertama akan terutama bersifat perjuangan fisik disertai penggunaan kekerasan untuk melawan dan menggagalkan usaha penjajah itu.

Akan tetapi para pemuda sadar bahwa membela kemerdekaan pada dasarnya adalah menciptakan negara dan bangsa yang maju, adil dan sejahtera Sebab itu ketika perjuangan fisik bersenjata serta diplomasi dapat memaksakan penjajah mengakui kedaulatan bangsa Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, semuanya bertekad untuk beralih menciptakan kemajuan, kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat semua. Pada tahun 1945 ketika perjuangan dimulai semua menerima bahwa kemerdekaan merupakan revolusi yang harus meruntuhkan semua bangun penjajahan serta nilai-nilainya yang dibawanya. Bahkan tata hukum dan berbagai peraturan harus ditolak dan dilanggar karena bersumber penjajahan. Maka setelah kemerdekaan tegak, tiba waktunya untuk membangun Rumah Indonesia dari puing-puing sisa penjajahan yang telah berhasil diruntuhkan dalam perjuangan kemerdekaan. Berbagai lembaga harus dibangun dan hukum harus kembali ditegakkan. Semua pemuda, terutama yang sudah mengetahui perkembangan bangsa lain, menghendaki agar Indonesia dapat mencapai keadaan yang sekurangnya setingkat dengan bangsa-bangsa yang lebih dulu merdeka. Apalagi disadari bahwa Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang sukar bandingannya di dunia.

Namun ketika merayakan ulang tahun kemerdekaan ke 10 pada tanggal 17 Agustus 1955 belum dapat dirasakan kemajuan yang berarti, sekalipun sudah lima tahun menempuh jalan untuk mengisi kemerdekaan. Malahan banyak kekecewaan timbul karena pemerintah terus saja silih berganti, sehingga kurang terasa adanya usaha terarah untuk mewujudkan kemajuan. Bahkan persatuan yang kuat mulai terasa timbul keretakannya.

Maka ada optimisme baru ketika Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia pada tanggal 5 Juli 1959 menetapkan berlakunya kembali UUD 1945. Banyak orang setuju bahwa sistem politik yang digunakan setelah tahun 1950, yaitu sistem liberal parlementer dengan partai politik yang besar jumlahnya, amat berpengaruh terhadap kemandekan perjuangan membangun bangsa. Dengan kembali ke UUD 1945 orang berharap bahwa perjuangan bangsa akan kembali memperoleh fokus yang mempersatukan bangsa serta membuatnya bergerak maju menciptakan kesejahteraan dan keadilan. Optimisme itu bertambah lagi ketika pada tahun 1960 Irian Jaya diakui secara resmi oleh dunia internasional menjadi bagian integral Republik Indonesia. Dengan begitu lengkaplah seluruh bekas Hindia Belanda berada dalam lingkup negara kesatuan Republik Indonesia.

Akan tetapi ketika pada tanggal 17 Agustus 1965 dirayakan ulang tahun kemerdekaan ke 20 segala optimisme itu sudah sirna di banyak kalangan pemuda Indonesia yang sejak 1945 memperjuangkan Panca Sila sebagai Dasar Negara. Ternyata Bung Karno sebagai Pencetus dan Penggali Panca Sila justru memperlakukannya secara menyedihkan. Tidak saja kesejahteraan rakyat diabaikan sehingga ekonomi makin kacau dan mundur dan rakyat bahkan sukar mencari makan dan pakaian. Persatuan Indonesia pun dikorbankan dengan memberikan Partai Komunis Indonesia peran yang menonjol untuk mendemonstrasikan perjuangan klasnya (class struggle) yang menimbulkan perpecahan mendalam di lingkungan bangsa. Dan kedaulatan rakyat atau demokrasi sudah dikubur sekalipun Bung Karno menamakan sistemnya Demokrasi Terpimpin. Moralitas bangsa makin mundur karena pengaruh PKI mendesak ke pinggir nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan D.N. Aidit, ketua umum PKI, bicara tentang jabang bayi yang bakal lahir, tidak bebas dari cucuran darah. Orang yang mengerti merasakan itu sebagai pasemon bahwa PKI yang sudah begitu besar pengaruhnya pada Bung Karno akan merebut kekuasaan dan sebagaimana dalam setiap perebutan kekuasaan oleh komunis akan disertai pertumpahan darah.

Para pemuda Indonesia yang berpikiran waras sedih menghadapi keadaan itu. Khususnya, mengapa Bung Karno yang telah memelopori perjuangan kebangsaan Indonesia sampai begitu jauh membeloknya. Padahal pada tahun 1948 Bung Karno ditantang oleh PKI yang merebut kekuasaan di Madiun. Mengapa Bung Karno pada tahun 1960 tidak mengajak serta Bung Hatta untuk mengkonsolidasi kehidupan negara dan bangsa. Sebab andai kata Bung Hatta sebagai Wakil Presiden menjalankan pemerintahan sebagaimana dilakukannya pada tahun 1948, pasti keadaan Indonesia akan lain sekali. Kepemimpinan nasional dalam bentuk Dwitunggal Soekarno-Hatta terpelihara. Penyelenggaraan pemerintahan di bawah kendali Bung Hatta berorientasi Panca Sila disertai moralitas keagamaan yang kuat akan menciptakan suasana dan kondisi yang lugas, berdisiplin dan efektif sehingga menghasilkan kondisi masyarakat yang teratur, patuh kepada hukum dan peraturan serta mengurangi kemungkinan korupsi. Ekonomi tidak akan terpuruk dan bahkan maju karena dapat memanfaatkan potensi nasional yang begitu banyak. Dalam dunia politik gerakan PKI dapat dibatasi oleh aturan demokrasi sehingga tidak mungkin melebihi partai lainnya. Dengan begitu tidak ada alasan bagi ABRI untuk mengembangkan Dwi Fungsi serta kekaryaan ABRI. Dalam keadaan demikian dapat dipastikan bahwa tidak ada pemberontakan G30S/PKI dengan segala akibatnya. Mungkin perkembangan Indonesia akan lebih mirip apa yang terjadi di Malaysia.

Akan tetapi bukan demikian kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Demokrasi Terpimpin ciptaan Bung Karno menonjolkan peran PKI, dilanjutkan dengan G30S/PKI. Itu berakibat berkembangnya Dwi Fungsi serta kekaryaan ABRI yang malahan membuat ABRI akhirnya dihujat habis-habisan oleh banyak orang. Juga menimbulkan Jenderal Soeharto sebagai kepemimpinan nasional yang menguasai Indonesia selama 30 tahun lebih. Terlepas dari segi positif dari kepemimpinan Soeharto, namun terjadi penyelewengan yang amat merugikan Indonesia. Memang Panca Sila selalu dibicarakan dan bahkan diindoktrinasikan, tetapi justru karena itu Panca Sila didiskreditkan sebagai satu pandangan yang salah dan munafik. Sebab semua pihak dipaksa untuk menerima Panca Sila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, dengan begitu menunjukkan bahwa tidak ada demokrasi. Kehidupan ekonomi tidak ditujukan kepada kesejahteraan rakyat banyak, tetapi mengutamakan konglomerasi. Dan yang paling parah adalah peran keluarga Soeharto yang menjadi sumber utama berkembangnya KKN.

Itu semua kemudian mengundang reaksi masyarakat yang tajam setelah ada peluang untuk keluar dari kekuasaan Soeharto. Namun Reformasi yang dimulai setelah Presiden Soeharto lengser hingga saat ini tidak menghasilkan perbaikan yang mendasar bagi masa depan bangsa Indonesia. Euphoria Reformasi menimbulkan demokrasi yang kebablasan sehingga justru bertentangan dengan maksud demokrasi, yaitu satu kehidupan yang maju, adil dan sejahtera bagi rakyat semua.

Pejuang kemerdekaan yang dulu ingin menciptakan Republik Indonesia yang maju, adil dan sejahtera, yang tidak kalah dari bangsa-bangsa lain di dunia, terutama yang tinggal di kelilingnya, sekarang pada ulang tahun kemerdekaan ke 56 harus melihat betapa bangsanya masih amat jauh dari keinginan itu, bahkan lebih jauh dari keadaannya pada tahun 1950-an. Dulu Indonesia tidak tertinggal dari Malaysia atau Thailand atau Singapore. Bahkan mereka belajar dari Indonesia. Nilai rupiah pun tidak jauh berbeda dari dollar Singapore dan ringgit Malaysia atau baht Thailand. Dollar AS pun hanya sama dengan 4 rupiah. Sekarang terbalik sekali keadaannya : Indonesia yang patut belajar dari Malaysia, Thailand dan Singapore, terutama dalam penyelenggaraan sistem pendidikan. Nilai rupiah sudah amat merosot sehingga 1 dollar AS sama dengan 10.000 rupiah. Yang lebih mendasar lagi : di Indonesia hukum jauh dari berkuasa dan bahkan peraturan lalu lintas di jalan saja diabaikan oleh banyak orang. Kejujuran, rasa malu dan harga diri amat sukar ditemukan. Sikap dan rasa gotong royong yang dulu menjadi kepribadian Indonesia sudah hampir musnah, entah ada di mana. Kemunafikan menjadi sifat Indonesia secara luas. Yang diucapkan serba baik dan luhur, tetapi yang diperbuat jauh dari itu. Bahkan Indonesia yang dulu dikenal sebagai masyarakat tata tenteram, sekarang diliputi kriminalitas yang aneka ragam. Perampok tidak puas menguras harta benda saja, tetapi yang dirampok dibunuhnya pula, bahkan tidak jarang secara kejam. sekali. Yang jelas adalah bahwa pejuang kemerdekaan yang dikaruniai umur panjang, makin sukar dan berat kehidupannya, kecuali beberapa gelintir orang yang selalu menikmati kekuasaan. Menghadapi keadaan demikian pejuang kemerdekaan kadang-kadang berpikir apakah semua perjuangan yang telah dilakukan dengan pengorbanan yang tidak sedikit, percuma belaka . Apakah Indonesia Merdeka tidak banyak beda dari Indonesia yang dijajah.

Akan tetapi seorang pejuang tidak pernah habis optimisme. Tetap ada keyakinan bahwa satu saat bangsa Indonesia dapat hidup secara lebih teratur menjunjung tinggi kekuasaan hukum serta mampu menjalankan berbagai peraturan. Ketidakjujuran dan kemunafikan akan makin lama makin hilang dan Manusia Indonesia kembali memperoleh kepercayaan dari semua bangsa. Status Indonesia sebagai bangsa paling korup di dunia akan berubah. Itu semua ditimbulkan oleh generasi muda yang sadar bahwa hanya dengan perubahan masa depan mereka akan cerah. Mungkin sekali, di antara generasi muda ada yang tetap bersikap seperti sekarang. Akan tetapi mayoritas akan sanggup berubah karena ada kepemimpinan yang menunjukkan jalan kepada perubahan yang diperlukan untuk membangun masa depan yang jaya, yaitu kepemimpinan sesuai tauladan Bung Hatta di masa lalu yang konsekuen melaksanakan Panca Sila dan secara teguh memegang moralitas beragama. Mudah-mudahan harapan kepada generasi muda Indonesia itu tidak sia-sia dan masa depan bangsa Indonesia akan bahagia dan sejahtera.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post