Perang Asimmetri Di Libya ?

Posted by Admin on Tuesday, 22 March 2011 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Serangan militer Koalisi Barat terhadap Libya yang dipimpin Muamar Khadafi menghangatkan kembali masalah Perang Asimettri (Asymmetric Warfare)..

Apa Perang Asimmetri ? Ini adalah satu pengertian relatif baru dalam Ilmu Perang dan artinya adalah Perang antara belligerent atau pihak-pihak berperang yang kekuatan militernya sangat berbeda.

Akibat dari perbedaan besar dalam kekuatan militer itu digunakan strategi dan taktik yang juga berbeda, khususnya oleh pihak lemah. Pihak yang relatif lemah kekuatan militernya, apabila ada pimpinan yang cerdas, tidak melakukan perlawanan konvensional sebab pasti amat sulit dan berat menghadapi keunggulan lawannya. Maka ia melakukan perlawanan non-konvensional (unconventional warfare) yang dapat mengkompensasi kelemahannya. Perang Kemerdekaan bangsa Indonesia terhadap Belanda dan Perang Vietnam ketika bangsa Vietnam menghadapi Perancis dan AS adalah contoh jelas dari perang asimmetri.

Pengertian ini ditimbulkan oleh seorang Amerika Andrew R. Mack dalam bukunya Why Big Nations Lose Small Wars , ditulis pada tahun 1975. Tentu buku itu ditulis berhubungan dengan kegagalan AS dalam Perang Vietnam. Ia mempertanyakan mengapa negara besar seperti AS yang tidak hanya mempunyai kekuatan militer yang besar tetaoi juga merupakan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, yaitu satu superpowe r, atau negara adikuasa dapat dibuat gedodoran atau bahkan dikalahkan oleh satu negara yang belum berkembang seperti Vietnam

Akan tetapi mula-mula kalangan pertahanan AS tidak menaroh perhatian pada buku itu. Baru pada tahun 1990 ada yang menganggap perlu mengadakan penelitian serius tentang masalah itu dan setelah tahun 2004 baru kaum militer AS memberikan perhatian sungguh-sungguh terhadap berbagai persoalan yang timbul akibat perlawanan non-konvensional itu/. Mungkin sekali itu dirangsang oleh perlawanan yang dihadapi AS di Afghanistan dan Irak.

Belum tentu dalam perang asimmetri pihak yang relatif lemah beralih pada perlawanan non-konvensional. Kalau pimpinannya kurang cerdas atau kurang dapat mengendalikan cara berpikirnya, maka mungkin ia tetap melawan secara konvensional. Akibatnya perlawanannya dengan mudah diruntuhkan oleh lawannya.

Seperti yang kita alami dalam Perang Kemerdekaan kita sendiri. Sampai pada offensif Belanda 21 Juli 1947 kekuatan pertahanan kita melakukan perlawanan konvensional. Dengan gagah berani para pejuang kemerdekaan kita menghadapi tentara penjajah secara frontal, seperti yang dilakukan dalam Pertempuran Surabaya November 1945 dan dalam Pertempuran Ambarawa. Juga ketika tentara Belanda pada 21 Juli 1947 menyerang dan dimulai Perang Kemerdekaan I, perlawanan Tentara dan Rakyat kita dilakukan secara frontal-konvensional. Akan tetapi perlawanan heroik itu tidak membawa hasil yang memuaskan secara strategis dan politik.

Maka dalam Perang Kemerdekaan I tentara Belanda dengan keunggulan senjata dan peralatan serta organisasi dan latihan dapat dengan cepat menembus pertahanan kita di semua front, sehingga seakan-akan seluruh wilayah RI sudah dikuasai Belanda kecuali beberapa daerah di Jawa dan Sumatra.

Pemerintah kita waktu itu belum paham tentang perlawanan non-konvensional. Hal itu berakibat fatal, ketika ada penghentian tembak-menembak dan dimulai kembali perundingan. Pemerintah RI setuju dengan kehendak Belanda agar semua kekuatan militer di Jawa Barat ditarik ke daerah Jawa Tengah yang masih dikuasai Pemerintah RI. Dengan begitu di Jawa Barat tidak ada lagi kekuatan militer RI. Hal ini memungkinkan Belanda membentuk negara boneka Pasundan yang dikuasainya, juga dapat digerakkan roda ekonomi berupa jalannya kembali perkebunan yang menghasilkan devisa untuk Belanda. Tiadanya TNI di Jawa Barat juga memberikan peluang bagi Kartosuwiryo untuk mulai membentuk Darul Islam (DI) yang kemudian berkembang menjadi Negara Islam Indonesia. Hal ini nanti setelah tahun 1948 mengganggu Republikj Indonesia hingga tahun 1962.

Padahal tepat sebelum Perang Kemerdekaan I pecah, pimpinan TNI telah sadar akan manfaat perlawanan gerilya kalau pertahanan konvensional kalah. Timbul dan menyebar pengertian tentang Perang Wilayah dengan membentuk Wehrkreis atau Daerah Perlawanan serta melakukan taktik gerilya. Dengan perlawanan yang non-konvensional itu dapat dikompensasi keunggulan musuh dalam persenjataan dan peralatan. Tapi sayangnya, sebelum kesadaran itu dapat dirumuskan dalam strategi dan diperintahkan ke semua pasukan TNI sudah terjadi serangan Belanda.

Namun pasukan Siliwangi di bawah pimpinan jenderal mayor (sebutan pangkat waktu itu) A.H.Nasution yang tahu akan sikap strategi baru pimpinan TNI, sudah beralih ke perlawanan non-konvensional berupa taktik gerilya setelah Belanda menguasai kota-kota Jawa Barat. Sebab nyatanya di Jawa Barat hanya kota-kotanya yang dikuasai Belanda, sedangkan di luar kota RI tetap kuasa. Oleh sebab itu perintah Pemerintah RI agar Siliwangi meninggalkan Jawa Barat merupakan kegagalan strategi yang amat menguntungkan Belanda dan merugikan RI.

Baru kemudian Pemerintah RI sadar dan paham akan pentingnya perlawanan non-konvensional dalam perang asimmetri itu. Maka Perang Kemerdekaan II yang berkembvang setelah serangan Belanda ke Yogja pada 18 Desember 1948 bertitik berat perang wilayah dengan perlawanan gerilya TNI bersama Rakyat. Maka Perang Kemerdekaan dapat diakhiri dengan kemenangan Indonesia dan Belanda pada 27 Desember 1949 harus mengakui kedaulatan bangsa Indonesia atas wilayah Indonesia.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah Muammar Khadafi cukup cerdas dan kuat kendali dirinya untuk melakukan perlawanan non-konvensional kalau nanti kekuatan militer koalisi Barat tidak hanya membom Libya tapi juga mendaratkan pasukan untuk menguasai Libya. Sebab dengan pemboman saja koalisi Barat mustahil dapat memaksa Khadafi tunduk kepada kehendak mereka, kecuali Khadafi dan pengikutnya lemah sekali mentalnya. Sejarah menunjukkan bahwa belum pernah ada bangsa dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan pemboman udara saja. Dapat diperkirakan bahwa juga Libya dan Muamar Khadafi tidak akan dapat ditundukkan hanya dengan pemboman udara, betapa pun besar dampak kerusakan yang ditimbulkannya.

Akan tetapi harus disdari bahwa sekarang yang menggunakan cara non-konvensional tidak hanya pihak yang lemah. Pihak yang kuat juga sudah menemukan cara non-konvensional dan menggunakan cara itu untuk merongrong kekuatan perlawanan pihak lemah. Perang intelijen, perang informasi, perang ekonomi, perang komunikasi, perang budaya sekarang sudah lazim digunakan pihak kuat seperti seperti yang dilakukan AS untuk meluaskan dominasinya di dunia. Pihak lemah tidak hanya menghadapi keunggulan militer lawannya. Tapi juga berbagai usaha yang canggih yang berusaha membuatnya tunduk n kalah perngnya.

Maka akan kita lihat siapa pihak yang lebih cerdas, lebih kuat mental dan fisik, lebih mampu kendali diri dan kendali organisasi dalam menjalankan pertarungan antara kekuatan AS serta sekutunya dan Libya di bawah pimpinan Muammar Khadafi..

Jakarta, 22 Maret 2011 .

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post