PSSI KALAH TELAK DARI JEPANG MANFAAT PEMBINAAN DALAM OLAHRAGA

Posted by Admin on Friday, 20 July 2012 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

PSSI telah dikalahkan Jepang dengan score telak 5-1 dalam kejuaraan Piala Asia U-22. Peristiwa ini merupakan bukti nyata pentingnya pembinaan untuk mencapai prestasi dalam olahraga.

Sampai tahun 1970-an tidak akan mungkin PSSI dikalahkan Jepang. Di satu pihak ketika itu PSSI merupakan tim sepakbola yang kuat di Asia, di pihak lain bangsa Jepang belum besar minatnya terhadap sepakbola. Dalam Olympiade Melbourne tahun 1956 PSSI mampu menahan tim Uni Soviet dengan score 0-0, memang dalam pertandingan ulangan kalah 4-0. Tim Uni Soviet ini kemudian menjadi juara cabang sepakbola dalam Olympiade itu. Sebelum itu di Jakarta datang tim Yugoslavia yang waktu itu termasuk kuat di Eropa, dan PSSI hanya kalah 2-0 dalam pertandingan yang seimbang. Jelas Jepang ketika itu sama sekali bukan bandingan buat PSSI.

Akan tetapi zaman berjalan terus dan terjadi banyak perkembangan, juga di lingkungan sepakbola dunia. Sejak permulaan tahun 1980-an orang Jepang tertarik minatnya pada sepakbola. Kalau sampai saat itu yang paling popular di Jepang adalah baseball, sejak itu ada usaha untuk mengembangkan sepakbola yang sudah menjadi olahraga paling popular di dunia. Pada tahun 1983 sudah dilihat berkembangnya sepakbola pada muri[i]d SMA dan ada kompetisi sepakbola antara SMA. Kemudian mulai dibentuk perkumpulan atau klub sepakbola dan pada tahun 1987 mulai berkembang kompetisi klub sepakbola. Dan pertandingan sepakbola itu mulai menarik banyak penonton, malahan mulai mendekati kepopuleran baseball. Dan memang Jepang mulai kecanduan sepakbola.

Masyarakat Jepang senang dan gemar olahraga. Baseball yang diimpor dari AS mula-mula mendapat minat publik paling utama. Pertandingan antara klub selalu penuh penonton dan menghasilkan uang banyak, sehingga sudah sejak lama baseball menjadi olahraga professional. Akan tetapi pada tahun 1980-an sukar diduga bahwa sepakbola pun akan mendapat minat masyarakat sebesar baseball. Namun hal itu terjadi dan sudah sejak 1990-an sepakbola pun jadi olahraga professional di Jepang.

Dapat dipahami bahwa dengan begitu sepakbola mendapat pembinaan masyarakat Jepang yang intensif, sebagaimana sebelumnya dilakukan untuk baseball dan olahraga lain yang terkenal. Proses ini dilandasi olahraga di sekolah yang amat penting. Seperti adanya kompetisi antar-SMA di setiap provinsi dan kejuaraan antar-provinsi setiap tahun yang selalu mendapat dukungan ramai dari masyarakat masing-masing provinsi. Pemain-pemain yang menonjol dalam kejuaraan antara SMA itu menjadi sumber pemain bagi klub professional. Hal itu terjadi pada baseball dan pasti juga pada sepakbola. Proses itu yang membawa Jepang pada kemampuan sepakbola tingkat internasional dan sejak akhir tahun 1990-an menjadi langganan dalam kejuaraan dunia sepakbola. Dalam waktu sekitar 15 tahun Jepang telah berkembang dari bangsa tanpa kemampuan sepakbola yang berarti menjadi peserta tingkat dunia yang cukup disegani dan pemainnya direkrut oleh tim professional Eropa yang tersohor.

Sebaliknya Indonesia mengalami proses terbalik dalam sepakbola. Mungkin persepakbolaan Indonesia secara absolute tidak terlalu mundur, tetapi karena dunia berkembang maju dengan cepat dalam sepakbola, maka secara relatif kemunduran yang dialami Indonesia sangat terasa.

Sampai permulaan Orde Baru sepakbola Indonesia masih mewarisi hasil pembinaan di masa penjajahan Belanda. Dalam penjajahan Belanda pembinaan olahraga terjadi di sekolah dan klub. Mulai tingkat SD hingga tingkat SLA ada pelajaran senam, atletik (lari-loncat-lempar) dan permainan sebagai bagian kurikulum maupun ekstra-kurikulum di sore hari. Ada kompetisi teratur mulai tingkat SD, seperti di Semarang ada kompetisi tahunan kasti dan sepakbola antar-SD. Di tingkat SM-SMA selain sepakbola juga atletik. Selain itu ada klub olahraga yang biasanya titikberat sepakbola, di samping ada klub atletik, renang dan lainnya. Meskipun belum ada klub profesional, namun kompetisi sepakbola antar-klub berjalan teratur dan bermutu. Itu terjadi di semua kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Malang dan lainnya. Waktu itu klub-klub terkenal di Jakarta adalah BVC, UMS, Jong Ambon yang kemudian berubah nama Maluku, VIOS. Di Surabaya ada HBS, Tionghoa yang terkenal kuat. Ini adalah bagian NIVB atau Nederalnds-Indische Voetbal Bond. Di samping itu sudah berdiri PSSI yang juga melakukan kompetisi sendiri. Kompetisi antar-klub di lingkungan kota besar, yaitu di bond atau gabungan klub di kota. Di NIVB ada bond Jakarta VBO, bond Semarang VSO, di Surabaya SVB dan lainnya, sedangkan di PSSI ada Persija, PSIS di Semarang, Persis di Solo, PSIM di Yogya, Persebaya di Surabaya. Dan bond-bond itu juga mengadakan kompetisi tahunan antara bond. Pada zaman pendudukan Jepang NIVB ditiadakan dan semua klub bergabung ke PSSI. Terkenal sekali di tahun 1950-an hingga 1970-an persaingan antara Persija Jakarta dengan Persib Bandung, Persebaya, PSM Makassar, PSMS Medan, kemudian juga berdiri Persipura di Jayapura. Proses inilah yang menghasilkan pemain-pemain sepakbola unggul seperti Maladi dan Maulwi Saelan sebagai keeper, Nawir-Sidi sebagai pemain tengah, Sudarmadi-Ramang-Djamiat sebagai penyerang, dan lainnya. Juga klub-klub Tionghoa sejak penjajahan Belanda menghasilkan pemain-pemain unggul seperti Moheng sebagai keeper, Kwee Kiat Sek dan Him Tjiang sebagai pemain belakang, Tan Liong Houw di tengah, San Liong-Ing Hien dan Sian Liong sebagai penyerang. Juga di cabang olahraga lain berkembang pemain unggul yang menonjol di Asia Tenggara, seperti Mochtar Saleh untuk atletik, Sambodjo Hurip untuk tennis dan lainnya.

Sisa-sisa pembinaan itu masih ada pada permulaan Orde Baru. Akan tetapi sejak Indonesia Merdeka pembinaan olahraga melalui sekolah dan klub kurang dilakukan atau hanya dilakukan secara sporadis melalui klub tertentu. Tidak ada lagi pelajaran olahraga di sekolah yang intensif dan teratur seperti di zaman penjajahan dan masih dilanjutkan di zaman Jepang. Mau tidak mau hal ini berdampak pada prestasi olahraga yang kemudian hanya bersandar pada orang-orang berbakat olahraga tinggi, yang tanpa pendidikan dan pembinaan dapat menghasilkan prestasi lumayan. Tetapi akan lebih tinggi prestasinya andaikata ada pembinaan teratur. Selain itu juga ada penurunan kualitas memimpin organisasi olahraga.

Pada permulaan tahun 1970-an KONI di bawah pimpinan Bapak HB IX dan Bapak D.Suprayogi berusaha memperbaiki keadaan. Penulis sebagai Ketua KONI bidang Daerah minta kepada Depdikbud, yaitu Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, agar dalam kurikulum SD sampai dengan SLA ditetapkan 3 jam dalam seminggu untuk olahraga, yaitu 1 jam untuk senam, 1 jam untuk atletik dan renang dan 1 jam untuk permainan. Selain itu dianjurkan kepada Ditjen Olahraga agar diadakan kompetisi teratur antar-sekolah di setiap provinsi mengenai berbagai cabang olahraga dengan kerjasama dengan organisasi cabang olahraga seperti PSSI, PASI, PRSI, dan lainnya.

Juga dianjurkan kepada pimpinan organisasi cabang olahraga untuk melakukan pembinaan teratur dalam cabangnya masing-masing, seperti penyelenggaraan kompetisi antar-klub, pertandingan kelompok umur, dan lainnya.

Kemudian faktor olahraga profesional masuk dan berkembang di Indonesia. Yang terutama berkembang dalam hal ini adalah tinju dan sepakbola. Andai kata proses pembinaan dilakukan dengan konsisten, teratur dan dengan semangat olahraga yang baik, mungkin sekali persepakbolaan Indonesia tidak akan terpengaruh negatif oleh profesionalisasi. Namun rupanya faktor uang yang menyerang masyarakat Indonesia dengan akibat negatif juga masuk dalam dunia olahraga dan khususnya sepakbola yang paling luas menjalankan profesionalisme. Di samping itu mutu kepemimpinan menurun. Apalagi setelah PSSI terlibat dalam kekacauan organisasi yang kuat pengaruhya pada pembinaannya.

Hingga kini Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah dan Ditjen Olahraga belum melaksanakan anjuran KONI 40 tahun lalu. Maka pembinaan olahraga sangat tergantung pada organisasi cabang olahraga, hal mana tentu amat disayangkan. Sebab kemudian pembinaan amat tergantung pada pribadi-pribadi yang memimpin organisasi cabang olahraga. Kalau beruntung punya pimpinan dengan komitmen tinggi seperti Bob Hasan di PASI maka ada harapan tercapainya prestasi dalam cabang itu. Tetapi rupanya sepakbola dan PSSI belum sanggup membereskan kepemimpinannya sehingga kita tidak perlu heran kalau Indonesia harus bertekuk lutut kepada Jepang. Malahan menghadapi negara seperti Singapore saja PSSI tidak ada kepastian unggul. Ini semua akibat pembinaan yang diabaikan.


[i]

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post