MANUSIA DAN SISTEM SAMA PENTING

Posted by Admin on Thursday, 17 April 2014 | Catatan

Sayidiman Suryohadiprojo

Kita telah memasuki Tahun Baru 2014 yang akan penuh dengan tantangan berat pada tingkat nasional maupun internasional. Pada tingkat nasional kita akan melakukan Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden RI yang akan besar sekali pengaruhnya bagi Indonesia di masa depan. Pada tingkat internasional dinamika politik dan ekonomi yang tinggi di seluruh dunia mempunyai dampak yang tidak sederhana bagi bangsa Indonesia.

Menghadapi berbagai tantangan itu adalah sangat penting bangsa Indonesia hidup dengan Sistem yang tepat. Selain itu Sistem tersebut perlu dihasilkan dan digerakkan Manusia yang tepat pula. Tidak ada perdebatan mana yang lebih penting, Sistem atau Manusia, seperti masih sering terjadi di masyarakat intelektual kita.

Kita perlukan Sistem yang tepat agar kita dapat menentukan pilihan-pilihan yang sesuai dengan keperluan bangsa kita, dan agar keputusan berdasarkan pilihan itu dapat berjalan tepat pula. Selama kita menentukan bahwa Dasar Negara kita Pancasila, maka Sistem yang harus ada dan berkembang di Indonesia adalah berbagai ketentuan dan aturan hidup berdasarkan nilai-nillai yang dikandung Pancasila. Dan memang adalah satu kebenaran yang tak dapat ditolak bahwa Pancasila-lah yang harus menjadi Dasar Negara RI sebagaimana sudah ditetapkan oleh para Pendiri Negara pada tahun 1945. Kondisi kehidupan bangsa Indonesia yang hakiki memerlukan Pancasila sebagai Dasar Negara untuk dapat hidup bahagia, damai dan sejahtera dalam negara yang merdeka dan berdaulat sepanjang zaman. Tepat sekali Bung Karno, Bapak bangsa Indonesia, menggali Pancasila dari akar-akar kehidupan bangsa. Memperhatikan kecenderungan perkembangan umat manusia pun Pancasila tetap dasar yang tepat bagi negara dan bangsa Indonesia di masa depan.

Akan tetapi dalam kenyataan keadaan negara dan bangsa Indonesia sekarang masih jauh dari Pancasila. Oleh sebab itu perlu sekali ada koreksi atas kehidupan negara dan bangsa agar secepat mungkin dapat ditegakkan Sistem di Indonesia yang dilandasi Pancasila.

Koreksi yang perlu diadakan tidak sedikit jumlahnya dan menyangkut berbagai aspek kehidupan bangsa. Yang paling mendasar adalah koreksi terhadap Konstitusi yang sekalipun namanya masih UUD 1945 tetapi setelah mengalami amandemen 4 kali sejak terjadi Reformasi, sudah jauh berubah dan tidak lagi dapat dikatakan sebagai Konstitusi yang dilandasi Pancasila. Memang ada pihak-pihak di luar negeri yang mengusahakan Indonesia meninggalkan Pancasila, dengan memperoleh dukungan pihak-pihak di Indonesia sendiri. Mereka berhasil melakukan usaha permulaan untuk itu melalui amandemen yang terjadi. Maka koreksi paling mendasar adalah Kaji Ulang UUD agar benar-benar menjadi Konstitusi Negara Pancasila.

Dalam kaji ulang itu terutama perlu ditinjau kembali posisi Lembaga Tinggi Negara, seperti perlunya MPR kembali sebagai Lembaga Tertinggi Negara dengan segala konsekuensinya seperti menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Selain itu Sistem Pancasila perlu mengandung aturan dan ketentuan yang membuat Rakyat Indonesia sejahtera dan maju hidupnya. Bukan hanya golongan kecil yang maju dan sejahtera tetapi meliputi seluruh Rakyat Indonesia. Mengkoreksi kondisi sekarang yang dikuasai sikap neo-liberalisme yang berakibat adanya kesenjangan yang parah, ditunjukkan oleh factor Gini lebih dari 40 persen. Dan malahan terus menjadi lebih parah. Ini keadaan yang jauh sekali dari tujuan kemerdekaan dan perlu sekali dirobah secepatnya.

Koreksi lain yang penting adalah dalam sistem politik agar terwujud Demokrasi sesuai Pancasila agar benar-benar sesuai dengan kepentingan Rakyat banyak. Bukan keadaan Politik yang dikuasai uang dan berakibat luasnya dan besarnya Korupsi di semua kalangan, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Dan agar terjamin masa depan bangsa yang baik harus dijalankan Pendidikan yang bermutu dan menjangkau ke seluruh masyarakat. Pendidikan itu akan menghasilkan Manusia Indonesia yang cakap memanfaatkan segala potensi bangsa untuk menciptakan kesejahteraan dan kemajuan sebagai tujuan kemerdekaan.

Namun membangun Sistem yang tepat hanya dapat dilakukan Manusia yang memahami kekurangan yang ada, dijiwai dorongan untuk melakukan koreksi serta cakap untuk melakukannya. Orang-orang yang berpidato denngan suara besar saja tidak akan menimbulkan perubahan yang diperlukan.

Sebab itu tahun 2014 begitu penting ketika diadakan Pemilihan Umum yang memilih anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden yang akan memimpin Indonesia selama lima tahun mendatang. Baik Presiden RI maupun anggota DPR menjadi penentu untuk diimulainya Kaji Ulang Konstitusi serta bagaimana jalannya Kaji Ulang itu. Demikian pula perbaikan kesejahteraan Rakyat hanya mungkin kalau anggota DPR dan Presiden ada niat dan tekad kuat melakukannya serta Presiden cakap memilih pembantu-pembantu tepat untuk tercapai semua tujuan usaha.

Dalam ini semua yang amat menentukan adalah Presiden RI yang menjalankan Kepemimpinan Nasional. Sebab ialah yang membangun suasana kejuangan nasional yang kuat. Ia pula yang menentukan posisi dan gerak Indonesia dalam dunia internaional. Dapatkah ia menempuh politik luar negeri bebas aktif yang secara efektif menempatkan Indonesia di jalan yang tepat ketika persaingan China dan AS makin tajam dan pasti menyinggung Indonesia yang lokasi strategis dan potensi kekayaan alamnya sangat mempengaruhi kepentingan nasional kedua pihak yang bersaing ?

Maka Sistem amat penting dalam kehidupan dan masa depan bangsa kita. Akan tetapi tak kalah penting adalah Manusia yang menciptakan Sistem, demikian pula yang menggerakkan Sistem agar bermanfaat. Dan ada faktor-faktor yang tak disediakan oleh Sistem dan amat tergantung Manusia, yaitu Niat-Tekad-Semangat sebagai penentu Kejuangan. Sebagai contoh : Memang tidak ada Pancasila tanpa Bung Karno, tapi sayangnya Bung Karno kurang cocok kepribadiannya untuk memperjuangkan Pancasila sampai menjadi Sistem yang merupakan satu living reality di Indonesia. Maka sekarang kita perlukan Pemimpin Bangsa yang kuat Niat-Tekad-Semangatnya untuk memperjuangkan hal itu. Pemimpin yang sanggup dan berani mengambil keputusan berdampak kemajuan, seperti melakukan investasi pemerintah dalam perwujudan transportasi massal secara luas, membiayai pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak hingga Pendidikan Tinggi yang bermutu dan luas jangkauannya, membangun perindustrian yang menjadikan bahan mentah Indonesia produk berharga dengan nilai tambah tinggi, meningkatkan pertanian sehingga Indonesia menjadi pengekspor dan bukan pengimpor beras, kedelai, produk hortikultura dan produk pertanian lainnya, menjadikan laut sumber kesejahteraan bagi mayoritas bangsa.

Namun kita juga memerlukan Manusia-Manusia lain yang sanggup berkiprah di bidangya dan menghasilkan kemajuan yag penting bagi bangsa. Sekarang kita bangga ada Karen Agustiawan yang membuat Pertamina lebih produktif, Emirsyah Satar menjadikan Garuda Indonesia terkenal dalam pengurusan penumpangnya, Rismaharini sebagai wali kota membangun taman-taman indah di Surabaya membuat rakyatnya lebih bahagia . Tentu kita ingin semoga prestasi mereka makin meningkat dan mendorong yang lain untuk lebih hebat prestasinya di bidang masing-masing.

Maka dengan Manusia dan Sistem yang sesuai Pancasila Indonesia menjadikan Rakyatnya maju, sejahtera lahir batin serta sanggup berperan aktif dalam peningkatan Perdamaian Dunia dan Kesejahteraan Umat Manusia.

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Comment by prihandoyo
2014-08-27 23:18:36


PEMIMPIN NEGERI INI TIDAK MENGERTI APA ITU PANCASILA MAKA KEKUASAAN DIPEREBUTKAN.

Panca Sila yang lahir 1 Juni Cuplikan Pidato Bung Karno

“Maaf, beribu maaf. Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda: “Philosofische-grondslag” daripada Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.”.

…………..”.Paduka tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang Paduka tuan Ketua kehendaki! Paduka tuan Ketua minta d a s a r, minta philosophische grondslag, atau, jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu “Weltanschauung”, di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.
Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu “Weltanschauung”.
…………..”Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman akhli bahasa – namanya ialah P a n c a s i l a.
Sila artinya a z a s atau d a s a r, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Mari kita menerawang dengan keadaan bangsa Indonesia yang sudah 69 tahun merdeka, dalam hati kita timbul sebuah pertanyaan besar apakah kita bangsa ini masih berasaskan Pancasila ? Sejak Amandemen UUD 1945 menjadi UUD 2002 bangsa ini telah berkhianat terhadap lima Azas atau dasar yang di sebut Pancasila .

Pancasila itu adalah Keselaran , Kebersamaan , Harmoni ,Musyawarah Mufakat ,Gotong Royong , inilah yang membedahkan dengan pikiran barat yang serba individu dan liberal , segala-sesuatu di perebutkan .

Sejak Reformasi Panca Sila dan Konsep Negara yang tertuang didalam Preambul UUD 1945 telah dikhianati , untuk menjalankan Pikiran barat ( baca Demokrasi kalah menang ,Demokrasi pertarungan , Demokrasi banyak-banyaka.) maka para pengamandemen UUD 1945 telah melakukan pengaburan dan penipuan dengan menghilangkan penjelasan UUD 1945 yang didalam nya termasuk Penjelasan Preambul UUD 1945 . padahal Preambul masih berlaku tidak dirubah .

Penjelasan Preambul itu berupa pokok-pokok pikiran sebagai berikut :
Apakah pokok-pokok yang terkandung dalam pembukaan Undang-undang Dasar.

1. “Negara” begitu bunyinya-yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam pembukaan ini diterima aliran pengertian negara Persatuan, Negara yang melindungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnya. Jadi Negara mengatasi segala paham golongan, mengatasi segala paham perseorangan. Negara menurut pengertian “pembukaan” itu menghendaki persatuan, meliputi segenap bangsa Indonesia seluruhnya. Inilah suatu dasar Negara yang tidak boleh dilupakan.

2. Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

3. Pokok yang ketiga yang terkandung dalam “pembukaan” ialah negara yang berkedaulatan Rakyat, berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan. Oleh karena itu sistim negara yang terbentuk dalam Undang-undang Dasar harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan berdasar atas permusyawaratan perwakilan. Memang aliran ini sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia.

4. Pokok pikiran yang keempat, yang terkandung dalam “pembukaan” ialah negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Oleh karena itu Undang-undang Dasar harus mengandung isi yang mewajibkan Pemerintah dan lain-lain penyelenggara Negara, untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.

Atas dasar penjelasan preambul UUD 1945 diatas maka Negara akan didasarkan atas persatuan ,dan mewujudkan Keadilan sosial , tidak akan terwujud Keadilan sosial manakalah diletakan pada sistem Liberalisme kapitalisme seperti sekarang ini .

Kalau kita melihat pokok pikiran ke 3 , negara ini atas dasar Kedaulatan Rakyat dan Musyawarah perwakilan , arti nya pikiran barat dengan demokrasi kalah menang dan demokrasi banyak-banyakan,yang diterapakan pada ketatanegaraan saat ini telah melanggar kesepakatan dalam Preambul UUD 1945 , maka MPR , dan Lembaga-lembaga tinggi negara termasuk partai politik telah mengkhianati Preambul UUD 1945 , padahal Preambul UUD 1945 sampai saat ini masih berlaku .

Kita mengerti bahwa Pancasila dan Preambul UUD 1945 adalah “Staatfundamental Norm ” Sejak awal Panitia 9 yang merumuskan UUD yang dipimpin Soekarno ,menyadari bahwa rancangan UUD harus sejalan dengan pemikiran dasar Preambule, Keseluruhan Panitia yang menggodok rancangan Mukadima /Preambul ini terdiri dari kaum pergerakan dan Wakil NU dan Muhammadyah ,jadi mereka terdiri dari para “counter elite ” dalam tata masyarakat kolonial yang dipimpin oleh Soekarno , dengan anggota Hatta ,Yamin,Sibardjo,Maramis ,dari kalangan Nasionalis , Abikusno dan Salim dari Nasionalis Islam , serta Khahar Muzakar dan Wahid Hasyim dari Ulama .

Kalau sekarang Amandemen UUD 1945 yang telah dilakukan oleh MPR Pimpinan Amin Rais , yang menjadikan Batang tubuh hasil Amandemen tidak lagi sejalan dengan pemikiran Preambule UUD 1945 , salah satu contih sangat gamblang dalam pemikiran Preambul dikatakan pada Pokok pikiran ke 3 adalan

” Pokok yang ketiga yang terkandung dalam “pembukaan” ialah negara yang berkedaulatan Rakyat, berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan. Oleh karena itu sistim negara yang terbentuk dalam Undang-undang Dasar harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan berdasar atas permusyawaratan perwakilan. Memang aliran ini sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia.”

Dan hari ini kita telah melihat MPR di gradasi , sistem pemilihan Presiden dengan mengunakan pemilihan langsung , Demokrasi yang di jalankan demokrasi liberal , demokrasi pertarungan kalah , menang ,

Pertanyaan besar yang harus kita tuntut adalah , telah terjadi pengkhianatan terhadap pemikiran Preambul UUD 1945 ,dimana Preambul UUD 1945 adalah “Staatfundamental Norm ” adalah Prinsip atau pandangan filsafati yang melandasi perumusan batang tubuh konstitusi ,yang menjadi pegangan hidup bernegara .
Bahkan karena dalam pembukaan itu termuat Staatsfundamentalnorm yang merupakan Staatsidee, maka merubah pembukaan suatu UUD berarti membubarkan suatu negara .
SukaSuka · · Bagikan

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post