Pelurusan Sejarah Perjuangan

Posted by Admin on Friday, 8 February 2008 | Artikel

Oleh Professor Nakoela
Penulis Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia
dikutip dari Nakoela’s Weblog

Di Harian Suara Pembaruan ini tertanggal Selasa 26. Agustus 2003 rekan saya Letnan Jendral Purnawirawan Sayidiman Suryohadiprojo menulis dengan judul: Usaha “meluruskan” sejarah? Saya dapat merasakan bagaimana kecewanya rekan saya me-nanggapi pernyataan seorang doktor sejarah yang menyalahkan perjuangan kita memba-ngun nasionalisme dengan menggunakan senjata dan ini merupakan kesalahan besar. Me-nurutnya membangun nasionalisme sebaiknya melalui pendidikan dan dialog.

Saya kira doktor ilmu sejarah tersebut masih muda jika dibanding umur saya dan rekan saya Sayidiman. Memang dewasa ini dapat dirasakan oleh mereka yang pernah bertugas sebagai perajurit TNI-AD khususnya dan TNI umumnya, seakan-akan TNI adalah penyebab terjadinya terperosoknya keadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya berpendapat seyogyanya para cendikiawan muda belajar dari sejarah yang benar. Kalau waktu tahun 1945 para pemuda dan pelajar tidak sanggup mengangkat senjata dan bergabung pada TKR selanjutnya TRI lalu TNI, apakah kiranya jembatan emas yang dinamakan merdeka menuju kearah masyarakat adil dan makmur bisa berujud. Beberapa kali negara RI yang baru berumur 1 tahun sudah di gempur oleh pasukannya Brigadier Malabay dengan senjata mutakhir. Setelah perjanjian Linggajati pada tahun 1946 dan tahun berikutnya RI digempur lagi, tepat 21 Juli 1947. Jelok pusat listrik Jawa Tengah dibom oleh Belanda. Pesawat India VT-CLA yang membawa obat-obatan ditembak di Meguwo, hingga Dr Carbol menjadi korban. Perjanjian Renville terganggu oleh Pemberontakan FDR di Madiun pada 18 September 1948 dan Belanda menyerbu Yogyakarta hari Minggu 19 Desember 1948.

Mereka para pelajar yang dahulu bergabung di angkatan perang bukanlah pelajar yang kepandaiannya pas-pasan. Yang saya ketahui mereka adalah pelajar-pelajar yang pandai-pandai. Salah seorang rekan saya yang bernama Sayidiman Suryohadiprodjo adalah siswa yang dapat diteladani. Sewaktu sebagai pelajar SMT Padmanaba pada tahun 1943 adalah siswa yang pinter, bukan hanya di kelas tetapi juga di lapangan olah raga selalu membuat prestasi dalam classmeeting. Bahkan waku itu saya mengira rekan saya akan menjadi insinyur, ternyata rekan saya masuk MA dan lulus baik sekali. Saya dengar putranya yang meneruskan bakatnya menjadi insinyur Prestasinya bukan hanya sebagai anggota TNI, tetapi bisa juga berkarya sebagai diplomat. Rekan lain Soemantri Brodjonegoro juga pelajar pejuang bersenjata. Setelah gerilya bisa promosi jadi Doktor Teknolog dengan promotor Prof Waterman, bahkan lulusnya cumlaude. Padahal yang di-bimbing oleh Prof. Waterman orang asing adalah beliau sendiri yang akhirnya menjabat Rektor UI dan Menteri P dan K. Putranya mengikuti jejak ayahnya kiprah di bidang pendidikan. Masih bisa saya sebutkan rekan-rekan seperjuangan yang mengangkat senjata mempertahankan Kemerdekan dan kemudian juga dapat kesempatan berkiprah di dunia sipil. Prof. Handojo almarhum dari ITB yang telah membimbing beberapa doktor. Prof Siswanto Nimpuno yang akhirnya menjabat Direktur Pascasarjana UNPAD, Prof Kuntoaji yang pernah menjabat Rektor ITB dan Dirut Bapindo, sewaktu bergerilya menjabat komandan Mobilisasi Pelajar di Markas Besar Komando Djawa (MBKD).

Rekan-rekan yang saya sebutkan itu adalah sebagaian yang menyabung jiwa dan raganya untuk membuat jembatan emas yang disebut merdeka.

Serangan Belanda dengan gempuran dari udara pada hari Minggu 19 Desember 1948 di Yogyakarta merupakan serangan mendadak. Kalau saya masih ingat Jendral Sudirman menyatakan: Satu-satunya modal RI yang masih utuh adalah TNI. Dari serangan tersebut dapat dikatakan pemerintah sipil lumpuh total. Maka dibentuklah Pemerintah Militer. Penulis pernah menjabat selama gerilya sebagai Kepala Pemerintah Militer Kecamatan, karena penulis adalah Komandan Komando Onderdistrik Militer (Komandan KODM).

Mendirikan jembatan emas merdeka ternyata mengorbankan ribuan jiwa raga para pahlawan kemerdekaan. Sekarang Jembatan Emas Merdeka tersebut sudah berujud. Mengapa para kader bangsa yang berumur 35 – 60 tahun tidak mempercepat jalannya menuju masyarakat adil dan makmur, bahkan hanya cekcok sekedar merebutkan kursi parlemen atau kedudukan. Yang lebih tidak enak terdengar adalah akan meluruskan sejarah. Sejarah sudah lalu, saya anjurkan para kader bangsa yang dewasa ini berkuasa: syukurilah, bahwa Anda tinggal mengenyam rasa kemerdekaan dan menikmati tanpa ada gangguan dari imperialis dan penjajah. Jangan mencari kesalahan orang lain.

Dengan pengertian yang sederhana saya coba menggambarkan bagi para kawula muda Indonesia. Tujuan atau visi Indonesia Merdeka adalah masyarakat adil dan makmur bukan makmur dan adil. Untuk mencapai visi tersebut maka misinya adalah merdeka. Nah merdeka ini adalah jembatan emas atau sasaran antara atau sarana. Nah membuat konstruksi jembatan emas ini membutuhkan taktik dan strategi. Taktik dan strategi ini sangat relatif tergantung dari kedaan dan waktu. Waktu kita memperjoangkan kemerdekaan agar Pemerintah Belanda mau mengakui, maka taktik dan strategi yang digunakan adalah berunding dan berperang. Jadi kalau bisa doktor muda yang dimaksud oleh rekan saya Sayidiman bisa mengerti ini. Sekarang jembatan sudah ada, maka carilah taktik dan strategi baru untuk mempercepat menuju masyarakat adil dan makmur. Jangan membuang waktu untuk meluruskan sejarah yang tiada artinya bagi generasi penerus Anda.

Source : http://nakoela.wordpress.com/2008/02/08/20/

RSS feed | Trackback URI

3 Comments »

Comment by Dito
2012-12-02 16:49:56


Terima kasih atas jawabannya pak,
kebetulan saya sudah pernah membaca tentang kehebatan SMT di bidang olahraga. Dari sumber yang saya baca, waktu itu kegiatan classmeeting diadakan tiga bulan sekali. Hasilnya SMT bisa melahirkan jago-jago olahraga.
Kalau sekarang Padmanaba terkenal dengan event dan baris-berbarisnya pak, untuk olahraga sudah tidak sejago dulu lagi.

Oh iya, sebenarnya September kemarin ada reuni akbar Padmanaba.
Tapi saya kurang tahu apakah ada alumnus angkatan bapak yang hadir pada acara tersebut.

 
Comment by sayidiman suryohadiprojo
2012-11-29 11:05:14


Sdr Dito, memang saya pernah menjadi siswa SMT Padmanaba selama k.l. 7 bulan sebelum pindah ke SMT Semarang dan kemudian SMT Jakarta. Saya di SMT Yogya Padmanaba tahun 1943. Saya waktu itu pemain team baseball SMT dan sering bertanding dengan team CHTH. Paling seru ketika berhadapan dengan team SMT Semarang yang kita menangkan baru pada inning ke 7. Saya juga ingin tahu teman satu team seperti sdr Suharto sekarang di mana. Yang saya tahu sudah wafat adalah Askar Djundjunan,pitcher kita, juga Subagyo dan Daiyino. Salam,
Sayidiman S

 
Comment by Dito
2012-11-12 20:55:24


Yth Bapak Sayidiman

Saya mau bertanya, apakah sebelum bapak bersekolah di MA, bapak sempat bersekolah di SMT Padmanaba?
Kebetulan saya alumnus SMA 3 Padmanaba, dan saat ini sedang mengumpulkan sejarah mengenai Padmanaba.
Seandainya bapak benar pernah bersekolah di SMT, sekiranya bapak berkenan saya ingin mendengar kisah selama bapak bersekolah di SMT.

terima kasih sebelumnya atas perhatian Bapak.

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post