Diskusi Peran Industri Strategis

Posted by Admin on Wednesday, 15 October 2003 | Artikel

BPPT dalam sejarahnya adalah satu unsur yang membangun industri-industri strategis antara lain PT. IPTN (PT. DI), PT. PAL, PT. PINDAD dan sebagainya. Namun sekarang hubungan antara BPPT dengan industri-industri tersebut praktis putus karena banyaknya kepres-kepres baru yang diterbitkan pada tahun 1999. Industri-industri itupun sendiri sekarang mendapat tekanan untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi akibatnya di industri-industri tersebut pengembangan teknologinya menjadi sedikit macet karena masalah dana. Ini suatu yang harus kita pikirkan?, demikian antara lain sambutan Deputi TIRBR BPPT Prof. ir. Said. D. Jenie, Sc.D. saat mewakili Menristek/Kepala BPPT pada acara Diskusi Peran Industri Strategis Dalam Pertahanan dan Kemandirian Bangsa yang berlangsung pada tanggal 15 Oktober 2003 di BPPT.

Acara diskusi yang diselenggarakan oleh P2 KTPW Deputi PKT BPPT menghadirkan pembicara antara lain Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo (mantan Gubernur Lemhanas), Prof. Dr. Ir. Rahardi Ramelan, MSc. (mantan Menristek dan Menperindag), Dr. Ir. Tresna P. Soemardi, SE. (Dosen Senior Fakultas teknik Universitas Indonesia, Dr. Ninok Leksono (Redaktur Senior Kompas), Djuanda, SIP (Dewan Riset Indonesia) dan sebagai moderator diskusi adalah Parni Hardi (tokoh pers). Peserta diskusi berjumlah sekitar 120 orang telah membahas tema tentang industri strategis dalam kaitannya dengan pertahanan yang saat ini sedang dibicarakan oleh semua pihak baik kalangan legislatif, kalangan pemerintah, kalangan sipil dan militer.

Saat berbicara di depan para peserta diskusi, Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo menjelaskan tentang industri pertahanan. Dikatakan bahwa industri pertahanan meliputi seluruh industri yang bersangkutan dengan pertahanan negara yaitu produksi barang-barang yang terutama menjadi kebutuhan militer seperti senjata, alat perhubungan dan transportasi. Ditegaskan bahwa sudah jauh waktunya Indunesia mengembangkan pertahanan udaranya. Pertahanan udara yang kuat dan efektif harus merupakan kombinasi antara pesawat tempur, senjata meriam (gunnery) dan roket atau peluru kendali (missile) yang terintegrasi. Kemampuan Indonesia masih jauh sekali dari kebutuhan yang diperlukan dan juga belum mempunyai industri pertahanan yang dapat mendukung terwujudnya pertahanan udara yang ampuh.

Sementara itu Prof. Dr. Ir. Rahardi Ramelan, MSc, antara lain mengatakan bahwa kita harus kembali menempatkan pengadaan pemerintah (government procurement) menjadi penghela proses penguasaan industri dan teknologi. Kandungan local (local content) termasuk engineering dan riset harus menjadi bagian dari kriteria penentu. Impor komoditi yang terkait dengan komoditi yang telah ditetapkan sebagai national champion atau produk pertahanan lainnya harus mengutamakan offset program ketimbang counter trade. Ini merupakan tugas dan tanggungjawab bukan hanya pemerintah, tapi juga seluruh masyarakat termasuk wakil rakyat, tegasnya. (RC/humas)

Source : http://portal.bppt.go.id/berita/index.php?id=347

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post