Saling Percaya, Faktor Amat Penting

Posted by Admin on Wednesday, 2 February 2005 | Makalah, Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Mantan Gubernur Lemhannas

DAPAT diperkirakan, tiap orang yang ingin Indonesia aman, maju, dan sejahtera, menyadari pentingnya faktor saling percaya dalam masyarakat. Juga diinginkan agar rasa saling percaya dalam masyarakat Indonesia itu cukup kuat.
Saling percaya antara warga masyarakat tidak hanya penting untuk kohesi sosial, tetapi juga amat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas.
Dalam kenyataannya, faktor saling percaya amat sulit ditemukan dalam kehidupan bangsa. Bahkan pandangan obyektif harus mengatakan, kehidupan masyarakat dipenuhi kecurigaan. Hal ini sudah lama meliputi kehidupan bangsa.
PADA era Presiden Soekarno tahun 1950-an, faktor saling percaya dalam masyarakat amat terganggu oleh perkembangan politik. Warga masyarakat yang setia kepada Pancasila amat prihatin melihat komunis berkiprah lagi di arena politik, meski telah berkhianat dengan pemberontakan Madiun tahun 1948. Sebaliknya, mereka yang berpihak kepada komunis mengatakan, makin banyak orang Indonesia dipengaruhi AS dan hendak membawa Indonesia berpihak kepadanya. Pertentangan paham politik dan saling curiga menguat. Pimpinan negara tak dapat melepaskan diri dari pertentangan itu, bahkan cenderung bersimpati kepada satu pihak. Pimpinan nasional tidak berhasil menjadikan Pancasila yang diakui sebagai dasar negara menjadi pemersatu bangsa.
Di era Presiden Soeharto, semula masyarakat bersatu saat mayoritas bangsa tidak setuju dengan G30S/PKI dan tujuan yang hendak dicapai. Mereka yang memihak komunis dan mendukung G30S/PKI mengalami kehidupan amat berat. Tetapi orang berpikir, itu konsekuensi petualangan politik kaum komunis yang didukungnya. Bahkan ada yang berpendapat, seandainya G30S/PKI menang, jauh lebih banyak warga akan sengsara karena apa yang terjadi di Uni Soviet terhadap orang yang tidak setuju komunis juga dipraktikkan di Indonesia. Di Madiun pun pada tahun 1948 praktik kekejaman kaum komunis terjadi.
Namun, sikap saling percaya yang timbul karena bersama menghadapi G30S /PKI tak berlangsung lama. Ketika pembangunan nasional dimulai tahun 1968, timbul sumber baru bagi saling curiga. Pembangunan ekonomi menjadi titik berat pembangunan nasional, bertujuan baik karena hendak meningkatkan kesejahteraan rakyat yang umumnya masih amat miskin. Tetapi justru menjadi sumber kecurigaan baru. Memang pemerintahan Presiden Soeharto berhasil meningkatkan kesejahteraan umum dan mengurangi jumlah rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tetapi pada saat bersamaan, kesenjangan antara mereka yang kaya yang sedikit jumlahnya dan mayoritas rakyat yang masih miskin menjadi kian lebar. Jika dulu semuanya miskin, kini sebagian kecil menjadi amat kaya sedangkan bagian terbesar, meski tidak lagi semiskin dulu, tetapi amat jauh kesejahteraan hidupnya dari jumlah kecil yang kian kaya. Kecurigaan makin kuat saat putra-putri Soeharto terjun dalam bisnis dan meningkatnya korupsi, kolusi dan nepotisme.
Ditambah lagi, kekuasaan digunakan sewenang-wenang. Padahal, akibat pendidikan dan pengaruh internasional, rakyat menghendaki demokrasi dilaksanakan di Indonesia, seperti dikehendaki Pancasila. Presiden Soeharto tak mampu menegakkan saling percaya di masyarakat dan itu menjadi sebab beliau mundur secara tragis.
DI era reformasi, saling percaya seharusnya menjadi kuat karena bagian terbesar masyarakat menginginkan reformasi berhasil. Namun, sekian banyak orang yang mengaku diri reformis, sekian banyak tujuan reformasi yang dikehendaki, saling bertentangan. Bahkan, ada yang mendapat titipan dari negara adikuasa dan dibiayai untuk memanfaatkan reformasi guna menjadikan Indonesia berkembang sesuai dengan kepentingan negara itu. Akibatnya, semua orang mengaku reformis, tetapi semua orang menuduh orang lain menyelewengkan reformasi. Hal itu ditambah sikap makin dikuasai benda dan uang sehingga orang tidak yakin apakah pikiran atau tindakan satu atau kumpulan orang murni atau hasil penyuapan. Bukan rahasia lagi, banyak demonstrasi dan unjuk rasa terjadi karena ada yang membiayai.
Dalam kondisi demikian, sikap saling percaya sulit dihidupkan. Sebenarnya Pancasila sebagai dasar negara dapat digunakan untuk mengajak masyarakat lebih saling percaya. Celakanya, ada kaum cendekiawan, meski jumlahnya kecil tetapi karena posisinya berpengaruh besar, tidak mau menerima Pancasila. Bagi mereka, hanya sikap dan pandangan hidup yang dikumandangkan AS yang benar dan dinilai mampu memajukan Indonesia.
Harapan kita tertuju kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk dapat mengatasi masalah penting ini. Tetapi melihat banyaknya masalah yang belum terselesaikan dan mungkin dinilai lebih mendesak, maka tampaknya kita tidak dapat mengharapkan terlalu banyak.
Pertanyaannya, apakah masyarakat yang kurang saling percaya dapat mencapai sasaran-sasaran paling minimal untuk tidak menjadikan 220 juta rakyat bersikap putus asa dan tidak sanggup lagi berbuat positif sehingga Republik Indonesia menjadi negara gagal.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post