Kelemahan Implementasi Sangat Merugikan Bangsa

Posted by Admin on Monday, 8 September 2008 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bangsa Indonesia banyak orangnya yang pintar dan cerdas, tetapi lemah dalam implementasi. Selama hal ini belum berubah Indonesia mengalami banyak kerugian. Tidak sedikit teori dan konsep bagus ditelurkan warga negara Indonesia, tetapi kemudian tidak pernah diimplementasikan secara baik. Malahan teori dan konsep bagus itu justru diimplementasikan bangsa lain dengan manfaat yang tidak sedikit baginya.

Namun dalam segala hal selalu ada perkecualian dan ada orang-orang Indonesia yang berhasil mengimplementasikan konsepnya yang bagus secara bagus pula . Dan itu nyata memberikan keuntungan bagi bangsa Indonesia. Salah satu contoh adalah keberhasilan Ki Hadjar Dewantara membentuk Perguruan Nasional Taman Siswa pada tahun 1922 sebagai usaha menjalankan perjuangan nasional bangsa untuk kemerdekaan yang dilakukan melalui jalan budaya dan khususnya pendidikan. Sayang sekali keberhasilan demikian merupakan perkecualian yang sedikit jumlahnya.

Kelemahan dalam implementasi ini sudah kita alami sejak lama. Kalau kita mau jujur dan obyektif harus kita akui bahwa kelemahan ini pula menjadi sebab mengapa Pancasila sebagai filsafah hidup bangsa dan dasar negara RI hingga sekarang masih saja belum menjadi kenyataan di bumi Indonesia. Betapa indahnya nilai-nilai yang menjadi substansi Pancasila, hal mana juga diakui banyak ahli ilmu sosial bangsa lain. Di situ tampak kehebatan Ir. Sukarno atau Bung Karno yang kemudian menjadi Presiden RI yang pertama. Sekalipun Bung Karno selalu mengatakan bahwa beliau bukan Pencipta Pancasila, melainkan hanya sebagai Penggali nilai-nilai Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia sejak dahulu kala, namun kenyataan bahwa beliaulah yang menggali Pancasila sudah merupakan penemuan yang hebat (excellent) yang sukar dilakukan orang lain.

Namun amat sayang sekali bahwa kemudian Bung Karno sebagai Presiden RI dari tahun 1945 hingga 1966 kurang berhasil menjadikan Pancasila kenyataan di masyarakat dan bumi Indonesia. Sebenarnya sejak tahun 1960 setelah Irian Jaya sepenuhnya berada dalam lingkungan RI ada kesempatan yang amat baik untuk mengkonsentrasikan usaha bangsa dalam membumikan Pancasila di Indonesia. Sayangnya Bung Karno waktu itu lebih memikirkan politik internasional yang harus ditempuh Indonesia dan melakukan Konfrontasi terhadap Malaysia sebagai bagian perjuangan menghadapi Neo-Imperialisme dan Neo-Kolonialisme. Andai kata Bung Karno sabar dalam mengejar tujuan politik internasional itu dengan terlebih dahulu mengkonsolidasi dalam negeri Indonesia, terutama dengan menjadikan Pancasila kenyataan yang makin jelas dalam kehidupan bangsa Indonesia, sejarah akan lain jalannya, termasuk untuk Bung Karno.

Hingga kini kelemahan implementasi ini amat merugikan bangsa. Hal ini terutama di dunia ekonomi. Meskipun semua orang tahu bahwa Indonesia dikarunia kemurahan Tuhan yang besar dalam kekayaan sumberdaya alam dalam berbagai variasi, diperkuat oleh sumberdaya manusia yang besar jumlahnya dengan potensi kecerdasan yang cukup tinggi serta posisi geostrategis yang amat penting sebagai posisi silang antara dua benua dan dua samudera, namun bangsa Indonesia belum mampu menjadikan potensi yang hebat itu berubah menjadi kekuatan dan kekayaan yang nyata. Itu nampak sekali bila dibandingkan kemajuan ekonomi Indonesia dengan Korea Selatan yang negaranya hanya untuk sepertiga luasnya dapat ditanami dan tidak mempunyai kekayaan alam berupa minyak dan gas bumi yang begitu penting bagi perkembangan ekonomi masa kini. Namun demikian Korea Selatan yang pada tahun 1965 mempunyai penghasilan per kapita hampir sama dengan Indonesia (sekitar USD 80 per tahun), sekarang 43 tahun kemudian jauh meninggalkan kita. Pada tahun 2007 Korea Selatan telah mencapai penghasilan per kapita sekitar USD 24.800 per tahun sedangkan Indonesia sekitar USD 3.700.[1] Hal ini tidak lain karena Indonesia kurang cakap dalam memanfaatkan karunia Tuhan berupa berbagai potensi yang telah disebutkan itu.

Tidak sedikit pakar ekonomi Indonesia yang mengemukakan berbagai teori dan konsep ekonomi yang bagus, tetapi kemudian kurang mampu menjadikan hasil pikirannya itu kenyataan. Kita telah pernah mempunyai dua orang Menko Ekuin, yaitu Drs Kwik Kian Gie dan Dr. Rizal Ramli, yang sebelum (dan sesudah) memangku jabatan itu selalu mengemukakan konsep ekonomi mereka yang banyak disetujui orang karena menunjukkan kedekatannya dengan perwujudan kesejahteraan rakyat banyak. Akan tetapi sayangnya kedua beliau sebagai Menko Ekuin yang nyatanya pimpinan penyelenggaraan ekonomi nasional atau Panglima Ekonomi Indonesia, tidak pernah berhasil menjadikan teori dan konsep mereka satu kenyataan. Berbeda dengan Zhu Rongji di China yang padahal bukan pakar ekonomi (pakar teknik), tetapi ketika oleh Deng Xiaoping diangkat untuk memimpin pembangunan ekonomi negara itu (karena suksesnya membangun Shanghai), menunjukkan sukses yang menjadikan China satu negara yang amat berbeda dari sebelum tahun 1979.

Kelemahan implementasi tidak hanya terjadi dalam tingkat nasional, tetapi juga tingkat lokal. Itu dibuktikan oleh seringnya terjadi kecelakaan dan keruntuhan bangunan atau jembatan yang telah dibuat di bawah pimpinan orang yang pakar teknik. Tidak sedikit kerugian yang kita alami karena itu, tidak hanya kerugian material dan financial, tetapi sering juga nyawa manusia. Padahal para pembuat jembatan atau bangunan itu adalah pakar teknik yang kebanyakan lulusan pendidikan tinggi, jadi cukup dibekali dengan pengetahuan. Juga tersedia dana dan material yang sesuai. Akan tetapi karena kurang cakap mengimplementasikan pengetahuan maka terjadi berbagai kelemahan yang akhirnya menimbulkan kerugian.

Apalagi setelah Indonesia sekarang menempuh sistem demokrasi langsung yang memungkinkan rakyat memilih Presiden, Wakil Presiden dan semua Kepala Daerah Tingkat Satu dan Dua. Para Calon Presiden dan Calon Kepala Daerah dengan hebat menyampaikan konsep mereka ketika menjalankan kampanye pemilihan. Berbagai janji dilontarkan untuk merebut hati rakyat. Akan tetapi sayangnya ketika sudah menjabat ternyata janji tinggal janji, sedangkan yang dihasilkan adalah jauh dari memuaskan. Istilah masa kini adalah bahwa harus dibedakan antara Wacana dan Kenyataan.

Adalah jelas sekali bahwa kelemahan ini harus kita atasi kalau bangsa Indonesia hendak menarik manfaat sebesar-besarnya dari segala karunia Tuhan. Kalau tidak, maka karunia Tuhan kepada Indonesia itu justru lebih banyak menguntungkan bangsa lain, sedangkan bangsa Indonesia tidak kunjung makmur dan sejahtera.

Apakah sebenarnya inti dari kelemahan implementasi itu ? Pertanyaan ini harus dapat kita jawab dengan obyektif dan tegas kalau kita hendak mengatasinya. Kiranya, yang menjadi inti persoalan adalah sikap hidup Manusia Indonesia. Kebanyakan dari kita adalah manusia yang sikap amat dipengaruhi oleh konndisi alam tropikal yang hangat, tidak pernah terlalu panas dan juga tidak pernah dingin, Kondisi udara ini cenderung membuat orang mudah ngantuk dan malas. Berbeda dengan kondisi cuaca dingin bersalju dari daerah dunia yang mengalami musim dingin bersalju. Ditambah lagi alam Indonesia begitu mudah dan murah. Orang berkata, kalau tongkat ditanamkan di tanah maka ia akan tumbuh menjadi pohon, demikian subur tanah kita. Juga di laut nelayan tak usah terlalu jauh berlayar dan bermalam-malam di laut untuk memperoleh tangkapan ikan yang memadai bagi hidupnya. Ini semua berbeda dengan kehidupan manusia di bagian planit bumi yang mengalami musim dingin yang dingin sekali dan bersalju serta pada musim panas dapat panas sekali. Kondisi mereka memaksa untuk membuat manusia berjuang keras untuk hidup.

Akibatnya adalah bahwa Manusia Indonesia cenderung kurang bersikap Pejuang. Karena kurang ada kehendak (willpower) yang kuat, maka segala potensi kecerdasan dan kelunturan yang ada pada Manusia Indonesia, menjadi kurang dimanfaatkan. Selain itu juga kurang kuat komitmen untuk melakukan sesuatu dan puas dengan hasil seadanya, Tidak ada niat dalam hati untuk Membuat Yang Terbaik dalam hal apa pun yang dikerjakan. Malahan kalau ada yang menunjukkan usaha menonjol (excellence) orang itu malahan dimusuhi. Tidak boleh ada paku menonjol, kata orang. Maka yang terjadi adalah mediocrity atau Serba Seadanya.

Tentu dalam kondisi Manusia Indonesia demikian ada yang merupakan perkecualian. Tetapi seperti yang telah dikatakan, tidak jarang yang merupakan perkecualian justru “dipukul”, ditarik mundur, dihukum dengan berbagai cara agar tida ada penonjolan. Untung bagi bangsa Indonesia bahwa pada periode 1945-1950 ketika Manusia Indonesia yang merupakan perkecualian dalam kegigihan memperjuangkan kemerdekaan bangsa, tidak dapat ditarik mundur dan dipukul oleh mayoritas yang enggan berjuang dan lebih suka ikut saja dengan kehendak penjajah Belanda yang telah datang kembali untuk menguasai Indonesia. Sebab dalam kenyataa Manusia Indonesia yang secara gigih sampai akhir memperjuangkan kemerdekaan bangsa jauh lebih sedikit jumlahnya dari mereka yang memihak Belanda dan yang passif saja menunggu bagaimana akhir pergulatan itu. Bahkan pejuang kemerdekaan yang minoritas jumlahnya berhasil menjadi critical mass dan mempengaruhi mereka yang passif sehingga penjajah Belanda dan pengikutnya di Indonesia serta di luar Indonesia terpaksa mengakui kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Sekarang pun ada Manusia Indonesia yang tidak diliputi kelemahan perjuangan dan penuh komitmen untuk menghasilkan yang terbaik, sekalipun mereka pun merupakan minoritas dalam jumlah seperti pada tahun 1945. Yang menjadi tantangan adalah apakah mereka sanggup menjadi critical mass masa kini dan mempengaruhi kondisi masyarakat, sehingga terwujud satu sikap dan arus utama (mainstream) yang kuat untuk meninggalkan berbagai kelemahan yang ada, khususnya kelemahan implementasi. Kalau hal ini dapat terwujud, maka kondisi Indonesia akan jauh berubah. Makin terwujud suasana dan kondisi di mana semua orang berusaha Membuat Yang Terbaik apa pun yang dilakukan. Mediocrity akan berubah menjadi kehidupan menuju Excellence, sebagaimana sekarang terjadi di negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, Singapore dan bahkan China serta India. Kalau itu terjadi Visi Indonesia Forum yang hendak menjadikan Indonesia pada tahun 2030 mencapai tingkat kelima di antara negara-negara di dunia bukan lagi satu fata morgana atau illusi sebagaimana kritik sementara orang terhadap Visi Indonesia Forum.

Oleh sebab itu kiranya perubahan penting ini perlu diusahakan. Yang jelas adalah bahwa perjuangan menciptakan critical mass baru tidak cukup dengan diomongkan atau diwacanakan belaka. Harus ada usaha nyata dengan menunjukkan performa dan prestasi yang nyata untuk menarik perhatian orang tanpa dapat dihukum atau dipukul. Sebagaimana pada tahun 1949 perjuangan critical mass waktu itu berupa gerilya TNI bersama Rakyat menghantam Belanda dan pengikutnya. Semoga tulisan dari seorang Pejuang Kemerdekaan ini cukup kuat untuk memotivasi kaum muda yang merupakan Perkecualian dari kondisi mediocrity masa kini . Selamat Berjuang !


[1] CIA World Factbook

RSS feed | Trackback URI

5 Comments »

Comment by Tituk - Bambang Utojo
2008-10-16 10:51:48


Yth Pak Yiek,
Judul ini khusus “makna”nya, yang dipaparkan amat menarik dan “praktis” sekali artinya kalimat tersebut sudah sangat mengena dikehidupan sehari-hari, bahkan sudah masuk dalam dunia pendidikan sejak tahun 1980 an, artinya “kelemahan-kelemahan implementasi sehingga mempengaruhi “lapangan / pembamngunan” (sebagian besar), contohnya apa yang terjadi dilapangan baik kegiata dibidang sosial maupun teknik, padahal “uang” pada waktu itu “sangat” banyak, kalau tidak salah “minyak boom”, tapi implementasi kehidupan “merosot” khususnya aspek kwalitasnya. Contoph yang baik adalah PEMBANGUAN JALAN TOL JAGORAWI – kenyataan sampai hari ini “yang asli” tidak tergoyahkan konstruksi” bangunan jalannya – coba bandingkan dengan jalan tol sesudah itu.
Kondisi tersebut saya amati khususnya didunia pendidikan ternyata para guru/dosen bahkan gurubesar “kemasukan” unsur-unsur yang melemahkan “kwalitas” atau “kreativitas”( contoh apa yang diberi comment oleh Pak Kusmayanto diatas ) a.l. kompromi angka hasil ujian, atau kompromi kwalitas hasil skripsi, bahkan dalam kegiatan membuat tugas tendensi kearah “nyontek” tidak melakukan analisa ataupun survey yang intensiv, banyak hal lainnya yang “sangat memalukan” lingkungan akademis yang ujungnya merupakan “produk” pendidikan
Jadi secara singkat pada tahun-tahun ini harus diupayakan “pengadaan” tenaga-tenaga yang sanggup melakukan tindakan-tindakan, yah sementara seperti aktivitas KPK – tegas,berkelanjutan dan tanpa pilih-pilih – insya Allah.Sebab ini hari banyak orang berpendapat bahwa Pancasila adalah filsafat “yang lemah” terhadap kehidupan, kurang “moderat” bahkan dikatakan dengan Pancasila “kita tidak bisa ‘modern’ ” aneh, memang Pancasila tidak mengajarkan “kekasaran”, tapi “kebijakan” terhadap setiap masalah kehidupan karena “kesatuan dalam perbedaan, perbedaab dalam kesatuan ”
Ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya dalam rangka pengembangan Konsep Capacity Building untuk menangani sektor infrastruktur,air dan lingkungan (management-nya) di 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia, sering ditemukan hal-hal yang tidak wajar untuk seorang akademisi.
Demikian semoga “comment” saya dapat menambah data bagi Pak Yiek, untuk kta bersama kita perjuangkan bagi negara yang tercinta ini.
Wassalam, Bambang Utojo.-

 
Comment by T.Sjamsu
2008-09-17 22:50:23


Bapak Sayidiman Yth
Saya melihat masalah yang dihadapi bangsa ini agak lain.Fakta fakta yang bapak sampaikan menngenai ketinggalan negara kita dengan negara lain misalnya Korea Selatan benar sekali.Salah satu hal yang pernah saya pelajari adalah mengenai industri otomotif di Korea Selatan dan Indonesia.Konsep yang digunakan sama yaitu memberikan subsidi kepada infant industri melalui deletion program yang secara berangsur-angsur meningkatkan komponen lokal dalam industri otomotif.Bedanya di Korea peraturan dilaksanakan secara ketat dan konsekwen dengan reward dan penalty.Hasil akhirnya adalah industri otomotif Korea yang luar biasa,dibandingkan dengan industri otomotif yang pada akhir orde baru masih belum mencapai 80% saja.Padahal mulainya relatif sama. Kenapa, saya kira penyebabnya adalah sikap mental kita yang sangat lemah.Kalau kita lihat kesemerawutan lalu lintas,dan disiplin sosial lainya adalah juga karena sikap mental.Kembali ke Pancasila yang merupakan ideologi dasar negara yang sangat baik.Apakah kita menghayatinya,jujur saja selama ini hanya lips service.Setiap tanggal 17 setiap bulan,kita mengucapkan Pancasila dengan berapi-api,tapi apakah sudah menjadi sikap hidup kita.Jauh dari itu kalau kita lihat semerawutnya bangsa ini mulai dari kelakuan executif maupun legislatif,tawuran-tawuran dimana mana dan kesemerawutan kondisi sosial kita. Dimana salahnya?. Saya kira sistim pendidikan kita. Jangan lupa sikap hidup bangsa Jepang telah dimasukan dalam benak anak-anak mulai dari TK.Saya kira untuk merubah ini,Pancasila mulai diintroduksikan mulai TK,tetapi bukan dalam hapalan urutan-urutan Pancasilanya,tetapi memasukan nilai-nilai hidup yang ada didalamnya dalam program program pendidikan yang disessuaikan untuk masing-masing tingkatan sekolah dan umur.Mereka tidak usah hapal urutan Pancasila tetapi diajarkan untuk mengamalkan nilai-nilai yang ada didalamya.Bukankah Pancasila dibutuhkan untuk diimplementasikan dan bukan untuk dihapalkan.Sekian dulu Pak.
Sjamsu

Comment by Sayidiman Suryohadiprojo
2008-09-26 12:54:47


Yth Pak Sjamsu, terima kasih atas komentar Anda. Memang benar bahwa pendidikan merupakan inti bagi kemajuan dan perbaikan satu bangsa, juga bagi kita. Akan tetapi pendidikan pun memerlukan kepemimpinan bermutu agar mencapai tujuannya. Dan tidak merupakan masalah teknik belaka. Hal ini jelas sekali dalam penyelenggaraan pendidikan, khususnya pendidikan Guru. Benar sekali pendapat Anda bahwa sekarang Pancasila hanya lip service belaka. Inipun akibat dari kepemimpinan yang tidak menyadari betapa strategisnya usaha menjadikan Pancasila kenyataan di Indonesia. Harap baca makalah saya Menjadikan Pancasila Kenyataan di Bumi Indonesia. Terima kasih sekali lagi atas komentar Anda dan semoga Anda berhasil dalam perjuangan mengembangkan industrialisasi di Indonesia. Salam.

 
 
Comment by Kusmayanto Kadiman
2008-09-14 20:31:22


Bapak Sayidiman S ysh,

Menarik sekali artikel tentang kurang sungguh-sungguhnya kita dalam implementasi. Saya sepakat bahwa dalam ide atau gagasan, rancangan sampai rencana kita punya banyak contoh bagus. Konsep yang dikembangkan Pertamina dalam mengelola sumber migas menjadi model yang sukses diterapkan negara jiran, Petronas. Juga tentang kosep pendidikan khsusunya di perguruan tinggi. Model jual-beli gas yang kita kembangkan yaitu Arun dan Bontang menjadi model bukan hanya ASEAn tetapi juga dunia. Namun demikian, ide dan konsep yang hebat ini tidak diikuti oleh implementasi yang paripurna. Demikian pula dalam melakukan evaluasi dari ide sampai implementasinya. Akibatnya tidak sempurnalah siklus ide, rancangan, rencana, implementasi sampai evaluasi dan kembali pada ide. Menarik sekali dengan “tudingan” bahwa ini disebabkan salah satunya oleh Sindroma Manusia Tropis yang seperti dilantunkan KoesPlus dalam lagunya “Kolam Susu”. Terima kasih Bapak untuk artikel yang inspiratif dan bernuansa pencerahan ini.

Salam hormat,
KK
http://www.ristek.go.id/makalah-menteri

Comment by Sayidiman Suryohadiprojo
2008-09-26 12:47:57


Pak Kusmayanto, terima kasih atas tanggapan Anda. Marilah kita berusaha dan mengajak orang lain turut berusaha mengatasi kelemahan bangsa kita ini yang terbukti telah sangat merugikan kita. Salam.

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post