Persatuan Bangsa Dan Cara Berpikir Kita

Posted by Admin on Tuesday, 5 November 2002 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Kondisi bangsa Indonesia dewasa ini jauh dari sila Persatuan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Dasar Negara Panca Sila. Di Maluku dan Sulawesi Tengah bangsa kita berkelahi saling membunuh dengan menggunakan faktor agama sebagai alasan. Di Aceh ada sekumpulan orang yang menamakan diri Gerakan Aceh Merdeka dan menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Belum lama berselang terjadi serangan suku Dayak disertai kekerasan terhadap pendatang Madura di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Belum pernah dalam sejarah Indonesia kita mengalami retaknya persatuan bangsa seperti sekarang.

Nampaknya sekarang orang Indonesia mementingkan dirinya pribadi dari pada mengusahakan hidup bersatu dengan orang lain, dan juga kurang bersedia memperhatikan kepentingan umum apalagi kepentingan orang lain. Itu juga nampak dalam kehidupan masyarakat yang kondisinya relatif aman, seperti Jawa. Di Jakarta kita melihat perilaku kaum politik yang duduk dalam DPR yang dipilih untuk mewakili rakyat, tetapi lebih banyak memperhatikan dirinya atau kelompoknya saja. Juga kita melihat perilaku orang di jalan-jalan yang tidak mempedulikan aturan lalu lintas dan tidak segan membahayakan orang lain. Sikap hidup Gotong Royong yang dahulu selalu kita tonjolkan dan banggakan sekarang tidak pernah terucap lagi, apalagi dilaksanakan. Dahulu kita selalu dengan penuh harga diri dan bangga mengatakan kepada dunia luar bahwa di Indonesia berbagai umat beragama hidup berdampingan secara rukun damai. Akan tetapi sekarang malahan dikatakan bahwa di Indonesia kurang ada toleransi agama.

Mengapa ini semua terjadi dan apakah hal ini merupakan fenomena Indonesia belaka ? Ternyata tidak demikian dan bukan hanya Indonesia yang sekarang penuh dengan penggunaan kekerasan. Juga bangsa yang paling maju seperti Amerika Serikat tidak bebas dari pertentangan disertai penggunaan kekerasan yang mengerikan.

Sebenarnya bagi Amerika dan dunia Barat pada umumnya mementingkan diri pribadi di atas kepentingan umum tidak terlalu mengherankan. Oleh sebab sejak lama diliputi sikap individualisme, yaitu pandangan yang menempatkan individu sebagai nilai utama dalam kehidupan. Tetapi toh orang Barat sendiri merasa bahwa sekarang penonjolan diri pribadi jauh melampaui masa lalu dan merugikan. Yang sukar dimengerti adalah bangsa bukan Barat, seperti bangsa Indonesia, yang pada dasarnya mengutamakan kehidupan bersama (Gotong Royong) dan bahkan menolak individualisme, tetapi sekarang bersikap dan berperilaku amat individualis.

Menurut para ahli pikir semua perbuatan manusia adalah akibat atau hasil pikirannya. Dan pikiran itu bersumber pada otak manusia. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dalam fungsi otak manusia dibedakan fungsi otak bagian kiri dan otak bagian kanan. Otak bagian kiri menghasilkan pikiran yang rasional, analitikal, logikal, lineair, tetapi juga agresif dan dominasi. Otak bagian kanan menghasilkan emosi, estetika, kebersamaan, irrasional, non-lineair. Manusia mempunyai pikiran yang seimbang apabila baik otak bagian kiri maupun otak bagian kanan dipakai bersama-sama secara harmonis. Itulah yang menghasilkan pandangan yang disebut holistik, tidak mementingkan logika dan ratio, juga tidak mengutamakan emosi dan pikiran irrasional. Dari alamnya manusia sebenarnya berpikir seperti itu sehingga semua bagian otak terpakai. Sebab itu manusia yang belum atau tidak terlalu bersentuhan dengan peradaban Barat pada dasarnya bersikap holistik, juga masyarakat Indonesia dulu dengan Gotong Royongnya. Masyarakat Barat pun dari alamnya berpikir holistik.

Akan tetapi sudah menjadi takdir Illahi bahwa di Yunani di masa dahulu kala ada tiga orang yang menjadi pembentuk cara berpikir Barat. Orang-orang itu adalah Socrates, Plato dan Aristoteles. Tiga ahli pikir ini mengembangkan cara berpikir yang mengutamakan analisa, logika yang rasional. Edward de Bono, seorang pakar AS dalam pemikiran kreatif, mengatakan bahwa sebenarnya tiga pemikir Yunani itulah yang merusak cara berpikir manusia Barat dan sekarang menjalar ke seluruh umat manusia. Memang, kata de Bono, pemikiran Barat menjadi amat produktif dalam menghasilkan kemajuan di bidang materi, seperti kemajuan teknologi yang sekarang kita alami. Akan tetapi pemikiran yang mengutamakan analisa, ratio dan logika juga menjadi sumber dari kesengsaraan karena menghasilkan dorongan dominasi dan agresi. Itu dapat dilihat dalam sikap manusia Barat yang selalu hendak menguasai alam semesta. Cara berpikir tersebut menghasilkan individualisme, materialisme, kapitalisme, imperialisme, kolonialisme yang membuat Barat unggul di dunia, tetapi mengakibatkan kesengsaraan besar di bagian dunia lainnya. Apalagi setelah ilmu fisika berkembang karena penemuan Isaac Newton dan dilengkapi dengan filsafah Renee Descartes menimbulkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bukan main hebatnya, baik untuk kesejahteraan manusia (seperti obat-obatan untuk mengatasi penyakit) tetapi juga sebaliknya memungkinkan penghancuran besar-besaran dan keji (seperti senjata nuklir dan pemusnah massal lain).

Sekarang pada permulaan millennium ke 3 dunia Barat dengan teknologinya menguasai dunia dan umat manusia. Mau tidak mau cara berpikirnya yang mengutamakan otak bagian kiri menyebar sehingga orang-orang yang tadinya berpikir seimbang, sekarang makin banyak yang ikut cara berpikir Barat. Semua ingin mencapai kemajuan teknologi dan kesejahteraan seperti Barat. Namun itu pula sebabnya mengapa masalah etnik makin menonjol, demikian pula individualisme menguat dan umat beragama sukar sekali bersikap tolerant. Penggunaan kekerasan makin meluas, seperti perkelahian antarpelajar, dan ini tidak merupakan monopoli Indonesia.

Di dunia Barat sendiri sudah mulai timbul kesadaran tentang kekurangan ini. Namun memang tidak mudah mengubah pendirian orang kalau satu hal sudah lama berjalan dan malahan menghasilkan banyak kemajuan. Padahal yang perlu diadakan adalah pembelajaran ulang dari cara berpikir semua bangsa. Sekarang sudah ada orang yang tidak hanya mengejar IQ (intelligence quotient) tinggi, tetapi juga EQ (emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient), tetapi mereka masih jauh dari mayoritas..

Kalau kita serieus menghendaki persatuan bangsa, maka kita harus mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengajak seluruh bangsa kita mengembangkan cara berpikir seimbang. Usaha ini tidak mudah oleh karena bersamaan dengan itu tekanan pengaruh teknologi dan cara berpikir Barat makin kuat dan agressif. Kebanyakan elit bangsa kita belum menyadari kekurangan dalam cara berpikir Barat. Maka dalam mengejar kemajuan kuat sekali kecenderungan mengutamakan pemikiran rational tanpa harmonisasi dengan otak kanan. Perlu sekali para budayawan Indonesia mengambil prakarsa untuk perubahan ke arah cara berpikir harmonis. Dan para pendidik melakukan pembelajaran ulang dalam cara berpikir diri sendiri dan anak didik. Kalau itu dapat terwujud kita dapat menggalang kembali persatuan Indonesia dan menikmati kemajuan bangsa yang sebenarnya disertai kesejahteraan lahir batin yang sejati.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post