Pergulatan Antarbangsa Dalam Dekade Mendatang

Posted by Admin on Thursday, 20 November 2003 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Sekarang dunia sedang diramaikan oleh perang melawan terorisme yang dikumandangkan AS setelah 11 September 2001. Menurut Chalmers Johnson dalam bukunya Blowback (Time Warner Paperbacks, Londonn, 2002) , sebenarnya serangan yang terjadi terhadap AS pada 11 September 2001 tidak lain dari satu blowback atau dampak berbagai tindakan AS yang dilakukan sebelumnya untuk menegakkan hegemoni atas dunia. Sudah lama para hegemoni merupakan acara penting dalam politik luar negeri Amerika. Perang Dingin tidak hanya pergulatan ideologi antara blok Barat dan blok Komunis, tetapi sekali gus persaingan menegakkan hegemoni atas dunia antara AS dan Uni Soviet. Setelah kemenangan blok Barat AS makin gencar lagi menegakkan hegemoninya.

Dalam usaha merebut hegemoni itu AS telah melakukan berbagai tindakan secara terbuka dan tertutup yang sukar diterima oleh berbagai kalangan, termasuk banyak kalangan di Timur Tengah. Tindakan terbuka banyak dilakukan dalam bidang ekonomi ketika AS menggunakan Bank Dunia dan IMF untuk mendukung kepentingannya. Sedangkan tindakan tertutup dilakukan terutama oleh CIA. Kebanyakan rakyat AS kurang mengetahui tindakan negaranya yang menimbulkan kerugian pada bangsa lain, baik berupa korban jiwa atau melukai perasaan di banyak rakyat dunia. Rakyat Iran tidak akan lupa kepada usaha CIA menjatuhkan perdana menteri Mossadegh di Iran pada tahun 1953 karena dianggap kurang menguntungkan kepentingan AS. Kemudian diganti dengan Riza Pahlevi sebagai syah Iran yang sepenuhnya mendukung AS. Juga terjadinya pemberontakan PRRI-Permesta di tahun 1950-an di Indonesia tidak lepas dari usaha pemerintah AS dan CIA. Menurut Chalmers Johnson serangan 11 September tidak lain dari pembalasan terhadap tindakan AS itu. Perang melawan terorisme adalah pembalasan AS terhadap blowback itu, dan juga bagian dari penegakan hegemoni AS. Dengan begitu bukan sesuatu yang idealistis, sebagaimana sering digambarkan oleh Presiden Bush.

Hal itu jelas sekali ketika AS menyerang Afghanistan sebagai reaksi atas Peristiwa 11 September, padahal yang dituduh sebagai otak serangan 11 September adalah Osama bin Laden. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa Taliban yang memerintah Afghanistan melindungi Osama. Akan tetapi kenapa rakyat Afghanistan yang tidak ada hubungannya dengan 11 September dan Osama harus mengalami pemboman yang menimbulkan banyak korban. Dan hingga kini Osama bin Laden belum tertangkap sekalipun AS sudah menduduki Afghanistan begitu lama. Memang AS mempunyai tujuan lain di Afghanistan dari apa yang dikemukakan.

Makin jelas ambisi hegemoni AS ketika melakukan serangan terhadap Irak tanpa ada persetujuan PBB. Ternyata alasan AS untuk melakukan pre-emptive strike, yaitu Irak mempunyai senjata destruksi massal yang akan ditujukan kepada AS, juga tidak sah. Sebab setelah AS menduduki Irak tidak dapat dibuktikan adanya senjata destruksi massal itu. Dengan begitu serangan tersebut bertentangan sekali dengan hukum internasional. Memang AS menyerang Irak untuk kepentingan hegemoninya, yaitu penguasaan minyak Irak dan dominasi Timur Tengah serta memperkokoh posisi Israel.

Hubungan AS terhadap Arab Saudi sebagai negara minyak terbesar telah memungkinkan AS mengontrol suplai minyak TimurTengah. Penguasaan atas Irak sebagai negara minyak kedua terbesar setelah Arab Saudi. akan lebih memperkuat kontrol AS. Di samping itu peran politik yang dilakukan AS di Asia Tengah yang juga produsen minyak besar, memungjkinkan AS mengontrol suplai minyak dunia. Untuk itulah Afghanistan dikuasai karena ada kepentingan membangun pipa penyalur minyak dari Asia Tengah ke Samudera Hindia. Hal itu amat penting dalam persaingan AS dengan Eropa dan Jepang, dan Cina yang diperkirakan menjadi kekuatan utama dunia di masa datang.

Alasan lain AS untuk menguasai Irak adalah menjadikan Irak negara demokrasi yang akan memicu demokratisasi seluruh Timur Tengah. Hal itu terdengar amat ideal, tetapi hakikatnya bertujuan membentuk dominasi AS atas wilayah itu. Dominasi AS atas Timur Tengah sangat penting bagi kepentingan AS dan sekali gus memperkokoh posisi Israel sebagai sekutu terpercaya AS. Timur Tengah tidak hanya penting karena faktor minyak, tetapi juga karena lokasi geografinya yang amat strategis. Sepanjang sejarah umat manusia Timur Tengah selalu menjadi rebutan kekuatan-kekuatan dunia, karena wilayah ini merupakan posisi silang yang amat strategis seperti Asia Tenggara. Penguasaan atas Irak akan memberikan kesempatan kepada Israel sebagai sekutu terpercaya AS untuk memegang posisi kunci itu. Sekali gus hal ini menjamin dukungan kaum Yahudi di AS yang amat kuat posisi ekonomi dan politiknya. Dua tujuan ini cukup bermakna bagi penggagas hegemoni AS untuk melakukan serangan terhadap Irak, sekalipun harus menanggung tuduhan melanggar hukum internasional.

Namun sebenarnya masalah utama yang dihadapi AS bukan Timur Tengah atau terorisme, sekalipun dua hal itu sangat relevan untuk masalah utama itu. Timur Tengah dan menghancurkan terorisme baru merupakan sasaran antara dalam memecahkan masalah utama. Masalah utama bagi pencapaian hegemoni AS adalah bagaimana menghadapi Cina yang makin hari makin kuat dan makin mampu menyaingi AS dalam segala aspek kehidupan, termasuk ekonomi dan militer.

Cina telah membuat perubahan besar sejak kepemimpinan Mao Zedong dan dilanjutkan Deng Xiaoping. Terutama sejak tahun 1978 Cina berkembang menjadi kekuatan dunia (world power). dengan pertumbuhan ekonomi yang amat cepat sehingga memperkuat posisi politik internasionalnya dan memungkinkan pembangunan kekuatan militer modern. Kalau saat berdirinya RRC pada tahun 1949, Cina masih tergolong negara sedang berkembang, pada permulaan abad 21 bagian luas wilayah Cina di bagian timur dan selatan menunjukkan kemajuan yang mengagumkan. Meskipun daerah pedalaman Cina masih jauh dari kemajuan, tetapi juga mulai berkembang dengan rangsangan kuat dari bagian yang sudah maju. Bahkan ada pakar ekonomi Barat memprediksi Cina akan mengejar AS sebagai kekuatan ekonomi tidak lebih dari 20 tahun sejak tahun 1990-an.

Kalau itu dihubungkan dengan jumlah penduduk Cina yang 1,2 milyar orang serta yang tersebar di dunia, khususnya di Asia Tenggara, maka dapat dipahami kalau para penggagas hegemoni AS khawatir akan kesulitan mewujudkan ambisinya. Makin besar kekuatan Cina dalam ekonomi, makin banyak kemampuannya memperluas pengaruh politiknya dan makin dapat dibangun kekuatan militer yang sesuai dengan perkembangan teknologi mutahir. Hal itu dengan jelas didemonstrasikan ketika Cina berhasil mengorbitkan astronotnya yang pertama atas kemampuan sendiri. Makin hal itu berkembang, makin tertahan kemampuan AS mewujudkan hegemoni atas dunia.

Oleh sebab itu dapat diperkirakan bahwa sejak sekarang AS mengambil langkah-langkah untuk membatasi perkembangan Cina. Penguasaan minyak Timur Tengah dan Asia Tengah adalah salah satu langkah itu. Pembangunan dan pertumbuhan Cina akan sangat banyak memerlukan energi yang tidak cukup dipenuhi dari sumber sendiri dan daerah Asia sekitarnya. Cina pasti memerlukan tambahan energi dari Timur Tengah dan Asia Tengah. Langkah lain yang diambil AS adalah menjamin pengaruhnya di Asia Tenggara yang secara historis merupakan wilayah pengaruh Cina. Penduduk Cina di Asia Tenggara yang jumlahnya sekitar 50 juta orang itu diperkirakan menghasilkan produk sekitar $ 450 milyar (Sterling Seagrave, Lord of the Rim: The Invisible Empire of the Overseas Chinese), melebihi BPD setiap negara Asia Tenggara. Kalau penduduk Cina di Asia Tenggara bersikap dekat kepada tanah leluhurnya, maka itu akan merupakan tambahan kekuatan bagi Cina. Apalagi kalau mereka mampu mempengaruhi negara tempat tinggal untuk bersikap dekat dengan Cina, maka itu berarti bahwa seluruh Asia Tenggara menjadi daerah pengaruh Cina. Padahal Asia Tenggara amat penting untuk AS sehingga perkembangan demikian sukar dapat ditoleransinya. Itu sebabnya mulai tampak usaha AS untuk menjamin pengaruhnya di Asia Tenggara. Ada laporan bahwa dengan alasan perang terhadap terorisme AS sekarang memperkuat posisi militernya di beberapa negara Asia Tenggara, antara lain di Filipina.

Juga mulai nampak usaha AS untuk menarik India menjadi sekutu.. Hal ini berbeda dengan masa Perang Dingin ketika hubungan AS dengan India jauh atau bahkan tidak bersahabat karena India mempunyai persetujuan dengan Uni Soviet. Sekarang AS memainkan sentimen India yang masih belum lupa akan pukulan yang dirasakannya ketika konflik dengan Cina untuk merebut daerah perbatasan pada tahun 1960-an.. Selain itu India sekarang juga sedang mengalami kemajuan yang sangat berarti. Apalagi sikap India terhadap terorisme dipengaruhi oleh masalahnya yang tidak kunjung reda dengan Pakistan, sehingga cenderung untuk berpihak kepada AS dalam perang melawan terorisme. AS akan beruntung kalau India menjadi sekutunya menghadapi Cina.

Akan tetapi yang paling penting adalah sikap Jepang terhadap persaingan Cina-AS. Sekarang Jepang masih sepenuhnya berpihak kepada AS. Akan tetapi kalau ekonomi Cina makin maju dan bersamaan dengan itu terjadi perluasan pengaruh politiknya, tidak mustahil Jepang berpikir untuk mendekat kepada Cina. Sifat orang Jepang yang amat realistik dalam menjamin kepentingan nasionalnya tidak mustahil menjadi sebab untuk mengubah sikapnya terhadap AS. Sekurang-kurangnya Jepang bersikap tidak memihak dalam persaingan AS – Cina. AS harus amat memperhatikan kemungkinan ini karena amat merugikan kepentingan AS.

Juga amat penting bagi AS bagaimana sikap Uni Eropa dan khususnya Russia dalam memandang persaingan AS-Cina yang akan datang. Di masa lampau Eropa Barat adalah sekutu setia AS, karena memang bersamaan kepentingan menghadapi blok Komunis. Akan tetapi setelah Uni Eropa menjadi kekuatan ekonomi yang sanggup menyaingi AS, tampak perbedaan dalam melihat keadaan. Hal itu terbukti ketika Perancis dan Jerman secara gigih menolak alasan AS menyerang Irak. Juga persaingan mata uang Euro dan Dollar akan berpengaruh terhadap hubungan Eropa dengan AS. Tidak ada jaminan bahwa di masa depan Uni Eropa berpihak AS dalam persaingannya dengan Cina.

Adapun Russia yang setelah selesainya Perang Dingin cukup dekat kepada AS karena memerlukan bantuan ekonominya, kemungkinan akan berubah sikap kalau sudah makin mampu mengatasi persoalan dalam negerinya. Belum tentu Russia yang sudah mampu mengkonsolidasikan diri, akan bersekutu dengan AS. Melainkan lebih mungkin Russia akan memainkan perannya sendiri dengan memanfaatkan kekayaan sumber alamnya yang diperlukan oleh negara-negara Asia Timur, termasuk Cina dan Jepang.

Dapat diperkirakan bahwa pada tahun 2020, yaitu tahun yang begitu menonjol dalam perencanaan APEC dan banyak negara Asia, persaingan antara AS dan Cina makin kuat dan bahkan tidak mustahil berkembang menyerupai satu perang dingin. Hal itu hanya dapat dicegah kalau para pendukung hegemoni AS kehilangan pengaruhnya di negaranya dan AS melakukan politik luar negeri yang tidak lagi secara ambisieus mengejar keunggulan posisinya. Akan tetapi kemungkinan demikian adalah kecil karena erat hubungannya dengan peran dan posisi AS sebagai kekuatan ekonomi. Yang lebih mungkin adalah bahwa AS makin menguatkan usaha penegakan hegemoni.

Dalam hubungan itu AS berkepentingan untuk memenangkan perangnya terhadap terorisme secepat mungkin. Kemenangan atas terorisme berarti terwujudnya kondisi Timur Tengah yang bersahabat, demokratis dan mendukung AS. Posisi Israel harus makin kuat dan dominan di Timur Tengah. Mengalahkan terorisme juga berarti bertambah kuat pengaruh AS di Asia Tenggara. Buat AS Indonesia dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia tidak boleh menjadi sumber kekuatan melawan AS, sebaliknya malahan harus diciptakan umat Islam Indonesia yang dekat dan bersahabat dengan AS. Hal itu akan merupakan kemenangan politik AS yang amat penting, terutama untuk menghadapi umat Islam di bagian dunia lain, khususnya di Timur Tengah.

Namun tentu Cina juga tidak akan tinggal diam dan mempunyai strateginya sendiri untuk menggagalkan pengepungan AS atas dirinya. Selain itu ternyata Timur Tengah bukan masalah yang mudah dipecahkan oleh kaum hegemon AS. Ternyata bahwa penguasaan atas Irak tidak selancar dan semudah mereka pikirkan. Bahwa AS tidak akan melepaskan posisinya di Irak telah terbukti ketika menteri pertahannya, Donald Rumsfeld, mengatakan bahwa tentara AS akan tetap ada di Irak, sekalipun bulan Juni 2004 kekuasaan pemerintahan akan diserahkan kepada bangsa Irak. Juga sikap AS yang tetap keras terhadap Iran yang dituduhnya sedang membuat senjata nuklir, berbeda dari sikap Uni Eropa yang menghendaki hubungan dialog dilanjutkan, tidak menutup kemungkinan AS kembali menggunakan doktrin pre-emptive strikenya. Demikian pula sikapnya terhadap Syria yang dituduh membantu perlawanan bangsa Irak dan mempunyai hubungan dengan Al Qaida, dapat saja berubah menjadi aksi militer. Sebab AS amat berkepentingan menguasai Timur Tengah sebelum persaingan dengan Cina dimulai.

Ini semua membuat dunia tidak kunjung bebas dari pergulatan antarbangsa sekarang maupun di dekade mendatang.

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-11-12 09:02:30


Sdr Fyan,

Buat saya lebih penting bagaimana Indonesia di masa depan. Salam,

Sayidiman

 
Comment by fyan
2009-11-10 14:16:59


amazing of China …china merupakan salah satu contoh negara yang mampu memainkan peranan besarnya di beberapa kawasan termasuk asia tenggara….gw juga maseh pensaran apa china bisa menjadi imperium baru di dunia selain uni eropa, rusia, dan as

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post