Membangun Disiplin Dari Pemimpin

Posted by Admin on Tuesday, 14 September 2004 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Seorang dapat dinamakan “pemimpin” kalau ia menunjukkan kemampuan menjalankan kepemimpinan, yaitu kemampuan memotivasi dan mengajak orang-orang lain menjalankan sesuatu yang menjadi kepentingan bersama. Tidak semua atasan atau komandan dalam lingkungan militer adalah pemimpin. Hanya mereka yang memenuhi kriteria ini yang dapat dinamakan pemimpin.

Disiplin erat hubungannya dengan kepemimpinan. Tidak mungkin seorang memotivasi orang lain, kalau ia tidak dapat menimbulkan kepercayaan dan respek. Sedangkan hal ini banyak ditentukan oleh cara berpikir, perilaku dan berbuat yang berdisiplin. Mutu kepemimpinan banyak ditentukan oleh disiplin, terutama disiplin pribadi (self-discipline) atau pengendalian diri yang dapat ditumbuhkan seorang dalam dirinya.

Seorang pemimpin perlu menegakkan disiplin dalam organisasi yang dipimpinnya. Organisasi tanpa disiplin adalah satu gerombolan orang yang tidak jelas arah tujuannya. Biarpun anggota organisasi itu sudah tergerak motivasinya dan bersedia untuk bersama-sama melaksanakan usaha untuk mencapai tujuan bersama, namun kalau itu tidak disertai disiplin yang kuat, tidak ada jaminan bahwa semangat mereka akan menciptakan hasil yang sesuai dengan yang dituju. Sebab itu adalah kewajiban seorang pemimpin untuk menimbulkan kesadaran dan kehendak pada anggotanya untuk mempunyai disiplin yang kuat. Terbukti dalam kehidupan umat manusia bahwa bangsa-bangsa yang kuat disiplinnya, merekalah yang dapat mewujudkan kehidupan paling maju, sejahtera, aman sentosa. Maka dapat dikatakan bahwa peradaban tidak dapat dipisahkan dari disiplin.

Banyak orang menyamakan disiplin dengan ketaatan atau kepatuhan seorang terhadap orang lain dan organisasi, atau terhadap atasannya. Sebenarnya disiplin dalam arti demikian hanya akibat dari makna yang lebih mendasar dari disiplin. Disiplin dalam maknanya yang mendasar adalah pengendalian diri yang dirangsang oleh keinginan mencapai penyempurnaan pribadi yang lebih tinggi. Sebab seorang yang kuat mengendalikan dirinya, termasuk segala nafsu dan emosinya, adalah kepribadian yang lebih sempurna dari pada seorang yang tidak kuat atau malahan menjadi permainan hawa nafsunya sendiri. Dilihat dari sudut itu, maka hakikatnya disiplin adalah kepentingan orang itu sendiri. Karena tiap-tiap orang ingin mencapai tingkat penyempurnaan yang lebih tinggi dalam hidupnya untuk mengembangkan harga diri atau self-respect lebih kuat. Pencapaian itu menimbulkan kepuasan batin bagi tiap rang yang normal.

Hal inilah yang perlu dijadikan kesadaran para anggota organisasi dan hal itulah yang perlu ditumbuhkan oleh pemimpin pada anggota yang dipimpinnya. Cara terbaik untuk mencapai itu adalah kalau pemimpin memberikan tauladan mengenai hal yang hendak ditumbuhkan pada orang lain. Karena itu seorang pemimpin harus dirasakan oleh anggotanya sebagai orang yang penuh harga diri dan senantiasa berusaha mencapai penyempurnaan dalam segala aspek kehidupannya. Sikap dan perilaku demikian akan menjadi tauladan nyata bagi anggota organisasi dan memberikan kemungkinan terbesar untuk ditiru. Adalah satu kenyataan bahwa tauladan lebih berharga dari seribu kata.

Adalah kenyataan pula bahwa Indonesia sekarang amat lemah disiplinnya, baik disiplin sosial maupun disiplin pribadi. Hal ini disebabkan terutama karena Indonesia sedang dalam keadaan yang serba langka kepemimpinan. Memang banyak orang disebut pemimpin, seperti pemimpin partai politik atau pemimpin LSM. Akan tetapi dalam banyak hal sebutan pemimpin itu salah pakai. Yang disebut pemimpin itu jauh sekali dari kemampuan memotivasi dan mengajak orang mencapai sesuatu yang berharga bagi kepentingan bersama. Karena langka kepemimpinan maka Indonesia juga langka atau lemah disiplin. Selain itu, anehnya, ada sekumpulan kaum terpelajar yang tidak suka dengan disiplin. Mereka menganggap disiplin hanya persoalan bagi dunia militer, sedangkan kaum sipil tidak perlu merisaukan masalah disiplin. Tidak mengherankan bahwa banyak orang Indonesia terpengaruh oleh pendapat kaum terpelajar itu. Hal itu amat jelas nampak di kondisi lalu lintas, terutama di kota-kota besar, yang lebih banyak menggambarkan sikap semau gue atau yang kuat berkuasa. Bukan gambaran satu masyarakat yang tinggi peradabannya.

Menjadi pertanyaan besar apakah Indonesia dapat memperbaiki kondisi disiplinnya. Untuk itu harus ada usaha mengatasi kelangkaan kepemimpinan. Jalan yang amat baik adalah kalau makin banyak orang sadar untuk mengembangkan kepemimpinan pada dirinya masing-masing. Ini adalah jalan yang sangat ideal, tetapi dalam kenyataan sukar memberikan hasil yang cukup luas lingkupnya. Diperlukan suasana baru dalam negara dan masyarakat kita yang dapat merangsang perkembangan yang meluas dalam perbaikan kepemimpinan. Itulah salah satu kewajiban pimpinan nasional yang kemudian harus disambut oleh mereka yang sepaham bahwa harus ada perbaikan kepemimpinan di semua aspek kehidupan serta di semua tingkat. Hal itu diwujudkan dengan peningkatan kepemimpinan dalam lingkungan masing-masing. Lambat laun akan timbul pandangan baru serta kebiasaan baru yang memungkinkan kelangkaan kepemimpinan diatasi.

Pimpinan nasional dan semua pihak yang mendukungnya menjalankan program yang membimbing anggotanya agar langkah demi langkah dapat mentransfer dan mengadoptasi sifat dan sikap seorang pemimpin yang benar. Salah satu sifat yang penting adalah tumbuhnya kesadaran berdisiplin atau pengendalian diri. Hal itu bermanfaat untuk mengatasi kelemahan dalam kehidupan bangsa Indonesia, yaitu seringnya perbedaan mencolok antara perbuatan dan ucapan. Selain itu dengan disiplin yang kuat ditumbuhkan pengertian dan kesadaran bahwa orang akan direspek atau dihargai orang lain kalau ia dapat berpikir dengan teratur, berbicara dengan teratur dan sesuai keperluan, dan berperilaku serta berbuat sesuai dengan yang diucapkan dan dipikirkan. Menumbuhkan kebiasaan ini makan waktu karena sikap masyarakat pada umumnya sudah terlalu berlainan. Akan tetapi usaha itu akan amat besar manfaatnya untuk menghilangkan sikap hidup munafik dan sebaliknya akan mendatangkan kehidupan bangsa yang lebih efektif dan produktif.

Sebab itu adalah amat penting bahwa pimpinan nasional dipegang oleh seorang yang tidak hanya pandai mengembangkan visie, tetapi juga secara aktif berusaha menjadikan visie itu satu kenyataan. Seorang pemimpin bangsa yang pandai berpikir dan pandai berbuat sesuai dengan pikirannya adalah orang yang pasti kuat disiplinnya. Pemimpin bangsa seperti itu akan menciptakan kondisi lingkungan yang makin lama makin berbeda dari kondisi sekarang yang terlalu penuh perbedaan antara ucapan dan tindakan. Bukti yang paling nyata dapat kita lihat pada Pancasila yang sudah sejak 1945 diakui dan ditetapkan sebagai Dasar Negara. Akan tetapi hingga kini kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia jauh sekali dari nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila.

Problema utama adalah menghasilkan pimpinan nasional sebagaimana diuraikan. Tidak dapat ditolak bahwa pimpinan nasional harus terwujud dari para pemimpin politik Indonesia. Padahal kenyataan yang kita hadapi adalah bahwa dunia politik sekarang, terlebih lagi di Indonesia, tidak terlalu menghiraukan kepada norma etik dan moralitas. Malahan ada kecenderungan untuk menilai seorang pimpinan politik sebagai orang naïf kalau ia bersikap secara etis dan memegang teguh moralitas. Bahkan politikus yang berasal dari kalangan agama tidak sedikit yang sikapnya jauh dari etika dan moralitas, sekalipun agama mengajarkan untuk memperhatikan hal itu. Maka diperlukan pimpinan nasional yang politikus tetapi sanggup menjunjung tinggi etik dan moralitas tanpa dilecehkan dunia politik sebagai orang yang naïf dan lemah. Kemampuan dan keberhasilannya akan sekali gus memperbaiki kondisi dan suasana dunia politik Indonesia yang dewasa ini sudah dirasakan amat rendah mutunya.

Perkembangan yang diusahakan itu akan membuat perubahan besar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Karena tindakan dan perbuatan pimpinan serta bagian terbesar masyarakat akan lebih berdisiplin mengikuti segala rencana dan ucapan, maka dapat diharapkan bahwa kekuasaan hukum dapat ditegakkan. Dengan begitu pemberantasan KKN yang sudah lama diinginkan dapat benar-benar berjalan. Masyarakat tidak lagi dihantu oleh kekuasaan uang dan benda yang dapat membeli segalanya. Demikian pula semua masalah keamanan nasional, baik yang berupa kriminalitas murni, segala usaha terorisme nasional dan internasional maupun separatisme yang hendak menghancurkan NKRI, dapat dihadapi dengan tegas dan efektif. Dan semua rencana yang bersangkutan dengan peningkatan kesejahteraan seluruh bangsa dapat dilaksanakan, diperkuat oleh patriotisme dan nasionalisme yang kembali tegar. Maka dapat diharapkan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi Dasar Negara yang selalu diucapkan belaka, melainkan menjadi kenyataan hidup yang membahagiakan bangsa Indonesia.

RSS feed | Trackback URI

6 Comments »

Comment by retno
2013-02-16 22:47:02


ak siap maturnuwun

 
Comment by retno
2013-02-16 22:46:32


ok trimaksaih

 
2009-07-16 13:30:22


Sdr. Wieta,

Tentu Anda boleh kutip dengan menyebut nama penulis. Salam,

Sayidiman S.

 
Comment by wieta
2009-07-13 18:07:51


artikel ini memberi pencerahan untuk kita tentang disiplin dari seorang pemimpin. boleh saya kutip ya, pak. akan saya sebutkan sumbernya… terima kasih

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post