Perubahan Dalam Sikap Hidup Barat

Posted by Admin on Friday, 10 April 2009 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Jakarta, 10 April 2009

Kita sudah tahu bahwa dasar dalam sikap hidup Barat mengutamakan penggunaan Rasio dalam cara berpikir. Hal ini diletakkan dasar-dasarnya dalam Renaissance yang mereka alami mulai abad ke 15. Sikap hidup demikian telah memungkinkan orang Barat mengembangkan sains dan teknologi dengan amat menakjubkan.

Berdasarkan sikap hidup itu dunia Barat melalui Galilei Galileo menemukan bahwa Bumi itu bulat dan bukan datar sebagaimana sebelumnya dikira manusia. Memang pemikiran itu membuat Galilei Galileo berhadapan dengan Gereja Katolik yang tidak dapat menerima pikiran baru itu. Akan tetapi perkembangan yang telah mulai dirintis tak dapat dibendung lagi oleh Gereja Katolik, sekalipun besar kekuasaannya.

Sikap hidup itu juga mengembangkan konsep hidup yang mengutamakan arti Individu Manusia yang kemudian membentuk paham Individualisme. Dan timbulnya keyakinan bahwa Manusia harus menaklukkan Alam sekitarnya. Hal ini membuat manusia Barat berani menempuh kehidupan dengan lebih dinamis. Dengan memanfaatkan hasil penemuan baru seperti kompas, mereka terdorong untuk menempuh lautan dunia untuk mencapai sumber kekayaan yang waktu itu berupa rempah-rempah. Dengan begitu mereka sampai di benua lain yang mereka namakan Amerika. Sekalipun mereka belum mencapai sumber rempah-rempah, tetapi Amerika pun mempunyai kekayaan yang dapat mereka rebut dan kuasai. Usaha lain dalam menempuh lautan dunia akhirnya memungkinkan mereka mencapai sumber rempah-rempah, yaitu Indonesia Tanah Air kita tercinta.

Dengan sikap yang mengutamakan penaklukan dan penguasaan, dibantu oleh berbagai penemuan sains dan teknologi yang mereka kembangkan, maka itulah yang melahirkan Imperialisme dan Kolonialisme, yaitu penaklukan dan penguasaan manusia oleh bangsa-bangsa Barat. Manusia Barat menjadi makin kaya berkat segala penguasaan berbagai wilayah Dunia itu. Sikap hidup yang rasional dan mengutamakan penguasaan bagi kesejahteraan Individu telah lama meninggalkan sikap Harmoni dalam kehidupan. Yang diutamakan adalah persaingan menuju penguasaan paling luas. Sikap “Yang Menang Ambil Semuanya” (The Winner Takes All) adalah sikap yang dianggap wajar dan bahkan bagian penting dalam Evolusi. Sifat serakah dianggap penting sebagai dasar ekonomi yang maju. Perkembangan Ilmu Fisika oleh Isaac Newton memperkuat paham Individualisme itu.

Meskipun sikap hidup demikian telah membuat Barat maju dalam kehidupan materiil serta menjadi makin kaya, tetapi tidak bebas dari aspek yang merugikannya. Ternyata kemudian sikap menguasai tidak hanya terjadi terhadap bagian Umat Manusia lain di luar wilayah Barat, melainkan juga terjadi antara bangsa-bangsa Barat sendiri. Terjadinya Perang Dunia I dengan korban amat besar dalam manusia dan benda menimbulkan dorongan untuk berpikir lebih mendalam tentang kehidupan. Maka ahli pikir Barat mulai menyatakan bahwa sikap Barat sebagai hasil Renaissance perlu ada pengkajian kembali. Keluar tulisan-tulisan yang bersangkutan dengan itu, seperti dilakukan Sorokin dari Universitas Harvard di AS, Oswald Spengler di Jerman, Huizinga dan Romein di Belanda, Ortega Y Gasset di Spanyol.

Maka proses yang mulai tampak sejak permulaan abad ke 20 itu sekarang menjadi lebih kuat, hal mana juga didorong oleh kenyataan yang harus dihadapi Barat, termasuk dalam perkembangan sains dan teknologi. Seperti perkembangan sains dalam Fisika Kwantum (Quantum Physics) yang melahirkan pengetahuan yang berbeda dan bahkan bertentangan dengan pengetahuan klassik dari Fisika Newton.

Minggu yang lalu di harian The New York Times ada tulisan David Brooks berjudul The End of Philosophy yang memberikan indikasi perubahan cara berpikir Barat klassik. Dalam tulisan itu penulis menyatakan bahwa sikap yang lazim dianut untuk memberikan kepada Rasio (Reason) tempat utama dalam kehidupan nampaknya tidak sesuai dengan kenyataan. Penulis berpendapat bahwa sekarang kaum psikolog dan pakar filsafah mempunyai sikap berbeda tentang sumber moralitas. Secara klassik di Barat ada pendapat bahwa moralitas adalah produk dari Rasio. Akan tetapi nyatanya keputusan moral (moral judgments) lebih banyak produk dari Intuisi. Artinya, pada waktu manusia berpendapat tentang sesuatu, kesimpulannya lebih dulu ditentukan oleh Intuisi dan Emosi sedangkan Rasio baru aktif kemudian. Jonathan Haidt dari Universitas Virginia menulis antaranya : “The emotions are,in fact, in charge of the temple of morality, and… moral reasoning is really just a servant of masquerading as a high priest.”

David Brooks kemudian bertanya, kalau begitu halnya apa yang menjadi penggerak emosi moralitas ? Jawaban klassik, penggerak itu adalah Evolusi. Sedangkan dalam pandangan Barat klassik Evolusi adalah identik dengan Persaingan. Namun telah berkembang pandangan baru bahwa Evolusi tidak hanya bersifat Persaingan antar-Individu, melainkan juga Kerjasama atau Kebersamaan dalam Kelompok. Dalam sejarah hidupnya Manusia telah menghadapi ancaman dengan bekerjasama serta saling membantu dalam kehidupan berkelompok. Nah, kalau begitu, kata David Brooks sebagai penulis, Emosi dan Intuisi Moral Manusia merefleksikan sejarah Kerjasama dan Kebersamaan Kelompok dalam seluruh kehidupan manusia . Manusia tidak hanya menganggap penting bahwa perlu ada hak Individu, tetapi juga sangat mendambakan loyalitas, respek, tradisi dan religi. Manusia yang berkembang dalam Evolusi adalah produk dari Kebersamaan yang sukses.

Dengan demikian tempat Intuisi dalam kehidupan manusia menjadi amat penting, bahkan lebih penting dari Rasio. Hal ini merupakan tantangan kepada sikap hidup Barat klassik yang mengutamakan Rasio dan Individualisme. Dan dengan begitu tantangan terhadap seluruh konsep kehidupan Barat yang sekarang menguasai dunia.

Nampaknya Krisis Ekonomi yang sejak tahun 2008 menghantam umat manusia juga merupakan bagian dalam proses perubahan sikap hidup Barat. Manusia Barat sekarang tidak hanya melihat tetapi bahkan sengsara karena sikap serakah dan mengutamakan kepentingan sendiri yang telah didemonstrasikan kalangan perbankan sebagai produk kapitalisme Barat. Orang-orang Barat yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan menabung hasil dari kegiatannya itu sekarang mengalami bagaimana seluruh tabungannya itu lenyap karena keserakahan yang menjadi dasar kehidupan kaum perbankan. Sedangkan sifat serakah itu dibenarkan dalam Individualisme Barat sebagai dorongan peningkatan kesejahteraan.

Apakah pengalaman getir ini yang meliputi jutaan manusia di dunia Barat, baik Amerika maupun Eropa, akan memperkuat dorongan untuk menimbulkan perubahan sikap hidup Barat ?

Menjadi pertanyaan apakah sikap Barat yang sejak Renaissance mengutamakan penaklukan dan penguasaan, dapat berubah dengan mengutamakan Harmoni dan Kebersamaan seperti yang menjadi sikap hidup Manusia Timur termasuk Pancasila di Indonesia ? Kalau itu dapat terjadi maka kita dapat mengharapkan kehidupan umat manusia yang jauh lebih damai dan mungkin sekali juga jauh lebih sejahtera. Juga menjadi amat penting kalau sikap penaklukan terhadap Alam berubah menjadi sikap hidup dalam harmoni dengan Alam. Dengan begitu dapat diharapkan bahwa penghancuran Alam yang sudah terjadi dengan amat deras sejak umat manusia melakukan Modernisasi dapat diakhiri.

Buat Manusia Indonesia perkembangan ini penting sekali untuk diperhatikan guna perkembangan dirinya sendiri. Sebab hal itu menjadi bukti nyata bahwa Pancasila sebagai pedoman hidup atau Weltanschauung sebagaimana dikatakan Bung Karno adalah benar dan karena itu jangan sekali-kali ditinggalkan sebagaimana sekarang justru hendak dilakukan oleh beberapa orang Indonesia sendiri. Sebaliknya Pancasila justru harus menjadi Kenyataan di Bumi Indonesia.

Semoga Kepemimpinan Nasional yang terbentuk di Indonesia pada tahun 2009 ini sungguh-sungguh memperhatikan perkembangan umat manusia ini dan mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk memimpin Indonesia bergerak makin dekat kepada Tujuan Nasionalnya, yaitu terwujudnya Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post