Siapa Pengurus Baru ?

Posted by Admin on Saturday, 31 January 1976 | Artikel

Jakarta, 31 Januari 1976

Musornas III Koni pusat memilih 3 orang formatur untuk menyusun pengurus baru dalam waktu 1 bulan. jabatan ketua umum masih teka-teki. Sri sultan tidak rela jabatannya dijadikan penampungan pejabat. (or)

AKHIRNYA laporan kerja pengurusu KONI Pusat 1971-1975 diterima Musornas III, pertengahan Januari lalu. Tapi sisa ketegangan nampaknya masih mempengaruhi suasana gedung KONI Senayan, di mana pengurus lama di bawah pimpinan Pejabat Ketua Suprayogi, berkantor. Masalahnya bukan lagi soal berhasil atau gagalnya pengurus lama. Tapi lebih menjurus pada siapakah personalia pimpinan KONI Pusat untuk periode 1976-1980. Akan hal ini Wakil Presiden Hamengkubuwono dalam kata sambutannya pada pemilihan Musornas III ada menyinggung, norma-norma kepemimpinan ini."Olahraga memerlukan organisasi yang sehat dan bebas dari pamrih pribadi. Organisasi itu memerlukan pimpinan yang kuat dan bijaksana. Adapun pimpinan perlu dipegang oleh orang-orang yang berkepribadian sportif dan tegas", katanya.

Jatah

Namun dengan petuah itu tidak berarti penyusunan pengurus baru berlangsung tanpa ketegangan. Kasak-kusuk, tawar-menawar kursi jabatan, baik oleh pengurus yang ingin bertahan maupun oleh mereka yang ingin merebut kemudi KONI, tak terhindarkan. Dan akhirnya untuk menembus kesulitan tersebut, Musornas memilih 3 formatur. Ketiga formatur ini adalah Sultan Hamengkubuwono mewakili pengurus lama, Sayidiman Suryohadiprojo (Ketua I PB PASI) mewakili induk-induk oranisasi dan Rivai Harahap (Ketua KONI Propinsi Aceh) mewakili KONI-KONI daerah. Ketiga tokoh ini diberi waktu satu bulan untuk melahirkan pengurus yang baru.

Semula beredar suara cukup santer bahwa wakil dari PBSI (Bulutangkis) menuntut agar dalam kepengurusan KONI Pusat yang baru diikut-sertakan pimpinan dari induk-organisasi yang berprestasi. Dalam hal ini PBS1 telah siap dengan calonnya, P. Sumarsono, Sekjen PBSI sekarang. Kedudukan yang dibidik juga Sekjen KONI Pusat. Tapi nampaknya kurang mendapat dukungan dari peserta Musornas. Sebab menurut mereka, yang penting dalam kepemimpinan KONI tidak hanya berkisar pada prestasi anak buah. Namun lebih penting adalah kecakapan dan kemampuan mewadahi 30 lebih induk organisasi anggota KONI ke dalam dan keluar . Lagi pula ada yang mengatakan bahwa kepemimpinan KONI Pusat bukan semacam lembaga perwakilan yang memberi hak istimewa kepada induk organisasi yang berprestasi. Pimpinannya harus dinilai perorangan, tanpa embel-embel. Namun demikian, konon untuk PBSI diberi "jatah" juga: Bendahara. Calonnya: tetap Sumarsono.

Cukup memusingkan

Siapakah Ketua Umum yang baru?. Pertanyaan ini menjadi lebih menarik mengingat tekad pimpinan KONI yang baru untuk menghapuskan predikat "pejabat" pada Ketua Umum. "Mungkin Sri Sultan, mungkin Pak Suprayogi, mungkin juga orang lain", kata seorang pengurus KONI Pusat yang lama. Tapi dari sambutan Sri Sultan pada pembukaan Musornas, jelas ia tidak lagi berambisi untuk memegang tampuk pimpinan KONI. Sejak pengangkatannya oleh MPR menjadi Wakil Presiden RI Sri Sultan mengakui, ia tidak dapat langsung memegang sendiri Pimpinan KONI Pusat. Tapi untuk mengukuhkan Suprayogi menjadi Ketua Umum tanpa predikat "pe jabat", tergantung pada kehendak para anggota. Sementara itu suara anggota sendiri bukan tidak cenderung untuk menampilkan muka baru . Namun dari keterangan-keterangan yang dapat dikumpulkan TEMPO, Sri Sultan sebagai tokoh olahraga tidak rela kala jabatan Ketua Umum itu dijadikan semacam pos yang hanya untuk menampung bekas pejabat-pejabat tinggi lainnya. Jika, hal itu sampai terjadi Sri Sultan kabarnya akan turun tangan menyelamatkan KONI. Dan ia tak segan-segan untuk memegang kembali jabatan Ketua Umum. Mengingat sampai sekarang dukungan buat Sri Sultan hampir aklamasi.

Konon pengurus lama yang favorit akan bertahan disebut-sebut nama Suprayogi, Gatot Suwagio (Ketua I Bidang Pembinaan Prestasi) dan M.F. Siregar (Sekjen). Kedudukan Sekjen hampir dipastikan dipegang Siregar kembali. Hanya untuk jabatan Wakil Sekjen tidak lagi dipilih oleh Sekjen yang bersangkutan, tapi ditentukan pula oleh ketiga orang formatur. Ketiga calon itu tidak jauh berkisar pada Imam Suyudi (Pimpinan KONI Jaya), Harsuki (Sekjen Perbasi) dan Sudono (Perbasi).

Nama pendatang baru lainnya disebut pula R.A. Kosasih (Ketua PB Ikasi — Anggar), Sayidiman Suryohadiprojo (Ketua PB PASI). Kosasih selama mengletuai sidang KONI Paripurna ke-VII menarik simpati para anggota berkat kepemimpinannya. Sayidiman favorit di kalangan induk-induk organisasi. Tapi penempatan Sayidiman di pimpinan KONI terbentur pada jabatannya di PASI. Ia termasuk salah seorang pimpinan yang sedang membanting tulang membangkitkan kegairahan Atletik yang selama ini melempem. Mungkin buat Sayidiman disediakan pos yang tidak terlalu sibuk.

Untuk melengkapi selumh pos kepengurusan KONI dari Bidang daerah, Bidang Prestasi, Bidang Organisasi, Bidang Luar Negeri sampai Bidang Dana, nampaknya tidak begitu mudah. Kaderisasi buat pos-pos penting itu nampaknya kurang mendapat pembinaan yang setimpal. Terjadilah gap yang cukup memusingkan.

Source :
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1976/01/31/OR/mbm.19760131.OR68656.id.html

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Comment by Gloria J. Rowland
2018-03-10 22:18:41


Waduuh info lama nih

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post