Pejuang Kemerdekaan Minta Klarifikasi

Posted by Admin on Monday, 8 September 2003 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

DALAM rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ke-58 RI, pengurus pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) mengadakan sarasehan, 14 Agustus 2003. Hal itu tidak mengherankan karena Kagama adalah satu organisasi yang berwibawa dalam masyarakat Indonesia. Bukankah anggota Kagama alumni universitas bangsa Indonesia yang tertua dan banyak lulusannya menjadi pemimpin bangsa dan masyarakat, termasuk menjadi menteri dalam berbagai pemerintahan yang telah berdiri selama sejarah Republik Indonesia?

UNIVERSITAS Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga perguruan tinggi yang tua, tetapi mereka merupakan kelanjutan dari perguruan tinggi yang didirikan penjajah Belanda, yaitu Universiteit van Indonesie, sedangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) sepenuhnya bentukan bangsa Indonesia tahun 1948. Tidak mengherankan, banyak pemuda dari seluruh Indonesia, termasuk dari luar Jawa, belajar di UGM. Anggota Kagama tidak hanya ada di Jakarta atau Yogyakarta, tetapi di seluruh Tanah Air. Tidak mustahil berita tentang sarasehan 14 Agustus 2003 dimuat luas di media Jakarta, juga luar Jakarta.

YANG mengherankan bagi pejuang kemerdekaan Indonesia, yang luas diberitakan sebagai hasil sarasehan itu menimbulkan banyak pertanyaan. Seorang peserta sarasehan yang dikenal sebagai seorang sarjana bergelar doktor dan pakar sejarah antara lain mengatakan, selama ini terjadi kesalahan dalam membangun nasionalisme di Indonesia. Ia mengatakan, "Indonesia melakukan kesalahan besar karena membangun nasionalisme dengan kekuatan senjata (militer). Seharusnya nasionalisme dibangun melalui pendidikan dan dialog. Harus disadari dengan menengok kembali sejarah, Indonesia tidak dibangun dengan senjata, tetapi dengan dialog. Dulu, dengan mengandalkan kekerasan, Indonesia selalu gagal menghadapi Belanda sehingga dijajah selama 300 tahun. Kemudian hanya dalam 37 tahun pergerakan nasional, bangsa Indonesia malahan berhasil merumuskan Pancasila, Pembukaan UUD 1945, serta mewariskan kemerdekaan."

Pernyataan ini menimbulkan banyak pertanyaan, khususnya bagi pejuang kemerdekaan Indonesia yang telah mengabdikan jiwa dan raga untuk mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan bangsa yang diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945. Pengabdian dengan mengerahkan jiwa dan raga diperlukan karena begitu kemerdekaan diproklamasikan, bekas penjajah Belanda yang setelah selesainya Perang Dunia II ikut datang ke Indonesia bersama sekutu AS dan Inggris berusaha menjajah kembali dan meniadakan kemerdekaan bangsa yang baru beberapa hari itu. Ini semua tercatat gamblang dalam sejarah nasional Indonesia dan diketahui umum secara luas di dunia.

Kemauan buruk penjajah Belanda tidak hanya ditunjukkan dengan dialog atau diplomasi, tetapi dengan menggerakkan pasukan bersenjata yang tersohor bengisnya. Maka, pemuda Indonesia, mula-mula di Jakarta lalu di Surabaya dan kota-kota lain, mengadakan perlawanan karena tidak sudi dijajah kembali. Penjajah menggunakan kekerasan untuk mencapai maksudnya, sebab itu perlawanan pun dilakukan dengan kekerasan. Itu semua dilandasi semangat kebangsaan atau nasionalisme yang substansinya adalah cinta tanah air dan bangsa.

Sekarang, dikatakan dalam sarasehan Kagama, nasionalisme demikian merupakan kesalahan besar, dan seharusnya diadakan dialog dengan penjajah. Memang, selain perlawanan bersenjata, bangsa Indonesia juga mengadakan dialog atau diplomasi. Maka, dicapailah Persetujuan Linggarjati tahun 1946. Tetapi, penjajah tidak rela bangsa Indonesia merdeka.

Pada 21 Juli1947, penjajah melanggar persetujuan hasil dialog dan menyerang Republik Indonesia dengan kekuatan militernya yang kembali dilawan pemuda dan rakyat secara gigih. Sejarah mencatat, gerakan militer Belanda tidak disetujui banyak pihak di dunia dan kedua pihak diharuskan berdialog kembali. Lahirlah Persetujuan Renville, tetapi kembali hasil dialog itu dibatalkan penjajah dengan melancarkan serangan militer pada 18 Desember 1948.

Kembali rakyat dan pemuda melawan dengan tekad kebangsaan yang kuat dan akhirnya penjajah Belanda harus mengakui kedaulatan dan kemerdekaan bangsa pada 27 Desember 1949. Jadi jelas, pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia adalah hasil seluruh usaha bangsa, baik berupa perlawanan bersenjata maupun diplomasi. Dalam perjuangan itu, rakyat dan pemuda Indonesia rela melakukan apa saja demi kemerdekaan bangsa atas dasar cinta tanah air dan bangsa. Apakah sikap demikian merupakan nasionalisme yang salah? Sementara yang dianggap nasionalisme yang benar adalah yang tidak mau melawan penjajahan Belanda, tetapi bekerja sama dengan Belanda mendirikan berbagai negara boneka, seperti Negara Indonesia Timur (NIT), Negara Sumatera Timur (NST), Negara Pasundan (NP), dan lainnya? Juga sikap semua orang Indonesia yang sudi menjadi kaki tangan penjajah dengan menumpas perlawanan pejuang kemerdekaan, antara lain menjadi agen NEFIS?

PEJUANG kemerdekaan Indonesia mengharapkan klarifikasi Kagama karena pernyataan dalam sarasehan itu pasti dibaca banyak kalangan, termasuk anak-anak muda yang kurang mengetahui kondisi bangsa pada permulaan kemerdekaan. Bisa saja generasi Indonesia masa kini dan masa depan menerima ucapan doktor pakar sejarah itu sebagai kebenaran. Hal itu berarti, semua usaha pejuang kemerdekaan melawan penjajah Belanda adalah satu kesalahan besar.

Di antara alumni UGM tidak sedikit yang pejuang kemerdekaan, yang dengan gagah berani melawan Belanda, seperti Dr Prakoso, Komandan Kompi TP Solo lalu menjadi dokter dan Kepala Dinas Kesehatan TNI AD. Juga banyak mahasiswa dan alumni UGM yang anak atau cucu pejuang kemerdekaan yang gagah berani. Apakah mereka semua orang-orang dengan sikap nasionalisme salah? Maka jelas, Kagama perlu memberi klarifikasi tentang hasil sarasehan itu, sekurang-kurangnya untuk anggotanya sendiri yang pejuang kemerdekaan atau anak cucu pejuang kemerdekaan.

Yang sukar dimengerti adalah mengapa doktor pakar sejarah mengeluarkan pernyataan itu, padahal sebagai pakar sejarah ucapannya banyak kelemahannya. Dapat diduga, ucapan itu mengandung latar belakang rasa kurang senang terhadap TNI yang merupakan inti perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Tetapi, ia lupa, tidak hanya TNI yang melawan Belanda secara gigih, tetapi juga rakyat yang sudah tidak sudi hidup dalam penjajahan. Dengan demikian, tidak hanya TNI yang dianggap nasionalis palsu atau salah, tetapi juga jutaan rakyat pejuang kemerdekaan.

Source : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0309/08/opini/544138.htm

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post