Feb 4

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 4 Februari 2009 Pendidikan Sekolah Penting Sekali Masa depan satu bangsa sangat tergantung pada mutu Sumber Daya Manusianya (SDMnya) dan kemampuannya menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Dua hal ini diwujudkan melalui Pendidikan yang meliputi Pendidikan dalam Keluarga, Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Sekolah. Pendidikan Sekolah perlu dialami setiap orang Indonesia, selain memperoleh Pendidikan dalam Keluarga sejak ia lahir dan Pendidikan Masyarakat yang ia alami sebagai manusia dewasa.. Sebab melalui Pendidikan Sekolah dapat diciptakan orang yang lebih berpengetahuan dan lebih berkemampuan dari pada orang yang tidak mengalaminya. Memang dalam kenyataan masih banyak orang yang tidak mendapat Pendidikan Sekolah, baik karena tidak memperoleh kesempatan berhubung kondisi ekonominya maupun karena kondisi sosial tertentu tidak memungkinkannya. Akan tetapi di dalam Indonesia Merdeka hal demikian tidak boleh terjadi, karena merugikan orang itu dalam menjalankan hidupnya dan juga read more .....

Jan 31
PERANG INFORMASI
Admin | 01 31st, 2009 | Catatan | 19 Comments »

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 31 Januari 2009 Dalam peluncuran buku saya Pengantar Ilmu Perang pada tanggal 29 Januari 2009 terjadi diskusi yang cukup ramai dan bermutu. Andai kata hadirin semua sudah mempunyai buku itu sebelum peluncuran pasti diskusi akan lebih ramai lagi. Akan tetapi secara teknis tidak mungkin buku itu dibagi sebelumnya dalam jumlah banyak, sehingga hanya Moderator, Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, dan 2 orang pembahas, yaitu Dr. Edy Prasetyono dan Mayjen TNI (Purn) Zacky Makarim, yang sudah dapat diberi buku itu sebelum acara peluncuran. Namun demikian cukup banyak bahan yang saya peroleh untuk menyempurnakan buku itu kalau Penerbit Pustaka Intermasa nanti melakukan cetakan kedua buku itu. Itu termasuk pendapat yang setelah peluncuran disampaikan kepada saya dari kawan-kawan yang menyempatkan membaca buku itu setelah peluncuran. Di antara bahan-bahan penyempurnaan itu masalah Perang Informasi yang ingin saya uraikan dalam tulisan ini. Memang dalam buku Pengantar Ilmu Perang sudah dikemukakan pentingnya read more .....

Jan 15

Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 15 Januari 2009 Pendidikan sebagai usaha menjamin Kesintasan (Survival) Pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan Manusia sejak permulaan eksistensinya. Ketika Manusia Purba melahirkan anak maka ayah dan ibunya, terutama ibunya, secara instinktif menjaga agar anak itu sintas atau hidup berlanjut (survive) dalam menghadapi alam sekelilingnya. Melahirkan anak sebagai proses reproduksi Manusia merupakan bagian penting dalam naluri untuk kelanjutan eksistensi Manusia. Sebab itu sejak anak itu bayi ayah dan ibu tidak saja menjaganya dari bahaya yang membahayakan kelangsungan hidupnya, tetapi juga mengajarkan kepada anak bagaimana ia harus berlaku untuk tetap hidup dan bahkan hidup lebih baik. Inilah ujung kegiatan Pendidikan yang dilakukan Manusia. Sebab itu Pendidikan perdefinisi (by definition) harus bermutu, sebab Pendidikan yang tidak bermutu tidak memenuhi tujuan untuk apa diberikan pendidikan, yaitu menjamin Kesintasan Manusia. Dalam ukuran alam purba Pendidikan yang tidak bermutu tidak dapat read more .....

Dec 26

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 26 Desember 2008 Kesejahteraan Rakyat adalah Tujuan Kemerdekaan Bangsa Kita sudah lebih dari 63 tahun merdeka, tetapi tujuan Perjuangan Nasional kita masih banyak yang belum terwujud. Memang tujuan menjadi negara dan bangsa merdeka dan berdaulat di dunia ini sudah tercapai. Akan tetapi ada tujuan lain yang amat penting dan menjadi dorongan dan motivasi banyak orang untuk turut menjalankan Perjuangan Nasional 63 tahun yang lalu, yaitu terwujudnya Kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia. Tujuan ini masih jauh dari kenyataan hidup kita. Meskipun ada polemik antara pihak Pemerintah Pusat dan beberapa orang pengamat ekonomi tentang angka kemiskinan di Indonesia, namun terlepas dari angka mana yang benar saya kira tidak ada yang menolak bahwa kemiskinan masih merupakan gambaran nyata masyarakat Indonesia dewasa ini. Apalagi pada tahun 2008 ini diperkirakan kemiskinan meningkat setelah ada Krisis Global tahun 2008 . Menurut perkiraan Tim Pusat Penelitian LIPI kenaikan harga BBM menaikkan Garis read more .....

Dec 10

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 10 Desember 2008 Buat para penggemar olahraga, khususnya sepakbola, adalah menyedihkan ketika melihat atau mendengar Indonesia kalah lagi pertandingannya melawan Singapore dengan 2-0 pada tanggal 9 Desember lalu. Terutama buat mereka yang umurnya di atas 70 tahun dan mengalami tahun-tahun 1960-an hal ini amat memukul. Sampai sekitar tahun 1970 team nasional Indonesia termasuk yang terkuat di Asia Tenggara. Paling-paling pesaingnya yang serieus adalah Thailand. Malahan ketika team Indonesia terdiri atas Van der Vin atau Maulwi Saelan sebagai keeper, pemain-pemain belakang yang terdiri atas Sidi sebagai stopperspil, Him Tjiang sebagai back bersama-sama Tan Liong Houw, Sidik dan Saderan di garis tengah, dan di depan Ramang sebagai centre-forward yang produktif dibantu Jamiat, Ing Hien, Jusuf Siregar, Sugiono, Witarsa, Tan San Liong dan Siang Liong, team Indonesia tidak ada saingannya di Asia Timur. Ketika itu Jepang belum serieus bermain sepakbola (baru mulai serieus setelah tahun 1980an) dan read more .....

Nov 24

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 24 November 2008 Selalu menjadi ingatan saya ketika almarhum Letjen Djatikoesoemo pada tahun 1948 sebagai Gubernur Akademi Militer Yogya (waktu itu pangkat beliau Kolonel Inf) menyampaikan pikiran beliau kepada saya. Waktu itu adalah hari-hari terakhir saya menjadi Taruna Akademi Militer dan telah menyelesaikan semua ujian akhir, tinggal menunggu pengumuman hasil ujian dan pelantikan sebagai Perwira TNI oleh Presiden RI, Soekarno. Ketika itu Pasukan Taruna AM baru pulang dari operasi menghadapi Pemberontakan PKI Madiun bergabung pada Divisi Siliwangi. Pada satu hari Pak Djatikoesoemo menghampiri saya dan mengatakan ke dalam bahasa Inggeris: Watch the Aftermath of the Revolution ! Saya mengerti ucapan beliau secara harfiah, yaitu : Perhatikan Keadaan Setelah Revolusi ! Akan tetapi saya tidak menangkap makna sebenarnya dari ucapan beliau. Sebelum saya dapat menanyakan apa yang beliau maksudkan, Pak Djati sudah pergi, meninggalkan saya dengan pikiran yang penuh pertanyaan. Setelah peristiwa itu read more .....

Nov 20

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, November 20, 2008 Pancasila as the Basis of Democracy in Indonesia Basically Democracy is not something strange for the people of Indonesia. Although the Dutch colonial regime did not establish a democratic system in the country, they did not prohibit the implementation of a certain kind of democracy in the villages. The people in the villages elected their village heads in all parts of the country. But Democracy became a part of national life when Indonesia achieved its independence. It became one of the Five Basic Principles of Life or Pancasila as the basic foundation or the Weltanschauung of the independent Republic of Indonesia.[1] At the session of the Council to Study Endevours for the Preparation of Independence (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, BPUPKI) on June 1,1945 Ir Soekarno or Bung Karno , the eminent leader of the national struggle for independence, proposed that an independent Indonesia should have a Weltanschauung, a Philosophy of Life. He then explained read more .....

Nov 7

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Jakarta, 10 November 2008 Adalah menggembirakan bahwa makin banyak orang di Indonesia sadar tentang perlunya transportasi massal yang mempunyai dampak luas dan mendalam pada perkembangan bangsa. Di antara berbagai modus transportasi massal perkeretaapian memegang peran penting. Tulisan ini bermaksud membicarakan berbagai aspek perkeretaapian di Indonesia. Tidak dapat dikatakan bahwa kereta api (KA) sudah berperan luas di Indonesia. Kalau kita perhatikan bahwa salah satu tujuan utama NKRI adalah mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat banyak, maka kita melihat bahwa sejak bangsa Indonesia merdeka hingga sekarang belum pernah ada perluasan jaringan KA yang nampak. Padahal peran KA dalam penciptaan kesejahteraan rakyat banyak amat menonjol. Dapat dilihat bahwa umumnya negara-negara yang melakukan pembangunan bangsa membentuk jaringan KA yang luas agar sebanyak mungkin bagian wilayah nasionalnya dapat dijangkau dengan KA. Itu dilakukan RRChina sejak 1949 dan hingga kini masih terus berjalan dan itu read more .....

Oct 28

Jakarta 28 Oktober 2008 Oleh Sardjono Sigit, Widyaiswara Utama (Purn) – Pusdiklat Pegawai DEPDIKNAS 1. Pendahuluan Sejarah perjalanan nasionalisme Indonesia dalam kurun waktu 10 tahunan terakhir ini sedang menghadapi ujian. Sesudah ulang tahun kemerdekaan ke 63 serta Sumpah Pemuda ke 80 tahun 2008 ini, ternyata jiwa dan semangat kebangsaan Indonesia, belum menyentuh seluruh anak bangsa. Sebagai Negara yang lahir dari konsep politik, le desire d’etre ensemble (Ernest Renan) dan aus Schicksalgemeinschaft erwachsene Charactergemeinschaft (Otto Bauer) yang dikumandangkan Bung Karno tahun 1945, Indonesia adalah bekas jajahan Belanda yang dahulu bernama Nederlandsch Indië dan bukan dari konsep budaya; maka nasionalisme Indonesia benar-benar masih menghadapi cobaan. Semboyan Bhineka Tunggal Ika sebagai konsep pemersatu kultural dan Wawasan Nusantara sebagai konsep pemersatu geopolitis, masih harus diuji kembali. Pancasila sebagai falsafah bangsa ternyata lebih dikenal pada kulitnya ketimbang essensinya sebagai read more .....

Oct 14

oleh : Sardjono Sigit Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa Indonesia yang lahir pada 1 Juni 1945 mengalami pasang surut yang luar biasa dalam sistem kurikulum kita. Semenjak kita memasuki Orde Baru pasca 1965, urgensi penyebutan Pancasila secara explisit dalam sistem kurikulum menjadi sangat mutlak. Hal ini terjadi karena sebelum peristiwa G-30-S/PKI tahun 1965 itu, sebagai titik balik perjalanan sejarah bangsa ini, Pancasila menempati ruang yang penuh dengan wacana dalam sistem politik di negeri ini. Dalam kurikulum 1964, ( istilah yang dipakai pada waktu itu bukan ”kurikulum” tetapi ”Rencana Pendidikan” ), yang kemudian ditimpali dengan Penetapan Presiden no. 19/1965, pendidikan Pancasila ini bahkan ditafsirkan menurut Manifesto Politik dan USDEK serta ditafsirkan pula menurut ciri-ciri manusia sosialis Indonesia.,yang kedua-duanya merupakan doktrin politik Orde Lama yang terkenal itu. Di bidang pendidikan, doktrin ini ditambah dengan ”Pancawardana” sebagai sub pokok bahasan. Dalam Penpres no. 19/1965 itu read more .....