Artikel | Sayidiman Suryohadiprojo
Jan 9

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhanas, WAKASAD dan Dubes RI untuk Jepang) – ( Senin, 09 Jan 2017 – 10:42:32 WIB ) di Rubrik TSKita Revolusi Teknologi Dunia dan ummat manusia sedang dalam perkembangan yang amat dinamis dan karena itu juga amat menarik. Salah satu faktor yang besar dampaknya pada perkembangan ummat manusia adalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dalam 10 tahun belakangan ini Teknologi telah berkembang dengan amat pesat sehingga Stephen Hawkins pakar Fisika tersohor dari Universitas Cambridge (Inggris) menyatakan di harian The Guardian bahwa perkembangan ini adalah the most dangerous moment in the development of humanity . Teknologi memang sedang mencapai tingkat yang makin tinggi, antara lain memungkinkan membuat mesin yang dapat berpikir (artificial intelligence) seperti Manusia. Kalau sebelumnya hanya Manusia yang dapat berpikir maka sekarang monopoli itu tiada lagi. Perkembangan ini dapat disamakan dengan apa yang terjadi pada abad ke 16 di Eropa ketika terjadi Renaissance yang read more .....

Dec 10

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhanas, WAKASAD dan Dubes RI untuk Jepang) – ( Sabtu, 10 Des 2016 – 08:32:40 WIB ) di Rubrik TSKita Kepemimpinan dan Manajemen yang Lemah Hal yang juga banyak mempengaruhi kondisi tertinggal adalah Kepemimpinan dan Manajemen yang lemah. Kepemimpinan dan Manajemen yang dilakukan Presiden NKRI pertama merupakan contoh yang jelas dari lemahnya Kepemimpinan dan Manajemen dalam masyarakat Indonesia. Semua pihak termasuk musuh-musuh Indonesia mengakui keunggulan Ir Sukarno yang brilyan dan menjadi sebab dan dorongan utama bangsa Indonesia menjadi merdeka, khususnya mempunyai satu Weltanschauung yang berlaku hingga akhir zaman bernama Pancasila. Namun sayang sekali sekali untuk bangsa Indonesia bahwa Bung Karno kurang dapat mengendalikan sifat-sifat pribadinya yang kurang produktif sehingga Kepemimpinan dan Manajemen yang beliau lakukan tidak menjadikan Indonesia berkembang sesuai dengan kegemilangan pikiran dan konsep yang beliau hasilkan. Ketika Indonesia pada tahun 1950 read more .....

Dec 10

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhanas, WAKASAD dan Dubes RI untuk Jepang) – ( Sabtu, 10 Des 2016 – 07:43:10 WIB ) di Rubrik TSKita Kelemahan dalam Pembangunan Bangsa Tidak jarang orang bertanya mengapa Indonesia dengan potensinya yang cukup besar bisa tertinggal dari negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Pertanyaan ini diajukan oleh orang-orang luar negeri yang besar minatnya kepada Indonesia, tetapi juga oleh orang Indonesia sendiri khususnya para Pejuang Kemerdekaan yang telah memberikan pengabdian dalam mewujudkan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat , lepas dari penjajahan Belanda yang panjang. Yang bertanya itu mengetahui bahwa Indonesia dikaruniai Tuhan dengan potensi aneka ragam dan dalam jumlah atau ukuran besar dengan nilai tinggi. Seperti Sumberdaya Alam dalam bentuk Tanah yang luas dan subur di semua pulaunya, khususnya pulau-pulau besar seperti Sumatra-Jawa-Kalimantan-Sulawesi-Papua. Tanah subur itu memungkinkan melaksanakan Pertanian dan Perkebunan untuk menghasilkan aneka read more .....

Dec 5

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhanas, Wakasad dan Dubes RI Untuk Jepang) – ( Senin, 05 Des 2016 – 19:29:25 WIB ) di Rubrik TSKita Kesetiaan Nilai Luhur dalam Kehidupan Sekarang sering terdengar ada kelompok-kelompok orang berkumpul dan menyatakan Kesetiaan kepada NKRI. Adanya fenomena ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat timbul kekhawatiran tentang berkurangnya atau merosotnya Kesetiaan kepada Negara dan Bangsa Indonesia. Dan perkembangan demikian dinilai bertentangan dengan kehidupan bangsa yang wajar. Memang dalam kehidupan manusia faktor kesetiaan dianggap penting. Tidak saja dalam masyarakat yang bertitiktik berat kebersamaan seperti dalam masyarakat Indonesia yang berdasar Pancasila, tetapi juga di masyarakat AS dan Barat umumnya yang kehidupannya dilandasi Individualisme dan Liberalisme. Setia kepada kelompok seperti keluarga, lingkungan sekolah, perkumpulan sosial, adalah keharusan yang harus diperhatikan dan dilaksanakan setiap orang. Orang yang kurang setia kepada lingkungannya, read more .....

Nov 28

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhanas, WAKASAD dan Dubes Jepang) – ( Senin, 28 Nov 2016 – 05:20:21 WIB ) di Rubrik TSKita Cara Perang Neocortex (Neocortical Warfare) adalah cara perang tanpa penggunaan kekerasan. Jadi menyimpang dari definisi perang yang diberikan Von Clausewitz, yaitu Perang adalah tindakan kekerasan untuk memaksa musuh tunduk kepada kehendak kita. Lebih sesuai dengan pernyataan Sun Tzu , yaitu panglima perang yang unggul adalah ia yang dapat menundukkan musuhnya tanpa menggunakan pertempuran. Berkembangnya pemikiran ini dipicu oleh kemajuan Iptek, khususnya dalam biologi dan psikologi. Orang berpikir bahwa inti Perang adalah menundukkan kehendak musuh sehingga mau mengikuti kehendak penyerang, tidak melawan atau mempersulit keinginannya. Untuk menundukkan kehendak musuh yang penting adalah menundukkan kehendak pemimpin musuh tanpa harus berperang secara nyata. Kalau pemimpin mau tunduk, ia tidak akan membawa pengikutnya untuk melawan penyerang. Bahkan ia akan mengikuti kehendak read more .....

Nov 27

Oleh Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo (Mantan Gubernur Lemhanas, WAKSAD dan Dubes RI Untuk Jepang) – ( Minggu, 27 Nov 2016 – 13:33:35 WIB ) di Rubrik TSKita Tantangan dan Ancaman Bangsa Indonesia dan NKRI sedang menghadapi berbagai tantangan dan ancaman yang tidak sedikit dan tidak sederhana. Di bidang geo-politik saja perlu disebut tiga tantangan yang memerlukan perhatian serieus. Pertama adalah ambisi China untuk menguasai Laut China Selatan yang berakibat keperluan mengontrol Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kedua adalah kegiatan modal besar AS untuk menjamin penguasaannya atas hasil tambang Papua, khususnya dengan perusahaan Freeport. Hal ini lebih terjamin bagi mereka kalau Papua lepas dari NKRI. Ketiga, usaha ISIS meluaskan operasinya di Indonesia dengan memanfaatkan umat Islam Indonesia, apalagi mereka makin terdesak di Suriah. Untuk menghadapi dan mengatasi tiga masalah ini bangsa Indonesia dan NKRI sangat tergantung pada kemampuannya mengembangkan Ketahanan Nasional secara efektif dan nyata. Dalam read more .....

May 8

Pada tanggal 29 April 2012, dalam kesempatan penganugerahan bintang jasa untuk musim semi tahun 2012, pemerintah Jepang mengumumkan penganugerahan bintang jasa bagi 2 tokoh Indonesia berikut, atas jasa-jasa mereka dalam memperkokoh hubungan antara Indonesia dan Jepang. (1) Sayidiman Suryohadiprojo (84 tahun) Bintang tanda jasa : The Order of The Rising Sun, Gold and Silver Star Riwayat hidup utama : Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Gubernur Lemhanas, Anggota MPR Jasa utama : Memberikan kontribusi bagi promosi hubungan persahabatan antara kedua negara Jepang dan Indonesia. Kontribusi terhadap Jepang : seperti terlampir (2) Farida Wahyu (58 tahun) Bintang tanda jasa : The Order of The Sacred Treasure, Gold and Silver Rays Riwayat hidup utama : Staf Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Jasa utama : Memberikan kontribusi dalam kegiatan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Kontribusi terhadap Jepang : seperti terlampir Kontribusi terhadap Jepang 1. Sayidiman Suryohadiprojo (The Order of The Rising Sun, Gold and Silver Star) (1) read more .....

Jul 7

Sayidiman Suryohadiprojo Anggota TNI dan khususnya para Perwiranya terikat oleh Saptamarga sebagai Etika TNI. Makin tinggi pangkatnya makin kuat dan luas tanggungjawab pelaksanaannya. Orang yang benar-benar TNI tidak dibatasi masa aktif atau pensiun, kalau ia sungguh-sungguh berjiwa TNI. Dalam hubungan itu kita lihat posisi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintah RI. Para anggota TNI umumnya sesuai esprit de corps tentu ingin melihat SBY menjabat Presiden RI sampai tahun 2014 ketika masa jabatannya berakhir. Akan tetapi para anggota TNI sesuai Saptamarga juga tidak pernah melupakan kesetiaan dan cintanya kepada Tanah Air dan Bangsa Indonesia. Adalah kenyataan bahwa Tanah Air dan Bangsa sedang diliputi persoalan berat yang membuatnya makiin berantakan. Korupsi makin merajalela di semua lapisan masyarakat. Kriminalitas makin merusak dan membahayakan kehidupan dan Radikalisme membuat kehidupan bangsa makin jauh dari azas Gotong Royong. Dan read more .....

Aug 27

Sinar Harapan, Rabu, 27 Agustus 2008 Artikel ditulis oleh Tutut Herlina Jakarta-Sejumlah kekuatan asing yang ingin menguasai dunia telah menyebabkan Indonesia kehilangan jati diri bangsa. Keberadaan mereka akan terus mengancam dan tidak ingin Indonesia memiliki keuntungan. Demikian mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Sayidiman Suryohadiprodjo. Namun, hal itu tidak pernah disadari dan sebaliknya banyak pemimpin negeri ini yang bangga hanya dengan ujian “manipulatif” asing. Menurutnya, pengetahuan teknis saja tidaklah cukup tanpa semangat kebangsaan yang kuat. Perbedaan etnis, agama dan hubungan pusat dan daerah harus dijaga sehingga tetap harmonis dalam bingkai NKRI. Jika semua ini ditinggalkan, negeri nusantara yang proses kemerdekaanya mengorbankan banyak nyawa hanya melahirkan sebuah bangsa yang menjadi pion kekuatan asing. Sayidiman mengatakan itu, dalam diskusi yang digelar Partai Keadilan Sejahtera dengan tema “Nasionalisme di Tengah Arus Perubahan” di Jakarta, Selasa (26/8). Acara read more .....

Feb 8

Oleh Professor Nakoela Penulis Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia dikutip dari Nakoela’s Weblog Di Harian Suara Pembaruan ini tertanggal Selasa 26. Agustus 2003 rekan saya Letnan Jendral Purnawirawan Sayidiman Suryohadiprojo menulis dengan judul: Usaha “meluruskan” sejarah? Saya dapat merasakan bagaimana kecewanya rekan saya me-nanggapi pernyataan seorang doktor sejarah yang menyalahkan perjuangan kita memba-ngun nasionalisme dengan menggunakan senjata dan ini merupakan kesalahan besar. Me-nurutnya membangun nasionalisme sebaiknya melalui pendidikan dan dialog. Saya kira doktor ilmu sejarah tersebut masih muda jika dibanding umur saya dan rekan saya Sayidiman. Memang dewasa ini dapat dirasakan oleh mereka yang pernah bertugas sebagai perajurit TNI-AD khususnya dan TNI umumnya, seakan-akan TNI adalah penyebab terjadinya terperosoknya keadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya berpendapat seyogyanya para cendikiawan muda belajar dari sejarah yang benar. Kalau waktu tahun 1945 para pemuda read more .....