November, 2003 | Sayidiman Suryohadiprojo
Nov 29

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa serangan AS ke Afghanistan dan Irak bukan semata-mata bagian dari perang melawan terorisme. Buktinya Afghanistan sudah begitu lama dikuasai, tetapi Osama bin Laden yang dituduh menjadi penggerak pengeboman 11 September 2001 dan katanya dilindungi Taliban, hingga kini belum tertangkap. Dan di Irak tidak dapat dibuktikan bahwa ada hubungan antara Saddam Hussein dan Osama bin Laden; demikian pula tidak dapat ditemukan senjata destruksi massal yang katanya amat membahayakan keamanan AS sehingga membenarkan dilakukan pre-emptive strike. Sudah jelas bahwa baik serangan ke Afghanistan maupun ke Irak merupakan bagian dari upaya AS untuk menegakkan hegemoninya atas dunia, upaya yang sudah dimulai setelah Perang Dunia Kedua berakhir dan menjadi makin kuat setelah memenangkan Perang Dingin. Penegakan hegemoni itu memerlukan dominasi dalam kontrol atas suplai minyak sebagai bahan energi yang terpenting sebelum hidrogen menggantikan perannya. Dengan mengontrol suplai minyak read more .....

Nov 20

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Sekarang dunia sedang diramaikan oleh perang melawan terorisme yang dikumandangkan AS setelah 11 September 2001. Menurut Chalmers Johnson dalam bukunya Blowback (Time Warner Paperbacks, Londonn, 2002) , sebenarnya serangan yang terjadi terhadap AS pada 11 September 2001 tidak lain dari satu blowback atau dampak berbagai tindakan AS yang dilakukan sebelumnya untuk menegakkan hegemoni atas dunia. Sudah lama para hegemoni merupakan acara penting dalam politik luar negeri Amerika. Perang Dingin tidak hanya pergulatan ideologi antara blok Barat dan blok Komunis, tetapi sekali gus persaingan menegakkan hegemoni atas dunia antara AS dan Uni Soviet. Setelah kemenangan blok Barat AS makin gencar lagi menegakkan hegemoninya. Dalam usaha merebut hegemoni itu AS telah melakukan berbagai tindakan secara terbuka dan tertutup yang sukar diterima oleh berbagai kalangan, termasuk banyak kalangan di Timur Tengah. Tindakan terbuka banyak dilakukan dalam bidang ekonomi ketika AS menggunakan Bank Dunia dan IMF untuk read more .....

Nov 17

The Jakarta Post , Jakarta | Mon, 11/17/2003 9:57 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta More and more people are wondering whether democracy is the right political system for Indonesia. Democratic reforms, started in 1958, do not seem to bring improvements to the multidimensional crisis facing the nation. Problems have even increased in number as well as in seriousness. The economy is still vulnerable, the political situation is full of danger because of ethnic divisions and the misbehavior of the political elite, while domestic security has deteriorated. Some people, especially at the grassroots level, are nostalgic for the much more stable and orderly situation of the Soeharto regime. People are inclined to blame democracy as the cause of all these evils, because of the excessive freedoms that developed when democratic reforms began. People today do not pay much attention to the common interest and have become very egoistical in only looking after their own benefits. read more .....

Nov 16

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Ada sifat bangsa Indonesia yang menghambat kemajuan dan perkembangan dirinya. Yang dimaksudkan dengan sifat bangsa adalah gejala yang terdapat secara umum pada satu bangsa atau merupakan sifat mainstream bangsa. Tidak mustahil ada warga bangsa yang sifatnya berbeda, tetapi karena jumlah mereka merupakan minoritas sekali, maka sifat mereka tidak berpengaruh kepada sifat bangsa secara keseluruhan. Salah satu sifat bangsa Indonesia yang amat merugikan kemajuannya adalah kebiasaan umum melakukan perbuatan dan tindakan yang amat berbeda atau bahkan bertentangan dengan ucapan dan pernyataan. Ada dunia yang berlainan antara dunia perbuatan dengan dunia ucapan. Sikap demikian dianggapnya sebagai barang biasa. Sifat itu amat merugikan kehidupan bangsa. Orang beranggapan bahwa dengan ucapan atau pernyataan persoalan terpecahkan. Atau orang percaya bahwa dengan menyatakan sesuatu dengan sendirinya akan terjadi hal yang diucapkan itu. Orang tidak sadar bahwa diperlukan perbuatan untuk menciptakan perubahan pada read more .....