Feb 24

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Meskipun opini publik dunia yang menentang perang terhadap Irak makin kuat, namun kehendak Presiden Bush masih tetap kukuh menyerang Irak. Maka sekarang dunia menunggu mana yang lebih kuat pengaruhnya kepada Bush, opini publik dunia yang begitu keras menentang perang atau pendukungnya untuk terus maju perang, bahkan bergerak sendiri kalau PBB dan negara lain tidak mendukung. Masalah yang dihadapi sekarang, apa akibatnya kalau perang dilaksanakan? Dengan supremasi kekuatan militernya, AS dapat memaksakan satu perang cepat. Namun serangan yang cepat mengalahkan kekuatan militer Irak tidak dengan sendirinya disertai penangkapan atau likuidasi Saddam Hussein. Hal itu sudah terbukti jelas di Afghanistan, AS hingga kini belum dapat menangkap Osama bin Laden dan menghancurkan Al-Qaeda. Padahal itu tujuan perang Afghanistan. Selain itu, kemenangan perang di Irak yang cepat belum tentu juga memenangkan damai, yaitu menjadikan Irak kekuatan baru yang memperkuat kepentingan AS dalam segala bidang. Sekarang AS read more .....

Feb 5

The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 02/05/2003 7:18 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor, National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta After listening to President George W. Bush’s State of the Union address a U.S. invasion of Iraq seems to be almost inevitable. It is now only a matter of when the attack will start. Only if Saddam Hussein is willing to go into exile can the war be avoided. A very slim possibility, looking at Saddam Hussein’s state of mind. The U.S. President and his hawkish assistants are sure that a war in Iraq will be short. It will be followed by the establishment of a democratic regime that will change not only Iraq but also the Middle East. A very bright and hopeful proposition indeed. Considering the overwhelming power of the U.S. military forces it is highly probable that the U.S. will win the war very quickly, perhaps within only a matter of weeks or even days. However to win a war does not automatically mean to win the peace, and that is ultimately what needs to be achieved if the read more .....

Jan 29

The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 01/29/2003 12:00 AM Sayidiman Suryohadiprojo, Former Governor National Resilience Institute (Lemhanas), Jakarta Indonesia is again facing a serious crisis of leadership and government in the face of mass demonstrations that have spread beyond Jakarta, involving students and even housewives. The government decision to increase oil, telephone and electricity prices at the same time, though later modified, was indeed a very brave act. We must assume President Megawati Soekarnoputri, Vice President Hamzah Haz and the other members of the government have the common sense to understand that such a drastic decision would create strong reactions amid already difficult living conditions. Being politicians they certainly could have guessed that negative reactions would be manipulated by their political opponents. All our politicians are known for their preparations for the coming 2004 elections, including the election of the president and vice president. That in spite of these consequences the President and read more .....

Jan 22

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Letjen TNI Purn. Jakarta, 22 Januari 2003 KONDISI NEGARA DAN BANGSA YANG PARAH Dalam tulisan ini yang saya persembahkan kepada Legiun Veteran RI, saya tidak akan banyak berbicara tentang masa lampau. Tidak saja saya tidak mau masuk golongan orang yang hanya pandai membanggakan masa lampau ketika ia yang menjadi aktor sejarah, lebih-lebih lagi saya menganggap bahwa jauh lebih penting untuk memikirkan masa kini dan masa depan bangsa Indonesia yang sedang dalam keadaan yang amat memprihatinkan. Memang bangsa dan negara Republik Indonesia yang kita cintai sedang dalam keadaan yang parah, berbeda sekali dengan apa yang kita idam-idamkan ketika kita mulai perjuangan menjadikan bangsa kita merdeka dan berdaulat. Mungkin dalam ukuran materie kondisi rakyat kita antara tahun 1945 dan 1950 masih lebih buruk dari pada sekarang. Akan tetapi pada waktu itu kesengsaraan bersifat umum dan selain itu diimbangi dengan semangat perjuangan yang menggelora di antara bagian terbesar bangsa. Mungkin pada waktu itu juga read more .....