Akibat Perang Irak yang Perlu Diwaspadai

Posted by Admin on Monday, 24 February 2003 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Meskipun opini publik dunia yang menentang perang terhadap Irak makin kuat, namun kehendak Presiden Bush masih tetap kukuh menyerang Irak. Maka sekarang dunia menunggu mana yang lebih kuat pengaruhnya kepada Bush, opini publik dunia yang begitu keras menentang perang atau pendukungnya untuk terus maju perang, bahkan bergerak sendiri kalau PBB dan negara lain tidak mendukung. Masalah yang dihadapi sekarang, apa akibatnya kalau perang dilaksanakan?

Dengan supremasi kekuatan militernya, AS dapat memaksakan satu perang cepat. Namun serangan yang cepat mengalahkan kekuatan militer Irak tidak dengan sendirinya disertai penangkapan atau likuidasi Saddam Hussein. Hal itu sudah terbukti jelas di Afghanistan, AS hingga kini belum dapat menangkap Osama bin Laden dan menghancurkan Al-Qaeda. Padahal itu tujuan perang Afghanistan.

Selain itu, kemenangan perang di Irak yang cepat belum tentu juga memenangkan damai, yaitu menjadikan Irak kekuatan baru yang memperkuat kepentingan AS dalam segala bidang. Sekarang AS selalu mengatakan bahwa setelah melikuidasi Saddam Hussein, Irak akan dijadikan negara demokrasi yang makmur dan maju yang menjadi kekuatan damai di Timur Tengah dan teladan bagi negara lain di kawasan itu. Akan tetapi sama sekali tidak ada jaminan bahwa mudah untuk menciptakan gambaran ideal itu, sekalipun Saddam Hussein sudah tersingkirkan.

Berbagai masalah politik akan timbul karena kepentingan yang berbeda dari rakyat Irak. Pertentangan baru antara etnis Kurdi dan penguasa Irak, mudah terjadi kalau kaum Kurdi tidak mendapat bagian yang mereka anggap sepadan dalam susunan politik baru. Demikian pula pertentangan kaum Shiah dan Sunni mungkin sekali berkobar, karena masing-masing ingin memperoleh tempat yang lebih baik dalam susunan Irak Baru, dan masalah-masalah lain yang akan menimbulkan banyak persoalan bagi stabilitas politik.

Demikian pula kepentingan Rusia dan Prancis, yang tidak akan begitu saja menerima penguasaan AS atas Irak, tidak akan membuat usaha stabilisasi mudah. Padahal, stabilisasi politik amat diperlukan, karena sudah jelas dari semula AS begitu gigih hendak menyerang Irak, terutama untuk penguasaan minyaknya yang kedua terbesar di Timur Tengah setelah Arab Saudi.

Kalau perkembangan itu terjadi, perang Irak bukanlah perang cepat. Padahal baru saja ada laporan satu lembaga AS yang mewakili sekitar 55.000 pemimpin bisnis (Insitute of Directors) yang mengatakan, satu perang cepat di Irak tidak merugikan dan akan menurunkan harga minyak dari $30 per barel ke $20. Bahkan perang yang cepat akan mempunyai dampak positif terhadap ekonomi AS. Akan tetapi kalau perang menjadi panjang, harga minyak akan naik menjadi $80, harga di bursa efek akan turun 30 persen, sedangkan GDP AS akan turun sekitar dua persen. Sebelumnya, pakar ekonomi AS, Paul Krugman, menyanggah anggapan pendukung perang Irak bahwa perang itu akan berakibat positif bagi ekonomi AS seperti yang terjadi dengan Perang Dunia Kedua.

Memerlukan Dukungan

Kalau untuk menyerang Irak, AS tidak terlalu memerlukan bantuan dan dukungan negara lain, tapi untuk konsolidasi kemenangan, perkaranya menjadi lain. Untuk itu AS memerlukan dukungan internasional berupa kekuatan militer tidak sedikit untuk menduduki Irak, yang sukar dikerjakan oleh pasukan militer AS sendiri. Sebab selain AS tidak mau dituduh mempunyai maksud menduduki dan menguasai Irak, ia juga ingin kekuatan militernya selekasnya keluar dari Irak.

Pertama, untuk menghadapi keperluan lain, seperti menghadapi Korea Utara dan Iran. Selain itu juga untuk menenteramkan rakyatnya sendiri yang tidak mau kehilangan suami dan anak di Irak. Yang tidak kalah penting adalah bahwa konsolidasi memerlukan biaya tidak sedikit. Untuk itu pula AS memerlukan dukungan negara lain, seperti Jepang, Jerman dan lainnya yang termasuk kaya.

Akan tetapi kalau sejak permulaan AS bergerak sendiri masuk Irak, apakah negara-negara itu dapat memberikan dukungan dan bantuan? Apakah negara lain dapat membantu kalau rakyatnya marah atas perilaku AS yang secara arogan menyepelekan opini dunia?

Bahkan Tony Blair, Perdana Menteri Inggris, begitu gigih mendukung Bush menghadapi opini rakyat Inggris yang menentang. Sebab itu timbul pertanyaan, apakah pemerintah Inggris dapat memberikan dukungan. Juga Perdana Menteri Jepang, Koizumi, sekalipun dekat dengan Bush, sukar melepaskan diri dari kehendak rakyat Jepang. Maka konsolidasi kemenangan jauh dari mudah, sekalipun kemenangan militer tercapai dengan cepat.

Yang lebih menonjol lagi adalah reaksi umat Islam di seluruh dunia atas serangan itu. Dapat dipastikan, umat Islam akan menghujat AS sebagai negara yang jahat karena mau menang sendiri dan tidak peduli atas kesengsaraan dan penderitaan rakyat banyak. Reaksi demikian pun akan terjadi pada umat Islam Timur Tengah, sekalipun mereka mungkin kurang suka kepada Saddam Hussein.

Menjadi pertanyaan besar apakah hal demikian tidak membahayakan suplai minyak dari negara-negara Timur Tengah itu, seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan lainnya. Padahal, suplai minyak Timur Tengah begitu penting bagi seluruh dunia, khususnya bagi Jepang, RRC, dan Eropa.

Di samping itu, akan terjadi penguatan radikalisasi pada pemuda Muslim di dunia yang justru menguntungkan Al-Qaeda dan Osama bin Laden karena lebih mudah merekrut pengikut baru. Padahal merekalah sebenarnya sasaran utama perang AS terhadap terorisme internasional.

Itu berarti, AS sudah meninggalkan sasaran utamanya sendiri.

Kalau perang Irak benar-benar terjadi, maka hampir pasti dunia dan umat manusia akan mengalami kesulitan besar dalam kehidupannya. Itu juga akan menimpa rakyat AS sendiri, yang mula-mula amat bersemangat untuk perang karena tergiur kemenangan cepat serta kelihaian propaganda kaum hawk.

Tidak mustahil kondisi dunia yang makin buruk, akan mendatangkan depresi dunia yang amat gawat. Hal itu akan menimpa ekonomi AS, dan khususnya kaum bawah dan menengah ke bawah, yang sekarang sudah merasa dirugikan akibat globalisasi ekonomi. Kalau ekonomi AS mundur, dampaknya akan menyebar ke seluruh dunia.

Harus Siap

Indonesia harus siap menghadapi kemungkinan perkembangan demikian. Apalagi menghadapi umat Islam Indonesia yang juga amat marah. Kalau kemarahan itu dimanfaatkan pemimpin-pemimpin yang senang meradikalisasi umat Islam, maka lebih sulit lagi kewajiban pemerintah Indonesia.

Yang amat perlu diwaspadai adalah dampak terhadap ekonomi Indonesia yang belum kunjung baik, karena akan makin memburuk dengan segala akibatnya pada aspek sosial dan keamanan.

Menghadapi keadaan demikian, kita amat prihatin bahwa di Indonesia hingga kini belum ada kepemimpinan yang dapat memimpin bangsa secara tegas, berani, konsisten dan sungguh-sungguh dalam mencapai hasil (achievement).

Masyarakat yang tanpa disiplin di segala bidang tak mungkin menciptakan kekuasaan hukum, mengakhiri KKN, dan memperbaiki ekonomi. Sebaliknya keamanan makin mengkhawatirkan, baik faktor kriminal maupun keamanan yang bersangkutan dengan pertentangan etnis, kedaerahan, dan agama.

Apabila pemerintah kurang mampu mengendalikan negara dengan baik, maka bahaya besar menimpa kita berupa ancaman terhadap kelangsungan hidup RI.

Source : http://www.suarapembaruan.com/News/2003/02/24/

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post