Memasuki Terowongan Cuchi

Posted by Admin on Sunday, 30 April 2006 | Catatan

Catatan Sayidiman Suryohadiprojo

April 2006

Sebagai seorang Pejuang Kemerdekaan Indonesia saya menaruh respek tinggi kepada perjuangan rakyat Vietnam yang telah berhasil merebut kemerdekaan mereka dari dua kekuatan kolonial terkuat di dunia, yaitu Perancis dan Amerika Serikat. Perjuangan selama 30 tahun, yaitu dari tahun 1945 hingga 1954 menghadapi Perancis dan dari 1954 hingga 1975 menghadapi AS, benar-benar menunjukkan betapa besar tekad dan semangat rakyat Vietnam serta kemampuan mereka untuk mewujudkan tindakan yang dapat mengalahkan satu negara industri maju, dan bahkan negara adikuasa.

Bangsa Indonesia pun berhasil merebut kemerdekaannya sebagai hasil perjuangan rakyat Indonesia beserta Tentara Nasional Indonesia (TNI). Meskipun segolongan orang suka berkata bahwa kemenangan Indonesia adalah hasil diplomasi, tetapi tidak mungkin diplomasi itu berhasil kalau tidak didukung oleh berbagai hasil perjuangan fisik yang dilakukan di lapangan terhadap Belanda dan pembantunya.

Namun demikian, perjuangan fisik rakyat Indonesia yang berlangsung dari tahun 1945 hingga 1950 terasa pendek apabila dibandingkan dengan perjuangan rakyat Vietnam yang 30 tahun dan menghadapi AS dengan berbagai senjata dan alat militernya, termasuk gas racun Orange.

Sekalipun sudah lama ingin melihat sendiri tempat perjuangan rakyat Vietnam, namun baru pada bulan April 2006 ini saya dapat mengunjungi Vietnam. Itupun karena dilakukan dalam tour yang hanya seminggu bersama orang yang mungkin kurang berminat terhadap perjuangan gerilya, maka tidak dapat seluruh keinginan tercapai. Saya tidak berhasil pergi Dien Bien Phu untuk melihat daerah pertempuran yang mengakhiri sejarah kolonial Perancis di Vietnam. Hanya dalam pertunjukan diorama di Museum Perang ibukota Hanoi dapat kita lihat bagaimana tentara Vietnam di bawah pimpinan jenderal Vo Nguyen Giap telah mencapai kemenangan legendaris itu. Pertahanan Perancis yang terdiri dari 8 ousat pertahanan dengan 49 posisi perbentengan dipertahankan oleh 21 batalyon Perancis. Serangan Vietnam berlangsung selama 56 hari terus-menerus, dari 13 Maret 1954 hingga 7 Mei 1954. Karena keunggulan udara serta persenjataan berat Perancis, maka serangan tidak mungkin dilakukan secara normal. Pasukan penyerang Vietnam harus bergerak maju sambil menggali jalan pendekatnya ke arah pertahanan Perancis. Dapat dibayangkan betapa berat usaha demikian. Akhirnya seluruh pertahanan Perancis ambruk, dengan kehilangan 16.000 orang serta semua senjata dan peralatan, termasuk jenderal de Castries dan stafnya. Benar-benar satu keberhasilan yang amat gemilang.

Namun saya baru dapat benar-benar merasakan bagaimana rakyat Vietnam melawan Amerika ketika mengunjungi kompleks Terowongan Cuchi yang terletak sekitar 60 km baratlaut Kota Ho Chi Minh atau Saigon. Dalam perjuangan Vietnam banyak terdapat kompleks terowongan untuk menghadapi dan menetralisasi keunggulan AS dalam senjata berat dan pemboman udara. Salah satu kompleks terowongan ada di desa Cuchi yang dulu tempat pusat pimpinan gerilya menghadapi kota Saigon. Kompleks Terowongan Cuchi secara keseluruhan panjangnya sekitar 250 km. Terdiri atas terowongan pada kedalaman 4 meter, 10 meter dan 20 meter. Dalam kompleks terowongan itu ada tempat beristirahat pasukan gerilya, rumah sakit, markas dan kantor, dapur, dan lainnya.

Sekarang Terowongan Cuchi dibuka untuk pariwisata, karena letaknya paling dekat dari Kota HCM. Agar supaya turis dapat masuk kompleks terowongan, sebagian terowongan diperlebar dan ditinggikan. Terowongan yang asli, terutama di pintu masuk, sempit sekali dan tepat untuk tubuh orang Vietnam yang umumnya langsing. Akan sukar sekali masuk kalau tubuh lebar. Buat orang yang tinggi sukar sekali bergerak di terowongan asli yang tingginya tidak lebih dari satu meter atau bahkan kurang. Dapat dibayangkan betapa sukar pasukan AS memasuki kompleks terowongan itu, kalau pun mereka dapat menemukan pintu masuk yang disembunyikan amat cerdik serta dilengkapi aneka macam booby-trap dan rintangan mematikan.

Kami dapat memasuki terowongan yang untuk kepentingan turis diperlebar dan ditinggikan sepanjang sekitar 30 meter saja. Sekalipun saya termasuk orang yang kurus toh masuk terowongan yang sudah diperlebar tidak mudah. Juga terowongan yang ditinggikan tidak memungkinkan saya bergerak leluasa dengan jalan jongkok, padahal tinggi saya hanya 1.71 meter. Bayangkan bagaimana sukar untuk orang Amerika yang tinggi-tinggi itu. Akhirnya saya putruskan untuk maju dengan merangkak di atas tangan dan lutut. Ternyata banyak anggota tour yang bergerak maju dengan cara begitu.

Di dalam terowongan gelap sekali dan udara kurang oksigen sehingga sukar bernafas normal. Maka ketika sampai pada akhir 30 meter yang disiapkan untuk turis saya merasa lega sekali dapat timbul di udara terbuka. Rasanya kalau masih harus menempuh 10 meter lagi tak mungkin saya lakukan. Setelah naik ke udara terbuka kita dijamu makan singkong bamar yang merupakan makanan pokok gerilyawan.

Pengalaman ini membuat saya berpikir, betapa kuat tekad dan semangat perjuangan rakyat Vietnam yang dari tahun 1954 hingga 1975 menghadapi AS dan anteknya. Dari dulu saya tahu bahwa bangsa Vietnam kuat tekad dan semangatnya. Akan tetapi dengan mengalami secara fisik sendiri masuk dalam Terowongan Cuchi saya benar yakin akan kekuatan mental dan fisik mereka. Pasti juga disiplinnya kuat untuk dapat bertahan lebih dari 20 tahun. Sebab itu tidak mengherankan bahwa sekarang pun mereka kuat disiplinnya dan semangat kerjanya, sehingga dapat menghasilkan pembangunan bangsa yang makin maju.

Juga perjuangan selama 30 tahun cukup lama untuk menjadikan tekad, semangat serta disiplin sifat-sifat yang kust melekat pada rakyat Vietnam. Maka akan sukar bagi kita, bangsa Indonesia, untuk bersaing dengan mereka selama kita begitu lembek dalam sifat kita, tidak mampu hidup berdisiplin sehingga amat sering menunjukkan perbedaan mencolok antara apa yang kita katakan atau pikirkan dengan yang kita perbuat.

Contoh semangat hidup rakyat Vietnam antara lain tampak bahwa berbeda dengan semua bangsa Asia Tenggara lainnya, ekonomi sepenuhnya di tangan orang Vietnam. Sedangkan orang keturunan Tionghoa hanya ada di sekitar Saigon atau Kota HCM dengan mengurus ekonomi borongan (wholesale). Memang sukar bagi pendatang baru untuk membedakan orang etnik Viet dari etnik Tionghoa, tetapi orang Vietnam mengatakan bahwa perbedaan cukup banyak.

Cukup menarik bagaimana perkembangan bangsa Vietnam di masa depan, umumnya hubungannya dengan bangsa Asia Tenggara lainnya dan khususnya dengan bangsa Indonesia.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post