Tak Kenal Maka Tak Sayang

Posted by Admin on Monday, 8 October 2007 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Belakangan ini sering ada keluhan bahwa di kalangan kaum muda sekarang kurang ada sikap kebangsaan atau nasionalisme yang kuat. Mungkin sekali gejala yang kurang positif itu disebabkan karena kaum muda sekarang kurang mengenal negerinya sendiri.

Seorang anak muda yang tinggal di Jawa Barat, jangankan mengenal Sumatera atau Kalimantan, daerahnya sendiri Jawa Barat tidak dikenalnya dengan baik. Amat sedikit anak muda, mungkin juga orang tua, yang mengetahui nama gunung-gunung yang ada di daerah provinsinya, apalagi berapa tinggi setiap gunung itu. Belum tentu mayoritas murid SMA tahu nama kota-kota yang dilalui kereta api yang berjalan tiap hari dari Jakarta ke Surabaya. Dan banyak lagi hal-hal mengenai negeri kita Indonesia.

Orang sekarang lebih berminat kepada keadaan yang langsung dihadapinya, termasuk yang bersangkutan dengan negara lain. Sebab itu mereka tidak ada minat pada negerinya sendiri, kecuali kalau ada urusan yang langsung dihadapinya. Kondisi demikian mendorong kepada sikap pragmatisme yang kemudian meremehkan rasa kebangsaan.

Hal ini antara lain disebabkan karena kurangnya pelajaran tentang ilmu bumi atau geografi di pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Menjadi pertanyaan mengapa justru dalam alam Indonesia Merdeka jauh lebih sedikit diberikan perhatian kepada pelajaran ilmu bumi dibandingkan di masa penjajahan. Kurangnya pelajaran ilmu bumi ini pasti berpengaruh terhadap pengetahuan dan pengenalan orang Indonesia akan Tanah Airnya sendiri, kecuali mereka yang mengalami pendidikan di zaman penjajahan dan tergolong kaum lanjut usia.

Adalah kenyataan bahwa di zaman penjajahan pelajaran ilmu bumi diberikan secara sistematis dan cukup luas di pendidikan dasar hingga sekolah lanjutan atas. Mulai di kelas tiga SD para murid diajak mengenal keadaan di daerah keresidenannya, yaitu daerah administrasi di bawah provinsi dan meliputi beberapa kabupaten. Di kelas empat pengenalan ini diperluas, untuk murid yang ada di pulau Jawa, meliputi seluruh pulau Jawa. Dengan begitu murid kelas empat SD di Jawa mengetahui nama semua gunung di pulau itu yang tingginya di atas 1000 meter. Ia juga tahu nama semua ibu kota kabupaten dan kota penting lainnya yang dilalui Kereta Api Cepat (Eendaagse) yang setiap hari jalan antara Jakarta dan Surabaya. Juga kota-kota lainnya yang penting karena ada produksi yang menonjol, seperti Garut di Jawa Barat dengan pabrik tekstilnya atau Jatiroto di Jawa Timur dengan pabrik gula terbesar di Indonesia. Di kelas lima pengetahuan geografi meluas ke seluruh Indonesia dan di kelas enam dibicarakan semua negara di dunia, sekalipun tentu tidak dengan sangat mendalam. Ketika menginjak di pendidikan menegah pengetahuan yang diperoleh dari SD diperdalam dan diperluas dengan melihatnya dari berbagai aspek lainnya, seperti aspek ekonomi. Peran minyak bumi yang waktu itu sudah penting mulai dibicarakan dan di mana di dunia ada produksi yang cukup besar. Demikian pula pusat-pusat industri yang penting,seperti daerah Ruhr di Jerman.

Pengetahuan ini menimbulkan minat terhadap negeri sendiri. Untuk murid yang berasal dari keluarga yang mendambakan kemajuan bangsanya, pengetahuan itu merangsang rasa kebangsaan yang kuat. Timbul perasaan mengapa negeri kita yang waktu itu banyak menghasilkan gula sehingga di-ekspor, rakyatnya hidup begitu miskin. Kata penjajah Belanda : orang pribumi (disebut inlander) cukup hidup dengan segobang sehari. Sedangkan segala kekayaan yang dihasilkan bumi Indonesia dikuasai dan memperkaya orang asing, khususnya penjajah Belanda.

Tidak aneh kalau dalam kondisi demikian seorang murid sekolah menengah saja tergerak rasa kebangsaannya. Seperti yang terjadi pada Bung Karno yang sejak di HBS Surabaya (setingkat sekolah menengah) sudah terdorong untuk berjuang bagi bangsanya. Apalagi ketika menginjak pendidikan tinggi yang memberikan perluasan pandangan dan pikiran. Terjadi juga pada banyak pemuda lainnya yang kemudian tumbuh menjadi pemimpin bangsa kita. Juga mereka yang tidak menjadi pemimpin tergerak rasa kebangsaannya dan bergabung menjadi anggota berbagai organisasi kebangsaan. Semua mereka menjadi kekuatan utama dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa pada tahun 1945.

Kiranya para perancang dan pelaksana pendidikan sekolah perlu kita dorong agar anak-anak kita mendapat pelajaran dan pengetahuan tentang negerinya. Dimulai di SD dan terus bertambah luas di SMP dan SMA. Pengetahuan tentang negeri sendiri akan membuka minat anak-anak kita jauh lebih luas dan pasti akan ada dampak positif terhadap rasa cinta mereka terhadap Tanah Airnya. Hal itu akan merangsang berbagai perbuatannya yang membawa kemajuan kepada Negara dan Bangsa Indonesia.

Semoga pikiran ini dapat menjadi kenyataan !

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post