Daerah Miskin Tidak Perlu Berkecil Hati

Posted by Admin on Monday, 4 September 2000 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Sebentar lagi UU tentang Otonomi Daerah akan dilaksanakan. Hal itu akan merupakan kemajuan besar bagi bangsa dan negara kita. Sebab baru sekarang pesan para Founding Fathers Republik Indonesia akan benar-benar menjadi kenyataan. Bukankah pada tahun 1945 para Pendiri Negara RI menyatakan bahwa Republik Indonesia menjadi negara kesatuan tetapi dengan otonomi luas bagi daerah mengingat kemajemukan bansga Indonesia. Sebab itu Semboyan Negara pun berbunyi Bhinneka Tunggal Eka.

Namun sayangnya pesan Founding Fathers itu tidak pernah diperhatikan oleh para penguasa. Republik Indonesia dijadikan negara yang amat sentralistik dan tidak ada otonomi bagi daerah. Konsekuensinya sekarang kita rasakan amat pahit dan berbahaya sekali bagi kelangsungan negara kesatuan. Sebab itu kemudian ditetapkan UU no. 22 dan 25 tahun 1999 yang mengatur otonomi daerah dan pembagian keuangan antara Pusat dan Daerah. Itu pun pelaksanaannya dirasakan amat lambat oleh daerah.

Namun nampaknya tidak semua daerah melihat masa depan secara optimis apabila otonomi itu dijalankan. Daerah dengan sumberdaya alam banyak ingin cepat diadakan otonomi dan bahkan ada sebagian rakyatnya mengancam akan memisahkan diri dari Republik Indonesia kalau tidak cepat ada realisasi tentang otonomi itu. Mereka merasa diperlakukan amat tidak adil di masa lalu karena menganggap bahwa kekayaan alam daerahnya lebih dimanfaatkan oleh Pemerintah Pusat serta mereka yang ada di Jawa. Mereka sekarang menghendaki agar di masa depan kekayaan alam mereka lebih dapat dimanfaatkan untuk keperluan daerahnya sendiri. Dengan begitu daerah itu dapat memberikan kehidupan yang lebih maju dan sejahtera bagi rakyatnya.

Akan tetapi daerah yang kurang sumberdaya alamnya menghadapi masa depan dengan sangat kecil hati. Apabila otonomi dilaksanakan maka daerah itu harus dapat hidup dari kekayaan daerahnya sendiri. Padahal kekayaan alamnya sangat terbatas. Belum tentu Pemerintah Pusat mampu untuk memberikan bantuan agar kehidupan dapat berlangsung seperti sebelumnya. Sebab untuk dapat memberi bantuan atau subsidi kepada daerah miskin Pemerintah Pusat harus mengusahakan penerimaan yang cukup besar, termasuk mendapat bagian yang cukup dari daerah yang kaya untuk membantu daerah yang miskin. Padahal belum tentu daerah yang kaya bersedia memberikan bantuan itu secukupnya. Itu sebabnya daerah yang miskin sumberdaya alam menghadapi masa depan dengan prihatin sekali.

Namun sebenarnya sikap demikian kurang pada tempatnya apabila para pemimpin daerah tersebut mau berpikir panjang dan melihat lebih luas kepada perkembangan bangsa lain. Sebab ternyata bangsa-bangsa yang kemajuannya besar di dunia bukanlah mereka yang memiliki sumberdaya alam banyak. Justru yang hampir tidak mempunyai sumberdaya alam yang sangat menonjol perkembangannya .

Contohnya adalah Jepang yang sangat miskin sumberdaya alam; hanya 30 persen tanahnya dapat ditanami. Bagian terbesar sumberenergi berupa minyak dan gas bumi harus diimpor. Demikian pula bahan yang perlu untuk produksi industrinya. Bahan makanan pun harus diimpor banyak. Namun terbukti bahwa Jepang justru menjadi bangsa yang sangat maju perkembangannya. Hal yang sama kita lihat pada Korea dan Taiwan yang sekarang berkembang menjadi negara maju mengikuti langkah Jepang. Keadaan ini dapat pula kita lihat di Eropa di masa lalu. Inggeris dan Belanda adalah negara yang kurang memiliki sumberdaya alam, tetapi dalam abad ke 18 dan 19 telah menjadi bangsa yang menguasai perdagangan dunia dan luas daerah jajahannya. Pada waktu itu Inggeris dikenal sebagai negara di mana matahari tidak pernah terbenam. Kalau di satu bagian jajahan Inggeris hari berubah menjadi malam, di bagian lainnya sebaliknya matahari sedang terbit di ufuk timur. Sebab itu bangsa Inggeris dan Belanda waktu itu dikenal sebagai bangsa terkaya di dunia. Buruknya adalah bahwa banyak kekayaan itu sebagian besar berasal dari menjajah bangsa lain.

Ternyata perkembangan dan kemajuan bangsa-bangsa itu digerakkan oleh kemampuan manusianya. Manusia Jepang dan Korea, demikian juga dulu Inggeris dan Belanda, didorong oleh kondisi kemiskinan alam negaranya untuk berusaha dengan kuat. Hal itu mendorong manusia Inggeris dan Belanda menjadi pelaut yang ulung karena di daratan tidak cukup yang dapat diolah menjadi kekayaan. Juga manusia Jepang pada akhir abad ke 19 banyak yang mencari kehidupan di laut setelah Restorasi Meiji pada tahun 1868 mencabut larangan bagi warga Jepang untuk berkunjung ke luar negeri. Sebagai bangsa pelaut Inggeris dan Belanda menguasai perdagangan internasional pada abad ke 18, sedangkan Jepang sanggup menyaingi bangsa Eropa dalam perdagangan internasional setelah usaha kelautannya makin luas.

Karena Jepang harus mengimpor begitu banyak keperluannya untuk hidup, termasuk bahan makanan dan energi, maka bangsanya dipaksa mengekspor sebanyak mungkin untuk dapat membiayai impor yang besar itu. Hal itu merangsang timbulnya industri yang luas untuk membuat barang-barang yang dapat diekspor. Ini semua membuat Jepang kaya, meskipun tanahnya hanya sekitar 30 prosen yang dapat ditanami dan juga tidak mengandung bahan mineral yang mencolok.

Sebaliknya bangsa yang kaya sumber daya alam justru kurang maju. Kita melihat bahwa bangsa yang kaya minyak dan bahan mineral lainnya, seperti negara Arab dan Indonesia sendiri, malahan tertinggal kemajuannya dibandingkan dengan bangsa Korea dan Taiwan, apalagi Jepang. Pada tahun 1969 ketika Indonesia mulai dengan pembangunan nasionalnya, penghasilan per capita Indonesia tidak banyak beda dari Korea. Akan tetapi dalam perkembangannya penghasilan per capita Korea naik seperti roket, sedangkan Indonesia hanya naik sekitar 7 prosen setahun. Apalagi setelah Indonesia terpuruk dalam Krisis Moneter. Meskipun Korea juga diserang Krisis Moneter, namun mereka dapat mengatasi kesulitannya jauh lebih cepat dari Indonesia.

Kaum psikolog mengatakan bahwa bangsa yang kaya sumberdaya alam cenderung mengutamakan kemajuannya pada kekayaan sumberdaya alam. Dan kurang terdorong menggunakan pikiran dan akalnya untuk mendapat penghasilan. Mereka hanya menggali sumber daya alam dan kemudian menjualnya. Bahkan penggalian itu kebanyakan dilakukan oleh bangsa lain yang lebih menguasai teknologinya. Demikian pula penjualan di luar negeri dilakukan bangsa lain yang sudah punya pasarannya. Dengan begitu bangsa pemilik sumberdaya alam tidak melakukan produksi dengan sungguh-sungguh dan hanya menerima uang saja hasil pajak dan setoran lainnya. Itu sebabnya bangsa pemilik sumberdaya alam kedodoran ketika harga kekayaan alam menurun di pasar dunia. Padahal sekarang justru ada kecenderungan makin menurunnya harga komoditi alam. Dengan begitu bangsa pemilik sumberdaya alam pada umumnya kalah maju usahanya dari bangsa yang miskin sumberdaya alam.

Menjadi tantangan bagi daerah di Indonesia yang miskin sumberdaya alam seperti Nusa Tenggara Timur, apakah pola yang tampak pada bangsa yang miskin sumberdaya alam dapat mereka terapkan untuk memanfaatkan otonomi daerah. Hal itu sangat tergantung para pemimpinnya, yaitu apakah para pemimpin daerah itu cukup cerdas, cakap dan dinamis untuk meniru apa yang dilakukan para pemimpin Jepang, Korea dan Taiwan. Apabila para pemimpin daerah itu memiliki kemampuan yang cukup unggul maka masa depan mereka tidak kalah dari daerah yang sekarang menikmati kekayaan alamnya. Apalagi kalau dalam jangka panjang kondisi sumberdaya alam itu makin menyusut, sedangkan rakyatnya terlanjur mempunyai ketergantungan tinggi pada penerimaan dari pengurusan sumberdaya alam itu. .

Bagi negara dan daerah yang miskin kekayaan alam modal utama bagi perkembangannya adalah manusia. Manusia yang cerdas dan sanggup bekerja keras serta menghargai ketertiban akan menjadi motor penting bagi kemajuan. Kalau tidak ada uang sendiri untuk membuka usaha, maka investor dari luar akan tertarik untuk menanamkan modalnya di sana. Itu terbukti di Korea dan Taiwan serta dalam skala kecil juga Singapore. Terbukti bahwa investor lebih tertarik menanam modalnya di daerah dan negara yang rakyatnya cerdas, cakap, rajin bekerja serta kuat disiplinnya. Sebaliknya daerah atau negara yang kurang memiliki faktor itu lebih sulit menarik penanam modal, sekalipun daerah atau negara itu kaya sumberdaya alam.

Sebab itu para pemimpin daerah harus mengutamakan pendidikan rakyatnya serta membuka berbagai latihan untuk meningkatkan kecakapan atau skill rakyatnya serta memperkuat disiplinnya. Pengaruh yang makin besar dari teknologi, khususnya komputer, juga memberikan peluang besar bagi manusia yang cerdas dan giat bekerja. Para pemimpin daerah harus memberikan perhatian besar kepada pendidikan yang dapat menjangkau rakyat banyak serta menghasilkan mutu tinggi. Harus timbul kesadaran pada para pemimpin daerah dan rakyatnya bahwa investasi terbaik yang mereka lakukan adalah membangun sistem pendidikan yang bermutu. Melalui pendidikan itulah dibangun sumberdaya manusia yang unggul dan hal itu jauh lebih berharga ketimbang sumberdaya alam lainnya. Hal itu dapat kita lihat betapa Jepang dan Korea sudah mengutamakan peningkatan mutu pendidikan ketika mereka masih sebagai bangsa yang miskin. Maka dapat dikatakan bahwa kekayaan yang kemudian berkembang di Jepang dan Korea adalah hasil investasi dalam pendidikan yang telah mereka lakukan jauh sebelumnya. Hal inilah justru merupakan kelemahan bangsa Indonesia. Sejak bangsa kita merdeka pada tahun 1945 belum pernah ada anggaran pendidikan yang melampaui 10 prosen dari APBN. Itu sebabnya para pemimpin daerah harus dapat meninggalkan sifat yang kurang baik itu apabila ingin daerahnya maju.

Dengan begitu tidak perlu daerah miskin kekayaan alam pessimis menghadapi masa depan. Semua tergantung pada mereka sendiri untuk dapat maju. Tantangannya adalah apakah sikap rakyat daerah itu serta para pemimpinnya positif menghadapi keadaan serta masa depan.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post