Masihkah Ada Masa Depan ?

Posted by Admin on Thursday, 15 February 2001 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Menjadi kebiasaan manusia modern untuk tidak terpaku pada masa kini, apalagi masa lalu, melainkan cenderung melihat ke masa depan. Akan tetapi di Indonesia sekarang sering timbul pertanyaan apakah masih ada masa depan buat Indonesia. Nampak sekali betapa pessimisme telah meliputi pikiran banyak orang.

Sikap demikian bukannya tanpa alasan. Pimpinan Abdurrahman Wahid sama sekali tidak memberikan prospek positif bagi masa depan Indonesia. Kalau ia dulu dikenal sebagai seorang cendekiawan demokrat yang berpandangan luas, sekarang kawannya yang dekat pun harus mengakui bahwa sebagai Presiden RI Abdurrahman Wahid sama sekali tidak menunjukkan kenegarawanan. Bahkan sifatnya sebagai demokrat dipertanyakan ketika ia menunjukkan arrogansi yang tidak sedikit. Optimisme yang timbul ketika Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden RI pada tahun 1999 sudah surut sekali, kecuali di lingkungan NU dan PKB. Orang mulai berpikir bagaimana jadinya Indonesia kalau harus mengalami pimpinan seperti ini sampai tahun 2004.

Akan tetapi ketika memikirkan lebih jauh timbul pula kesangsian apakah mengganti Abdurrahman Wahid di masa dekat dapat membawa perubahan yang meyakinkan. Satu penggantian di tengah jalan secara konstitusional akan mengangkat Megawati yang Wakil Presiden menjadi Presiden. Namun orang sangsi apakah kepemimpinan Megawati dapat membawa perubahan meyakinkan. Apalagi sudah mulai digulirkan suara betapa suaminya Taufik Kiemas tidak bebas dari aneka ragam ketidakberesan. Maka penggantian oleh Megawati jangan-jangan juga hanya terjadi sebentar belaka, karena kembali orang tidak puas. Calon-calon berikut adalah mungkin Amien Rais dan Akbar Tandjung. Juga calon-calon pengganti ini menimbulkan pertanyaan. Kalaupun bukan karena latar belakang kepribadian yang kurang baik, tetapi faktor politik menimbulkan kesangsian apakah tidak akan terjadi perlawanan politik yang amat sukar mereka kendalikan.

Maka kesangsian akan kemampuan para calon pengganti Abdurrahman Wahid membuat orang enggan untuk mengambil langkah penggantian dalam waktu dekat. Yang juga menimbulkan keengganan untuk mengganti Wahid adalah reaksi yang ditunjukkan oleh para pengikutnya yang fanatik, terutama di Banser dan Ansor. Sekarang saja reaksi terhadap Memorandum DPR kepada Presiden sudah membuat mereka bersikap ganas di Jawa Timur . Apalagi kalau jago mereka diturunkan, pikir orang. Bukannya pihak lain tidak berani melawan mereka kalau mereka berbuat kekerasan. Akan tetapi itu semua akan membuat Indonesia makin kacau.

Maka seakan-akan kondisi keengganan itu memperkuat Wahid serta kubunya untuk bertahan pada posisinya. Terjadilah semacam political blackmail terhadap bangsa Indonesia sehingga membuat banyak orang bertanya : Masih adakah Masa Depan buat Indonesia ?

Namun sebagai manusia berpikir kita harus menyadari bahwa segala sesuatu di Alam Raya ini tunduk pada satu hukum yang mengatakan : Apa pun yang naik pada satu saat akan turun; demikian pula segala sesuatu yang turun satu saat akan naik. Indonesia sekarang sedang turun dan satu saat akan naik kembali. Memang belum jelas kapan akan berada pada titik terendah yang tidak mungkin turun lagi. Akan tetapi satu saat akan tiba titik terendah itu dan kemudian kita akan naik kembali. Atas dasar pandangan ini jelas masih ada Masa Depan buat Indonesia.

Maka buat kita yang ingin melihat Indonesia naik kembali ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, bahwa titik terendah dalam gerak turun kita tidak terlalu lama lagi. Dan kedua, bahwa gerak naik kita kemudian dapat terjadi dengan sebaik mungkin serta menghasilkan kondisi bangsa yang kita idam-idamkan.

Untuk hal pertama, harus kita jaga agar tidak turut larut dalam gerak turun yang sedang terjadi. Pada dasarnya ini memerlukan sikap moral dan intelektual yang cocok. Kemampuan untuk tidak terbawa dalam cara berpikir yang partisan sehingga senantiasa dapat mengejar obyektivitas yang setinggi-tingginya. Dan bersikap moral yang membebaskan diri dari aneka ragam kebobrokan yang sedang melanda masyarakat Indonesia, baik yang bersifat material maupun non-material. Makin banyak orang Indonesia bersikap demikian, makin cepat titik terendah akan tiba.

Sedangkan untuk hal kedua, kita harus mulai menyiapkan pemikiran bagaimana mengatur kehidupan bangsa kita untuk dapat bangkit kembali nanti. Sekalipun sekarang berada dalam kondisi bangsa yang serba bobrok, kita harus mampu untuk berpikir jernih dan bersama kawan-kawan yang berpandangan sama membuat konsep untuk berbagai aspek kehidupan bangsa. Buat saya pribadi yang penting adalah : bagaimana menjadikan Pancasila satu kenyataan yang hidup. Sejak semula hampir semua pihak mengakui bahwa Pancasila adalah satu pandangan yang brilyan untuk menjadi dasar negara. Akan tetapi celakanya tidak pernah ada pemimpin Indonesia yang menjadikannya satu kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Bahkan Bung Karno sebagai pencetusnya telah meninggalkan Pancasila ketika memegang pimpinan. Dan di rezim Soeharto Pancasila telah sangat didiskreditkan. Akibatnya adalah bahwa sekarang banyak orang, terutama kaum muda, muak kalau mendengar perkataan Pancasila. Namun apabila orang-orang itu bersikap dan berpikir obyektif serta tetap hendak memelihara eksistensi Negara Republik Indonesia yang bersifat kesatuan, maka harus mereka akui bahwa itu hanya dapat tercapai kalau Pancasila menjadi kenyataan di Indonesia. Apabila umpamanya digunakan sekularisme sebagai dasar negara, sebagaimana sering kali dikemukakan oleh mereka yang berhaluan Barat, maka pasti banyak kalangan Islam menolaknya. Sebaliknya, kalau umat Islam menginginkan Islam sebagai dasar negara, maka besar kemungkinan mereka yang beragama lain menolaknya dan melepaskan daerahnya dari kesatuan Indonesia. Hanya Pancasila yang memberikan tempat terhormat bagi semuanya. Akan tetapi karena sekarang Pancasila masih banyak ditolak sebagai akibat salah urus dari kepemimpinan lama, maka janganlah kepemimpinan baru menonjolkan Pancasila terlalu cepat. Melainkan digunakan sebagai metode kerja dan menjadikan Pancasila terwujud secara nyata dalam masyarakat.Yang penting adalah bahwa kepemimpinan baru dapat merebut kepercayaan kuat dari masyarakat. Dan merespons kepercayaan yang diterimanya dengan memimpin negara secara adil dan arif-bijaksana, sehingga masyarakat merasakan kemajuannya Dengan begitu lambat laun akan tumbuh kembali kepercayaan masyarakat kepada Pancasila. Itulah yang menjamin gerak naik bangsa Indonesia di masa depan yang menciptakan keadilan, kemajuan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post