Hendaknya Reaksi Dunia Proporsional

Posted by Admin on Friday, 14 September 2001 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Setelah terjadi pukulan yang begitu dahsyat terhadap pusat kapitalisme dan kekuatan militer AS pada tanggal 11 September 2001 dapat dipahami bahwa seluruh bangsa Amerika marah. Bagaimana tidak akan marah kalau ribuan warganya mengalami kematian yang mengerikan akibat tindakan terror itu. Lebih marah lagi karena merasa kecurian, sekalipun telah mengeluarkan begitu banyak biaya dan tenaga untuk menghadapi serangan terror. Apalagi yang kena pukulan terror adalah pusat kekuatan ekonomi dan militernya. Padahal AS diakui sebagai satu-satunya Super Power di dunia karena kekuatan ekonomi dan militer itu.

Dalam kemarahan itu Presiden AS, George Bush Jr, menyatakan perang terhadap sumber terror itu dan mengajak seluruh dunia untuk bersamanya dalam usaha tersebut. Memang tidak ada bangsa di dunia yang bebas dari serangan terror. Kita pun di Indonesia merasakan sendiri betapa jahatnya terror itu untuk kehidupan rakyat. Namun demikian, kita harus benar-benar obyektif dan waspada sebelum memutuskan apakah kita ikut bersama AS dalam memerangi pelaku terror tanggal 11 September 2001 itu.

Pertama, kita harus sadar dan obyektif bahwa pemerintah AS sendiri telah berkali-kali menjalankan perbuatan yang menimbulkan kematian dan penderitaan yang mengerikan terhadap jutaan rakyat yang tidak berdosa. Dalam Perang Dunia II AS melakukan serangan udara dengan menjatuhkan bom pembakar di Hamburg, Dresden dan kota lain di Jerman hampir setiap hari. Hal yang sama dilakukan terhadap Tokyo dan kota lain di Jepang. Dapatkah dibayangkan bagaimana penderitaan rakyat yang tinggal di kota-kota itu kalau setiap hari dijatuhi bom yang menyebabkan kebakaran luas ? Malahan kemudian AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang mengakibatkan korban dalam jumlah ratusan ribu, mungkin jutaan, orang rakyat biasa; ada yang segera mati tetapi ada pula yang harus menderita sepanjang sisa umurnya. Apakah bedanya dengan tindakan terror yang sekarang ia alami sendiri. Bahkan penderitaan rakyat Jerman dan Jepang jauh lebih luas dan berat. Juga dalam Perang Vietnam Amerika telah menimbulkan kematian dan penderitaan besar kepada rakyat biasa dengan melakukan pemboman setiap malam atas Hanoi dan sekitarnya. Selain itu telah mengakui sendiri menggunakan gas racun bernama Agent Orange di Vietnam Selatan yang hingga kini masih tampak akibatnya pada rakyat yang menjadi invalid berat . Akan tetapi Amerika tidak pernah mengalami tuduhan dan hujatan bahwa ia Terroris Ulung penyebar kematian dan penderitaan mengerikan. Ini bukti bahwa banyak orang dihinggapi penyakit Standard Rangkap atau double standard dalam melakukan penilaian. Penilaian atas tindakan melanggar kemanusiaan lebih banyak ditentukan oleh kepentingan politik dan ekonomi dan bukan oleh rasa kemanusiaan yang adil dan beradab tanpa pandang bulu.

Oleh sebab itu kita harus menyambut ajakan Presiden Bush secara proporsional, arif dan adil bijaksana. Kita setuju untuk memerangi terrorisme, tetapi itu tertuju terhadap segala macam terrorisme dari mana pun datangnya. Dan kita harus waspada jangan sampai terjebak menuduh pihak tertentu sebagai pelaku atau sumber terror 11 September 2001 di AS sebelum ada bukti yang jelas tentang kebenaran tuduhan itu. Sekarang ada kecenderungan di AS dan negara sekutunya yang dekat untuk mengarahkan tuduhan kepada Osama bin Laden. Akan tetapi belum ada bukti kredibel untuk membenarkan tuduhan itu. Dalam pada itu telah tersebar opini di AS dan sekutunya bahwa kaum Islam yang menjadi pelaku terror itu. Dan psikologi massa menimbulkan perbuatan yang tidak sepatutnya terhadap umat Islam di negara itu, khususnya yang berasal dari Timur Tengah.

Jangan sampai di Indonesia opini tersebut menyebar dan disebarkan. Sebab itu akan merusak persatuan bangsa Indonesia yang sekarang sudah mengalami persoalannya sendiri. Usaha pemerintah Megawati untuk mempersatukan bangsa harus tetap dan kuat sebagai pedoman untuk segala tindakan dan perbuatan kita.

Kita bersedia bekerja sama menghadapi terrorisme dalam hal perwujudan kemampuan bangsa dan pemerintah Indonesia dalam melawan terror. Hal itu menyangkut pembentukan satu Badan Lawan Terror yang harus kita bangun agar dapat menghadapi terror secara terfokus. Badan itu memerlukan kemampuan profesional dan anggaran memadai untuk dapat berfungsi efektif. Kita perlukan kerjasama untuk memperoleh intelijen dan informasi yang tepat dan up-to-date mengenai gerak terror yang tentunya berorganisasi secara jaringan (network) internasional. Kita perlu pengetahuan dan kecakapan tentang berbagai sistem senjata dan bahan peledak, baik yang konvensional maupun non-konvensional. Yang konvensional saja kita belum kuasai secara benar, terbukti dari kurang gesitnya kita mengatasi terror bom yang masih konvensional. Itu saja sudah menimbulkan banyak kegelisahan dalam masyarakat. Apalagi kalau terror menggunakan senjata atau bahan non-konvensional seperti Biologi, Kimia, Radiologi atau Nuklir (BKEN). Seperti yang terjadi di Jepang ketika terror Aum Shinrikyo menggunakan gas racun yang dikeluarkan dalam terowongan jalan kereta api bawah tanah yang penuh orang. Hal demikian dapat pula terjadi di Indonesia, demikian pula penggunaan bahan biologi yang menyebarkan penyakit dan bahan radiologi dan nuklir. Hal ini semua tidak mudah dan memerlukan persiapan seperlunya. Sebenarnya AS telah mempunyai persiapan cukup luas menghadapi terror, tetapi toh dapat kecurian secara demikian luas dan mengerikan. Sebab itu kita perlu sekali melakukan persiapan matang.

Sebaiknya Badan Lawan Terror berdiri sendiri dan bukan bagian dari Polri atau TNI. Sekarang ada kecenderungan menyerahkan fungsi lawan terror kepada Polri. Akan tetapi Polri tidak dibentuk dan disiapkan untuk itu. Polri dibentuk sebagai aparat penegak hukum. Dalam pekerjaan lawan terror ada aspek penegakan hukum, tetapi masih banyak aspek lainnya yang bukan termasuk keahlian Polri. Sebab itu dalam Badan Lawan Terror tentu Polri diikutsertakan, demikian pula TNI. Akan tetapi juga unsur dari berbagai departemen pemerintahan lainnya yang ada hubungannya dengan lawan terror. Seperti Dep. Kesehatan, BPPT, BATAN dan LIPI yang di dalamnya ada kepakaran tentang aspek biologi, kimia , radiologi dan nuklir. Juga Dep. Pertanian, Perindustrian dan Pertambangan-Energi yang unsurnya dapat menjadi sasaran terror. Juga Dep. Perhubungan , Komunikasi dan Dalam Negeri. Yang penting juga adalah keikutsertaan unsur Badan Intelijen Negara (BIN) sebagai sumber intelijen. Sebaiknya Badan Lawan Terror dipimpin seorang yang mempunyai pengetahuan luas tentang terrorisme nasional dan internasional, dengan kemampuan kepemimpinan dan manajemen yang dapat diandalkan untuk mengendalikan organisasi yang harus bergerak lincah dan cepat. Dapat diambil dari Polri, TNI atau pakar sipil, asalkan dipenuhi syarat di atas. Badan Lawan Terror bertanggungjawab kepada Menteri Pertahanan tetapi mendapat otonomi bergerak leluasa, tidak terikat oleh birokrasi Dep Pertahanan. Anggaran untuk Badan itu harus tersendiri sekalipun secara struktur penganggaran dapat dimasukkan anggaran Dephan.

Maka kerjasama kita dengan AS menghadapi terror harus berorientasi bagaimana memperkuat kemampuan Badan Lawan Terror itu yang akan memberikan manfaat bagi Indonesia tetapi secara tidak langsung juga kepada AS dan negara lain. Kalau kita dapat menunjukkan kemampuan lawan terror yang efektif, maka itu sudah mengurangi kemungkinan terjadinya aksi terror di Indonesia. Sebab aksi terror baru digerakkan oleh pelakunya kalau ia melihat kemungkinan berhasil. Apabila kemampuan lawan terror kita cukup efektif, maka itu akan menimbulkan daya tangkal yang bermanfaat.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post