TNI Di Masa Depan

Posted by Admin on Saturday, 9 December 2000 | Catatan

Pada tanggal 5 Oktober 2000 TNI tepat berusia 55 tahun. Dalam perjalanan sejarahnya TNI telah mengalami banyak sekali peristiwa, baik yang menyenangkan maupun yang kurang menggembirakan, baik yang bersifat sukses maupun yang menunjukkan kegagalan. Tidak banyak organisasi tentara di dunia yang mempunyai sejarah yang demikian penuh dengan aneka kejadian. Apalagi yang mulai eksistensinya sebagai organisasi perjuangan untuk merebut dan menegakkan kemerdekaan bangsanya.

Namun pada usianya yang ke 55 TNI sedang mengalami kesedihan yang amat dalam. Sejak tahun 1998 tidak habis-habisnya TNI dihujat dari kiri dan kanan, dari depan dan belakang, atas sikap dan perilakunya selama 30 tahun terakhir. Sudah jelas bahwa TNI dikecam habis-habisan oleh lawannya yang memang sejak permulaan tidak menghendaki kelanjutan eksistensi TNI. Mereka tahu bahwa selama ada TNI mereka tidak dapat membuat Republik Indonesia sesuai dengan keinginan mereka. Akan tetapi TNI juga diserang secara pedas oleh pihak yang semula merupakan kawannya. Bahkan kecaman dan serangan itu datang dari dalam negeri maupun luar negeri secara bertubi-tubi. Ketika memperingati ulang tahun ke 55 ini pun belumlah selesai hujatan itu.

Hal ini berbeda sekali dengan keadaan TNI pada tahun 1950 maupun 1965 ketika bagian terbesar rakyat Indonesia senang dan bangga kepada TNI sebagai teman seperjuangan yang menegakkan dan menyelamatkan Republik Indonesia berdasarkan Panca Sila.

Namun adalah lebih baik kalau TNI dan segenap pencinta serta pendukungnya memandang ke masa depan dari pada terus saja gundah gulana menyesali nasib yang kurang baik. Sebab adalah jelas sekali bagi semuanya yang masih cinta kepada Republik Indonesia dengan dasar Panca Sila bahwa masa depan negara dan bangsa kita amat tergantung bagaimana kondisi TNI sebagai salah satu pendukungnya yang utama. Oleh karena itu sejak 5 Oktober 2000 hendaknya TNI merapatkan barisan dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan serta tekad untuk melaksanakan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit dengan penuh kesungguh-sungguhan.

Kiranya TNI sudah menyadari mengapa terjadi hujatan dan kecaman kepadanya. Itu tidak lain karena selama pemerintahan Orde Baru TNI sudah keluar dari ril Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, khususnya mengabaikan keharusan untuk sungguh-sungguh melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Panca Sila. Kongkritnya TNI telah meninggalkan mayoritas rakyat karena tergiur oleh kekuasaan dan segala hal yang bersangkutan dengan itu.

Oleh sebab itu mulai sekarang TNI harus mengambil langkah untuk merebut kembali kepercayaan dan cinta bagian terbesar rakyat Indonesia. Hal ini hanya dapat tercapai dengan perbuatan dan tindakan nyata, dan tidak cukup dengan omongan dan tulisan. Ini terlebih sukar karena pada waktu ini TNI belum bersih dari sisa-sisa kebusukan yang telah meracuni tubuhnya selama Orde Baru. Selain itu pihak-pihak baik di dalam maupun luar negeri yang memang sejak permulaan menghendaki habisnya TNI, terus menciptakan kondisi dan melakukan disinformasi yang menjauhkan masyarakat dari TNI. Namun TNI harus kuat tekad dan usahanya untuk memenangkan perjuangan ini sehingga satu saat masyarakat kembali percaya kepada TNI, sekalipun mungkin belum bangga.

Kalau kondisi itu tercapai maka TNI harus menjadikan dirinya satu organisasi yang juga menimbulkan kebanggaan rakyat Indonesia. Itu akan tercapai kalau TNI membuat dirinya organisasi dengan tingkat profesionalisme tinggi, baik untuk TNI-AD, TNI-AL maupun TNI-AU. Untuk keperluan itu TNI harus dapat meyakinkan kaum politik yang memegang kendali pemerintahan Republik Indonesia bahwa TNI yang tinggi profesionalismenya adalah kepentingan mereka. Oleh sebab itu pemerintah harus memberikan anggaran yang memadai sehingga tidak saja TNI dapat melakukan pendidikan dan latihan yang bermutu, tetapi juga dapat hidup secara teratur dan layak sebagai manusia yang sekarang ini sangat disangsikan. Lebih baik lagi apabila pemerintah dapat menyediakan biaya untuk pengadaan sistem senjata dan perlengkapan yang sesuai dengan perkembangan teknologi militer dunia sekarang dan di masa depan. Rakyat baru akan bangga kepada TNI dan merasa aman kalau TNI memiliki kemampuan yang memadai untuk menghadapi berbagai potensi dan kemungkinan ancaman, tantangan dan gangguan, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri. Untuk itu TNI harus diperlengkapi dengan sistem senjata serta peralatan yang tepat dan dapat menggunakannya dengan efektif. TNI harus menjadi organisasi militer yang modern, tidak kalah dari tentara negara tetangga.

Akan tetapi juga harus disadari oleh kita semua bahwa TNI yang profesional dapat menimbulkan dampak kurang baik kalau tidak diimbangi dengan faktor kerakyatan.. Oleh sebab itu di masa depan TNI harus merupakan harmoni antara kekuatan profesional dan kerakyatan. Untuk itu TNI harus harus terdiri dari unsur TNI sukarela dan TNI Wajib Militer. Dengan adanya unsur wajib militer maka dalam tubuh TNI selalu ada unsur yang membawa semangat dan aspirasi rakyat. Dengan susunan itu TNI tidak akan benar-benar dirasakan sebagai Anak Rakyat. Untuk mewujudkan gagasan itu diperlukan pengertian dari kalangan TNI profesional maupun dari kalangan sipil, khususnya kaum cendekiawan yang cenderung anti-militer dan tidak suka adanya dinas wajib militer. Hendaknya kaum cendekiawan meluaskan pandangan dan pikirannya dan tidak terpukau kepada satu negara saja seperti AS, melainkan mau melihat ke Swiss dan Jerman serta Perancis. Dengan kondisi TNI seperti itu kita yakin masa depan TNI benar-benar sesuai dan mendukung kelestarian Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.

DIRGAHAYU TENTARA NASIONAL INDONESIA !

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post