Jati Diri Bangsa Perlu Disempurnakan

Posted by Admin on Monday, 21 June 2004 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Orang sering bicara tentang perlunya pemeliharaan dan penguatan jati diri atau identitas bangsa Indonesia. Biasanya yang dimaksudkan dengan jati diri bangsa adalah sifat-sifat bangsa yang menonjol dan membedakannya dari bangsa lain. Atas dasar itu yang dianggap jati diri bangsa Indonesia adalah sifat menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan, penuh toleransi dan empati atau tepo seliro, bersikap sopan santun dan berperikemanusiaan. Atau segala sifat yang bersangkutan dengan nilai-nilai Pancasila yang oleh Bung Karno digali dari kebudayaan asli Indonesia.

Akan tetapi kalau kita melihat kondisi bangsa kita sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu, sifat-sifat itu amat sukar ditemukan dalam kehidupan bangsa. Yang kita lihat adalah satu bangsa yang sukar bersatu, jauh dari toleran dan tidak ada empati, cenderung bersikap mau menang sendiri dan sukar mengikuti peraturan serta perjanjian, bahkan kejam dan kurang peduli kepada perikemanusiaan. Karena itu sekumpulan tokoh bangsa menyerukan agar bangsa Indonesia kembali kepada jati dirinya. Mereka membentuk organisasi yang melaksanakan gerakan untuk memelopori usaha itu. Itu semua adalah niat yang mulia dan patut kita hargai dan dukung.

Akan tetapi mungkin sekali usaha itu tidak cukup, kalau Indonesia mau menempati posisi terhormat dalam umat manusia abad ke 21. Dinamika kehidupan masa kini dan masa depan memerlukan sikap hidup yang lebih dari sifat-sifat yang kita lihat sebagai jati diri bangsa. Sifat-sifat hakiki yang menjadi jati diri bangsa harus memperoleh penyempurnaan, sehingga bangsa Indonesia mempunyai harapan untuk lebih mampu menyesuaikan diri dan unggul dalam dinamika umat manusia abad ke 21. Penyempurnaan jati diri bangsa dilakukan dengan mengembangkan sifat-sifat tambahan yang memperkuat sifat-sifat hakiki itu.

Sifat hakiki, sebagaimana dikatakan Bung Karno, terdapat dalam kebudayaan bangsa sejak dahulu kala. Sifat tambahan amat kita perlukan karena dalam perjalanan zaman terjadi makin banyak persentuhan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Dalam dinamika akibat persentuhan itu sifat-sifat hakiki tidak memadai untuk menjamin kehidupan bangsa yang aman dan sejahtera.

Sifat tambahan yang amat penting adalah sikap penuh kesungguh-sungguhan dalam menjalankan kehidupan. Kesungguh-sungguhan adalah bertentangan dengan sifat asal jadi yang sekarang amat sering kita lihat dalam sikap banyak orang Indonesia. Sikap kurang sungguh-sungguh banyak akibatnya, seperti sukar menyelaraskan pembicaraan dengan perbuatan. Orang mengatakan A, tetapi yang diperbuat adalah B, yang tidak jarang amat bertentangan dengan A. Orang yang pandai membuat konsep, tetapi tidak berusaha secukupnya untuk mengimplementasikan konsep itu. Karena sikap asal jadi, maka banyak hasil kerja dalam bidang apa saja menjadi setengah-setengah belaka. Implikasinya antara lain bahwa sekarang sukar ditemukan orang Indonesia yang betul-betul dapat dipercaya dan diandalkan. Hal itu yang mengakibatkan makin sukar membentuk kebersamaan, karena saling percaya atau social trust sudah amat luntur. Sifat gotong royong berubah menjadi gotong bohong. Juga hal ini yang membuat manusia Indonesia mudah terbuai untuk korup, padahal ia rajin menjalankan ritual agama. Ia tidak hiraukan bahwa ajaran agama mengharuskan orang dapat dipercaya dan tidak berbuat curang, seperti berbuat korupsi.

Kesungguh-sungguhan tidak tampak sebagai sifat hakiki Indonesia yang menonjol di masa lampau. Mungkin orang mengatakan bahwa candi Borobudur adalah hasil satu sikap sungguh-sungguh. Itu benar, tetapi sudah lama terkubur. Sebab zaman Majapahit yang kita anggap masa cemerlang dalam sejarah bangsa, tidak mewariskan produk yang mantap dan unggul. Apalagi setelah kita meninggalkan zaman Majapahit.

Lemahnya kesungguh-sungguhan membuat bangsa Indonesia sukar berhadapan secara sukses dengan banyak bangsa yang menjunjung tinggi kesungguh-sungguhan, seperti bangsa Jepang, Korea dan Cina. Itu tidak saja mempunyai dampak pada kemampuan produksi yang berpengaruh pada kekuatan ekonomi, tetapi juga pada aspek lain seperti olahraga, ilmu pengetahuan, kesenian dan lainnya.

Sifat tambahan berikut yang amat mendasar adalah komitmen. Komitmen adalah sikap setia yang kuat kepada satu hal, baik itu berupa organisasi atau gagasan. Dan karena kesetiaan itu bersedia berbuat semaksimal mungkin untuk yang diberi kesetiaan. Sebagai contoh lemahnya komitmen dapat dilihat pada orang-orang yang sekalipun terpelajar sekali, tidak segan atau ragu memihak kepentingan asing yang merugikan Indonesia. Tidak ada komitmen terhadap negaranya dan bangsanya sendiri. Juga umumnya orang kita lemah komitmennya terhadap organisasi di mana ia berada. Pejabat yang korup adalah contoh orang yang lemah komitmennya terhadap organisasi dan para anggotanya. Demikian pula rendahnya komitmen tampak ketika orang tidak menjaga nama baik orang tua dan keluarga yang membesarkannya.

Komitmen tidak menjadi bagian dari sifat hakiki bangsa. Dalam sejarah Indonesia cukup banyak kita temukan komitmen yang rendah, bahkan pengkhianatan, terhadap kehidupan bangsa. Itu sebabnya bangsa Indonesia dapat dijajah dan dikuasai oleh bangsa Belanda yang jumlahnya jauh lebih sedikit dan harus datang dari tempat yang amat jauh letaknya. Kesungguh-sungguhan dan komitmen saling memerlukan dan mendukung. Orang yang kuat komitmennya kepada organisasinya akan bersungguh-sungguh dalam melakukan segala hal untuk organisasi itu. Sebaliknya bagi orang yang bersifat sungguh-sungguh tidak ada tempat untuk perasaan tidak setia dan berkhianat.

Sifat tambahan ketiga yang kita perlukan adalah sifat tahu malu. Orang diliputi rasa malu apabila berbuat sesuatu yang tidak semestinya atau sebaliknya, tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dilakukannya. Karena rendahnya sifat tahu malu, orang dengan mudah sekali berbuat sesuatu yang merugikan kepentingan umum, seperti menjalankan korupsi, berkhianat dan menjalankan pekerjaan asal jadi. Karena tidak ada sifat tahu malu, orang kurang peduli apakah hasil pekerjaannya roboh dalam waktu singkat. Sikap anggota legislatif yang sering dikecam masyarakat terjadi karena tidak ada rasa malu.

Sebenarnya dalam jati diri bangsa ada sifat merasa bersalah, tetapi tidak ada sifat rasa malu. Rasa bersalah tidak cukup karena hanya membuat orang tidak melanggar hokum. Padahal di samping itu orang juga harus menjauhi perbuatan yang bertentangan dengan kepatutan. Sebab itu diperlukan sifat rasa bersalah maupun sifat rasa malu .

Dengan sifat-sifat tambahan itu potensi unggul yang ada pada manusia Indonesia lebih mungkin untuk berkembang. Sebab sebenarnya cukup banyak potensi tinggi yang ada pada bangsa Indonesia, tetapi itu tersilep karena tidak didukung tiga sifat itu..

Oleh sebab itu penyempurnaan jati diri bangsa harus menjadi kenyataan dan merupakan bagian gerakan kembali kepada jati diri. Seruan ini juga tertuju kepada Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih dalam Pemilihan tahun 2004. Dan marilah kita semua dukung perjuangan mulia itu karena akan berakibat besar pada masa depan bangsa.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post