Paradigma Kepemimpinan Aparatur

Posted by Admin on Tuesday, 27 April 2004 | Makalah, Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo, Let.Jen. Purn.

PENGERTIAN UMUM

Yang dimaksudkan dengan Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan mengajak orang lain ikutserta mencapai satu tujuan tertentu atau menjalankan kegiatan tertentu. Kesediaan orang lain untuk ikutserta itu disebabkan oleh kepercayaan dan respek mereka kepada yang mengajak, sehingga mereka berpikir bahwa akan terwujud sesuatu yang lebih baik atau bermanfaat bagi mereka kalau mereka ikutserta. Kemampuan mengajak itu, juga terwujud karena kecakapan mem-persuasi pihak yang mengajak.

Makin kuat kepercayaan dan respek serta kemampuan persuasi pihak pengajak , makin kuat pula motivasi yang timbul pada pihak yang diajak. Dan makin besar pula kesediaan untuk melibatkan dirinya dalam usaha yang akan ditempuh. Bahkan tidak mustahil bahwa ada yang sampai bersedia mengorbankan jiwanya untuk pencapaian tujuan itu.

Pengertian kepemimpinan tersebut juga berlaku untuk lingkungan aparatur Negara. Namun karena aparatur Negara merupakan organisasi yang anggotanya mempunyai kewajiban terhadap organisasi itu, maka di samping faktor kepercayaan, respek dan persuasi, juga ada faktor pemaksaan. Artinya, kalau pimpinan tidak atau kurang dapat mengajak pihak yang dipimpin atas dasar kepercayaan, respek dan persuasi, maka pimpinan wajib untuk memaksakan kehendaknya sehingga yang dipimpin bergerak dan menjalankan kehendak yang memimpin. Ini terutama berlaku bagi organisasi militer yang pada dasarnya merupakan satu coercive society. Sebab aparatur harus selalu menjalankan kehendak Negara.

Namun demikian, kepemimpinan yang terlalu sering didasarkan pemaksaan membuat mutu kepemimpinan itu rendah. Sebab orang yang berbuat hanya karena dipaksa adalah orang yang kurang motivasi untuk berbuat dan sebab itu hasil pekerjaannya kurang bermutu. Jadi juga dalam kepemimpinan aparatur dan organisasi militer harus diusahakan agar faktor kepercayaan, respek dan persuasi setinggi mungkin. Di pihak lain harus dikatakan, bahwa kepemimpinan yang mencapai tujuannya dengan menggunakan faktor pemaksaan lebih berguna bagi Negara dari pada pimpinan yang tidak dapat menggerakkan organisasinya dan karena itu tidak mampu mencapai tujuannya.

PENGEMBANGAN PERSONALITAS PEMIMPIN

Oleh karena seorang pemimpin harus dapat menumbuhkan kepercayaan dan respek dari anggotanya serta pandai mem-persuasi, maka ia harus mengembangkan dirinya sesuai dengan keperluan itu. Hal itu menyangkut aspek fisik dan aspek mental.

Dalam aspek fisik, harus diperhatikan bahwa yang pertama-tama dilihat orang lain adalah penampilan fisik (physical appearance). Sebab itu seorang pemimpin harus senantiasa memperhatikan agar menunjukkan penampilan fisik yang sebaik-baiknya. Pemeliharaan jasmani penting sekali, sehingga nampak segar (fit) dan cekatan. Itu berarti bahwa harus memperhatikan olahraga dan kegiatan fisik lain. Orang yang berpostur atletis dan memiliki tinggi badan yang di atas rata-rata akan amat diuntungkan, kalau postur itu selalu terpelihara dengan baik. Akan tetapi juga orang yang kecil badannya dapat menunjukkan penampilan fisik memadai, kalau tampak segar dan cekatan. Belum tentu orang yang tinggi besar badannya mempunyai penampilan fisik mengungguli orang kecil.

Penampilan fisik yang baik juga tercapai kalau orang berpakaian secara bersih, tertib dan teratur. Selain itu memelihara kerapihan seperti tidak nglomprot, mandi dengan teratur, rambut tersisir dengan rapih. Yang diperlukan bukan pakaian yang bagus dan mahal, tetapi pakaian yang terpelihara dan dipakai secara korekt. Anggota merasa senang melihat pimpinan yang teratur dan terpelihara jasmaninya dan terangsang untuk menirunya.

Aspek fisik yang lain, terutama bagi organisasi seperti TNI dan Polri, adalah kemampuan untuk menjalankan pekerjaan atau kegiatan fisik yang memerlukan kekuatan dan ketahanan (endurance). Sebab itu pula kebiasaan berolahraga dan terutama olahraga yang menuntut ketahanan amat penting. Jangan sampai dalam melakukan satu pekerjaan pimpinan kurang mampu bergerak bersama-sama anggotanya, bahkan tidak jarang harus berada di depan dan memberikan tauladan. Bahkan anggota akan timbul respeknya kepada pimpinan yang menunjukkan prestasi tinggi dalam olahraga dan kegiatan jasmani.

Dalam aspek mental, harus selalu dijaga agar ada penguasaan pengetahuan yang memadai, terutama pengetahuan tentang pekerjaan yang dijalankan, pengetahuan professional. Itu berarti bahwa pemimpin harus sanggup berpikir dan terus belajar. Harus ada kesadaran bahwa orang tidak pernah boleh berhenti belajar, karena ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus. Anggota merasa aman dan percaya pada pimpinan yang menguasai profesinya. Respek anggota menguat kalau ia melihat pimpinannya orang yang cerdas dan pandai, khususnya menyangkut pekerjaan yang dilakukan.

Kemampuan berpikir dan penguasaan pengetahuan profesi harus menghasilkan kemampuan analisa. Pimpinan harus sering mengambil keputusan (decision making). Akan tetapi pengambilan keputusan yang baik harus didahului pembuatan analisa keadaan serta penentuan alternatif bertindak. Baru setelah mempertimbangkan berbagai alternatif dapat diambil keputusan alternatif mana paling tepat untuk dijalankan. Namun harus pula diperhatikan bahwa pengambilan keputusan harus tepat waktunya. Tidak boleh terlalu cepat dan tidak pula terlambat.

Aspek mental juga menyangkut sikap tegas di satu pihak dan sikap fleksibel di pihak lain. Keputusan yang telah diambil harus dilaksanakan secara tegas. Tidak boleh ada keragu-raguan dalam menjalankan keputusan, karena sudah dipikirkan dan dipertimbangkan secara mendalam. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa ketika menjalankan keputusan berkembang satu keadaan yang sama sekali berlainan dengan yang dihadapi ketika membuat keputusan. Kalau hal demikian terjadi, harus segera diadakan penelitian dan pendalaman terhadap perubahan yang terjadi. Kalau memang kondisi menjadi amat berbeda dari yang semula sehingga pelaksanaan keputusan yang lalu dapat menimbulkan kerugian, maka harus ada cukup fleksibilitas untuk mengubah dan membuat keputusan baru.

Seorang pemimpin harus sanggup bicara dengan jelas dan teratur, oleh karena diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dikombinasikan dengan kemampuan berpikir dan penguasaan pengetahuan, hal itu dapat menjadi kemampuan persuasi. Akan tetapi di pihak lain juga harus sanggup mendengarkan pikiran dan pendapat orang lain. Itu penting untuk memperoleh sebanyak mungkin informasi dan masukan. Sekali gus membuat orang lain merasa diperhatikan dan dianggap penting yang akan memperkuat kedekatannya dengan pemimpin.

Namun aspek mental juga meliputi kemampuan berbuat, sehingga tidak hanya pandai berpikir dan berbicara tetapi juga mampu mengimplementasikan pikiran dan konsepnya menjadi kenyataan. Kombinasi dari kemampuan berpikir, kemampuan berbicara atau berkomunikasi dan kemampuan berbuat menimbulkan sikap dinamis yang mudah menimbulkan suasana optimisme yang amat diperlukan oleh anggota.

Selain itu, aspek mental memerlukan kemampuan empati atau rasa tepo seliro yang sering diperlukan untuk mendalami perasaan dan pikiran anggota. Anggota sangat menghargai pimpinan yang tegas (decisive). Akan tetapi akan lebih percaya dan respek kalau pimpinan di samping ketegasannya juga menunjukkan rasa empati yang memperhatikan pikiran dan perasaan anggota.

Aspek mental menyangkut pula sikap moral pimpinan. Pimpinan tidak seharusnya menjadi seorang moralis, yaitu orang yang pandai berbicara tentang moralitas. Akan tetapi toh harus menunjukkan sikap dan cara hidup yang menjunjung tinggi moralitas. Sikap dan pikiran yang pandai membedakan antara baik dan buruk, antara benar dan kurang benar, antara patut dan tidak patut. Untuk itu adalah penting kalau ada sikap spiritual yang cukup mendalam. Hal ini tidak hanya menyangkut kebiasaan ritual agama, melainkan juga pada cara berpikir, perasaan dan sikap yang tidak angkuh, tidak arogan, karena menyadari keterbatasan manusia depan Tuhan Maha Kuasa. Sebaliknya, karena kesadaran spiritual itu ada sikap hidup yang tegas dan berani secara proporsional, karena merasa harus selalu ikhtiar mencapai yang terbaik tanpa berkecil hati kalau tidak cepat mencapainya, sebab sadar bahwa akhirnya segalanya Tuhan yang memutuskan.

Segala pandangan intelektual, sikap moral dan spiritual menimbulkan kesadaran perlunya harmonisasi antara sikap dan pandangan subyektif, yaitu yang berpusat pada dirinya, dengan sikap dan pandangan obyektif, yaitu yang berdasar kenyataan yang ada.Hal itu harus menjadi landasan untuk menentukan pendapat berdasarkan kearifan (judgment), satu kemampuan yang amat diperlukan setiap pemimpin.

Segala aspek fisik dan aspek mental perlu dikembangkan dalam personalitas pemimpin. Itu menghasilkan sikap hidup yang mengutamakan Orientasi Mutu (Excellence). Karena tidak ada manusia yang sempurna, maka usaha itu tidak pernah ada akhirnya dan berlanjut secara terus menerus. Hal itu menjadikan pemimpin tersebut selalu Hidup Aktif dan Dinamis, tanpa kekhawatiran ada kegagalan. Sebab kalau satu saat gagal atau kurang mencapai hasil yang memadai, akan timbul usaha baru untuk memperbaiki kekurangan. Dinamika dalam kehidupan itu menciptakan suasana penuh gairah dan optimisme dalam lingkungannya sehingga memotivasi semua anggota.

HUBUNGAN DENGAN PIHAK LAIN

Segala kemampuan yang ada pada pribadi pemimpin digunakan untuk mencapai keberhasilan. Namun keberhasilan tidak mungkin terwujud oleh pemimpin seorang diri, melainkan merupakan hasil dari keseluruhan organisasi. Karena itu pemimpin mengajak dan memotivasi seluruh anggota organisasi dan pihak lain yang bersangkutan untuk bersama-sama mewujudkan tujuan yang ditetapkan.

Pemimpin harus memberikan Tauladan dengan menunjukkan sikap hidup positif serta merangsang semua orang agar bersedia meningkatkan Mutunya, baik mutu kepribadiannya maupun mutu profesionalnya. Dengan kemampuannya berpersuasi ia menimbulkan keyakinan pada semua pihak tentang pentingnya tujuan yang hendak dicapai. Dan berusaha membuat semua pihak bersedia memberikan kontribusi semaksimal mungkin.

Pemimpin memelihara hubungan erat dengan atasan serta organisasinya. Ia meyakinkan dan mendorong pihak atasan untuk menyediakan dukungan sebaik-baiknya, baik dalam hal jumlah, mutu maupun waktu, karena keberhasilan organisasinya menguntungkan keperluan pihak atasan.

Juga selalu memelihara hubungan erat dengan para pimpinan di kiri kanannya. Sekalipun mengejar excellence, toh tidak boleh mengakibatkan bersikap arogan, sombong, seakan-akan semua dapat dicapai sendiri. Sebaliknya harus selalu ditimbulkan kebersamaan antara semua pihak yang tersangkut. Seorang pemimpin hendaknya solidaritymaker , dan bukan seorang individualis yang melulu berorientasi pada diri sendiri.

Seorang pemimpin harus dapat berkomunikasi maksimal dengan pihak lain, terutama dengan anggota yang dipimpinnya. Ia harus dapat meyakinkan mereka tentang pentingnya organisasi mereka dan tujuan yang hendak dicapai. Selain meneguhkan keyakinan anggota, ia harus memotivasi mereka untuk bersedia memberikan kontribusi maksimal berupa pikiran, perasaan dan perbuatan bagi kepentingan organisasi dan pencapaian tujuan. Keyakinan dan motivasi itu amat tergantung dari tauladan serta kontribusi nyata yang ia berikan sendiri kepada organisasi.

Pemimpin yang mempunyai staf yang membantunya harus memelihara hubungan erat dengan staf itu. Ia memberi kesempatan kepada anggota staf untuk mengemukakan pendapatnya dan bersedia mendengarkan, betapa pun mungkin pendapat itu tidak sesuai dengan pikirannya pemimpin sendiri. Ia juga membuat stafnya mengembangkan kerjasama yang maksimal and menghasilkan satu pekerjaan staf yang lengkap (completed staff work).

Para anggota juga selalu dirangsang dan diajak untuk bersatu, bersatu antara anggota dan bersatu antara anggota dan pimpinan. Semua hal yang dilakukan hendaknya didasarkan teamwork yang dilandasi kesediaan bersatu dan kesediaan mempersatukan pikiran, perasaan dan perbuatan untuk mencapai tujuan bersama.

Seorang pemimpin harus selalu dirasakan kehadirannya oleh anggota, terutama kalau organisasi sedang menghadapi kesulitan. Akan tetapi kehadiran itu hendaknya jangan mencampuri pekerjaan pimpinan bawahan, kecuali kalau mereka minta atau keadaan memaksakan campur tangan langsung. Ini semua dinyatakan dalam tuntunan : Tut Wuri Handayani, Ing Madya Mangun Karsa, Ing Ngarsa Sun Tulada. Itu semua harus menghasilkan pencapaian tujuan dengan sukses, dan inilah kriteria utama Kepemimpinan.

Sebagai pemimpin ia selalu merasa bertanggungjawab tidak saja atas keberhasilan pencapaian tujuan, tetapi juga atas kesejahteraan hidup anggotanya karena hal itu amat mempengaruhi kontribusi mereka terhadap usaha organisasi. Sebab itu ia selalu mengusahakan agar dukungan dari atas tidak hanya meliputi keperluan untuk menjalankan pekerjaan, tetapi juga sejauh mungkin meningkatkan kesejahteraan anggota.

Dengan landasan itu pemimpin bersikap tegas dan lugas kepada anggota dalam pelaksanaan tugas. Tidak boleh ada kelemahan ditunjukkan, apalagi kelemahan yang memungkinkan timbulnya ketledoran dan sembrono dalam pelaksanaan tugas. Tidak pula boleh ada sikap membeda-bedakan antara anggota satu dengan lainnya yang menyebabkan perasaan dianaktirikan. Kalau ada yang menjalankan kesalahan maka harus secepat mungkin dikoreksi dan ditegor dan tidak boleh kesalahan dibiarkan terlalu lama. Kesalahan harus dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan, sehingga selalu dijaga perasaan anggota bahwa pemimpin itu adil, sekalipun lugas dan tegas. Sebaliknya kalau ada yang menjalankan hal yang bagus di atas ukuran normal, maka orang itu harus mendapat pujian dan ganjaran (reward) sesuai dengan ukuran prestasinya.

Sekalipun dalam pelaksanaan tugas pemimpin bersifat tegas dan lugas, di luar hubungan kedinasan harus menunjukkan sikap kekeluargaan dan kedekatan pribadi atas dasar rasa empati terhadap semua anggota. Harus dibina suasana yang positif yang memperhatikan faktor perasaan.

HUBUNGAN DENGAN ORGANISASI YANG DIPIMPIN

Seorang pemimpin harus mencurahkan banyak perhatian dan waktunya untuk organisasi yang dipimpinnya. Ia harus merasa bertanggungjawab sepenuhnya atas segala perkembangan organisasi itu dan selalu mengusahakan kemajuan dan keberhasilannya. Tidak mustahil sekali-sekali kurang berhasil baik meskipun sudah berusaha maksimal. Dalam hal demikian pemimpin harus menunjukkan sikap yang tidak patah atau putus asa, melainkan segera mengambil tindakan untuk keluar dari kegagalan itu.

Segenap anggota senantiasa diberi informasi selengkapnya tentang perkembangan organisasi. Untuk itu ia mengadakan biro yang mengurus hubungan masyarakat yang mempunyai fungsi menghubungkan pimpinan dengan masyarakat luar organisasi dan sebaliknya, serta hubungan antara pimpinan dengan anggota organisasi serta sebaliknya.

Pimpinan senantiasa merangsang seluruh anggota untuk mempunyai rasa bangga atas organisasi dan menimbulkan perasaan bahwa kemajuan organisasi adalah kemajuan anggota pula, demikian pula kemunduran organisasi merugikan anggota. Para anggota dirangsang untuk menjadikan organisasi mereka nomer satu di antara organisasi sejenis. Akan tetapi menjaga agar tidak timbul sikap arogan angkuh karena itu takabur dan justru akan menjatuhkan organisasi. Dan mendidik anggota agar selalu bersikap baik dan sopan santun terhadap masyarakat kelilingnya serta dengan anggota organisasi lainnya.

Kalau terjadi kegagalan, pemimpin mengajak seluruh anggota untuk mempelajari mengapa ada kegagalan itu dan kemudian memperbaiki kesalahan yang telah terjadi. Dengan begitu kegagalan pun mempunyai manfaat sebagai pengalaman berharga untuk tidak diulangi lagi. Dengan suasana yang menggairahkan yang distimulasi pimpinan, seluruh organisasi senantiasa menampakkan dinamika dan aktivitas.

Pimpinan selalu mengusahakan inisiatif untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan merangsang anggota untuk juga menghasilkan pikiran dan saran perbaikan dan pembaruan. Itu dilakukan baik untuk peningkatan produksi, peningkatan produk maupun peningkatan cara kerja. Oleh karena itu pimpinan tidak tinggal melulu di kantor atau markasnya, tetapi sering berada bersama anggota yang sedang dalam proses melaksanakan tugasnya. Selain itu ditentukan prosedur bagaimana anggota secara teratur dapat menyampaikan pikirannya atau gagasannya kepada pimpinan. Anggota yang menyampaikan gagasan yang ternyata memberikan hasil menonjol diberi hadiah untuk merangsang terus berkembangnya pemikiran anggota.

Pimpinan organisasi juga harus menjadi manajer organisasi yang baik. Itu berarti bahwa ia selalu memperhatikan bahwa dengan sumberdaya yang tersedia atau disediakan, dapat dicapai hasil yang maksimal. Sebaliknya, berbagai usaha yang dilakukan organisasi harus dicapai dengan penggunaan sumberdaya minimal. Akan tetapi dalam pelaksanaan tugas tempur sikap manajemen itu tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa pihak musuh mempunyai kemampuan yang tidak boleh dianggap sepele. Jadi pandangan untuk berhemat dalam penggunaan pasukan dan penyediaan logistik tidak boleh mengakibatkan terjadinya kekurangan sumberdaya ketika diperlukan.

Pimpinan yang melaksanakan manajemen organisasi harus memberikan perhatian besar kepada manajemen personil. Sebab sekalipun teknologi makin maju, masih tetap yang menentukan adalah sumberdaya manusia. Dalam manajemen personil harus benar-benar diperhatikan bahwa anggota mendapat perlakuan yang baik. Itu memerlukan pembinaan karier, yaitu pengaturan jabatan dan kepangkatan, yang menimbulkan rasa puas dan kepercayaan anggota. Pembinaan personil juga meliputi peningkatan kecakapan anggota melalui pendidikan dan latihan, baik yang dilakukan organisasi sendiri maupun yang dikirimkan/dititipkan ke organisasi lain. Juga pembinaan kesejahteraan, termasuk penghasilan, yang memenuhi kebutuhan anggota dan keluarganya.

Selain itu harus pula ada manajemen material yang baik, sehingga peralatan dan senjata selalu terpelihara dengan baik serta dalam jumlah memadai untuk pelaksanaan tugas. Kalau organisasi yang dipimpin mempunyai wewenang manajemen keuangan, maka diusahakan agar selalu ada administrasi keuangan yang rapih dan jujur sehingga menjamin suasana organisasi yang baik dan saling percaya.

Pimpinan harus menjaga pengamanan dan keamanan organisasi. Sebab itu setiap organisasi mempunyai fungsi intelijen jangan sampai organisasi kena pendadakan yang merugikannya. Kalau organisasi yang dipimpin melakukan produksi, maka fungsi intelijen juga meliputi penyelidikan tentang keberhasilan dan kegagalan organisasi lain.

DASAR PEMIKIRAN DAN PERBUATAN

Apa yang diuraikan ini berlaku bagi kepemimpinan di mana saja dan untuk bangsa apa saja. Akan tetapi untuk kepemimpinan di Indonesia masih diperlukan dasar pemikiran dan perbuatan yang membedakannya dari bangsa lain. Ini penting dan perlu dipahami, karena tujuan perjuangan bangsa Indonesia tidak sama dengan bangsa lain.

Sudah kita putuskan bersama bahwa Dasar Negara Republik Indonesia adalah Panca Sila. Ketika hal itu diputuskan pada tahun 1945, alasan kita menerima dan menetapkan Panca Sila sebagai Dasar Negara oleh karena dalam Panca Sila terkandung nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia, yaitu alasan yang bersifat ideologis. Dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia ternyata Panca Sila juga mengandung kekuatan pemersatu bangsa. Hal ini sangat penting mengingat sifat bangsa Indonesia yang plural, baik dalam aspek etnik maupun aspek kultural. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak mungkin Negara Kesatuan Republik Indonesia hidup langsung tanpa Pancasila.

Oleh karena itu kepemimpinan di Indonesia harus dilandasi Panca Sila dalam segala pemikiran dan perbuatannya. Itu tidak berarti bahwa di Indonesia tidak boleh ada pemikiran yang lain, sebab kita memang mengakui dan tetap bersemboyan Bhinneka Tunggal Eka. Akan tetapi pemikiran lain tidak boleh menghasilkan sesuatu yang bertentangan dengan Panca Sila. Kalau sampai terjadi hal yang bertentangan dengan Panca Sila, maka pasti kelangsungan hidup Negara dan Bangsa terancam.

Sebab itu seorang pemimpin dalam aparatur negara Republik Indonesia harus selalu menyadari hal ini dan menumbuhkan pada dirinya keyakinan tentang pentingnya tenpat dan peran Panca Sila. Dengan keyakinan itu ia juga menimbulkan keyakinan serupa pada anggotanya. Mereka pun harus timbul keyakinannya bahwa tanpa Panca Sila Negara Kesatuan RI tidak mungkin berlanjut eksistensinya.

Keyakinan akan Panca Sila membawa pemikiran, pandangan dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai Panca Sila. Hal itu menjadikan organisasi yang dipimpinnya kuat lahir batin untuk menjalankan berbagai tugas untuk Negara dan Bangsa serta mampu menghadapi berbagai tantangan yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri yang datang dalam bentuk ideologi, pikiran atau pandangan hidup. Dengan begitu kontribusi organisasi tersebut akan lebih kuat dan bermanfaat bagi perjuangan bangsa.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post