Memperingati Akhir Intervensi AS Di Vietnam

Posted by Admin on Friday, 29 April 2005 | Catatan

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

Pada tanggal 30 April bangsa Vietnam memperingati berakhirnya intervensi AS di negaranya. Sebagai sesama bangsa Asia yang bekas dijajah, bangsa Indonesia patut turut bergembira dengan peristiwa itu.

Indonesia dan Vietnam mempunyai persamaan bahwa kedua bangsa itu telah mencapai kemerdekaannya melalui perang kemerdekaan. Tidak banyak bangsa lain yang mempunyai sejarah yang demikian berat, karena mereka memperoleh kemerdekaan dari bekas penjajahnya secara damai. Malahan Vietnam harus merebut kemerdekaannya dari dua kekuatan Barat yang terkenal kuat melalui perang kemerdekaan yang berlangsung 30 tahun lamanya, dari tahun 1945 hingga 1975

Vietnam terlebih dahulu harus berhadapan dengan penjajahnya yang asli, yaitu Perancis. Ketika Perang Dunia 2 berakhir pada bulan Agustus 1945, Perancis yang turut menang perang hendak kembali menguasai Vietnam yang selama perang diduduki tentara Jepang. Hal ini jelas bertentangan dengan kenyataan bahwa pada 2 September 1945 rakyat Vietnam telah menyatakan diri merdeka ketika Ho Chi Minh sebagai pimpinan bangsa Vietnam memproklamasikan berdirinya Republik Demokrasi Vietnam (RDV) yang merdeka dan berdaulat. Perancis mendapat bantuan, baik dari Inggeris maupun China Kuo Mintang, dua negara yang juga turut menang perang. Dalam usaha Sekutu melucuti tentara Jepang, Inggeris diberi wewenang di Vietnam bagian Selatan, sedangkan China di Vietnam bagian Utara. Karena Inggeris berkepentingan untuk juga menguasai kembali daerah jajahannya di Asia, maka ia mendukung usaha Perancis yang serupa. Maka pasukan Perancis mulai masuk ke Vietnam Selatan untuk kembali menjajah. Di Vietnam Utara pun China memberikan keleluasaan kepada Perancis, karena pasukannya harus ditarik kembali ke negaranya sendiri guna menghadapi kemajuan pasukan Kunchantang di bawah pimpinan Mao Zedong.

Akan tetapi dengan tekad dan semangat yang kuat bangsa Vietnam berhasil melawan Perancis sehingga ia tidak tahan lagi menghadapi perjuangan rakyat Vietnam. Sekalipun Perancis mempunyai keunggulan teknologi sebagai negara maju, malahan diperkuat bantuan AS yang tidak mau Perancis gagal, namun itu semua tidak mampu mengatasi semangat perjuangan rakyat Vietnam. Usaha Perancis untuk menjajah Vietnam kembali harus diakhiri dengan kegagalan besar ketika pasukan Perancis dikalahkan oleh pasukan Vietnam dalam pertempuran yang tersohor di Dien Bien Phu pada bulan Mei 1954. Pasukan Vietnam di bawah pimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap menghancurkan pasukan Perancis dalam pertempuran yang berlangsung siang-malam selama 55 hari dari tanggal 13 Maret hingga 7 Mei 1954. Jenderal de Castries, sebagai panglima pasuikan Perancis, turut tertawan bersama pasukannya.

Akibat kekalahan memalukan itu bangsa Perancis mendesak pemerintahnya untuk keluar dari Vietnam. Dalam Persetujuan di Jenewa kemudian diputuskan bahwa RDV sepenuhnya menguasai Vietnam Utara, sedangkan di Vietnam Selatan kekuasaan dipegang oleh Bao Dai, seorang raja dari masa lalu yang diangkat kembali oleh Perancis. Akan tetapi dengan persetujuan bahwa setelah 2 tahun rakyat Vietnam Selatan dapat menentukan apakah akan bersatu dengan Vietnam Utara atau tidak.

Amerika Serikat yang tidak rela Vietnam merdeka, apalagi dipimpin oleh partai komunis, kemudian secara langsung melakukan intervensi. Mula-mula hanya dengan memberikan bantuan keuangan dan material serta menempatkan penasehat, termasuk militer, untuk membuat Vietnam Selatan kuat menghadapi Vietnam Utara. Sudah jelas bahwa ketentuan pemilihan umum oleh rakyat Vietnam Selatan tidak bakal dilakukan. Akan tetapi, ketika Vietnam Selatan tidak mampu mengatasi perlawanan rakyat yang dipimpin Vietcong, AS pada tahun 1965 memutuskan untuk langsung menempatkan pasukannya di Vietnam Selatan. Pimpinan AS yang menganut Teori Domino, menilai bahwa kalau Vietnam jatuh di tangan komunis, maka akan menyebabkan proses jatuhnya negara-negara lain di Asia Tenggara. Sebab itu AS hendak mencegah itu dan harus mengalahkan Vietnam.

Maka rakyat Vietnam harus untuk kedua kali menghadapi bangsa Barat yang maju, bahkan sekarang adalah negara adikuasa militer maupun ekonomi dengan keunggulan teknologi jauh melebihi Perancis.

Rakyat Vietnam tetap tinggi semangat dan tekadnya dan tidak terpengaruh oleh keunggulan yang dimiliki musuhnya. Vietnam Utara, khususnya ibukota Hanoi, diserang melalui pemboman udara secara bergelombang dengan maksud agar meruntuhkan perlawanan rakyat Vietnam dalam mendukung saudaranya di selatan. Di Vietnam Selatan pasukan AS beroperasi untuk sebanyak mungkin membunuh pasukan Vietcong. Juga didatangkan pasukan dari negara yang bersekutu dengan AS, seperti Korea Selatan, Australia, Filipina dan Thailand. Akan tetapi segala usaha AS tidak mampu meredam dan mengakhiri perlawanan bangsa Vietnam. Pemboman yang bertubi-tubi tidak membuat rakyat Vietnam Utara gentar. Gerakan pasukan AS dan sekutunya di Selatan tidak mampu melemahkan, apalagi mengakhiri, perlawanan rakyat Vietnam Selatan dan Vietcong. AS menempatkan agennya yang bernama Ngo Dinh Diem untuk memimpin Vietnam Selatan. Ngo merebut kekuasaan dari Bao Dai dan kemudian membentuk Republik Vietnam Selatan (RVN) yang sepenuhnya didukung AS.

Namun segala usaha AS dengan mengeluarkan tidak hanya dana yang banyak, tetapi juga pasukan yang besar, percuma belaka. Itu mulai terbukti ketika pada Tahun Baru Bulan (lunar new year) permulaan Februari tahun 1968, pasukan Vietnam melancarkan offensif umum yang kemudian tersohor dengan sebutan Tet Offensive. Serangan itu berhasil masuk Saigon dan menduduki kedutaan besar AS selama 3 hari, benar-benar satu pukulan memalukan bagi AS. Makin kuat kecenderungan di AS untuk mendesak pemerintahnya agar keluar saja dari Vietnam. Sebab sudah makin banyak pemuda AS menjadi korban Vietnam, di samping pengeluaran dana yang tidak sedikit.

Maka mulailah AS membuka perundingan dengan Vietnam yang dilakukan di Paris, AS diwakili Henry Kissinger yang terkenal sebagai mantan menteri luar negeri AS , sedangkan Vietnam diwakili Le Duc Tho. Hasil perundingan ini yang akhirnya memungkinkan AS keluar dari Vietnam pada tahun 1973, seakan-akan ia tidak kalah perang. Akan tetapi dia khianati bonekanya sendiri, yaitu Republik Vietnam Selatan, yang selanjutnya harus menghadapi perjuangan rakyat Vietnam sendiri. Memang AS meninggalkan hampir semua perlengkapan militernya untuk tentara RVN. Ia juga berjanji memberikan bantuan udara, di samping meninggalkan penasehat militernya.

Namun gelombang kemenangan rakyat Vietnam tidak dapat dibendung lagi. Sekalipun tentara RVN diperbesar sampai melampaui 1 juta orang dengan perlengkapan AS yang mutahir, tetapi itu bukan lagi halangan bagi tentara Vietnam dan Vietcong untuk menghancurkannya. Maka dalam offensif bulan April 1975 pasukan Vietnam di bawah pimpinan Jenderal Van Tien Dung merebut bagian demi bagian Vietnam Selatan dan akhirnya pada 30 April 1975 masuk Saigon dan menancapkan bendera Vietnam di Istana Presiden. Hancurlah perlawanan kaum kolonialis dan neo-kolonialis dan Vietnam benar-benar merdeka dan berdaulat.

Maka pada 30 April ini bangsa Indonesia mengucapkan Selamat kepada saudara-saudara kita di Vietnam. Marilah kita bersama-sama menegakkan kehidupan umat manusia yang damai, maju dan sejahtera sepanjang zaman !

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Comment by BULU KETEK
2010-08-21 12:27:56


jdi penjajahnya amerika serikat ya?

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post