Manusia Indonesia Jangan Manja

Posted by Admin on Monday, 26 June 2006 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Orang manja adalah orang yang lemah, sebab itu manusia Indonesia janganlah menjadi manja. Seringkali orang beranggapan bahwa manusia yang lahir dan besar di bagian bumi sekitar khatulistiwa dengan iklimnya yang tidak mengenal salju, dimanjakan oleh kondisi itu. Apalagi kalau negaranya kaya sumberdaya alam seperti Indonesia. Akibatnya adalah bahwa manusia dari sekitar khatulistiwa dianggap kurang ulet dan kalah kuat dari manusia yang tumbuh di bagian bumi dengan empat musim.

Belakangan ini ada gejala yang mengarah ke keadaan seperti itu. Setelah ada Ujian Nasional (UN) bagi siswa SMP dan SMA/SMK terdapat siswa yang tidak lulus. Sebenarnya adalah hal yang normal bahwa di setiap ujian ada yang lulus dan yang tidak. Hal demikian tidak hanya terjadi di Indonesia.

Akan tetapi berhubung pelaksanaan UN telah mengundang perdebatan yang seru, maka hal-hal yang terjadi setelah UN selesai merupakan alasan baru untuk menyerang UN. Ada berita bahwa ada murid yang tidak lulus berusaha membakar sekolahnya, ada pula yang berusaha bunuh diri atau membunuh gurunya dan lain berita yang amat spektakuler. Mereka yang tidak setuju dengan UN menggunakan pemberitaan demikian untuk kembali dengan sengit menyerang UN, bahkan ada yang mengatakan bahwa UN melanggar HAM siswa SMP dan SMA.

Orang yang tidak berpihak kepada penyelenggara atau penentang UN melihat ini semua dari kaca mata kepentingan bangsa. Satu hal terasa bahwa penentang UN demikian kuat membela siswa yang tidak lulus sehingga justru merugikan masa depan anak muda kita.

Ada yang mengatakan bahwa UN tidak beres, sebab terbukti ada siswa yang cerdas dan bahkan terpilih ikut dalam Olympiade Fisika ternyata tidak lulus. Padahal yang banyak dikeluhkan adalah ujian matematika. Buat orang yang berpikir wajar timbul pertanyaan, mengapa anak cerdas kok tidak mampu memecahkan masalah matematika dengan memuaskan. Apalagi syarat lulus hanya 4,25 atau 4,5 saja. Pengalaman kita sebagai murid SMP dan SMA di masa lalu menunjukkan bahwa anak cerdas biasanya cakap memecahkan masalah apa saja, termasuk matematika. Mungkin tidak memperoleh angka 8, tetapi angka 6 hal yang amat mudah bagi anak cerdas. Sebab ini bukan menyangkut hafalan yang menuntut kerajinan murid. Maka itu timbul pikiran, benarkah itu anak yang cerdas atau digunakan pengertian yang lain dari kebiasaan untuk kata cerdas.

Akan tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah sikap orang-orang tua, malahan ada yang termasuk pakar pendidikan, bahwa seakan-akan tidak lulus UN berarti sudah kiamat dan tidak ada masa depan bagi murid itu. Alih-alih memberikan semangat agar “next time better” mereka malahan diajak demo dan tindakan lain yang hendak menunjukkan bahwa mereka telah diperlakukan tidak manusiawi. Sikap demikianlah yang bersifat memanjakan anak didik secara mental. Padahal kemanjaan mental adalah paling berbahaya dalam melemahkan daya juang dan daya hidup orang.

Pernah di tahun 1970-an penulis bertemu Rektor ITB waktu itu dan menanyakan bagaimana kondisi para mahasiswa kita. Sebab bangsa Indonesia harus sangat giat merebut penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi keunggulan bangsa-bangsa maju dan kelemahan bangsa sedang berkembang, termasuk Indonesia. Bapak Rektor itu menjawab bahwa umumnya mahasiswa Indonesia cerdas, tidak kalah cerdas dari mahasiswa negara mana pun di dunia. Akan tetapi ia melihat bahwa mahasiswa keturunan Tionghoa lebih ulet dan lebih kuat daya juangnya dari mahasiswa pribumi.

Ketika penulis berada di Jerman pada tahun 1960-an juga pernah bertanya kepada seorang Jerman yang memimpin pabrik di mana mahasiswa harus melakukan magang. Ia katakan bahwa mahasiswa Indonesia umumnya cerdas dan cepat menangkap apa yang dikehendaki pimpinan pabrik, dibandingkan mahasiswa Jerman. Sebab itu pada tahap permulaan magang umumnya mahasiswa Indonesia menghasilkan pekerjaan yang lebih baik dari mahasiswa Jerman. Akan tetapi mahasiswa Indonesia kemudian kurang ulet dalam memelihara, apalagi meningkatkan prestasi permulaannya. Maka pada tahap akhir magang umumnya mahasiswa Indonesia kalah hasil kerjanya dari mahasiswa Jerman. Tentu ada perkecualian secara individual, tetapi itulah gambaran umum, sebagaimana juga untuk mahasiswa ITB dalam uraian Pak Rektor di atas.

Maka dari itu menjadi kewajiban kita untuk menjaga agar manusia Indonesia jangan manja dan tidak cukup ulet menghadapi kehidupan yang penuh persoalan. Memperhatikan anak adalah hal yang mulia dan memang harus kita lakukan dengan semestinya. Akan tetapi perhatian kepada anak tidak boleh demikian rupa sehingga membuatnya lemah dan manja. Mungkin saja perlu ada perbaikan dalam penyelenggaraan UN dan pada pendidikan sekolah pada umumnya. Akan tetapi janganlah perdebatan antar-pakar pendidikan justru berakibat buruk pada perkembangan anak-anak kita sehingga mereka bukannya makin ulet, melainkan justru jadi anak-anak manja yang cenderung selalu menyalahkan pihak lain kalau dirinya kurang berhasil.

Dalam seegnap aspek kehidupan bangsa masa kini diperlukan keuletan lahir dan batin, dan tidak cukup dengan pengetahuan yang tinggi atau luas saja. Jepang pada masa Restorasi Meiji dan sesudahnya berhasil merebut keunggulan Barat berupa ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan semata-mata karena para pemuda Jepang pintar dan cerdas, melainkan karena pemuda-pemuda Jepang berjiwa patriot yang ingin melihat bangsanya setingkat dengan bangsa Barat. Atas dasar itu mereka sanggup dan bersedia mengalami berbagai kesulitan di dunia Barat, termasuk dicemoohkan dan dilecehkan oleh orang Barat yang merasa diri superior.

Marilah kita semua turut memikul tanggungjawab atas masa depan pemuda Indonesia dan tidak selalu hanya melihat kepada kondisi sekolah-sekolah kita yang umumnya masih memerlukan banyak perbaikan. Kita dapat berbuat banyak terhadap pemuda kita, sebagai orang tua atau kakek-nenek, sebagai pimpinan organisasi apa pun khususnya olah raga, sebagai pejabat pemerintah atau swasta. Marilah kita semua menjadi Pendidik, sebab pendidikan adalah terlalu penting untuk hanya diselesaikan oleh para pakar pendidikan belaka. Sebagaimana pertahanan negara adalah terlalu penting untuk dihadapi kaum perwira militer belaka. Dan dalam pendidikan kita terutama terletak dalam usaha kita untuk tidak memanjakan pemuda kita, melainkan memberikan Tauladan dalam sikap penuh keuletan yang tidak pernah putus asa. Di mana pun orang bisa tidak berhasil, tetapi harus selalu ada sikapnya untuk bangkit kembali agar pada kesempatan lain bisa berhasil. Harus selalu berusaha untuk cepat berhasil tetapi juga ada kesanggupan untuk bersikap Next Time Better ! Kita harus selalu ingat pedoman Bung Karno : For a Fighting Nation there is No Journey’s End !

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post