Mari Kembali Ke Budaya Gotong Royong

Posted by Admin on Monday, 7 August 2006 | Catatan

Sayidiman Suryohadiprojo

Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memperingati ulang tahun kemerdeekaannya yang ke 61. Selama 61 tahun perjalanan Negara Republik Indonesia bangsa kita mengalami berbagai hal. Ada perkembangan yang mendekatkan kita kepada tujuan nasional kita, tetapi ada pula yang menjauhkan dan mempersukar pencapaian tujuan itu.

Dalam perjalanan bangsa terjadi perubahan dalam sikap budaya bangsa Indonesia. Sikap budaya gotongroyong yang semula menjadi sikap hidup bangsa telah mengalami banyak gempuran yang terutama bersumber pada budaya Barat yang agresif dan dinamis. Dengan memanfaatkan keberhasilannya di berbagai bidang kehidupan serta kekuatannya di bidang fisik dan militer Barat berhasil makin mendominasi dunia dan umat manusia. Salah satu korban penetrasi Barat adalah budaya gotongroyong Indonesia.

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, para Pendiri Bangsa menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Sebagaimana dikatakan Bung Karno ketika mengutarakan pandangannya sebagai Penggali Pancasila, kalau Pancasila diperes maka yang diperoleh adalah nilai Gotongroyong. Hal itu menghasilkan kesimpulan bahwa Gotongroyong adalah inti dari sikap budaya bangsa Indonesia.

Namun dalam perjalanan Republik Indonesia yang 61 tahun, bangsa Indonesia masih kurang berhasil menjadikan Pancasila satu kenyataan atau living reality dalam kehidupan bangsa. Malahan makin hari makin hilang sikap gotongroyong dalam kehidupan bangsa. Makin lama makin kuat penetrasi budaya Barat dengan menghadirkan individualisme dan liberalisme dalam kehidupan bangsa Indonesia. Di pihak lain, bangsa kita sendiri dan terutama para pemimpinnya kurang menunjukkan usaha sungguh-sungguh untuk menjadikan Pancasila kenyataan yang hidup serta terpeliharanya sifat dan sikap gotongroyong dalam masyarakat. Malahan ketika pada tahun 1998 diadakan Reformasi untuk memperbaiki kehidupan bangsa, perjalanan bangsa bukannya dibawa kepada penegakan Pancasila melainkan justru lebih menyebarkan budaya Barat. Orang Indonesia, khususnya para pemimpinnya, telah sangat membantu usaha Barat untuk menjadikan umat manusia, termasuk manusia Indonesia, menganut budaya Barat.

Akan tetapi sekarang, delapan tahun dalam Reformasi, banyak orang Indonesia merasakan dan melihat bahwa perkembangan demikian sama sekali tidak mendekatkan bangsa kepada tujuan perjuangannya, yaitu masyarakat yang adil dan sejahtera. Bukannya berbagai penyelewengan dan kemunduran dapat diatasi, sebaliknya malahan makin meluas sebagaimana dalam hal korupsi, kurangnya kesejahteraan umum, kuatnya egoisme perorangan dan kelompok dan lainnya. Bahkan menguat sikap menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak dan mncapai tujuan.

Ternyata tidak di Indonesia saja individualisme dan liberalisme makin dirasakan sebagai sumber kerusakan dalam kehidupan. Komunisme yang nampaknya bertentangan dengan individualisme dan liberalisme hakikatnya bersumber pandangan itu juga dan malahan mengembangkan materialisme menjadi materialisme historis. Komunisme terbukti gagal membawa perbaikan umum, maka itu yang pertama ditolak banyak kalangan. Kemudian dapat dihabiskan oleh induknya ketika Amerika mengalahkan Uni Soviet dalam Perang Dingin. Namun kemudian juga di negara-negara Barat, termasuk di Amerika Serikat yang menjadi Champion penyebaran dominasi, makin meluas kesadaran bahwa sikap hidup Barat banyak kelemahannya. Sebab ternyata membenarkan penaklukan dan dominasi atas dasar kebebasan mutlak individu, tidak membawa kesejahteraan sebenarnya bagi mayoritas bangsa. Kalangan bawah merasakan dirinya makin miskin sedangkan kalangan elit makin kaya, termasuk di Amerika Serikat. Apalagi perdamaian makin menghilang dari kehidupan dan banyak keluarga harus kehilangan anggotanya sebagai korban perang dan penggunaan kekerasan lainnya. Alam juga makin hilang keseimbangannya karena diperlakukan sewenang-wenang berdasarkan sikap budaya individualisme dan liberalisme yang membenarkan manusia menaklukkan alam.

Berdasarkan berbagai kenyataan ini, maka sebaiknya bangsa Indonesia kembali kepada sikap hidup yang mengutamakan harmoni dan toleransi, yang mengajak manusia saling menghargai dan hidup dalam harmoni dengan alam sekitarnya. Atas dasar itu usaha kesejahteraan akan tertuju kepada kepentingan rakyat banyak, khususnya rakyat yang masih dalam kemiskinan. Akan ada hubungan antara umat agama, khususnya Islam dan Kristen, yang kembali harmonis sebagaimana kita alami hinga tahun 1960-an. Kepentingan daerah dan etnik akan dapat diperhatikan tanpa mengabaikan dan mengorbankan kepentingan negara dan bangsa secara keseluruhan.

Itu berarti sikap hidup gotongroyong makin tumbuh kembali dalam masyarakat Indonesia. Mungkin ada orang berpendapat, khususnya kalangan yang terbelinger atau terobsesi dengan kehebatan dunia Barat, bahwa keinginan demikian adalah kemustahilan dan hanya merupakan nostalgia orang tua yang hidup dalam pikiran dan perasaan masa lampau yang sudah jauh terlewati. Mereka mungkin berpikir bahwa orang tua tidak berhak bicara lagi, karena telah menunjukkan masa lampau serba pengekangan kebebasan dan kurang bukti kemajuan. Memang setiap generasi mempunyai hak menentukan apa yang hendak diperbuat, tetapi kalau ada rasa tanggungjawab juga harus menerima kewajiban untuk membawa bangsa kepada tujuan perjuangannya. Juga harus diakui kenyataan bahwa masa lampau yang mungkin kurang kebebasan, terwujud kesejahteraan yang jauh lebih merata sekalipun pada tingkat yang masih rendah. Dan ada perasaan bahwa bangsa Indonesia, sekalipun belum maju dan sejahtera, mempunyai harga diri dan dihargai banyak bangsa di dunia, sekalipun ada yang disertai rasa kebencian karena tidak dapat menguasainya.

Sebab itu ada harapan kuat kepada setiap orang Indonesia, muda dan tua, untuk sadar kembali bahwa tidak mungkin mahluk hidup meninggalkan asalnya kalau mau ketenteraman dan kesejahteraan. Dan tidak benar bahwa dengan sikap hidup gotongroyong tidak mungkin dicapai kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan kesejahteraan makin tinggi. Telah dibuktikan bangsa lain seperti Jepang, bahwa tanpa individualisme dan liberalisme dapat dicapai kemajuan itu.

Sebab itu semoga masih cukup banyak manusia Indonesia sadar bahwa masa depan bangsa dan pencapaian masyarakat yang adil dan sejahtera memerlukan kesediaan kita kembali kepada sikap budaya gotongroyong. Terutama para pemimpin, baik pemimpin negara dan daerah, pemimpin politik dan ekonomi, maupun pemimpin agama dan golongan. Semoga ulang tahun kemerdekaan yang ke-61 merupakan permulaan dari gerak yang dinamis dan makin kuat ke arah perubahan penting itu. .

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-11-12 09:00:56


Sdr Subi,

Itupun harapan saya dan semoga pem RI di bawah Pres SBY antara 2009-2014 mau menyadari kebenaran ini dan melakukannya demi keberhasilannya. Salam,

Sayidiman S

 
Comment by subi
2009-11-11 15:32:12


Wah,,,

makasih banget Pak… semoga tulisan2 bapak bisa teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari…

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post