Masalah Infrastruktur Transportasi

Posted by Admin on Wednesday, 8 March 2006 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Setiap musim hujan ada laporan berita tentang kerusakan jalan-jalan darat serta banyaknya tanah longsor yang dapat menutupi atau menghilangkan jalan yang tertimpa. Kalau hal demikian terjadi pada jalan-jalan utama di Jawa, Sumatera dan Sulawesi, maka hal itu menimbulkan halangan dan hambatan transportasi yang mempengaruhi kehidupan banyak orang dan ekonomi daerah tersebut.

Pada tahun 1950-an ketika pemerintah menganggap perlu membangun infrastruktur transportasi di pulau-pulau utama, termasuk Jawa, Sumatera dan Sulawesi, ada perdebatan apakah yang akan dibangun di Sumatera satu Sumatera Highway atau Sumatera Railway. Tentu yang paling baik adalah membangun dua-duanya, tetapi itu makan biaya yang besar sekali. Karena itu untuk langkah pertama harus memilih satu di antara dua.

Pimpinan TNI-AD melihat bahwa untuk kepentingan strategis, kereta api atau railway lebih penting. Teori mengenai transportasi mengatakan bahwa untuk jarak jauh transportasi air paling ekonomis, diikuti oleh transportasi kereta api dan transportasi bermotor, sedangkan transportasi udara adalah paling mahal. Manfaat transportasi bermotor lebih tinggi untuk jarak dekat. Sedangkan transportasi udara memang paling mahal, tetapi tidak dapat dihindari apabila ada urgensi waktu yang tinggi atau memang tak dapat menggunakan transportasi lain, seperti untuk penerjunan pasukan dalam operasi lintas udara dan pengedropan perbekalan ke daerah yang tak dapat dicapai dengan transportasi lain.

Berdasarkan penilaian itu TNI-AD berkepentingan berkembangnya jaringan jalan-jalan darat dan peningkatan kemampuan transportasi kereta api di Jawa, Sumatra and Sulawesi Dan mendukung perkembangan transportasi air, khususnya laut, dan udara, karena Indonesia adalah negara kepulauan. Mobilitas TNI-AD sangat dipengaruhi perkembangan dua macam transportasi itu.

Akan tetapi dalam pilihan yang harus ditentukan untuk Sumatera nampaknya pimpinan TNI-AD lebih cenderung ke pembangunan Sumatera Railway lebih dulu. Demikian pula kalau saatnya menentukan bagi Sulawesi, nampaknya perlu didahulukan kereta api dari pada membangun jalan negara atau highway yang menghubungkan Makassar dengan Menado. Disadari bahwa investasi untuk kereta api, baik track maupun kendaraannya, tidak sedkit. Akan tetapi apabila sudah dibangun akan kurang menuntut biaya pemeliharaan ketimbang jalan raya. Juga kebanyakan bangsa yang membangun daerah baru lebih memilih kereta api. Hal itu dapat dilihat ketika Amerika meluaskan kekuasaannya ke arah Barat maupun usaha China sejak tahun 1949 membuka wilayah Baratnya juga.

Andai kata waktu itu pilihan ditetapkan pada Sumatera Railway, kondisi transportasi di pulau besar itu sekarang akan jauh berbeda. Demikian pula perbaikan dan peningkatan kemampuan kereta api di pulau Jawa kurang mendapat perhatian semestinya. Akibatnya adalah bahwa sekarang perkeretaapian kita tertinggal dari negara ASEAN lainnya. Padahal untuk mass transportation tidak ada yang lebih efektif dari kereta api. Sekarang dengan teknologi maju transportasi KA dapat mengimbangi manfaat transportasi udara untuk jarak dekat, sebagaimana terbukti di Jepang dengan Shinkansen-nya , Perancis dengan TGV-nya, Jerman dengan Inter City-nya.

Masalahnya adalah para pemimpin Indonesia pada tahun 1960-an mendapat nasehat untuk mengutamakan transportasi bermotor, karena yang memberikan nasehat adalah orang-orang dan pengusaha Amerika yang banyak berkepentingan dengan kendaraan bermotor. Tentu disertai janji bahwa perkembangan transportasi bermotor akan mendapat dukungan materiil dan keuangan. Maka dipilihlah pembangunan jalan utama Sumatera yang menghubungkan Banda Aceh di utara sampai ke Bandar Lampung di selatan, satu jalan yang ribuan kilometer panjangnya dan melintasi 9 provinsi. Akan tetapi juga menimbulkan konsekuensi bahwa kita selalu menghadapi perbaikan dan pemeliharaan besar yang makan biaya tidak sedikit. Hal serupa kemudian juga terjadi di Sulawesi.

Memang Amerika di negaranya sendiri tidak memberikan perhatian sewajarnya kepada transportasi KA. Yang dibangun besar-besaran setelah Perang Dunia 2 adalah superhighways , di pihaklain tidak banyak peduli bahwa perkeretaapiannya menjadi jauh tertinggal dari Eropa dan Jepang. Tidak mustahil itu juga akibat lobby yang dilakukan para pengusaha mobil AS dan para produsen ban mobil serta suku cadang lainnya.

Titik berat yang diberikan kepada transportasi bermotor juga mengabaikan kenyataan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan. Negara kepulauan memberikan keuntungan yang amat besar, yaitu Tuhan menyediakan jalan yang tak perlu dibangun lagi berupa jalan air. Di Eropa kita melihat betapa jalan air, baik sungai maupun lautan, benar-benar dimanfaatkan untuk transportasi. Akan tetapi bangsa Indonesia yang seharusnya bersifat maritim sesuai dengan sifat negara kepulauan, mengabaikan kemurahan Tuhan itu. Hingga saat ini kurang kita lihat perkembangan transportasi menyusur pantai satu pulau dan transportasi antar-pulau berupa ferry.

Titik berat pada transportasi bermotor berakibat bahwa masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi harga minyak. Ketika pada tahun 1970-an terjadi krisis minyak dunia dan Indonesia masih merupakan pengekspor minyak, kita tidak dapat memaksimalkan nilai minyak yang kita miliki dengan memaksimalkan ekspor minyak. Sebab banyak minyak kita dikonsumsi sendiri di dalam negeri, terutama untuk mendukung transportasi bermotor. Sekarang ketika kita sudah berubah menjadi net-importer minyak, kita harus banyak mengimpor minyak yang terus membubung harganya, karena diperlukan untuk transportasi bermotor.

Andai kata kita sejak permulaan membangun jaringan kereta api yang luas, peran transportasi masyarakat dapat dilakukan kereta api yang kurang memerlukan minyak. Apalagi kalau kereta api digerakkan tenaga listrik, sedangkan listrik diproduksi lebih banyak dengan menggunakan bahan non-minyak seperti batu bara dan tenaga air. Juga penggunaan ferry untuk transportasi air akan mengurangi sekali konsumsi minyak untuk transportasi.

Penulis ketika menjadi Gubernur Lemhannas sering didatangi almarhum Ir. Sutami yang menjabat Menteri PU. Tidak jarang ia mengeluh betapa banyak dana yang harus ia keluarkan setiap tahun untuk perbaikan jalan-jalan, baik karena banjir maupun tanah longsor. Pada saat sama, penulis sengaja membuat perjalanan ke Surabaya melalui jalan darat yang sejajar dengan jalan KA. Terbukti bahwa jalan kereta api itu amat jarang dilalui kereta api. Sedangkan di Eropa Barat dan Jepang umumnya setiap 15 menit ada kereta api yang menggunakan jalan KA. Itu indikasi betapa terbatasnya pembinaan perkeretaapian di Indonesia.

Menjadi pertanyaan apakah kekurangan ini masih dapat kita koreksi. Untuk peningkatan transportasi air seharusnya dapat dikoreksi asalkan wawasan maritim tidak tinggal semboyan indah belaka, melainkan dijadikan kenyataan. Dengan begitu Indonesia akan menjadi tuan rumah yang sungguh-sungguh di negaranya sendiri. Tentang peningkatan peran kereta api sebagai sarana transportasi utama masyarakat pertanyaannya lebih sulit dijawab. Sebab diperlukan investasi besar yang hanya mampu dihadapi sikap dan jiwa entrepreneur yang mumpuni.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post