Disiplin Perlu Untuk Bangun Kesejahteraan

Posted by Admin on Wednesday, 28 February 2007 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Bangsa Indonesia sejak jatuh dalam krisis pada tahun 1997 hingga kini belum juga normal kembali. Reformasi yang dilakukan pada tahun 1998 tidak berhasil membawa kita kepada keadaan yang kita inginkan. Padahal semua orang sudah mendambakan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin, sebagaimana tujuan perjuangan kemerdekaan kita. Apalagi kalau melihat betapa bangsa lain di keliling kita maju.

Dalam kehidupan manusia ada faktor-faktor obyektif yang tidak dapat dihindari, apabila hendak dicapai satu tujuan. Salah satu faktor yang penting adalah disiplin. Disiplin atau taat kepada ketentuan yang berlaku selalu diperlukan untuk mencapai satu tujuan.

Lee Kuan Yew, menteri senior di pemerintah Singapore dan orang yang paling bertanggung jawab atas pembangunan negara-kota itu, pernah berkata bahwa untuk bangsa-bangsa Asia disiplin lebih penting dari pada demokrasi. Mungkin ucapan itu berlebihan, tetapi toh mengandung banyak kebenaran. Itu dibuktikan oleh keberhasilan Singapore mencapai kesejahteraan tinggi dalam waktu kurang dari 50 tahun yang dinikmati seluruh rakyatnya. Hal itu diakui banyak orang, termasuk orang Barat yang selalu mengumandangkan demokrasi, sekalipun sistem politik Singapore sering dikecam karena dianggap tidak atau kurang demokratis.

Untuk membangun kesejahteraan, baik bagi perorangan maupun untuk bangsa secara keseluruhan, disiplin sangat diperlukan. Tidak ada bangsa atau masyarakat yang sejahtera tanpa disiplin dan makin kuat disiplinnya makin besar kemampuannya untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi.

Namun di Indonesia disiplin belum merupakan kenyataan. Ada kalangan tertentu beranggapan bahwa disiplin kurang penting dan suka sekali mengasosiasikan disiplin dengan dunia militer belaka. Disiplin dikatakan mengekang kebebasan individu sebagaimana dalam dunia militer orang harus tunduk kepada perintah atasan. Pandangan demikian, ditambah dengan kenyataan bahwa sejak Reformasi 1998 pihak militer mengalami kecaman dan hujatan keras, turut membuat disiplin yang sebelum Reformasi sudah lemah menjadi lebih lemah lagi. Hal itu diperkuat lagi oleh perkembangan individualisme dan liberalisme sejak Reformasi.

Anehnya adalah bahwa kalangan yang menganggap disiplin kurang penting umumnya terdiri dari orang-orang yang suka memuji dunia Barat, padahal dunia Barat yang berpedoman individualisme dan liberalisme pun hidup berdisiplin. Sebab masyarakat di mana pun memerlukan disiplin kalau hendak mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Adalah kenyataan bahwa disiplin di Indonesia sekarang lemah sekali, terlebih lagi disiplin pribadi. Hal itu paling mudah dapat dilihat pada lalu lintas yang semrawut, masing-masing menjalankan kehendaknya sendiri. Yang merasa kuat lebih lagi tidak peduli adanya aturan lalu lintas.

Rupanya kita tidak menyadari bahwa hidup berdisiplin termasuk indikasi kekuatan orang atau bangsa. Sebab orang yang disiplin mampu mengendalikan diri secara efektif sehingga mampu menggunakan kelebihannya pada saat dan tempat yang tepat. Orang berdisiplin mampu mengumpulkan dan menggunakan energi secara baik; dengan begitu juga dapat melakukan segala hal yang diinginkan secara lebih efektif. Hal ini juga berlaku bagi bangsa.

Korupsi yang hingga kini masih terus saja merajalela di Indonesia juga bersumber pada rendahnya disiplin. Pelaku korupsi sudah jelas melanggar ketentuan, tetapi hal itu dapat terjadi karena yang harus mengawasi dia kurang cermat atau kurang disiplin dalam menjalankan fungsi pengawasan. Dan kalau ditemukan korupsi maka hukuman bagi pelaku korupsi jauh dari memadai untuk mencegah orang berkorupsi. Di China juga terjadi korupsi, tetapi hukuman bagi pelaku korupsi termasuk pejabat tinggi pemerintah dan partai komunis sangat berat, bahkan ada yang mendapat hukuman mati. Di Indonesia ada sikap salah kaprah dalam mengimplementasikan Hak Azasi Manusia (HAM). Karena pengertian yang individualis pada pembela HAM, hakim takut memberikan hukuman keras, khawatir dituduh melanggar HAM. Padahal dengan berbuat demikian kepentingan masyarakat diabaikan dan korupsi terus saja merajalela.

Sudah waktunya kita melakukan penegakan disiplin yang kuat. Hal itu harus bersumber pada kepemimpinan nasional yang harus secara tegas menyatakan perlu tegaknya disiplin di Indonesia. Bersamaan dengan itu memberikan tauladan dalam sikap dan perbuatan pribadi serta lembaga kepemimpinan nasional, sehingga masyarakat sadar bahwa Indonesia secara serieus menegakkan disiplin. Kemudian mendorong dan enforce seluruh lembaga pemerintah dan masyarakat untuk berbuat sama. Setiap pelanggaran disiplin dikenakan sanksi sesuai dengan kesalahannya. Dengan begitu diakhiri kondisi yang berlaku hingga kini bahwa justru orang yang disiplin dirugikan dan orang tidak disiplin diuntungkan.

Arena yang penting untuk digarap adalah lalu lintas karena menyangkut masyarakat luas dan tampak bagi banyak orang. Harus diakhiri setiap perbuatan siapa pun yang melanggar lalu lintas, termasuk pejabat tinggi yang berkuasa, pengusaha besar dengan uang banyak dan sopir bis yang seenaknya melanggar karena merasa dirinya kuat. Untuk itu Polri harus menjalankan tugasnya dengan benar dan sungguh-sungguh. Harus dihilangkan citra bahwa Polisi menahan pelanggar lalu lintas untuk minta uang belaka (prit jigo), dan kalau tidak butuh uang tidak peduli ada pelanggaran. Polri harus serieus merobah dirinya dan dengan perubahan itu membuat masyarakat berubah menjadi lebih disiplin.

Singapore pun pada permulaan pembangunannya sekitar tahun 1960-an meningkatkan disiplin masyarakat melalui penegakan disiplin lalu lintas yang tegas dan keras. Kendaraan yang melewati garis berhenti waktu lampu merah sedikit saja sudah kena sanksi. Apalagi perilaku seperti ditunjukkan banyak pengemudi bis di Jakarta, pasti kena hukuman keras. Dengan lambat laun dibiasakan melakukan setiap ketentuan secara benar masyarakat Singapore yang individualis menjadi pelaku pembangunan yang teratur dan efektif.

Kalau bangsa Indonesia tidak mampu menegakkan disipilin yang kuat, maka kita tidak perlu heran bahwa tidak akan ada prestasi apa pun. Karena itu kita akan selalu kalah bersaing dalam bidang apa pun dengan bangsa lain, termasuk olah raga, malahan juga dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Indonesia yang sebenarnya mengandung banyak potensi, termasuk bakat kecerdasan dan keprigelan, akan menjadi masyarakat medioker. Jangan harap lagu kebangsaan Indonesia Raya menjadi kenyataan dalam arena bangsa di dunia !

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post