Pluralisme Sebagai Kekayaan Bangsa

Posted by Admin on Tuesday, 13 November 2007 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Pluralisme adalah satu pandangan hidup atau sikap kemasyarakatan yang mengutamakan sifat kemajemukan atau keanekaragaman dalam kehidupan manusia.

Dengan mengambil kenyataan bahwa dalam kehidupan terdapat berbagai perbedaan, mereka yang berpaham pluralisme menganggap bahwa setiap perbedaan itu harus mendapat pengakuan sebagai entitas yang otonom dan memperoleh penilaian yang sama.

Buat bangsa Indonesia pluralisme bukan barang baru. Sudah sejak permulaan abad ke 20 ketika terjadi kebangkitan nasional, kemajemukan menjadi isyu yang menonjol. Tidak sedikit pakar ilmu sosial Barat mengatakan bahwa Indonesia adalah hal yang artifisial. Mereka beranggapan bahwa yang ada secara nyata adalah entitas-entitas etnik dengan budayanya masing-masing yang berbeda. Yang menamakan diri Indonesia hakekatnya kemajemukan berupa banyak entitas budaya yang berbeda satu sama lain. Ditambah dengan kemajemukan yang disebabkan oleh perbedaan agama yang cukup banyak. Sebab itu para pakar itu tidak percaya Indonesia akan terus ada dan hanya ada karena ada niat melepaskan diri dari penjajahan Belanda. Begitu penjajahan Belanda berakhir, apa yang menamakan diri Indonesia akan “ambyar” seperti pasir kering, kata mereka.

Adalah memang kenyataan bahwa di bumi Indonesia hidup berbagai satuan etnik dengan budayanya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Namun terbukti bahwa perjuangan kebangsaan bangsa Indonesia berhasil mewujudkan entitas Indonesia berupa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menunjukkan vitalitasnya dengan usianya yang lebih dari 60 tahun. Dengan begitu menolak pendapat para pakar Barat itu. Sekalipun ada pihak-pihak yang menginginkan Indonesia berakhir eksistensinya, pertama penjajah Belanda dengan dukungan berbagai pihak luar negeri dan banyak orang Indonesia, namun terbukti RI yang merdeka tetap survive dan tidak ada indikasi akan berakhir eksistensinya. Belakangan juga ada orang, termasuk orang Indonesia, bicara bahwa Indonesia adalah negara gagal (a failed state), namun kenyataan menunjukkan RI tetap berfungsi sebagai negara kesatuan sekalipun mengalami banyak persoalan. Meskipun demikian memang Indonesia terdiri dari banyak entitas dengan budayanya masing-masing, yaitu Indonesia merupakan kesatuan dalam kemajemukan. Perjuangan kebangsaan telah berhasil karena didukung semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau Kesatuan dalam Perbedaan yang dicanangkan semua pihak yang ingin Indonesia menjadi negara dang bangsa yang merdeka.

Hal ini menunjukkan bahwa Pluralisme mengandung kebenaran bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi Pluralisme tidak dapat dan tidak boleh berdiri sendiri kalau Indonesia hendak hidup sepanjang zaman. Di samping Pluralisme harus selalu ada paham Kebersamaan. Keberhasilan meruntuhkan penjajahan Belanda menunjukkan sikap Kebersamaan dari semua unsur bangsa yang majemuk sebagai implementasi dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tanpa didampingi paham Kebersamaan Pluralisme dapat menimbulkan niat, gerak dan usaha yang aneka ragam arahnya dan tujuannya. Hal itu telah dimanfaatkan penjajah Belanda ketika membentuk berbagai negara untuk setiap satuan etnik, seperti Negara Indonesia Timur, Negara Sumatra Timur, Negara Pasundan, dan lainnya. Usaha Belanda itu bermaksud merangsang ambisi setiap etnik, sehingga tidak terbentuk usaha kebersamaan. Sekali gus hal itu digunakan untuk merongrong Semangat Kebangsaan yang digelorakan para pejuang yang berhasil membentuk Republik Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945.

Tepat sekali bahwa para Pendiri RI menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa, sesuai dengan usul Ir Soekarno yang menjadi Presiden pertama RI. Pancasila merupakan dasar kehidupan bangsa Indonesia yang oleh Bung Karno “digali” dari kehidupan bangsa. Ternyata di samping ada perbedaan antara berbagai budaya di Indonesia, ada pula persamaannya. Persamaan inilah yang dituangkan sebagai nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Sebagaimana dikatakan Bung Karno, apabila Pancasila diperas menjadi satu maka yang terwujud adalah Gotong Royong. Gotong Royonglah unsur persamaan dalam semua budaya yang berbeda.

Namun Republik Indonesia kemudian membuat kelalaian dalam perjuangannya. Kelalaian pertama adalah ketika para pemimpinnya terlalu mengutamakan Ika dan mengabaikan Bhinneka. Sikap itu menghasilkan sentralisme yang mengutamakan kepentingan Pemerintah Pusat dan mengabaikan pluralisme Daerah. Hal ini telah menimbulkan banyak persoalan dan kerugian bagi RI. Di masa depan hal demikian tak boleh terulang karena akan memperkuat usaha pihak-pihak yang hendak mengakhiri riwayat NKRI.

Kelalaian kedua yang juga amat merugikan adalah makin hilangnya sikap dan semangat Gotong Royong, padahal itu merupakan inti kebersamaan bangsa Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas, maka masa depan bangsa Indonesia harus kita bangun dengan menjadikan Pancasila sebagai kenyataan di bumi Indonesia. Itu berarti bahwa semangat dan sikap Gotong Royong harus dapat kita bangun kembali.

Selain itu Otonomi Daerah harus dapat dilaksanakan dengan efektif sehingga setiap Daerah mewujudkan kemajuan dalam rangka kemajuan seluruh bangsa Indonesia. Sedangkan Pusat mengembangkan sikap yang memajukan kepentingan seluruh bangsa Indonesia sehingga setiap Daerah merasa dirinya bagian integral NKRI. Dengan begitu Perbedaan dan Kesatuan menghasilkan kemajuan yang diinginkan seluruh bangsa.

Dengan landasan itu perbedaan dan bahkan pertentangan yang terjadi di berbagai bagian masyarakat Indonesia, termasuk di lingkungan umat-umat beragama dapat diselesaikan dengan baik dan efektif. Adalah benar bahwa sesuai Pancasila setiap agama mempunyai hak hidup yang sama di Indonesia. Namun tidak mustahil bahwa ada umat agama membuat interpretasi ajaran agamanya yang kurang menjamin hubungan yang selaras dengan pikiran dan perasaan umat agama lain. Oleh sebab itu, meskipun setiap umat agama mempunyai hak hidup yang setara, hendaknya sebagai unsur dari bangsa Indonesia semua umat agama menjungjung tinggi dan menjalankan sikap dan semangat Gotong Royong satu sama lain. Dengan begitu terhindar pertentangan tajam antara umat agama satu dengan yang lain, bahkan di lingkungan umat agama itu sendiri. Kondisi demikian bukan aneh bagi bangsa Indonesia, sebab di masa lalu merupakan kondisi yang umum ketika semua bagian Indonesia hidup dengan semangat Gotong Royong.

Tantangan yang kita hadapi dalam mengusahakan hal-hal di atas adalah persentuhan kita dengan dunia Barat. Sejak dunia Barat mengalami Renaissance dalam abad ke 15, maka terjadi perubahan besar dalam sikap dan pandangan hidupnya. Sikap dan pandangan itu berat ke aspek rasional. Perubahan itu membuat manusia Barat berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Atas dasar itu pula manusia Barat menguat sekali penilaiannya terhadap Individu sehingga menghasilkan paham Individualisme. Sangat menguat pula Liberalisme, yaitu paham bahwa manusia mempunyai kebebasan mutlak. Itu menghasilkan sikap bahwa Manusia harus menguasai Alam lingkungannya. Dengan begitu dianggap semestinya untuk mendominasi dan mengalahkan orang lain. Timbul pula materialisme yang kuat disertai keberanian makin besar untuk berbuat dan mengalahkan siapa saja yang merintangi kepentingannya. Itulah sumber imperialisme dan kolonialisme yang mengantar Barat menguasai dunia..

Adalah akibat dari tantangan itu mengapa sikap Gotong Royong makin hilang dari kehidupan bangsa Indonesia ketika mengalami persentuhan dengan Barat. Sebaliknya sikap individualisme dan materialisme makin melanda kehidupan bangsa Indonesia. Sikap mau menang sendiri dan bahkan dengan menggunakan kekerasan adalah salah satu wujud menguatnya individualisme di Indonesia. Sedangkan makin berkuasanya uang dan benda dalam setiap aspek kehidupan menunjukkan betapa menguatnya materialisme.

Ada orang yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus meniru Barat dalam sikap hidupnya untuk mencapai kesejahteraan. Hanya dengan sikap itu dapat dikembangkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan dengan itu kesejahteraan masyarakat, kata mereka. Akan tetapi itu berarti meninggalkan sikap kebersamaan dan Pancasila. Tidak mungkin akan dicapai kesejahteraan lahir batin hakiki kalau bangsa Indonesia meninggalkan jati dirinya. Dan terbukti ada bangsa yang dapat mengejar keunggulan Barat tanpa meninggalkan sikap kebersamaan, yaitu Jepang. Sejak tahun 1868 bangsa Jepang menjalankan perubahan (Restorasi Meiji) untuk mengejar keunggulan Barat agar tidak didominasi olehnya. Jepang berusaha menguasai segenap aspek kemajuan Barat tetapi tanpa meninggalkan sifat aslinya, yaitu Kebersamaan (group solidarity). Ternyata ia berhasil menguasai iptek dan mencapai kemajuan, bahkan lebih maju dari banyak bangsa Barat.

Itu berarti bahwa kita pun dapat melakukan itu kalau kita berusaha sungguh-sungguh. Kita harus memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan berdasarkan Pancasila. Itu berarti bahwa kita harus mengerahkan energie kita sekuat-kuatnya, seperti dulu kita memperjuangkan kemerdekaan negara dan bangsa. Akan tetapi itu semua kita lakukan dengan membangun kembali semangat Gotong Royong serta sikap hidup harmonis. Dengan begitu Pluralisme di Indonesia harus selalu berdampingan dengan Kebersamaan dan tidak menjadi Pluralisme yang dilandasi Individualisme. Itulah Pluralisme yang merupakan kekayaan bangsa dan membawa kemajuan bagi seluruh bangsa Indonesia.

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by Bayu
2008-10-08 14:30:23


Banyak pihak yang merasa pluralisme adalah ancaman yang berbahaya dalam konteks keagamaan, dikarenakan masing-masing agama menyatakan agama tersebut yang paling benar, sehingga tidak ada tempat bagi orang-orang berbeda agama untuk dapat diterima atau disamakan didalam mengartikan keyakinan maupun kebenaran tersebut.
Ketika masing-masing harus menerima bahwa ada ajaran lain selain agamanya, mengakibatkan banyak kesulitan dan masalah, karena itu sama saja dengan mengakui adanya TUHAN yang lain, sehingga dapat diartikan dengan DOSA.
Sangat disayangkan dengan kondisi di Indonesia ini, karena penduduk indonesia dari berbagai maca agama dan suku bangsa, dan yang paling menyedihkan adalah kita lupa bahwa PERJUANGAN & KEMERDEKAAN INDONESIA dilakukan bersama-sama tanpa membedakan agama maupun suku. Saat itu seluruh anak bangsa BERSATU didalam PERBEDAAN.
Saya berharap untuk menyatukan kembali anak bangsa kita ini, TANPA HARUS TERJADI PERANG/DIJAJAH KEMBALI.
Sebaiknya kita bersama-sama merenungkan kembali sejarah perjuangan kita, dan lebih berfikir realistik, apakah kita harus membatasi diri, hanya dengan 1 paham agama saja ? Mengapa Tuhan menciptakan Manusia dengan berbagai macam perbedaan ?

Comment by Sayidiman Suryohadiprojo
2008-10-09 11:56:16


Sdr Bayu, terima kasih atas komentar Anda. Memang tidak salah kalau ada orang menganggap agamanya terbaik BUAT DIA. Akan tetapi kalau ia menjalankan agamanya itu dengan baik, pasti ia akan bersikap luas dan toleran terhadap orang yang beragama lain. Jadi orang yang menjalankan agama (apa pun) dengan memusuhi orang yang beragama lain, tidak mungkin pelaku agamanya secara baik. Tidak ada agama yang menyuruh pengikutnya bermusuhan dengan pengikut agama lain, apalagi membunuhnya. Yang terjadi adalah interpretasi orang yang salah terhadap ajaran agamanya, seakan-akan pengikut agama lain harus dimusuhi. Terima kasih atas komentar Anda. Salam, Sayidiman S

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post