Peringatan Satu Abad Hari Kebangkitan Nasional

Posted by Admin on Tuesday, 25 March 2008 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Mengapa Memperingati Hari Kebangkitan Nasonal

Satu Abad yang lalu pada tanggal 20 Mei 1908 sekelompok pemuda yang ada di sekolah STOVIA di Jakarta (Batavia waktu itu) membentuk perkumpulan dengan nama BOEDI OETOMO. Peristiwa itu telah menggelindingkan berbagai peristiwa lain yang penting bagi bangsa Indonesia dan peristiwa terakhir dan terpenting adalah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Proklamasi itu telah mengantar bangsa Indonesia keluar dari penjajahan menjadi bangsa merdeka, Atas dasar itu bangsa Indonesia menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Meskipun ada sementara orang yang menolak penetapan itu karena beranggapan bahwa perkumpulan Boedi Oetomo tidak menggambarkan satu pergerakan nasional Indonesia, namun secara tidak langsung Boedi Oetomo merupakan “trigger” bagi kebangkitan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda yang telah berlangsung begitu lama atas rakyat dan bumi Indonesia.

Sekarang 100 tahun setelah itu adalah penting sekali bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional itu. Tidak hanya karena angka 100 tahun sangat merangsang, tetapi lebih penting lagi karena pada saat ini bangsa Indonesia memerlukan satu dorongan untuk bangkit lagi dari keadaan yang cukup terpuruk. Banyak pihak telah menyatakan pendapat bahwa Reformasi yang kita lancarkan pada tahun 1998 dan sekarang telah berlangsung 10 tahun, dalam kenyataan tidak atau belum membawa bangsa Indonesia lebih dekat kepada Tujuan Nasionalnya. Malahan ada yang berpendapat bahwa kehidupan bangsa telah dibawa menjauh dari Tujuan Nasional, yaitu terwujudnya Masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kata mereka, bukannya masyarakat Indonesia mencapai kondisi yang makmur, karena nyatanya kemiskinan masih menjirat jutaan rakyat Indonesia. Sedangkan Pancasila yang harus menjadi dasar kemajuan, keadilan dan kemakmuran malahan ditinggalkan dengan melakukan berbagai amandemen pada UUD 1945 yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Banyak pihak berpendapat bahwa bangsa Indonesia memerlukan Kebangkitan Nasional yang Kedua untuk mengatasi keterpurukan sekarang dan membawa Reformasi pada jalan yang benar.

Sebab itulah peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada tahun 2008 amat penting dan harus menghasilkan dorongan kuat pada bangsa Indonesia untuk kembali bangkit secara nasional dan mengatur langkah serta barisan untuk mencapai Tujuan Nasional.

Reformasi harus menjadikan Pancasila kenyataan di Bumi Indonesia

Kebangkitan Nasional Kedua diperlukan untuk membawa Reformasi pada arah dan jalan yang benar. Itu tidak lain dari menjalankan perjuangan bangsa untuk menjadikan Pancasila kenyataan di Bumi Indonesia yang kita cintai.

Pada waktu ini ada sementara pihak yang mengatakan bahwa Pancasila tidak relevant lagi bagi kehidupan bangsa kita. Mereka mengatakan bahwa sejak tahun 1945 kita mendengungkan Pancasila sebagai Tujuan dan Dasar Negara RI. Akan tetapi yang dihasilkan adalah kemiskinan, ketidakadilan, keterbelakangan bagi jutaan rakyat Indonesia. Ditambah dengan keadaan negara yang penuh korupsi sampai Indonesia dikatakan negara ke-empat terkorup di dunia. Jadi, kata mereka, untuk apa melanjutkan Pancasila yang sudah tidak relevant itu. Maka mereka mau membawa Indonesia kepada tujuan dan dasar yang lain, ada yang mau membawanya ke satu negara berdasarkan komunisme, ada pula yang menganjurkan Indonesia hidup berdasarkan liberalisme dan individualisme seperti dunia Barat, dan ada yang mempropagandakan Indonesia menjadi negara Islam.

Namun orang-orang itu semuanya bukannya mau membawa Indonesia kepada kehidupan yang lebih baik, melainkan justru hendak menjerumuskan bangsa Indonesia. Bahwa pola komunisme atau sosialisme tidak cocok bagi Indonesia sudah terbukti dari dua kali kegagalan pemberontakan komunis, pertama pada tahun 1948 dan kedua pada tahun 1965. Dan kegagalan itu terutama disebabkan karena mayoritas rakyat Indonesia menolak komunisme. Mereka yang memperjuangkan pola liberalisme dan individualisme Barat tidak menyadari bahwa sikap budaya bangsa Indonesia menolak liberalisme dan individualisme Barat. Sebab itu usaha mereka akan selalu menghadapi tentangan dan tantangan mayoritas bangsa yang tidak menyukai pola itu. Sedangkan yang memperjuangkan negara Islam dengan alasan mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim mengingkari kenyataan bahwa Indonesia adalah satu masyarakat majemuk atau plural. Memang lebih dari 80 prosen penduduk Indonesia adalah Muslim, tetapi yang 20 prosen bukan Muslim terang tidak mau hidup dalam satu negara Islam Indonesia. Sedangkan dari yang 80 prosen Muslim amat banyak yang merasa tidak sreg hidup dalam satu negara Islam. Itu berarti usaha menuju negara Islam akan meniadakan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam kenyataan sebenarnya bukanlah Pancasila sebagai Dasar Negara tidak relevant. Yang jelas adalah bahwa bangsa Indonesia dan khususnya para pemimpinnya belum pernah secara sungguh-sungguh memperjuangkan Pancasila menjadi kenyataan di Indonesia, sejak tahun 1945 hingga sekarang. Bahkan Bung Karno yang melahirkan Pancasila, selama menjadi Presiden RI belum pernah secara sungguh-sungguh mengusahakan Pancasila menjadi kenyataan. Memang sejak semula Pancasila dikumandangkan dan dalam masa Orde Baru bahkan dikatakan Pancasila itu Sakti. Namun itu semua tinggal dalam tulisan dan wacana belaka. Padahal realitas atau kenyataan dalam kehidupan manusia hanya terwujud melalui Perbuatan ! Tanpa perbuatan dan tindakan tidak akan ada kenyataan baru, sekalipun sudah dipidatokan berapi-api, dibuat konsepnya dan diadakan penataran secara luas dan mahal. Selama pidato dan penataran tidak dilanjutkan dengan Perbuatan dan Tindakan sesuai dengan pidato dan penataran itu, maka semua tulisan dan omongan hampa belaka. Malahan menimbulkan banyak kekecewaan, frustrasi dan kemudian menuju penyelewengan. Itulah yang terjadi di Indonesia sejak permulaan berdirinya RI pada tahun 1945 hingga sekarang.

Sebab itu Reformasi hanya ada manfaatnya bagi bangsa Indonesia, kalau sejak sekarang Reformasi menjadi perjuangan sungguh-sungguh dari seluruh bangsa dan khususnya para pemimpinnya, untuk menjadikan Pancasila kenyataan melalui perbuatan kongkrit.

Prioritas dalam Perjuangan

Mengingat perjuangan menegakkan Pancasila sebagai kenyataan di Bumi Indonesia mempunyai ruang lingkup amat luas, maka agar perjuangan itu dapat mencapai kemajuan harus ditetapkan prioritas.

1. Kepemimpinan berkeyakinan kuat dalam Pancasila

Setiap perjuangan harus ada Kepemimpinan yang efektif. Kelemahan Reformasi tahun 1998 adalah tiadanya kepemimpinan yang kompak dan efektif. Untuk mencapai tujuan kita Kepemimpinan, dan khususnya Kepemimpinan Nasional, harus mempunyai keyakinan kuat dalam kebenaran Pancasila sebagai Tujuan Negara dan Bangsa. Keyakinan bahwa tanpa Pancasila tak mungkin terjamin NKRI dan keselamatan serta kesejahteraan rakyat.

2. Kepemimpinan harus menularkan keyakinan itu kepada seluruh bangsa

Sangat tergantung pada kepemimpinan di setiap tingkat dan golongan untuk meneguhkan keyakinan pada seluruh bangsa, dengan terutama dipelopori Kepemimpinan Nasional. Hal ini penting sekali agar ada derap langkah perjuangan yang teratur dan harmonis. Apalagi dengan adanya serbuan pendapat agar bangsa Indonesia menganggap Pancasila tidak relevant dan sudah adanya sebagian masyarakat berhasil tergarap oleh mereka.

3. Kepemimpinan nasional yang meningkatkan kesejahteraan Rakyat

Kesejahteraan Rakyat harus merupakan prioritas tinggi dalam agenda Kepemimpinan Nasional dan pemerintahan. Sebab perlu dikikis habis cynisme dan apathie yang luas dalam masyarakat dan menjadi indikasi keterpurukan. Untuk itu harus ada bukti nyata yang dirasakan seluruh bangsa bahwa Kepemimpinan Nasional sungguh-sungguh dalam mewujudkan Pancasila. Sebab tidak mungkin Pancasila merupakan kenyataan tanpa kesejahteraan rakyat. Kemiskinan harus diperangi secara sungguh-sungguh dan bukan wacana belaka, sehingga langkah demi langkah terbangun semangat atau spirit yang makin positif dalam masyarakat dan timbul Rasa Percaya Diri yang makin kuat pada warga negara Indonesia. Ia makin sadar bahwa kehidupan yang berkembang adalah sesuatu yang perlu didukung dan diperjuangkan (he knows what he is fighting for !)

Debat soal teori dan konsep ekonomi harus disisihkan dan yang dipentingkan adalah terwujudnya hasil kongkrit di masyarakat : Kemiskinan Berkurang Rakyat Makin Sejahtera ! Tentang nama atau sebutan bagi Ekonomi Indonesia baru penting kalau betul makin banyak rakyat sejahtera dan kehidupan menjadi normal tidak serba darurat seperti sekarang. Dengan orientasi seperti yang oleh Deng Xiaoping digunakan di China ketika baru bangkit pada tahun 1979, maka yang penting bukan teorinya melainkan apakah teori itu dalam kondisi Indonesia membawa kesejahteraan nyata bagi mayoritas rakyat (Deng Xiaoping : It is not important whether the cat is white or red, as long as it catches mice). Melihat pengalaman China maka dapat dikatakan bahwa faktor kepemimpinan dalam ekonomi sangat menentukan pencapaian kesejahteraan yang tinggi.

4. Gotong Royong ditumbuhkan kembali

Sejak tahun 1970-an sifat Gotong Royong dalam kehidupan masyarakat sangat menurun. Sekarang sifat itu bahkan susah ditemukan di kota-kota besar. Padahal inti Pancasila adalah sifat Gotong Royong dalam kehidupan masyarakat. Adalah sukar sekali memelihara kehidupan yang harmonis dalam masyarakat Indonesia yang majemuk atau plural tanpa ada sifat Gotong Royong. Kalau sekarang begitu sukar memelihara hidup berdampingan secara damai dan tenteram antara golongan masyarakat yang beda etnis dan agama, sebabnya adalah karena sifat orang Indonesia makin individualistis. Dulu tidak pernah kita alami sikap kalangan Islam yang sampai hati merusak gereja, apalagi bermusuhan begitu keras dengan kalangan Ahmadiyah yang nota bene menganggap dirinya Islam dan tidak mengganggu mayoritas Islam. Atau bentrokan sampai bunuh membunuh antara suku Dayak dan suku Madura. Ini semua tidak saja sangat mengganggu produktivitas dan pembangunan ekonomi, tetapi malahan menunjukkan kemunduran dalam sikap keberadaban kita.

Banyak hal yang dapat kita ambil dari dunia Barat, akan tetapi adalah satu kesalahan besar kalau kita tinggalkan kehidupan Harmoni dengan Lingkungan untuk digantikan dengan Individualisme yang mendominasi Lingkungan. Secara tradisional bangsa Indonesia pandai menyelaraskan diri dengan yang datang dari luar tanpa meninggalkan Jati Diri Kepribadiannya. Ajaran Hindu dan Buddha datang dari India, Islam kemudian menyusul pula, dan akhirnya datang dunia Barat. Sampai dengan kedatangan Islam masyarakat Indonesia dapat meningkatkan Jati Dirinya dengan cara mengambil dari para pendatang hal-hal yang memperkaya diri tanpa meninggalkan Jati Diri itu sendiri. Sebenarnya dari dunia Barat banyak yang dapat diambil untuk memperkaya Jati Diri kita tanpa meninggalkan Jati Diri. Masalah utama dengan Barat adalah perbedaan mendasar dalam sikap hidup. Kehidupan dunia Barat berdasarkan Individualisme yang menjadikan Individu ukuran utama sehingga tidak menolak dominasi terhadap Lingkungan, sedangkan dunia Timur termasuk Indonesia, mengutamakan Harmoni dengan Lingkungan yang menghargai sama tinggi antara Individu dan Masyarakat. Kalau di Barat kebebasan bagi Individu adalah mutlak di Timur kebebasan adalah dalam tertib damainya masyarakat. Dengan tetap memelihara Jati Diri itu dunia Timur, termasuk Indonesia, dapat meraih dan menguasai berbagai kekuatan dunia Barat seperti Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, sebagaimana telah dibuktikan oleh bangsa Jepang sejak permulaan abad ke 20. Bahkan kemudian Jepang dapat mencapai tingkat IPTEK yang lebih tinggi dari banyak bangsa Barat. Itu berarti bahwa menyelaraskan diri dengan dunia Barat tidak perlu dengan mengorbankan Jati Diri. Malahan kalau Jati Diri ditinggalkan timbul keadaan yang merugikan bangsa, sebagaimana dialami Jepang ketika juga mau menjadi penjajah meniru perilaku beberapa bangsa Barat.

Adalah kewajiban Pemerintah serta para Pemimpin bangsa untuk mengajak seluruh masyarakat kembali ke Gotong Royong sebagai Jati Diri Bangsa Indonesia. Hanya dengan sikap demikian kemajemukan atau pluralisme masyarakat Indonesia membawa kemajuan.

5. Menjauhi Sikap Manja

Alam Indonesia yang murah dan mudah disertai potensi kekayaan di darat dan laut yang tinggi cenderung menimbulkan sifat manja pada Manusia Indonesia. Karena semua serba ada dan murah maka kurang ada dorongan untuk berjuang membangun kehidupan, Berbeda kondisi ini dengan kehidupan bangsa-bangsa yang hidup di alam empat musim yang keras. Manusia alam empat musim betul-betul harus berjuang untuk dapat hidup dengan baik, karena di musim dingin yang penuh salju tidak ada tanaman yang tumbuh.

Maka kalau Manusia Indonesia harus berhadapan dengan manusia empat musim, ia cenderung kalah kuat berjuang kalau tidak sejak kecil dibiasakan untuk berjuang. Kalau kalah kuat dan ulet dalam berjuang maka ada bahaya bahwa kekayaan bumi Indonesia yang begitu banyak dan berharga justru dimanfaatkan oleh bangsa empat musim yang datang ke Indonesia, apalagi kalau bangsa itu berniat menguasai Indonesia. Maka yang menjadi kaya adalah bangsa pendatang, sedangkan bangsa Indonesia makin miskin.

Sebab itu Manusia Indonesia harus mengembangkan sikap yang tepat menghadapi Alam yang mudah dan murah itu. Sikap tepat itu adalah berjuang membuat kehidupan yang makmur dengan menggunakan segenap kekuatan lahir dan batin yang dikaruniai Tuhan. Dengan cara demikian potensi kekayaan Bumi Indonesia akan terpelihara dengan baik, sehingga tidak habis dikuras melainkan selain digunakan juga dipelihara dan dikembangkan, sehingga Alam Indonesia yang kaya itu terus memungkinkan kesejahteraan lahir batin yang berlanjut. j

Beberapa indikasi tentang sifat man a adalah lemahnya disiplin dan kepatuhan menjalankan ketentuan yang berlaku, bekerja yang asal jadi juga di kalangan akademisi yang dapat dilihat dari mutu produk pekerjaan (jembatan dan gedung yang baru dibuat cepat ambruk), perbedaan menyolok antara perbuatan dengan apa yang dikatakan, sulit sekali menepati waktu. Semua itu kemudian menjadikan Manusia Indonesia nampak lemah karakter. Dan kalau berhadapan dengan manusia empat musim cenderung kurang daya saing.

Untuk menumbuhkan sikap hidup yang tepat sangat penting adanya pendidikan yang baik di lingkungan keluarga, di sekolahan dan di masyarakat dengan disertai Tauladan yang baik dari para Orang Tua , para Guru dan para Pemimpin. Hal itu amat penting untuk menjadikan Pancasila kenyataan di Bumi Indonesia.

6. Kehidupan Politik yang mendukung Kesejahteraan Rakyat

Sejak adanya Reformasi bangsa Indonesia amat giat mengembangkan sistem politik Demokrasi untuk membangun kehidupan yang lebih memuaskan. Sejak lama rakyat Indonesia merasa terlalu dibatasi dan bahkan dikekang kebebasannya, sampai ada ucapan bahwa memang Negara Republik Indonesia sudah merdeka dan berdaulat, tetapi Manusia Indonesia belum. Maka ketika terdapat peluang untuk mewujudkan kebebasan bergeloralah bangsa Indonesia dan berkembang Demokrasi di Indonesia. Sekarang banyak orang bangga bahwa Indonesia telah tergolong bangsa demokrasi terbesar di dunia. Sangat berbeda dengan keadaan masa lampau.

Namun adalah pula kenyataan bahwa kekebasan yang besar itu belum juga mendatangkan kesejahteraan yang memadai bagi bagian terbesar rakyat. Malahan ada yang mengatakan bahwa kesejahteraannya telah berkurang. Memang adalah kenyataan bahwa 16,58% bangsa Indonesia masih tergolong rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan,[1] Itu berarti bahwa sistem politik Demokrasi yang dibanggakan belum membawa Rakyat makin sejahtera.

Pancasila juga menghendaki Demokrasi di Indonesia. Namun demokrasi itu tidak saja meliputi demokrasi politik, melainkan juga demokrasi ekonomi dan sosial. Sedangkan demokrasi yang tidak mempedulikan demokrasi ekonomi dan sosial adalah demokrasi liberal yang telah berkembang di dunia Barat sebagai wujud kehidupan berdasarkan Individualisme dan Liberalisme.

Sebab itu untuk menjadikan Pancasila kenyataan di Bumi Indonesia, sistem politik sekarang yang cenderung bersifat demokrasi liberal harus diarahkan ke jalan yang benar sehingga selain menghasilkan demokrasi politik juga demokrasi ekonomi dan sosial. Itu dapat terwujud kalau Pemerintah dan para Pemimpin Politik tidak menjadikan kebebasan Individu sebagai hak mutlak, melainkan harus diarahkan agar mendatangkan harmoni dalam kehidupan dan khususnya kesejahteraan masyarakat. Demokrasi di Indonesia yang tidak berhasil melakukan itu adalah sistem politik yang gagal karena tidak memenuhi syarat Pancasila mengenai demokrasi.

Karena pada waktu ini elit politik sudah benar-benar bersikap individualistik yang tidak peduli banyak dengan kepentingan masyarakat, khususnya kesejahteraan rakyat, maka benar-benar diperlukan perubahan dalam sikap dan tindakan nyata dari para Pemimpin Politik apabila benar-benar hendak menjadikan Pancasila kenyataan di Indonesia. Orang yang ingin tercatat sebagai Pemimpin yang berhasil membawa Indonesia maju dan sejahtera harus berhasil mengembangkan Demokrasi yang sesuai dengan Pancasila.

Dalam kongkritnya hal itu akan menghasilkan masyarakat yang mayoritas penduduknya atau sekurang-kurangnya 85 % masuk Golongan Menengah dengan penghasilan sekitar USD 10.000 per capita per tahun , sekitar 12 % termasuk golongan kaya serta maksimum 3 % yang miskin dengan penghasilan sekitar USD 3.000. Inilah satu kondisi bangsa yang adil dan makmur. Kemudian diperjuangkan agar makin habis golongan miskin, sedangkan penghasilan nasional terus dinaikkan. Sistem politik yang berkembang dalam masyarakat demikian akan benar-benar Demokrasi sesuai Pancasila.

7. Pendidikan yang meningkatkan Mutu Manusia Indonesia

Melihat kenyataan sekarang tidak dapat dikatakan bahwa Manusia Indonesia sudah tinggi mutunya sebagaimana terlihat bahwa pada tahun 2007 masih 7 % penduduk Indonesia tergolong buta huruf. Memang sejak Indonesia Merdeka sudah dilakukan berbagai usaha dalam pendidikan sehingga bangsa Indonesia mempunyai jauh lebih banyak ahli dan pakar dalam berbagai bidang dibandingkan masa penjajahan. Seperti jumlah insinyur listrik putera Indonesia yang di masa penjajahan tidak lebih dari 10 orang saja, sekarang sudah ratusan jumlahnya. Demikian pula jumlah dokter dalam berbagai spesialisasi.

Akan tetapi faktor kuantitas tidak cukup untuk menentukan mutu, faktor kualitas juga amat penting. Khususnya dalam pendidikan kualitas itu amat menentukan. Dalam hal ini masih banyak sekali yang harus kita perbaiki sambil juga terus meningkatkan faktor kuantitas.

Adalah kenyataan bahwa masih banyak sifat yang menjadi ukuran masyarakat modern kurang terpenuhi. Yang paling menonjol adalah lemahnya disiplin di Indonesia di hampir semua kalangan. Tidak mungkin satu masyarakat dalam abad ke 21 dapat berfungsi optimal kalau disiplinnya lemah. Dan banyak hal lain, seperti kebiasaan menepati waktu dan janji, dapat menjalankan berbagai ketentuan umum secara baik, dan lainnya. Tanpa adanya sifat-sifat itu masyarakat Indonesia kurang dapat bersaing dengan bangsa lain. Untuk mencapai kesejahteraan rakyat yang tinggi mutu Manusia Indonesia perlu sekali ditingkatkan. Sebab kesejahteraan memerlukan pekerjaan yang bermutu dari mulai Presiden RI sampai rakyat di desa.

Untuk memperoleh mutu tersebut pendidikan harus dilakukan di semua aspek masyarakat, yaitu pendidikan dalam lingkungan keluarga, pendidikan di sekolah dan pendidikan dalam masyarakat luar sekolah.

Pendidikan Keluarga terutama perlu membentuk Manusia Indonesia yang luhur budi pekertinya. Artinya manusia yang biasa hidup disiplin dan patuh menjalankan ketentuan yang berlaku, manusia yang pandai hidup bersama orang lain dan bersama-sama mencapai tujuan yang ditentukan, manusia yang penuh prakarsa untuk menghasilkan yang terbaik dan tidak mudah putus asa, tetapi juga manusia yang menghargai tradisi dan masa lalu, serta manusia yang mengusahakan yang terbaik bagi Keluarga, Masyarakat dan Tanah Air dalam pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pendidikan Keluarga merupakan landasan bagi seluruh usaha pendidikan karena manusia sejak lahir ada dalam lingkungan keluarga dan tumbuh di dalamnya menjadi manusia dewasa.

Pendidikan Sekolah melengkapi Pendidikan Keluarga dalam memperkuat keluhuran budi pekerti. Akan tetapi peran utama Pendidikan Sekolah adalah menimbulkan pada manusia kecakapan untuk dapat hidup dan berkembang dalam masyarakat yang terus berkembang. Harus kita sadari bahwa kehidupan masa kini dan masa depan sangat kuat dipengaruhi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Bangsa yang tidak dapat mengikuti perkembangan IPTEK yang pesat itu akan menderita dan menjadi korban neo-kolonialisme. Maka berbagai ilmu pengetahuan diajarkan dan ditingkatkan terus penguasaannya, diajarkan bagaimana mengendalikan teknologi dengan mahir dan cekatan. Adalah penting bahwa Pendidikan Sekolah dapat mengantar setiap anak didik menempuh penguasaan IPTEK yang paling sesuai dengan sifat dan bakatnya sehingga dapat mengembangkan diri sebaik-baiknya serta mengabdikan diri semaksimal mungkin bagi masyarakat, negara dan bangsa. Hal itu akan dapat membentuk Manusia Indonesia yang bermutu dan sekali gus dapat dikembangkan tingkat IPTEK yang makin tinggi di Indonesia.

Pendidikan dalam Masyarakat membawa manusia Indonesia untuk cakap hidup bermasyarakat. Dengan bekal pendidikan budi pekerti yang diperolehnya dalam keluarga dan pendidikan IPTEK dari sekolah, maka manusia Indonesia dibiasakan menjadi warga masyarakat, warga negara dan warga bangsa yang baik. Dengan begitu kita membangun masyarakat dan bangsa Indonesia secara teratur menuju tingkat yang makin sempurna. Gerakan Pramuka, berbagai Organisasi Pemuda dan Organisasi Olah Raga meruapakan wahana yang penting dalam Pendidikan Masyarakat.

Dalam semua aspek pendidikan perlu selalu diusahakan agar dicegah timbulnya sifat manja karena kemurahan dan kemudahan Alam Indonesia. Sebaliknya dikembangkan semangat berjuang untuk mencapai yang terbaik.

Juga dalam semua pendidikan nilai-nilai Pancasila harus menjadi landasan dan dasar sehingga hasil pendidikan menjadikan Manusia Indonesia sekali gus Manusia Pancasila.

Pada waktu ini pendidikan pada umumnya masih kurang bermutu, tetapi yang paling lemah adalah Pendidikan Keluarga. Padahal di situlah harus dikembangkan budi pekerti luhur yang menjadi landasan bagi perkembangan Manusia Indonesia. Memang masih rendahnya kekuatan ekonomi Indonesia sangat berdampak pada penyelenggaraan pendidikan. Hal ini berpengaruh pada Pendidikan Sekolah, tetapi juga pada Pendidikan Keluarga. Namun yang terutama menyebabkan Pendidikan Keluarga kurang mencapai hasil memuaskan adalah karena pada umumnya para orang tua kurang sadar akan kewajibannya mendidik putera-puterinya. Malahan kebanyakan orang tua membebankan pendidikan budi pekerti pada para guru di sekolah saja, padahal merekalah yang seharusnya mempunyai kewajiban utama dalam pendidikan budi pekerti.

Maka Pemerintah Pusat dan Daerah selain harus memberikan perhatian besar kepada Pendidikan Sekolah, juga sangat perlu mengingatkan para orang tua tentang kewajiban mereka dalam mendidik keluarganya.

Harus kita sadari bahwa hasil Pendidikan sangat berpengaruh pada masa depan bangsa. Tidak saja dalam membangun golongan cendekiawan dan akademisi yang tinggi mutu profesionalnya, membentuk kalangan karyawan yang cakap dan berdedikasi dalam profesinya, tetapi terutama dalam mewujudkan kepemimpinan bermutu untuk seluruh aspek serta tingkatan kehidupan bangsa.

Kalau bangsa Indonesia berhasil melakukan berbagai tindakan yang disebutkan sebagai prioritas ini, maka telah tercapai setengah jalan dalam Kebangkitan Nasional Kedua .

Peran Kaum Muda

Sebagaimana dalam Kebangkitan Nasional Pertama, juga dalam Kebangkitan Nasional Kedua peran kaum muda sangat penting. Semangat dinamis yang umumnya ada pada kaum muda menjadi bahan pembakar bagi “mesin” perjuangan bangsa. Selain itu, keberanian menempuh rissiko sangat besar manfaatnya untuk meninggalkan cara berpikir lineair yang umumnya ada pada orang yang lanjut umurnya. Sebab itu kaum muda harus memberikan dukungan yang penuh dan sungguh-sungguh terhadap Kebangkitan Nasional Kedua. Dengan peran kaum muda yang sangat menentukan perkembangan dan perjuangan bangsa dengan sendirinya kepemimpinan bangsa pada semua tingkatan pada umumnya akan di tangan kaum muda.

Jadi jangan bersikap seperti yang sekarang sering terjadi di mana dikatakan bahwa seharusnya kepemimpinan beralih kepada kaum muda karena mereka orang muda umurnya. Padahal belum ada bukti nyata dalam tindakan dan perbuatan. Pada Kebangkitan Nasional Pertama dan sesudah itu kepemimpinan bangsa ada di tangan kaum muda seperti Ir Sukarno dan Drs Mohamad Hatta serta kawan-kawan mereka karena dan setelah mereka membuktikan kemampuannya dalam tindakan dan perbuatan nyata. Dan yang sangat menentukan adalah semangat patriotisme dan nasionalisme yang mereka tunjukkan. Dengan Cinta Tanah Air dan Bangsa Indonesia mereka bersedia berkorban banyak dan memberikan tauladan dalam memimpin bangsa. Hal inilah yang juga harus dilakukan kaum muda masa kini . Tanpa ada Cinta Tanah Air yang kuat akan sukar peran kaum muda berdampak pada perjuangan bangsa. Kaum muda juga harus sadar bahwa tanpa Pancasila sebagai kenyataan di Bumi Indonesia tidak mungkin Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap berdiri dengan teguh sentosa. Di samping bersemangat kuat ke arah yang benar kaum muda perlu mempunyai sesuatu yang dulu kurang terdapat pada para pemimpin kita. Itu adalah kemampuan manajemen di samping kepemimpinan serta penguasaan IPTEK yang memadai sesuai dengan tuntutan zaman.

Dengan kaum muda yang penuh kesadaran tentang perlunya Pancasila menjadi kenyataan di Bumi Indonesia disertai semangat perjuangan mereka yang tak kenal menyerah serta kemampuan manajemen serta penguasaan IPTEK, maka terjamin adanya Kepemimpinan Bangsa yang sesuai untuk membawa bangsa kepada pencapaian Tujuan Nasionalnya.

Pancasila sebagai Kenyataan di Bumi Indonesia

Apabila sudah diletakkan dasar yang kuat untuk menjadikan Pancasila sebagai Kenyataan di Bumi Indonesia, maka perjuangan berlanjut untuk makin menyempurnakan hasil yang telah dicapai. Perlu kita sadari bahwa perjuangan itu tidak pernah berakhir oleh sebab mengejar penyempurnaan tidak pernah ada habisnya, sesuai pepatah For a Fighting Nation there is no Journey’s End !.

Dalam kondisi yang digambarkan itu bangsa Indonesia berada di jalan perjuangan yang benar sehingga tidak mudah lagi digoyang dan diselewengkan oleh pihak-pihak yang ingin menguasai Indonesia untuk kepentingannya. Bangsa Indonesia makin mampu pula untuk memberikan sumbangan yang bernilai tinggi kepada kesejahteraan umat manusia dan perdamaian dunia.

Mengingat pentingnya perjuangan itu kita tegaskan perlunya Kebangkitan Nasional Kedua. Dengan Kebangkitan Nasional Kedua kita harus dapat mewujudkan Pancasila sebagai Kenyataan di Bumi Indonesia sebagaimana Kebangkitan Nasional Pertama berhasil menciptakan Negara Republik Indonesia yang Merdeka dan Berdaulat pada 17 Agustus 1945 .

Ini semua tergantung pada kita yang cinta pada Tanah Air dan Bangsa Indonesia.


[1] Badan Pusat Statistik , angka Maret 2007

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post