PERANG INFORMASI

Posted by Admin on Saturday, 31 January 2009 | Catatan

Sayidiman Suryohadiprojo

Jakarta, 31 Januari 2009

Dalam peluncuran buku saya Pengantar Ilmu Perang pada tanggal 29 Januari 2009 terjadi diskusi yang cukup ramai dan bermutu. Andai kata hadirin semua sudah mempunyai buku itu sebelum peluncuran pasti diskusi akan lebih ramai lagi. Akan tetapi secara teknis tidak mungkin buku itu dibagi sebelumnya dalam jumlah banyak, sehingga hanya Moderator, Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, dan 2 orang pembahas, yaitu Dr. Edy Prasetyono dan Mayjen TNI (Purn) Zacky Makarim, yang sudah dapat diberi buku itu sebelum acara peluncuran.

Namun demikian cukup banyak bahan yang saya peroleh untuk menyempurnakan buku itu kalau Penerbit Pustaka Intermasa nanti melakukan cetakan kedua buku itu. Itu termasuk pendapat yang setelah peluncuran disampaikan kepada saya dari kawan-kawan yang menyempatkan membaca buku itu setelah peluncuran. Di antara bahan-bahan penyempurnaan itu masalah Perang Informasi yang ingin saya uraikan dalam tulisan ini.

Memang dalam buku Pengantar Ilmu Perang sudah dikemukakan pentingnya Perang Informasi, tetapi masih dalam ikatan Perang Intelijen dan bukan sebagai masalah tersendiri. Karena pentingnya masalah tersebut di masa kini dan masa depan, termasuk bagi Indonesia, rupanya ada keinginan agar masalah itu lebih ditonjolkan secara tersendiri. Hal itu saya dapat pahami dan setujui.

Menjadi makin jelas bahwa sekalipun umat manusia makin maju dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, namun kemajuan itu tidak mampu mengakhiri fenomena Perang dalam kehidupan umat manusia. Bahkan dalam kenyataan manusia justru menggunakan kemajuan yang ada untuk makin meningkatkan kemampuannya menjalankan Perang. Adalah kenyataan bahwa sekalipun mayoritas umat manusia tidak mau Perang dan mau hidup Damai, dalam kenyataan masih cukup ada orang-orang yang diliputi kehendak menguasai apa saja di dunia ini, dan untuk itu tidak segan-segan menjalankan Perang.

Sebagaimana dinyatakan Von Clausewitz, Perang adalah tindakan kekerasan untuk memaksa musuh tunduk kepada kehendak kita. Maka unsur utama dan terutama dalam Perang adalah menundukkan kehendak pihak lain agar mengikuti kehendak yang memulai Perang. Di zaman Von Clausewitz pemaksaaan kehendak itu masih memerlukan tindakan kekerasan, sebagai pengganti tindakan diplomasi atau berunding. Maka karena itu perbedaan khas antara Perang dan Damai adalah penggunaan tindakan kekerasan tersebut sehingga keadaan secara legal berubah dari kondisi Damai ke Kondisi Perang antara dua pihak yang berselisih kepentingannya.

Akan tetapi dalam perubahan zaman dan kemajuan cara berpikir manusia ternyata pemaksaan kehendak itu tidak perlu dilakukan dengan tindakan kekerasan yang secara terbuka dan terang-terangan. Sudah di zaman Hitler berkuasa di Jerman pada akhir thaun 1930-an berkembang cara baru yang bukan cara diplomasi tetapi juga bukan penggunaan tindakan kekerasan senjata untuk membawa musuh tunduk kehendaknya. Cara atau metoda baru itu kemudian dikenal dengan sebutan subversi, yaitu dengan cara tertutup mengembangkan pengaruh terhadap bangsa atau pihak yang menjadi sasaran untuk ditundukkan kehendaknya. Pengaruh itu demikian rupa sehingga bangsa atau pihak lain itu kemudian dengan amat mudah menuruti kehendak penyerang. Dengan cara itu Jerman berhasil membawa pemerintah dan rakyat Austria untuk tunduk kepada Jerman tanpa Hitler dan jenderal-jenderalnya perlu mengirimkan divisi-divisi pansernya untuk merebut Austria pada tahun 1939.

Sebenarnya Hitler belajar dari Sun Tzu pakar strategi China dari abad ke lima sebelum Masehi. Sun Tzu mengajarkan bahwa jenderal yang paling hebat adalah ia yang dapat mencapai tujuan perangnya tanpa melakukan pertempuran. Berarti dapat menundukkan musuh tanpa penggunaan kekerasan senjata. Ajaran Sun Tzu inilah yang rupanya dikembangkan Hitler. Setelah Hitler metoda itu juga digunakan Uni Soviet dan Partai Komunis Soviet, dan akhirnya tidak ada bangsa besar dan maju yang tidak berusaha mempunyai kemampuan melakukan metoda itu.

Subversi itu terutama dilakukan sebagai satu operasi Intelijen, yaitu satu usaha tertutup, sehingga umumnya tidak secara langsung menggunakan kekuatan militer. Di zaman Hitler adalah menteri propaganda Jerman, DR. Goebbels, yang menjadi pelaksana utama dalam mengembangkan metoda untuk melumpuhkan pimpinan dan masyarakat yang menjadi sasaran Jerman. Kemudian di bekas Uni Soviet adalah terutama badan intelnya KGB yang aktif, sedangkan di AS nampak sekali peran CIA yang mengkoordinasikan berbagai badan intel AS.

Dengan perkembangan itu maka rumus Von Clausewitz tidak lagi berlaku penuh, sebab usaha menundukkan kehendak musuh juga dilakukan tanpa tindakan kekerasan yang terbuka. Maka sejak pertengahan abad ke 20 Perang menjadi lebih rumit lagi karena dapat terjadi setiap saat tanpa ada perubahan tegas antara Diplomasi dan Penggunaan Kekerasan yang sebelumnya menjadi tanda berubahnya kondisi Damai menjadi kondisi Perang. Kondisi dunia adalah Bukan Perang tapi juga Bukan Damai.

Itulah sudah kita lihat dalam Perang Dingin yang setelah berakhirnya Perang Dunia II terjadi antara blok Barat dengan blok Komunis. Satu pergulatan yang hebat untuk memenangkan Kehendak masing-masing dengan justru sekuat mungkin menjauhkan Penggunaan Kekerasan Senjata. Sebab kalau sampai terjadi penggunaan senjata, padahal baik AS maupun Uni Soviet memiliki senjata pemusnah massal (Weapons of Mass Destruction, WMD), maka yang terjadi adalah destruksi dunia, termasuk AS dan Uni Soviet sendiri akan turut hancur. Kemudian terbukti Uni Soviet kalah dalam Perang Dingin, artinya akhirnya Uni Soviet bubar berantakan, tanpa AS menggunakan senjatanya yang hebat itu. Demikian pula kekuatan militer Uni Soviet dengan arsenal senjatanya yang aneka ragam dan banyak, tidak terpakai sama sekali . Blok Komunis kalah dalam pergulatan atau Perang tanpa penggunaan kekerasan senjata. Hal ini makin menunjukkan betapa besar perubahan yang terjadi dalam masalah Perang dan Damai.

Ada perubahan lain yang tidak kurang pentingnya. Kemajuan manusia dalam mengembangkan pikiran dan perasaan menimbulkan kemampuan untuk mengembangkan daya tahan yang lebih besar dari sebelumnya. Kalau dulu satu negara yang mempunyai keunggulan kekuatan militer dan ekonomi besar umumnya dengan relatif mudah mengalahkan bangsa lain yang kecil kemampuannya, sekarang hal itu belum tentu berlaku. Terbukti bahwa negara yang relatif amat terbatas kemampuannya dapat bertahan dan kemudian unggul ketika diserang negara besar, sebagaimana terjadi dalam kasus Indonesia menghadapi Belanda, lebih-lebih lagi ketika Vietnam bertahan terhadap serangan Perancis dan AS dan kemudian malahan mengusir mereka keluar Vietnam. Juga terbukti ketika bangsa Afghanistan bertahan terhadap Uni Soviet dan turut menyebabkan negara adikuasa itu bubar berantakan. Dan sekarang AS tidak mampu menundukkan Afghanistan serta tidak dapat mencapai tujuannya di Irak. Ini semua disebabkan karena negara kecil mampu bertahan dan melawan terus, sehingga akibatnya negara besar yang penyerang harus mengakui kegagalannya.

Ternyata sekarang tidak cukup perang mencapai kemenangan militer yang belum dapat meniadakan kemampuan perlawanan negara kecil. Perang harus dapat mencapai kemenangan damai, artinya bangsa penyerang dapat menundukkan sepenuhnya kehendak melawan bangsa yang diserang sehingga terwujud kondisi damai yang dikuasai sepenuhnya pihak penyerang. Hal itu dapat diwujudkan AS ketika memenangkan Perang Dunia II sehingga Jepang yang tadinya secara gigih dan fanatik melawan AS malahan menjadi sekutu AS yang paling setia di Asia Timur. Juga Jerman yang sepenuhnya menjadi sekutu dan sahabat AS. Anehnya adalah bahwa AS tidak dapat melakukan hal serupa ketika telah mengalahkan Irak dan Afhganistan secara militer, demikian pula ketika berhadapan dengan Vietnam sehingga akhirnya harus keluar dari Vietnam dengan segala akibat yang traumatis bagi masyarakat AS.

Akibat dari perubahan radikal ini, maka sekarang negara besar yang mempunyai kehendak menguasai negara kecil belum tentu akan melakukannya dengan menggunakan kekuatan militernya secara langsung. Ia akan lebih dahulu mengusahakan agar bangsa negara kecil dapat dibawa cara berpikir dan berpersepsi yang sesuai dengan kepentingan negara besar. Untuk itu yang terutama digarap adalah pikiran dan persepsi masyarakat dengan melakukan berbagai usaha yang mengganggu, baik di bidang politik, ekonomi, maupun kebudayaan dan sosial. Ia akan berusaha menguasai media massa di negara kecil itu dan memanfaatkannya untuk secara sistematis dan terusmenerus mempengaruhi pikiran dan perasaan masyarakat. Ia akan menginfiltrasi LSM-LSM dengan memberikan bantuan dana yang pasti amat diperlukan LSM tersebut. Partai-partai politik pun ia usahakan kuasai dengan menjadikan tokoh-tokoh partai agen atau mole mereka. Dengan ekonominya yang lebih kuat ia timbulkan ketergantungan yang makin kuat dari negara kecil itu sehingga kemudian mudah sekali didikte kehendaknya. Tujuan dari segala kegiatan itu adalah satu Regime Change atau pergantian rezim yang berkuasa oleh pihak yang ia kendalikan.

Dengan cara demikian akhirnya negara kecil itu dapat dibawa sepenuhnya melayani kepentingan dan kehendak negara penyerang yang lebih besar dan kuat. Hal itu belum tentu tercapai andai kata negara besar itu menyerang dengan kekuatan militer. Mungkin sekali kekuatan militer itu dengan mudah mengalahkan kekuatan militer negara kecil dalam pertempuran konvensional yang ditentukan keunggulan senjata dan organisasi. Akan tetapi setelah itu, kalau negara penyerang tidak mampu mencegah timbulnya perlawanan gerilya dalam berbagai bentuk, maka justru penyerang mengalami masalah yang pelik seperti sekarang dihadapi AS di Irak dan Afghanistan.

Dalam hubungan inilah harus kita lihat kondisi Indonesia dewasa ini dan masa mendatang. Untuk menjaga kelangsungan hidup NKRI serta terwujudnya tujuan nasional, yaitu satu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila, maka harus kita kembangkan Daya Tangkal yang efektif, baik terhadap kemungkinan serangan militer terbuka maupun serangan intelijen atau Perang Informasi yang tertutup. Daya Tangkal itu adalah kemampuan kita mewujudkan persepsi pada setiap pihak dan bangsa yang hendak mengganggu Indonesia dengan cara apa pun bahwa ia akan mengalami kegagalan yang justru merugikannya secara berat dan fatal.

Untuk menghadapi serangan intel yang tertutup Daya Tangkal yang perlu kita kembangkan adalah membuat bangsa kita kuat dan stabil dalam ideologi, politik, ekonomi , sosial, budaya dan segenap aspek kehidupan bangsa. Hal seperti keberhasilan pihak-pihak tertentu melakukan amandemen terhadap UUD 1945 sehingga sekarang Batang Tubuhnya sama sekali tidak menggambarkan isi Pembukaannya atau iseologi Pancasila, merupakan pukulan berat buat Indonesia yang harus dapat kita luruskan secepatnya. Hal ini telah berakibat luas dengan berkembangnya kondisi masyarakat yang serba kebablasan dalam menegakkan kebebasan yang bertentangan dengan Pancasila. Juga perkembangan politik dalam negeri yang menimbulkan perilaku masyarakat yang diliputi perpecahan dan penguasaan benda serta uang. Perkembangan ekonomi yang bukannya berorientasi pada rakyat banyak sehingga tak kunjung menurunkan jumlah golongan orang miskin dan sebaliknya terus meningkatnya pengangguran. Pengaruh media massa, terutama yang elektronik, menimbulkan kedangkalan pikir dan rasa dalam masyarakat, kesulitan mengatasi masalah sosial berupa hubungan antara umat agama yang cenderung tegang, demikian pula hubungan antar-etnik. Kondisi bangsa seperti yang sekarang ini tidak mungkin menimbulkan Daya Tangkal terhadap usaha serangan intelijen dan Perang Informasi pihak lain, sebaliknya justru menimbulkan kerawanan.

Daya Tangkal terhadap satu serangan militer terbuka juga sukar dikembangkan ketika TNI tidak mendapat perhatian sewajarnya dalam membangun satu kekuatan militer yang andal. Kurangnya dukungan untuk pembangunan organisasi dan sistem senjata teknologi sulit untuk menjalankan perlawanan militer konvensional secara bermakna, baik di darat, laut maupun udara. Sedangkan persiapan untuk melakukan perlawanan wilayah secara efektif juga dipersulit oleh adanya kesukaan menghujat TNI terus-menerus sehingga menggambarkan tidak utuhnya TNI dengan Rakyat. Dipersulit lagi oleh kehendak segolongan politikus untuk meniadakan fungsi dan organisasi territorial TNI. Bahkan dikembangkan sementara orang bahwa doktrin Pertahanan Rakyat Semesta adalah satu konsep yang ketinggalan zaman. Dengan begitu juga sukar dikembangkan Daya Tangkal terhadap serangan militer terbuka.

Sebab itu sudah amat jauh waktunya bagi kita yang ingin NKRI selamat sebagai negara yang memperjuangkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila untuk melakukan perubahan yang diperlukan. Harapan kami dari Angkatan 1945 adalah bahwa di kalangan Generasi Muda masih cukup banyak orang-orang yang setia kepada perjuangan bangsa Indonesia . Sebab hari depan bangsa Indonesia adalah di tangan Generasi Muda sedangkan kami yang lebih tua memberikan dukungan Moral dan Spiritual agar perjuangan itu berhasil. Semoga harapan ini bukan satu harapan yang kosong belaka, sehingga kita dapat memperkuat keyakinan kita kepada terwujudnya Indonesia Raya yang kita cintai dan banggakan.

RSS feed | Trackback URI

19 Comments »

Comment by prihandoyokuswanto
2015-11-11 16:34:38


Indonesia telah memasuki perang asimetris , tentunya ini semakin tidak jelas mana lawan dan mana kawan , proxy war ini memang sangat masif dengan tujuan menguasai energi dan pangan , sifat dari perang asimetris ini bisa jadi kita tidak sadar menjadi bagian alat untuk perang tersebut apakah itu media sosial , atau isu-isu yang dibangun sehingga kita tidak terasa menjadi alat proxy tersebut .
Bagaimana cara nya kita melakukan identifikasi terhadap perang paling modern saat ini .
Terimakasih bapak Sayidiman Suryohadiprojo.

 
Comment by Edy Sujendro
2013-08-15 09:10:15


Saya Bersukur sekali, tahun 2011 Lalu saya pernah main ke tempat Bapak Sayidiman S, karena beliau menyisihkan sebagian kekayaannya untuk Beasiswa Kuliyah di UNISSULA dari yayasan yang didirikan Almarhumah Ibu Ainun Habibie.

Eh ternyata Opa dan Guru Panutan saya H Nurhana, saya dipertemukan beliau di Blog karena keinginan saya masuk AKMIL.

meskipun saya tidak bisa masuk Akmil, Saya akhirnya di Izinkan Allah berjuang di DITJEN AHU KEMENKUMHAM RI.

Terimakasih para Pejuang Angkatan Darat dan Bangsa Indonesia, saya Bangga dan sangat Terinspirasi.

Semoga saya bisa mengikuti Jejak Cerdas dan Briliannya. Amin

 
Comment by Binahar hutapea
2012-10-01 18:57:10


Pak Sayidiman,tulisan bapak,membuat saya semakin cinta pada tanah air,menghilangkan rasa apatis terhadap situasi sekarang ini, Terimakasih untuk pencerahan ini, Pak Sayidiman,Pak Nurhana Tirtaamijaya….bapak bapak adalah tauladan bagi kami…Pak Sayidiman… Adik bpk saya jg dulu pernah jd dosen di SESKOAD…namanya Kol Wesly….Thanks Pak !

 
2010-09-03 09:01:08


Sdr Ipoet Siregar,

Silakan bagikan kepada teman2 Anda. Salam,

Sayidiman S

 
Comment by IPOET SIREGAR
2010-08-30 20:49:01


Salam hormat,
Mohon ijin untuk dibagikan pada group FB INDONESIAKU PASTI BANGKIT,

tks Pak Sayidiman..,

 
Comment by Guruh Tri Yulianto
2010-05-02 22:20:53


Terimakasih atas informasinya Pak, artikel bapak sangat berguna untuk menggugah para generasi muda.

 
Comment by PRIHANDOYO KUSWANTO
2009-09-02 00:41:43


Bpk Sayidiman Suryohadiprojo yang saya hormati , sebelum nya saya mohon maaf karena rasa bangga saya dan ketertarikan saya kepada artikel bapak tentang kebangsaan sering sekali saya mengcopy dan membagikan keteman-teman untuk bahan diskusi,mungkin sudah sangat langka orang tua seperti bapak yang terus produktif memberikan pelajaran yang sangat berhaga bagi generasi mudah seperti kami-kami ini.

2009-09-03 10:09:36


Sdr. Prihandoyo Kuswanto,

Terima kasih bahwa Anda suka membaca tulisan saya. Saya tak keberatan artikel saya Anda copy dan bagikan. Asalkan tetap jelas bahwa itu tulisan saya. Terima kasih Anda menyebarkan pikiran saya kepada masyarakat. Salam,

Sayidiman Suryohadiprojo

 
 
Comment by adriyanto
2009-04-26 10:08:14


yth. pak sayidiman suryohadiprojo

buku yang bapak susun luarbiasa… ini sebagai pengetahuan yang sangat baik bagi siapa saja, karena perang sesungguhnya tidak hanya dengan senjata, tp juga dengan ekonomi, kesehatan, informasi, intelijen dll… tapi bertitik tolak dari pembahasan dalam buku ini, bapak sebagai purnawirawan TNI AD, lebih meninjolkan perang dan perannya TNI AD terutama kewilayahan. Padahal, kita harus sadar bahwa negara kita adalah negara kepulauan yg memiliki udara dan lautan yang luas. jd seharusnya yang diutamakan adalah kekuatan udara dan laut. sudah saatnya orientas pertahanan kita rubah dari pertahanan darat menjadi pertahanan udara dan laut karena akan sangat miris ketika negara tetangga dengan leluasanya melanggar wilayah udara dan laut kita, tanpa kita bisa berbuat apa-apa…

2009-04-29 09:38:38


Sdr Adriyanto,
Terima kasih bahwa Anda mau membaca buku saya. Perlu saya jelaskan bahwa yang diperlukan Indonesia sebagai negara kepualuan luas (Benua Maritiem, kata Habibie) adalah satu TNI yang mempunyai kekuatan harmonis di darat, laut dan udara pada tingkat yang setinggi mungkin sesuai dengan kekuatan ekonomi, finansial dan industrinya. TNI demikian pun tidak dapat menjamin ketahanan Indonesia kalau tidak disertai peran Rakyat yang secara keseluruhan mempersiapkan diri Pertahanan Rakyat Semesta dan melaksanakannya kalau betul ada serangan terbuka dari luar (overt attack). Memang dalam melaksanakan perlawanan konvensional baik TNI-AD, maupun dan terutama TNI-AU dan TNI-AL mempunyai peran penting dalam menolak gerakan serangan musuh ke kepulauan kita. Sulitnya adalah bahwa untuk itu kondisi keuangan dan ekonomi nasional kita masih belum memadai untuk menyusun kemampuan udara dan laut yang kita inginkan untuk menghadapi serangan dari negara maju seperti AS, China atau Jepang. Akan tetapi harus kita usahakan kekuatan udara dan laut yang sekurangnya dapat menangkal (Deter) sikap agressif tetangga kita. Namun ternyata dengan perkembangan umat manusia serangan yang sekarang paling membahayakan kita justru serangan non-konvensial tanpa kekerasan senjata seperti serangan ideologi, serangan informasi, serangan komunikasi, dll yang dapat menggoyahkan negara dan mengakibatkan “regime change” tanpa perlu ada serangan konvensional dengan kekerasan. Inilah yang harus kita sadari dan harus dapat kita tangkal dengan menjadikan Pancasila Kenyataan di Indonesia dengan Rakyat Sejahtera , Hidup Gotong Royong yang menghasilkan stabilitas dan kekuatan sosial mantap, pendeknya Ketahanan Nasional.
Jadi Sdr. Adriyanto, apa yang Anda kemukakan benar bahwa kita perlu kemampuan udara dan laut yang jauh lebih besar dan mantap dari pada yang sekarang ada. Namun yang lebih penting adalah terwujudnya Daya Tangkal terhadap Serangan Non-Konvensional yang menghancurkan NKRI dari dalam tubuhnya sendiri. Wassalam,

Sayidiman Suryohadiprojo

 
 
Comment by Suriswanto
2009-03-23 07:48:30


Pak Sayidiman, salam kenal.
Saya orang biasa berprofesi sebagai praktisi periklanan (advertising) yang kebetulan suka mengikuti dinamika TNI sejak 1945. Bapak dikenal sebagai salah seorang eksponen TNI yang matang politik (setidaknya tergambar dari beberapa, terutama buku jenderal Soemitro).
Untuk kepentingan bangsa, dapatkah Bapak melakukan tinjauan menyeluruh terhadap TNI sejak kelahirannya, hingga usulan TNI yang ideal untuk masa depan?Sangat kasat mata, dari generasi ke generasi, jenderal-jenderal TNI (AD) dipenuhi intrik dan vested interests untuk mendekati pusat kekuasaan. Terimakasih.
Salam Suris

Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-03-23 10:02:55


Sdr. Suris,
Insya Allah akan saya usahakan permintaan Anda. Tidak mudah membuat observasi yang obyektif-jujur karena mungkin akan ada yang tersinggung. Padahal saya , khususnya di umur tua ini, lebih baik tidak menimbulkan orang merasa kurang enak. Tidak jarang orang yang menulis maksudnya baik, seperti ingin memberikan informasi yang dianggapnya benar kepada masyarakat. Tapi kemudian penerimaan thd tulisan itu malahan negatif. Memang dalam zaman yang sudah dicerahkan oleh Quantum Physics Realitas atau Kebenaran Sejati sukar diuraikan manusia. Tidak hanya otak kiri yg penting, tapi otak kanan pun amat penting justru ketika manusia makin maju dan beradab. Salam, Sayidiman

 
 
Comment by NURHANA TIRTAAMIJAYA
2009-02-28 07:47:57


pak Sayidiman, asswrwb…

Saya senang sekali menemukan blog bapak yang sangat ilmiah, sesuai dengan kwalitas bapak…bisa dijadikan referensi oleh saya kalau ada yang mau tahu lebih dalam tentang ungkapan “The old soldier never die, only fade away…”…bahwa jiwa pengabdian dan pengorbanan purnawirawan sejati adalah seumur hayat dikandung badan…bukan hanya sebatas masih menjabat di dunia militer saja…

Alhamdulillah, tulisan saya tentang dunia AMN mendapat rating paling banyak selama ini ( statistik blog saya mencatat tiap hari dikunjungi minimal 400 kali dan maksimal 850 kali setiap hari…)…

Saya minta ijin pada kasus tertentu saya boleh memanfaatkan tulisan bapak yang terkait….

Demikian permintaan izin saya, sebelumnya saya ucapkan terima kasih…

Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-03-02 11:25:05


Sdr Nurhana Tirtaamijaya,
Silakan manfaatkan tulisan saya dengan menyebut sumbernya, yaitu saya. Wassalam,

Sayidiman S.

 
 
Comment by NURHANA TIRTAAMIJAYA
2009-02-26 10:33:36


Pak Sayidiman, asswrwb….

Salam kenal, saya Kolonel cpm purnawirawan Nurhana Tirtaamijaya, mantan siswa bapak waktu Kursus Staf Senior di Seskoad Bandung, pada tahuan 1992 (Dan Seskoadnya waktu itu Mayjen TNI Faisal Tanjung)…Waktu itu peran bapak sebagai Dosen merangkap pembimbing/pendamping kami dalam membahas/diskusi masalah strategi militer nasional dan internasional…

Saya bisa masuk keblog bapak karena URL/blog bapak muncul ditautan blog saya beberapa kali…maaf baru sekarang saya sempat menulis komentar…

Bapak adalah idola saya dalam hal memegang teguh komitment menjadi prajurit pejuang yang cinta NKRI, profesional, modern, berpikir positif dan bersih dari dosa sejarah….Sayang bapak tidak sempat menjadi KASAD…

Tulisan tulisan saya diblog juga terinspirasi saat saya ditugaskan harus banyak menulis makalah di Kursus Staff Senior Seskoad dulu(setiap minggu harus buat satu makalah untuk didiskusikan diforum…)

Saya banyak menulis diblog saya tentang masalah ideologi Pancasila, politik, militer, manajemen, kepemimpinan, filosofis, spiritual dengan berbagai tips solusinya, juga dalam rangka ingin mencerdaskan kecerdasan para generasi muda agar bisa menjadi kader bangsa Indonesia yang memiliki kecerdasn intelektual, kecerdasn emosional dan kecerdasn spiritual yang serasi dan selaras, sehingga menjadi generasi muda pejuang yang tangguh, profesional, modern, pantang menyerah dan mampu berkiprah ditingkat nasional dan internasional….

Saya tertarik dengan buku bapak dan akan membelinya…..sekian dan salam hormat saya….nurhana tirtaamijaya…(lulusan AMN angkatan 1965)

Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-02-27 11:36:04


Yth. Sdr Nurhana Tirtaamijaya,
Terima kasih atas komentar Anda. Semoga Anda juga selalu masih dapat memberikan pengabdian yang tulus ikhlas kepada Negara, Bangsa dan TNI. Sekurangnya Anda dapat mendidik putera-puteri Anda menjadi Putera Bangsa dan Warga Negara yang baik-produktif dan selalu setia kepada Indonesia sebagai bangsa dan negaranya. Salam,
Sayidiman S

 
Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-02-27 11:32:25


Sdr Nurhana Tirtaamijaya, terima kasih atas komentar Anda. Semoga Anda juga terus dapat melakukan pengabdian yang tulus ikhlas untuk Negara, Bangsa dan TNI, sekalipun sudah Purnawirawan. Sekurangnya Anda dapat mendidik putera-puteri Anda menjadi Putera Bangsa dan Warga Negara yang baik. Salam, Sayidiman S.

 
 
Comment by waren
2009-02-21 06:01:34


saya mau tanya dimana saya bisa memperoleh bukunya dan berapa harganya?

mohon balasannya…

“waren”

Comment by sayidiman suryohadiprojo
2009-02-23 10:26:01


Sdr. Waren , buku Pengantar Ilmu Perang pasti dapat Anda beli di toko buku Gunung Agung atau langsung pada Penerbit Pustaka Intermasa melalui telpon 0217806431 atau 081519892997. Harga bukunya Rp 35.000. Sekian ,

Sayidiman S

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post