Kenegarawanan Seorang Militer Profesional

Posted by Admin on Sunday, 19 April 2009 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Jakarta, 19 April 2009

Tidak jarang ada anggapan dan pandangan bahwa seorang militer sukar dapat mengembangkan kenegarawanan. Anggapan demikian kuat di kalangan kaum terpelajar sipil, terutama di antara mereka yang memperoleh pendidikannya di dunia Barat.

Terutama menyangkut masalah Perang dan Damai ada anggapan bahwa kaum militer sesuai dengan profesinya, suka berperang. Dan kalau mereka memegang kekuasaan cenderung membawa negara yang dipimpinnya melakukan peperangan.

Ternyata anggapan demikian jauh dari kebenaran. Malahan sebaliknya justru kaum militer sebenarnya kurang suka perang karena merekalah yang harus maju dan mengalami berbagai keadaan yang jauh dari enak, bahkan dapat kehilangan nyawanya, kalau negaranya perang. Mereka maju perang karena hal itu menjadi kewajibannya kalau pemerintah negaranya memutuskan untuk berperang. Sedangkan pemerintah negara itu lebih banyak dijabat kaum sipil dari pada oleh orang militer professional.

Uraian di bawah ini akan menggambarkan bagaimana seorang Perwira Militer professional yang dipilih menjadi Kepala Negara mengakhiri perang yang sedang dilakukan negaranya dan dimulai oleh pemertintah sebelumnya yang dipimpin seorang sipil.

Dalam harian The New York Times tanggal 11 April 2009 ada tulisan Jean Edward Smith tentang jenderal Dwight Eisenhower yang pada akhir tahun 1952 dipilih menjadi presiden AS menggantikan Presiden Harry Truman. Nampaknya maksud penulis tulisan itu memberikan satu contoh kepada Presiden Obama bagaimana dalam 100 hari pertama kekuasaannya sebagai presiden AS, dapat mengakhiri satu perang yang tidak menguntungkan negaranya sama sekali, malahan merugikan.

Eisenhower adalah calon presiden dari partai Republik dalam pemilihan di AS pada tahun 1952. Ia bukan anggota partai itu, tetapi oleh partai itu dinilai orang terbaik untuk memenangkan pemilihan sebagai presiden AS. Presiden Harry Truman yang sedang berkuasa adalah orang partai Demokrat yang dinilai kurang mampu memenangkan Perang Korea yang sedang dihadapi AS. Partai Republik hendak mencegah presiden AS yang berikut kembali dari partai Demokrat yang tidak mampu membawa AS menang perang.

Eisenhower terkenal sebagai panglima pasukan Sekutu Barat yang mengalahkan Jerman dalam Perang Dunia 2. Dengan reputasi itu serta sikap yang menunjukkan kearifan dalam memimpin organisasi besar Eisenhower dapat merebut pilihan presiden AS tahun 1952. Harapan orang Amerika besar bahwa kepemimpinannya akan mengubah keadaan Perang Korea yang telah berlangsung sejak 25 Juni 1950 dan Amerika dapat cepat mencapai kemenangan.

Dalam waktu tidak terlalu lama setelah dilantik menjadi presiden pada tahun 1953 Eisenhower pergi ke Korea. Sejak pecah Perang Korea, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk pasukan untuk mendukung Korea Selatan yang telah diserang Korea Utara. Dalam pasukan PBB itu Amerika Serikat memegang peran utama dan menempatkan kontingen terbesar dalam gabungan tentara anggota PBB itu. Sebab itu panglima pasukan PBB adalah jenderal AS. Para panglima militer yang memimpin pasukan AS di Korea banyak yang dulu menjadi bawahan Eisenhower ketika mereka aktif dalam perang di Eropa selama Perang Dunia 2. Seperti jenderal Mark Clark yang memimpin seluruh pasukan PBB di Korea, demikian pula jenderal James Van Fleet yang memimpin kontingen Amerika.

Eisenhower sebagai seorang panglima yang berpengalaman segera melakukan peninjauan ke medan tempur, termasuk melihat kondisi medan itu dari udara. Ia segera menemukan bahwa medan tempur diliputi banyak bukit-bukit. Ia menyimpulkan bahwa sukar untuk melakukan satu offensif massif di darat. Mungkin dapat dilakukan serangan-serangan terhadap bukit-bukit itu, tetapi itu sukar untuk menjadi satu offensif besar yang dapat mengakhiri perang dengan kemenangan yang cepat. Ia mulai memahami mengapa perang telah berubah menjadi satu perang statis. Kedua pihak yang berlawanan, baik pasukan komunis maupun tentara PBB menyusun kubu-kubu pertahanan di bukit-bukit yang sukar ditembus, menimbulkan situasi perang mirip perang statis di Eropa Barat dalam Perang Dunia 1. Eisenhower melihat bahwa telah terjadi satu deadlock yang sukar diakhiri.

Sejak Juli 1951 sebenarnya sudah ada kecenderungan dari kedua pihak untuk melakukan gencatan senjata. Akan tetapi perundingan ke arah gencatan senjata itu tidak memperoleh kemajuan karena memang banyak pihak merintangi hal itu. Dalam pada itu AS telah menderita korban sekitar 150.000 orang, di antaranya 12.000 orang tewas, selain yang luka-luka dan hilang. Eisenhower dengan intuisinya sebagai panglima yang berpengalaman menyimpulkan bahwa AS tidak berkepentingan dengan deadlock itu yang sukar dipatahkan, sedangkan di pihak lain terus terjadi korban manusia. Ia berpendapat bahwa perang tak dapat mencapai tujuannya, yaitu mengalahkan Korea Utara yang dibantu China dan mempersatukan seluruh jazirah Korea di bawah pemerintah Korea Selatan yang didukung AS.

Setelah kembali ke negaranya Eisenhower melakukan usaha agar negosiasi untuk mencapai gencatan senjata diintensifkan untuk mencapai hasil cepat. Ia berpendapat bahwa Perang Korea harus cepat diakhiri karena tidak dapat mencapai tujuan politiknya. Namun dalam suasana Perang Dingin yang sudah berkecamuk antara Barat dan Komunis, partai Republik kurang setuju dengan pendapat Eisenhower. Banyak tokoh partai Republik menghendaki agar kaum komunis diberi pelajaran yang membuat mereka tunduk kepada dunia Barat dan AS khususnya. Mereka menghendaki agar perang diteruskan dan dimenangkan secepat mungkin. Dalam pemerintahnya sendiri Eisenhower dapat tantangan dari dua menteri utama, yaitu Menlu John Foster Dulles dan Menhan Charles Wilson. Sedang di Korea sendiri presiden Korea Selatan Syngman Rhee berusaha mensabotase kehendak Eisenhower.

Akan tetapi Eisenhower sudah tetap niatnya dan yakin bahwa pendapatnya adalah jalan terbaik bagi masa depan negara dan bangsanya. Sebagai presiden AS ia menyadari bahwa tanggungjawabnya adalah terhadap negara dan bangsanya, bukan terhadap partai politik yang mendukungnya. Ia yakin sepenuhnya bahwa niatnya harus terwujud kalau hendak berhasil menjalankan tanggungjawabnya sebagai presiden.

Maka secara tegas ia menyatakan kepada menteri-menterinya yang menentang kebijaksanaannya bahwa mereka harus menyesuaikan diri dengan pendapatnya sebagai presiden AS dan atasan mereka, atau mereka harus meninggalkan pemerintah. Di lingkungan partai Republik ia mendekati tokoh-tokoh yang berpandangan moderat dan dapat diajak berpikir jernih tentang masa depan Amerika sehingga akhirnya partai itu tidak merintangi usahanya, sekalipun menimbulkan sementara tokohnya cukup gregetan. Dan presiden Syngman Rhee diberi ultimatum untuk mengakhiri tindakan sabotase, kalau tidak maka AS akan menarik semua pasukannya dari Korea, menghentikan bantuan keuangan AS kepada pemerintah Korea Selatan dan bantuan peralatan, senjata dan logistik kepada tentara Korea Selatan.

Dengan sikap yang tegas yang ditunjukkan presiden Eisenhower itu negosiasi berhasil mencapai kesepakatan antara kedua pihak yang berperang dan pada 26 Juli 1953 gencatan senjata terwujud. Gencatan senjata itu nyatanya masih berlangsung hingga kini karena tak pernah berhasil untuk berkembang menjadi satu Persetujuan Perdamaian selama hampir 56 tahun. Namun yang penting adalah bahwa perang atau penggunaan kekerasan senjata telah berhenti di jazirah Korea. Meskipun secara formal hukum hubungan antara AS dan Korea Utara sampai sekarang masih dalam status perang, tetapi dalam realitas politik hubungan damai telah terjadi. Selama 56 tahun itu Korea Selatan telah berkembang menjadi negara yang maju dan sejahtera, jauh lebih sejahtera dari Korea Utara.

Maka jenderal Eisenhower telah membuktikan bahwa dalam 100 hari ia menjabat presiden AS, ia telah berhasil mengakhiri perang yang lebih banyak merugikan negaranya, termasuk jatuhnya korban sia-sia pemuda AS yang bertugas dalam tentaranya.

Sekali gus ini bukti yang nyata betapa seorang perwira militer professional menunjukkan kenegarawanan dengan membawa negara dan bangsanya keluar dari peperangan. Sebaliknya ia malahan semula ditentang oleh kaum politik sipil yang justru menghendaki ia melanjutkan dan meningkatkan usaha perang.

Dengan demikian anggapan dan pandangan bahwa militer professional tak mungkin menghasilkan kenegarawanan merupakan hal yang jauh dari kebenaran. Tentu ada militer professional yang tak dapat mengembangkan kenegarawanan, di samping yang mampu melakukan itu. Sama saja adanya politisi sipil yang dapat berkembang menjadi negarawan ulung di samping mereka yang hanya sebatas politikus tingkat rendah. Semua tergantung pada sikap hidup dan kemampuan yang dipunyai masing-masing.

Tentu harapan dunia dan umat manusia kepemimpinan nasional AS yang baru dengan Barack Obama sebagai presiden menghasilkan kenegarawanan yang bermutu tinggi sehingga Amerika Serikat berakhir sebagai negara yang semata-mata berjuang untuk menghegemoni atau meletakkan umat manusia di bawah telapak kakinya. Sebaliknya menjadi negara dan bangsa yang memperjuangkan perdamaian dunia dan kesejahteraan seluruh umat manusia.

Sedangkan kita di Indonesia mengharapkan agar kepemimpinan nasional hasil Pilihan Presiden 2009 dapat membawa Negara Kesatuan Republik Indonesia makin mendekati Tujuan Nasional Bangsa Indonesia, yaitu terwujudnya Masyarakat yang Adil dan Sejahtera berdasarkan Pancasila.

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by Kapt Inf Slamet
2009-06-02 12:06:41


Kami sangat kagum dengan tulisan-tulisan Bapak, sebagai seorang perwira pertama di lingkungan TNI AD, Kami sangat memerlukan banyak wawasan dari berbagai sumber dan bidang. Dengan menimba ilmu dari tulisan -tulisan Bapak kami sangat terbantu sekali. Kami juga berharap untuk bisa membaca dan memiliki buku-buku karya bapak, mohon ijin dimana dan bagaimana kami bisa mendapatkannya? Mohon bantuan dari Bapak, terimakasih

Kapten Inf Slamet, Pasiter Kodim 1408/BS
Jl. Lanto Dg Pasewang Makassar
Tlp. 081543161104

2009-06-03 09:50:36


Kapt Slamet yang baik,

Terima kasih atas tanggapan Anda di blog saya. Saya sbg Pa TNI mulai menulis buku utk pertama kali Pada tahun 1953, ketika saya berpangkat Lettu Inf. Buku itu berjudul Taktik & Teknik Infanteri dan diterbitkan Pembimbing. Sayang bahwa sekarang saya sendiri pun tidak punya buku itu karena hilang dalam berbagai proses pindah tugas dan tempat tinggal. Saya anjurkan Anda baca buku2 saya yang terakhir saja. Yang dapat dibeli di Penerbit Intermasa adalah Kepemimpinan ABRI, Rakyat Sejahtera Negara Kuat dan Pengantar Ilmu Perang, di Gramedia Pustaka Utama buku Si Vis Pacem Para Bellum Membangun Pertahanan Negara yang modern dan efektif (dlm buku ini ada bab tentang Perang Vietnam yg penting Anda baca), di Pustaka Sinar Harapan buku otobiografi saya Mengabdi Negara sebagai Prajurit TNI. Buku2 ini masih ada semua dan dijual Penerbit kalau tidak ada di toko buku. Sebetulnya masih ada buku lain tapi saya tidak yakin apa masih ada di Penerbit. Saya juga anjurkan baca tulisan saya di blog ini khususnya mengenai Pancasila, karena banyak orang masih kurang paham Pancasila sebenarnya. Semoga Anda menjadi Perwira TNI yang produktif dan efektif bagi Negara & Bangsa. Wassalam,
Sayidiman S.

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post