Cara Berperang Amerika Abad XXI

Posted by Admin on Sunday, 1 June 2003 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

PERANG atau penggunaan kekerasan bersenjata tetap mempunyai peran penting dalam politik Amerika Abad ke-21. Tidak hanya kelompok neokonservatif yang suka perang untuk mengejar kepentingan nasional AS, tapi juga seluruh Partai Republik dan Partai Demokrat tidak dapat mengabaikan penggunaan kekuatan militer. Itu disebabkan masyarakat AS ternyata amat mendukung penggunaan kekuatan militer untuk membela kepentingan negaranya, khususnya setelah Peristiwa 11 September 2001.

Serangan militer AS terhadap Irak menunjukkan cara berperang yang sekarang sedang disukai pemimpinnya. Cara baru itu sebenarnya sudah mulai digunakan terhadap Afghanistan, tapi menjadi lebih jelas di Irak. Tujuan melakukan serangan tidak berubah, yaitu memaksa musuh tunduk kepada kehendak AS agar kepentingan nasional AS terwujud dan terjamin. Akan tetapi penyelenggaraannya mengalami perubahan yang penting.

Sekalipun dari dulu cara berperang Amerika Serikat mengutamakan alat dan teknologi untuk sejauh mungkin mencegah terjadinya korban pada warga Amerika, sekarang hal itu lebih ditegaskan lagi. Itu yang menyebabkan perbedaan pandangan antara Colin Powell yang jenderal profesional dan Donald Rumsfeld yang sekarang menjadi menteri pertahanan.

Colin Powell menganut pandangan strategi bahwa harus ada cukup banyak pasukan darat pada permulaan serangan untuk menjamin kemenangan yang cepat dan tuntas. Hal itu dilakukan dalam Perang Teluk I ketika Powell menjadi Ketua Gabungan Kepala Staf AS. Itu pula yang dianjurkan untuk serangan terhadap Irak tahun ini.

Akan tetapi, Rumsfeld berpendapat bahwa cara demikian kurang cepat menghasilkan kemenangan karena kurang mengutamakan pemanfaatan daya tembak dan komunikasi teknologi baru. Rumsfeld melihat manfaat pasukan darat terutama hanya sebagai unsur konsolidasi setelah musuh dibuat berantakan dan hancur oleh daya tembak yang hebat dan tepat. Tampaknya di mata AS keberhasilan di Irak adalah karena penggunaan cara yang ditetapkan Rumsfeld.

Cara itu didasarkan pada penentuan sasaran tembak secara dini yang dilakukan oleh orang Irak yang dapat dijadikan agen AS serta gerakan Pasukan Khusus (Special Forces) yang dimasukkan ke Irak sebelum serangan dimulai dalam kelompok-kelompok kecil yang bergerak lincah. Agen AS dan Pasukan Khusus itu mencari tempat para pemimpin musuh serta lokasi-lokasi penting yang akan ditembaki dari jauh (standoff) ketika serangan dimulai.

Tekonologi Komunikasi

Kemajuan teknologi komunikasi menjamin agar laporan agen AS dan Pasukan Khusus cepat sampai pada pimpinan operasi dan langsung masuk komputer yang mengatur tembakan peluru kendali cruise missile atau rudal jelajah yang disiapkan di kapal-kapal perang yang berlabuh di perairan internasional di depan pantai Irak. Demikian pula pesawat terbang yang membawa bom pintar (smart bomb) disiapkan agar pada saat yang ditetapkan ikut serta dalam penghancuran sasaran. Bom pintar ada yang menghasilkan daya ledak yang dapat menghancurkan ruangan bawah tanah yang dibangun kuat.

Penggunaan precision guided munition sebagai hasil kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan rudal jelajah dan bom pintar mengenai sasarannya secara tepat. Sudah sebelum serangan dimulai dilancarkan serangan psikologi terhadap pimpinan dan personel musuh melalui Internet. Sebab pasti juga di kalangan musuh Internet mempunyai peran yang makin penting.

Dengan konsep itu, pemimpin tertinggi Irak beserta pembantunya diusahakan dilikuidasi pada detik-detik permulaan serangan, pusat-pusat komunikasi musuh dihancurkan sehingga angkatan perang musuh kehilangan kendali.

Bersamaan dengan itu kelompok-kelompok dalam masyarakat Irak yang sebelum serangan telah dipengaruhi untuk melawan pemerintahnya sendiri, digerakkan melalui Pasukan Khusus.

Diadakan serangan psikologi luas melalui berbagai usaha dan cara untuk membuat rakyat dan angkatan bersenjata Irak bingung dan bersedia memihak pasukan AS yang bergerak masuk, sekurang-kurangnya tidak memberikan perlawanan. Dengan cara demikian pasukan darat dapat dengan cepat bergerak melalui darat atau lintas udara untuk menguasai ibu kota dan tempat-tempat penting Irak.

Ini semua masih termasuk kategori perang konvensional sekalipun mungkin menggunakan daya ledak yang besar sekali. Sebab tidak digunakan senjata destruksi massal yang terdiri dari senjata nuklir, biologi dan kimia. Tidak berarti AS tidak mau gunakan senjata-senjata itu yang ia miliki dalam jumlah besar. Tetapi untuk mengurangi tantangan publik yang kemungkinan besar akan mengecam penggunaan senjata itu, AS tidak menggunakannya kalau ia belum terdesak.

Di Vietnam, AS yang kewalahan menghadapi perlawanan rakyat dan gerilya menggunakan senjata kimia yang dinamakan Agent Orange. Dalam menghadapi masalah Korea Utara sekarang, AS tidak mustahil menggunakan satu serangan nuklir terhadap lokasi produksi senjata nuklir Korea Utara. Sebab masalah Korea tidak mungkin diselesaikan AS seperti Irak.

Namun di Irak pun cara perang AS tidak menghasilkan maksimal. Terbukti Saddam Hussein yang menjadi sasaran utama sejak permulaan tidak dapat dilikuidasi. Serangan psikologinya juga kurang berhasil, terbukti dari ketidaksediaan kelompok Syiah untuk turut bangkit melawan Saddam Hussein dan sekarang masih banyak pihak yang tidak mudah dikendalikan AS.

Alternantif Bertahan

Cara bertahan terhadap serangan AS dapat dilakukan melalui beberapa alternatif. Pertama, dengan melakukan pertahanan teritorial yang efektif. Pertahanan teritorial itu memobilisasi seluruh kemampuan bangsa dan wilayah untuk meniadakan kemungkinan AS membuat agen-agen di kalangan bangsa yang diserang. Ini juga memerlukan kontraintelijen yang efektif. Kedua, pertahanan teritorial tidak memberikan kemungkinan bagi Pasukan Khusus AS untuk bergerak leluasa. Tiadanya agen AS dan kurang geraknya Pasukan Khusus, mengurangi kesempatan AS untuk menetapkan sasaran tepat bagi tembakan rudal jelajah dan pengeboman angkatan udaranya. Ketiga, pertahanan teritorial yang efektif juga mempersukar gerak pasukan darat AS dengan mengganggu garis perbekalannya. Ini antara lain dilakukan oleh pasukan fedayeen Irak yang oleh AS diakui cukup menghambat pasukan AS. Keempat, pertahanan teritorial menyiapkan perlawanan gerilya, termasuk gerilya kota, apabila pasukan darat AS terus maju. Selama pasukan darat AS masih memelihara momentum gerak maju, diutamakan penggunaan serangan gerilya dan tidak diadakan serangan frontal.

Kalau lambat laun momentum serangannya mandek, baru mulai mengadakan serangan dengan kekuatan besar untuk menghancurkan kekuatan AS. Ini adalah cara yang dilakukan Vietnam dan berhasil mengalahkan AS sehingga kehebatan daya tembak dan teknologi AS tidak dapat dikembangkannya.

Alternatif lain adalah yang sekarang diperlihatkan Korea Utara, yaitu mengembangkan senjata nuklir dan kemampuan peluru kendali (delivery system). Kalau AS menyerang, Korea membalas langsung dengan tembakan nuklir ke wilayah AS yang dapat dijangkau oleh rudal Korea. Memang AS akan langsung membalas dengan tembakan nuklir, dan Korea Utara akan hancur lebur.

Namun, Korea Utara rupanya gambling atau berjudi, bahwa tekad yang ditunjukkan Korea Utara akan membuat pengambil keputusan di Washington DC ragu-ragu untuk melakukan serangan militer. Dan sengketa akan diselesaikan di meja diplomasi. Tidak mustahil bahwa juga Irak memikirkan alternatif itu. Kelemahan Irak adalah bahwa masyarakatnya begitu terpecah belah. Selain itu, Irak lemah dalam menghadapi serangan darat AS karena tidak ada perlawanan gerilya kota yang tadinya dibicarakan ramai.

Source : http://www.suarapembaruan.com/News/2003/06/01/Editor/edi01.htm

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post