Patriotisme Irak, Kekuatan Pertahanan

Posted by Admin on Thursday, 27 March 2003 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo Mantan Gubernur Lemhannas

BANYAK orang, termasuk Presiden AS George Bush dan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, bertanya: berapa lama Irak kuat menahan serangan militer AS dan koalisinya yang mempunyai keunggulan besar dalam teknologi. Kalau membandingkan kekuatan militer Irak dengan kekuatan koalisi Amerika-Inggris, bayangan kita adalah bagaikan anak kecil yang mau dimakan raksasa.
Namun, AS terlalu mengandalkan kekuatan daya tembaknya yang memang hebat sekali dengan berbagai macam misil dan bom pintar (smart bombs) yang ditembakkan atau dijatuhkan pesawat terbangnya. Sebab, sudah terbukti dalam sejarah, daya tembak saja tidak dengan sendirinya memaksa lawan untuk kalah, kecuali bila ia menyerah karena tidak tahan dihujani tembakan jarak jauh itu.
Hanya Jepang yang pernah menyerah setelah dijatuhi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, padahal kekuatan inti AS masih jauh dari Jepang. Selalu diperlukan kekuatan militer darat guna memanfaatkan hasil daya tembak untuk memaksa musuh menyerah. Maka, bila daya tahan rakyat dan pimpinan bangsa Irak cukup kuat, meski terus dihujani tembakan, harus ada gerakan pasukan darat untuk merebut dan menguasai Baghdad. Apalagi tujuan operasi pertama AS adalah melikuidasi pimpinan Saddam Hussein.
Tampaknya AS cukup hati-hati bergerak ke arah Baghdad dan hingga kini tidak menggunakan mobilitas strategisnya guna mengadakan operasi lintas udara yang cepat. Apakah itu indikasi bahwa AS diliputi keraguan? Juga ucapan Presiden Bush bahwa tidak mustahil perang militer akan berlangsung lebih lama dari yang diduga semula, bukan menunjukkan sikap percaya diri yang mantap.
KINI AS mengadakan operasi psikologi besar-besaran yang berusaha membuat rakyat dan tentara Irak mengakhiri perlawanan. Katanya, AS bukan menyerang rakyat dan tentara Irak, tetapi menyerang Saddam Hussein yang telah berlaku keji terhadap rakyat Irak. Sebab itu, rakyat dan tentara Irak diajak bergabung tentara AS untuk menghukum Saddam Hussein.
Namun, spekulasi memanfaatkan kebencian rakyat Irak atas Saddam Hussein belum tentu efektif. Dalam Perang Dunia II, Jerman juga berusaha mengajak rakyat Ukraina bangkit melawan Uni Soviet saat tentara Jerman bergerak ke Moskwa tahun 1941/1942. Ajakan itu dilandasi kebencian rakyat Ukraina terhadap Stalin, pemimpin Uni Soviet, dan kekuasaan komunisnya. Memang rakyat Ukraina benci kepada Stalin dan komunis. Tetapi, spekulasi Hitler meleset. Ternyata rakyat Ukraina jauh lebih benci kepada Jerman yang menduduki tanahnya daripada kepada Stalin. Patriotisme Ukraina melebihi kebenciannya kepada Stalin. Karena itu, rakyat Ukraina melakukan perlawanan gerilya yang hebat dan amat merugikan Jerman. Juga kini, yang menjadi kunci adalah patriotisme rakyat Irak. Bila patriotisme Irak kuat, itu akan melebihi kebenciannya terhadap Saddam Hussein dan perlawanan akan terus terjadi.
Memang ada prajurit Irak yang menyerah kepada AS, demikian pula ada rakyat Irak menyambut kedatangan pasukan AS dengan gembira. Tetapi, bila patriotisme Irak kuat, pasti yang tidak mau menyerah dan tidak mau menyambut AS akan lebih banyak dari yang berbuat begitu. Itulah yang akan menjadi rintangan berat bagi semua rencana dan usaha AS. Seperti dulu, ada anggota TNI menyerah kepada Belanda dan rakyat Indonesia yang senang Belanda datang. Tetapi, mereka jauh lebih sedikit dari rakyat dan TNI yang terus melawan karena didorong patriotisme yang kuat.
Keunggulan teknologi pada satu saat akan tumpul karena tidak cocok atau tidak sesuai lagi untuk dapat menumpas perlawanan musuh.
BILA perlawanan Irak berjalan terus dengan dilandasi patriotisme yang kuat, maka akan terjadi perlawanan di kota-kota, di gurun, dan di mana saja ada tentara AS dan Inggris. Dan, itu tidak dapat diatasi dengan keunggulan teknologi belaka. Itu pula pengalaman rakyat Indonesia dan TNI saat menghadapi keunggulan teknologi Belanda.
Ketika TNI bersama rakyat mengadakan perlawanan wilayah dengan taktik gerilya, keunggulan teknologi Belanda menjadi tumpul. Demikian pula rakyat dan tentara Vietnam menghadapi tentara AS.
Namun, itu semua harus disertai patriotisme yang kuat dan semangat perjuangan yang tak kenal menyerah. Dapatkah rakyat Irak menunjukkan hal itu sehingga akan membuat Bush dan konco-konconya kecewa?

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post