Mendidik Untuk Kuat Bersaing

Posted by Admin on Saturday, 22 January 2011 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Masyarakat AS, khususnya kaum pendidik dan terutama para ibu, digegerkan oleh buku Battle Hymn of the Tiger Mother yang baru terbit. Buku yang ditulis Amy Chua seorang professor hukum di Universitas Yale menuturkan pendapat penulisnya tentang bagaimana seorang ibu harus mendidik anaknya. Pendidikan itu harus keras, kuat menanamkan disiplin dan tanpa ampun dalam menumbuhkan kemampuan. Ia gambarkan bagaimana ia mengharuskan puteri-puterinya belajar main piano berjam-jam lamanya. Juga keras dalam membentuk sikap dan kepribadian, seperti melarang pergi malam, lama menonton TV, dan banyak lagi hal yang biasa diidzinkan ibu Amerika. Anaknya harus mendapat nilai-nilai tertinggi dalam pelajaran apa saja dan selalu mengusahakan mencapai peringkat terbaik di sekolah.

Buku itu mengundang reaksi ramai yang menilai Amy Chua seorang ibu tanpa cinta kasih kepada anaknya, bahkan menyebutnya monster. Akan tetapi di pihak lain timbul rasa khawatir bahwa cara mendidik ini atau cara mendidik ibu China akan menjadikan China unggul atas AS. Sudah terbukti bahwa kemampuan anak AS dalam berbagai pertandingan internasional tidak hanya kalah dari China, tetapi juga dari bangsa lain. Hasil test terakhir dari Program for International Student Assesment (PSA) melaporkan bahwa murid AS di Sekolah Dasar dan Menengah hanya mencapai ranking ke-17 untuk reading , ke-23 untuk sains dan ke-31 untuk matematik, secara menyeluruh ranking ke-17. Prestasi China yang menonjol, seperti pada tahun 2010 menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar, peningkatan jumlah periset dibandingkan tahun 1999 sebanyak 111% (AS hanya 8%), peningkatnan murid SMA dari 48% anak sekolah di tahun 1994 ke 76% sekarang, dan lainnya. Orang AS berpikir, sekarang AS masih nomer satu di dunia, tapi untuk berapa lama lagi ?

Ketika di-wawancara Amy Chua menolak bahwa ia seoarng monster tanpa kasih sayang kepada anak-anaknya. Namun ia juga tidak mau menjadikan anak-anaknya orang-orang lemah yang berkembang menjadi pecundang dalam kehidupan umat manusia yang penuh persaingan. Ia dulu malahan mengalami pendidikan yang lebih keras dari ibu-bapaknya. Suami Amy Chua, Jed Rubenfeld, juga professor hukum di Yale, semula mau mengurangi beban yang diberikan kepada anaknya. Akan tetapi akhirnya ia harus menyetujui sikap isterinya.

Buat kita di Indonesia ini semua perlu menjadi petunjuk dalam mendidik bangsa kita untuk menghadapi dunia internasional yang penuh persaingan, di mana hanya yang mampu dan kuat yang dapat bertahan. Sejak lama kita katakan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga penting sekiali untuk pembentukan karakter bangsa, termasuk daya tahan orang menghadapi berbagai perkembangan, dorongan untuk selalu menghasilkan yang terbaik, kemampuan bergiat dalam tim atau kelompok, dan hal-hal lain lagi. Hingga kini pendidikan karakter di Indonesia masih amat banyak kekurangannya. Itu yang mengakibatkan sifat dan sikap manja-mental (mentally spoilt) di banyak kalangan masyarakat. Itu pula sebab utama mengapa kita sukar menemukan pemimpin yang bermutu, yang pandai berteori tapi tak mampu mengimplementasi teorinya sendiri, yang pandai berjanji tanpa usaha memenuhi janji itu.

Sudah lebih 20 tahun lalu, ketika China belum menonjol, penulis mengatakan bahwa kita harus sanggup bersaing dengan Jepang yang kuat sekali daya saingnya. Sekarang tidak cukup kita mampu bersaing dengan Jepang, kita juga harus sanggup bersing dengan China yang makin kuat. Bahkan sanggup bersaing dengan Korea yang sekalipun bangsa relatif kecil, tapi kuat sekali daya saingnya.

Sudah amat jauh waktunya kepemimpinan nasional di Indonesia memotivasi pendidikan di lingkungan keluarga untuk membentuk karakter bangsa yang jauh lebih kuat. Kita bangsa dengan banyak bakat yang tinggi nilainya. Akan tetapi telah terbukti dalam sejarah pendidikan umat manusia bahwa Nurture is much more important than Culture atau Mengasuh, Mendidik, Membina jauh lebih penting dari Bakat.

Hendaknya Pemerintah Pusat dan Daerah, terutama melalui oranisasi kewanitaan yang berhubungan dengan instansi Pemerintah seperti Persit Kartika Chandra Kirana, serta berbagai organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan lainnya, mengambil langkah kongkrit yang menggiatkan pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Tentu saja di Pendidikan Sekolah pendidikan karakter perlu ditingkatkan pula volume dan mutunya. Semoga dengan jalan itu bangsa Indonesia berhenti bermental manja , berganti sebagai bangsa yang kuat lahir-batin dan senantiasa berusaha melakukan dan mencapai yang terbaik dalam kehidupan.

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post