BANGSA-JATIDIRI BANGSA-KARAKTER

Posted by Admin on Friday, 20 May 2011 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

 

Bangsa Indonesia

Bangsa Indonesia terbentuk menjadi kenyataan ketika Ir Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Akan tetapi terwujudnya kebangsaan Indonesia sudah jauh lebih dulu, yaitu ketika dalam Kongres Pemuda Indonesia Kedua pada 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia menyatakan Sumpah Pemuda. Para pemuda Indonesia pada saat itu menyatakan bahwa kita berbangsa satu, Bangsa Indonesia. Versi asli Sumpah Pemuda itu adalah : :

Pertama : Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satu, tanah Indonesia

Kedua : Kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia

Ketiga : Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Dalam Kongres itu juga dinyatakan adanya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R Supratman yang ketika memainkan lagu itu dengan biola dan belum ada kata-katanya.

Sejak saat itu bangsa Indonesia telah tumbuh makin matang melalui berbagai pergerakan kebangsaan dan akhirnya menjadi kenyataan sebagai satu entitas berdampingan bangsa-bangsa lain di dunia setelah diproklamasikan kenerdekaannya pada 17 Agustus 1945 serta membentuk Negara Republik Indonesia yang kedaulatannya di atas Bumi Indonesia diakui masyarakat internasional pada 27 Desember 1949.

Sejak awal bangsa Indonesia tidak hanya sekedar mau eksis di dunia ini, melainkan eksistensi bangsa Indonesia harus menjadi rahmat bagi manusia yang membentuknya serta seluruh alam semesta. Sebab itu Negara Republik Indonesia merupakan wahana, yaitu wahana yang penting dan mutlak untuk mewujudkan niat bangsa itu.

 

Jatidiri Bangsa

Ketika Dokuritsu Zyumbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia membicarakan tentang Dasar Negara Indonesia yang akan dibentuk, maka pada 1 Juni 1945 Ir Soekarno sebagai salah seorang anggota badan itu menyampaikan pendapatnya.

Beliau mengatakan bahwa Negara Indonesia yang merdeka itu memerlukan satu fundamen ( beliau katakan “philosophische grondslag”) , satu filsafat dan pikiran yang sedalam-dalamnya atas mana didirikan gedung Negara Indonesia merdeka.

Kemudian beliau menyampaikan bahwa yang harus menjadi landasan itu adalah apa yang beliau namakan Pancasila, yaitu kumpulan nilai-nilai Kebangsaan Indonesia – Internasionalisme atau Perikemanusiaan – Mufakat atau Demokrasi – Kesejahteraan Sosial – Ketuhanan Yang Maha Esa.

Usul beliau diterima dan Pancasila menjadi Dasar Negara Republik Indonesia. Kemudian dilakukan perumusan ulang sehingga yang menjadi Pancasila Dasar Negara RI adalah Ketuhanan Yang Maha Esa – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab – Persatuan Indonesia – Kerakyatan yang dipimpin Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan-Perwakilan – Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Bung Karno mengatakan bahwa beliau bukan merumuskan atau mengkreasi Pancasila. Beliau mengatakan bahwa beliau telah menggali Pancasila dari akar-akar kehidupan bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila ada dalam kehidupan setiap bagian bangsa sejak dahulu kala. Oleh sebab itu Pancasila adalah Jatidiri Bangsa Indonesia yang kemudian ditetapkan sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.

Sebagaimana seorang harus mengusahakan berkembang sesuai jatidirinya, juga bangsa yang hendak tumbuh dan berkembang dengan baik harus melakukan itu sesuai dengan Jatidirinya. Sebab itu adalah tepat sekali bahwa Pancasila ditetapkan sebagai Dasar Negara RI. Berarti bahwa Republik Indonesia harus tumbuh dan ditumbuhkan sesuai dengan Jatidirinya, yaitu Pancasila. Karena itu konstitusi RI yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945, yaitu Undang-Undang Dasar 1945, sepenuhnya menjadi perumusan dari ke hendak bangsa untuk membangun Negara Republik Indonesia menurut nilai-nilai Pancasila.

Dalam pidato Bung Karno yang melahirkan Pancasila, beliau menegaskan bahwa untuk menjadikan Pancasila kenyataan dalam kehidupan bangsa Indonesia diperlukan perjuangan yang kuat dan tak kenal henti. Hal itu benar sekali karena dalam kehidupan manusia tak ada yang sempurna. Oleh sebab itu satu pencapaian pasti selalu masih perlu disempurnakan lagi. For A Fighting Nation there is No Journey’s End ! Oleh sebab itu dan untuk itu bangsa Indonesia harus menjadi Bangsa Pejuang.

Dalam kenyataan hidup, ada syarat mutlak untuk menjadi Bangsa Pejuang, yaitu adanya kekuatan Karakter. Sebab itu bangsa Indonesia sebagai Bangsa P)ejuang harus kuat karakternya . Sejak Indonesia Merdeka Bung Karno dan para pemimpin bangsa lainnya selalu menegaskan pentingnya Pembangunan Bangsa dan Karakternya (Nation and Character Building).

Karakter Bangsa

Yang dimaksudkan dengan karakter adalah kumpulan sifat seseorang, sedangkan karakter bangsa adalah kumpulan sifat-sifat warga bangsa itu . Tentu yang diinginkan adalah karakter yang baik dan kuat, yaitu sifat-sifat yang pada dasarnya menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika dan moralitas, khususnya sifat-sifat berbudi luhur, keteguhan sikap, kejujuran, keberanian, ulet dan tangguh.

Bangsa yang berbudi luhur adalah bangsa yang setia kepada kebangsaannya dan bersedia berbuat serta menjalankan yang terbaik untuk kehormatan dan kemulyaan bangsanya.

Satu bangsa, juga bangsa Indonesia, tidak dengan sendirinya atau secara otomatis berkarakter kuat. Bangsa itu harus mengalami pendidikan untuk mencapai kondisi itu, baik pendidikan di lingkungan keluarga, di sekolah dan lembaga pendidikan lain, maupun di dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan karakter melalui pendidikan sekolah amat penting, tetapi melalui pendidikan di lingkungan keluarga tak kalah penting. Sebab anak lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga. Sejak bayi anak dibiasakan pada hal-hal yang kemudian menimbulkan sifat-sifat yang membentuk karakter. Seperti kebiasaan mengikuti aturan yang akan menumbuhkan disiplin, kebiasaan untuk rajin yang akan menjadikannya orang yang kuat bekerja dan lainnya. Dalam pendidikan karakter itu unsur tauladan amat penting, sebab itu kepemimpinan yang baik diperlukan di samping pendidikan.

Bukti bahwa bangsa Indonesia memerlukan usaha yang menumbuhkan karakter kuat sudah tampak tidak lama setelah kemerdekaan diproklamasikan. Bekas penjajah tidak mau kehilangan Indonesia sebagai jajahannya. Maka penjajah berusaha kuat untuk meniadakan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dan datang kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kekuasaannya sebagai penjajah setelah ia dalam Perang Dunia 2 diusir oleh tentara Jepang dari bumi Indonesia. Ia melakukan berbagai usaha untuk itu, termasuk penggunaan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

Dalam perjuangan yang terjadi antara bangsa Indonesia yang menegakkan kemerdekaannya dengan bangsa Belanda yang hendak menjajah kembali terbukti masih banyak sekali manusia Indonesia dari segala unsur bangsa dan lapisan masyarakat yang berpihak kepada penjajah atau tidak berpihak kepada bangsanya sendiri. Dengan begitu penjajah mendapat bantuan dari sebagian bangsa Indonesia dalam melakukan berbagai usaha yang merugikan kemerdekaan Indonesia. Antara lain penjajah membentuk negara-negara boneka di berbagai daerah di Indonesia yang semua menjalankan kehendak penjajah dan berusaha memojokkan Republik Indonesia. Juga tidak sedikit orang-orang Indonesia yang bersedia menjadi pejabat dalam pemerintahan yang didirikan penjajah dan berusaha meniadakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Namun dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa para Pejuang Kemerdekaan berhasil menolak usaha penjajah untuk berkuasa kembali di Indonesia. Pada 27 Desember 1949 bekas penjajah Belanda mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia dan kedaulatan Negara Republik Indonesia atas wilayah dan bumi Indonesia.

Pengalaman perjuangan kemerdekaan itu membuktikan bahwa masih banyak bangsa Indonesia yang tidak berkarakter kuat. Itu sebabnya mengapa setelah perjuangan kemerdekaan berhasil mengusir penjajah dari Indonesia dan Negara Republik Indonesia berdiri secara kokoh diperlukan perjuangan berikutnya, yaitu Pembangunan Bangsa dan Karakternya. Namun dengan penuh sesal harus dikatakan bahwa perjuangan itu, khususnya Pembangunan Karakter Bangsa, hingga kini tidak atau belum dilakukan sebagaimana mestinya. Juga para pemimpin yang selalu bicara tentang pentingnya Karakter Bangsa dalam kenyataan tidak cukup memimpin bangsa untuk mewujudkan Karakter Bangsa yang kuat.

Bahkan tidak hanya kurang ada usaha membangun Karakter Bangsa yang kuat, sekarang dalam era Reformasi Pancasila Dasar Negara dan Jatidiri Bangsa dalam banyak hal diabaikan dan dibiarkan terdesak oleh nilai-nilai lain yang tidak sesuai dan malahan bertentangan dengan Pancasila. Para Pemimpin Bangsa tidak malu, apalagi merasa salah, telah menjadikan konstitusi kita tidak sesuai dan bertentangan dengan Pancasila ketika melakukan amandemen empat kali pada UUD 1945. Dengan begitu para Pemimpin Bangsa telah mengabaikan sikap kesetiaan kepada bangsa Indonesia serta Jatidirinya Berarti bahwa banyak pemimpin kita sekarang tidak berkarakter sebagaimana harusnya. Karena para pemimpin bangsa tidak menunjukkan tauladan dalam pengembangan karakter kuat, maka rakyat pada umumnya turut mengabaikan karakter kuat.

Sifat yang nampak luas sekarang adalah bahwa orang tidak merasa perlu berbuat sesuai apa yang dikatakan. Hal demikian juga tampak pada para Pemimpin Bangsa dewasa ini yang suka sekali berwacana, tapi tidak merasa perlu berbuat sesuai dengan yang dibicarakan. Dengan karakter lemah yang merajalela di kalangan Pemimpin Bangsa sukar diharapkan ada Karakter Bangsa yang kuat.

Padahal perjuangan menjadikan Pancasila kenyataan memerlukan karakter kuat berupa ketegasan sikap, keberanian dan konsistensi yang tidak sedikit. Untuk membangun kesejahteraan rakyat serta keadilan sosial bagi seluruh bangsa sebagai bagian Jatidiri Bangsa harus terwujud tekad dan niat para Pemimpin serta seluruh bangsa untuk menghadapi serta mengatasi segala tantangan, rintangan dan hambatan yang aneka ragam. Akan tetapi hal itu kurang ditunjukkan oleh para Pemimpin Bangsa yang sepertinya tidak yakin akan Pancasila. Akibatnya, banyak di kalangan bangsa Indonesia yang belum kuat karakternya turut meninggalkan Pancasila . Tidak mengherankan kalau sekarang berbagai gerakan yang bertentangan dengan Pancasila makin berkembang, seperti luasnya perbuatan korupsi, terorisme, radikalisme, pemihakan kepada paham neo-liberalisme dan berbagai gerakan lain yang bertentangan dengan Jatidisi Bangsa.

Padahal bangsa Indonesia tidak hanya memerlukan karakter kuat untuk mewujudkan Pancasila sebagai kenyataan. Dalam kehidupan bangsa Indonesia di lingkungan bangsa-bangsa di dunia berkembang dinamika yang amat mempengaruhi keberhasilan satu negara dan bahkan kelangsungan hidupnya.

Persaingan yang amat menonjol di dalam setiap aspek kehidupan bangsa hanya dapat dimenangkan atau diatasi kalau bangsa dapat mengembangkan performa dan prestasi yang baik. Dan performa yang dapat menghasilkan prestasi berarti hanya dapat dicapai kalau dilakukan dengan karakter kuat. Kenyataan itu berlaku dalam setiap persaingan antar-bangsa, mulai di bidang olahraga, kegiatan ekonomi dan bisnis, di berbagai aspek kebudayaan, dan lain aspek kehidupan.

Tanpa ada karakter kuat, khususnya berupa niat dan tekad menghasilkan yang terbaik atau excellence sukar diharapkan bangsa Indonesia dapat menunjukkan prestasi yang menjamin posisi yang terhormat di dunia internasional. Bahkan dalam dinamika politik internasioal yang masih saja diselimuti neo-kolonialisme dan neo-imperialisme ada kemungkinan kelangsungan hidup bangsa dan Negara Indonesia terancam.

Sebab itu yang diperlukan bangsa Indonesia adalah segera terwujudnya Kepemimpinan Bangsa yang ber-Karakter Kuat dan menetapkan pelaksanaan Pembangunan Bangsa dan Karakternya sebagai prioritas utama dalam perjuangan bangsa.

Dengan itu Tujuan Nasional Bangsa Indonesia yang sudah ditetapkan sejak awal Kemerdekaan Indonesia, yaitu terwujudnya Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, akan dapat dicapai.

 

Jakarta, 20 Mei 2011

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post