PENDEKATAN YANG SEJAK SEMULA SALAH

Posted by Admin on Thursday, 15 March 2012 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Bangsa Indonesia sedang digoncang oleh demonstrasi di banyak tempat dan dilakukan oleh berbagai pihak yang dipicu oleh keputusan Pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi. Yang menolak keputusan itu berpendapat bahwa Pemerintah mengabaikan kepentingan rakyat kecil dan miskin. Sedangkan Pemerintah menganggap kenaikan itu perlu untuk mengurangi beban keuangan yang disebabkan oleh jumlah subsidi itu.

Kedua pihak ada benarnya; pihak yang menolak benar karena akibat kenaikan itu rakyat harus melakukan pengeluaran yang jauh lebih besar, sedangkan sekarang saja kehidupannya sudah berat. Biaya angkutan dan ongkos produksi akan naik yang semua menekan kehidupan rakyat.Sebaliknya juga Pemerintah ada benarnya karena memang harus diberikan subsidi bagi berbagai keperluan rakyat kecil. Subsidi BBM yang besar merupakan beban yang berkonsekuensi pada keperluan Pemerintah lainnya yang tak kalah pentingnya bagi kesejahteraan rakyat.

Subsidi BBM yang besar adalah akibat pendekatan Pemerintah RI yang kurang tepat sudah sejak tahun 1950. Adalah kenyataan bahwa sejak semula minyak bumi mempunyai posisi strategis dalam kehidupan semua bangsa sejak berkembangnya peran mesin dalam kehidupan umat manusia. Mesin sangat mendukung manusia dalam produksi barang-barang, juga dalam gerak manusia yang lebih luas dan cepat melalui berbagai macam transportasi di darat, laut dan udara. Rakyat yang berjuang mewujudkan kesejahteraan lebih tinggi memerlukan berproduksi dan bergerak. Sebab itu sudah lama minyak merupakan bahan strategis yang amat memengaruhi dinamika politik dan ekonomi internasional. Minyak berpengaruh sekali terhadap kehidupan di masa damai, sedangkan di masa perang negara yang tak dapat menjamin suplai minyak hampir tidak dapat berbuat hal-hal yang penting secara militer.

Kebijakan minyak pemerintah AS amat jelas menunjukkan betapa mendasarnya peran minyak. Meskipun di bumi AS terdapat cadangan minyak bumi yang cukup banyak, AS tidak mau menyentuhnya. Ia sadar bahwa minyak bumi yang sudah dipakai tidak ada penggantinya. Maka AS mengimpor minyak produksi negara lain dalam jumlah besar, dalam tahun 2009 sampai 9,6 juta barrel per hari (bph). Dengan begitu AS dapat membuat simpanan minyak dari pembelian di luar negeri di samping pembelian itu dikonsumsi.

Seharusnya pemerintah RI juga memperlakukan kekayaan minyaknya dengan lebih waspada karena kandungan minyak bumi Indonesia tidak terlalu besar. Konsumsi minyak Indonesia besar dan bahkan dinilai boros. Padahal cadangan minyak Indonesia makin menipis dan diperkirakan tinggal 3,9 milyar barrel atau paling lama untuk 15 tahun. Kalau tadinya produksi minyak Indonesia cukup besar sehingga ada yang dapat di-ekspor, sekarang Indonesia sudah termasuk negara pengimpor minyak.

Kondisi masyarakat menunjukkan besarnya ketergantungan pada minyak, baik berupa BBM untuk transportasi maupun untuk keperluan rumah tangga. Di pihak lain pemerintah RI harus mewujudkan kesejahteraan rakyat yang memerlukan penciptaan kondisi yang memungkinkan rakyat berproduksi dan bergerak seleluasa mungkin.

Adalah satu kenyataan bahwa sejak semula Pemerintah dan Wakil Rakyat di DPR menetapkan angkutan motor sebagai pokok transportasi darat. Bukan angkutan kereta api seperti dilakukan oleh kebanyakan negara Eropa dan Jepang. Nampak sekali kuatnya pengaruh AS terhadap para pemimpin Indonesia, entah karena menilai AS negara yang paling maju atau ada pengaruh politik dan ekonomi kuat dari kepentingan modal besar negara itu. Antara lain karena perusahaan otomotif AS sangat berkepentingan produknya dapat pasar luas di Indonesia.

Padahal angkutan motor memerlukan BBM banyak dan menjadi konsumen minyak bumi terbesar di masyarakat. Pada tahun 2006 konsumsi BBM mencapai 1,86 juta barrel per hari, yang bagian terbesar terjadi pada angkutan motor. Pada tahun 2008 ada perbaikan tetapi masih 1,6 juta barrel per hari.

Penggunaan KA sebagai moda angkutan darat utama akan berbeda sebab KA tidak perlu digerakkan dengan BBM, melainkan dengan tenaga listrik. Sedangkan listrik dapat diproduksi dengan sumber energi bukan minyak. Di AS kurang ada pengembangan KA setelah Perang Dunia 2, berbeda dengan Eropa Barat dan Jepang. Hal itu sekarang dirasakan masyarakat negara itu, khususnya ketika mengalami krisis ekonomi yang dasyat. Di Indonesia pun tidak ada kebijakan Pemerintah RI sejak 1950 untuk mengembangkan KA. Sebab itu masyarakat digiring ke angkutan motor, baik yang bersifat pribadi maupun yang umum seperti angkutan bus antar kota dan dalam kota. Pada tahun 2010 jumlah mobil ada lebih dari 50 juta unit, terdiri dari roda empat 23-24 juta dan selebihnya sepeda motor. Menurut perkiraan jumlah ini bertambah dengan 10-15% tiap-tiap tahun.

Kurangnya kebijakan dalam angkutan KA dapat dilihat bahwa jaringan KA di Indonesia Merdeka bukannya meningkat secara kuantitatif dibandingkan zaman penjajahan Belanda. Sebaliknya banyak hubungan KA yang ada di zaman penjajahan dalam masa merdeka ditiadakan, seperti hubungan KA di Madura, hubungan antara Semarang dan Rembang, dan masih banyak sekali. Juga di luar Jawa antara Makasar-Pare2, di Sumatra Barat dan Aceh. Juga kualitas angkutan KA tidak meningkat, hal mana terlihat pada kurangnya ketepatan dan kecepatan KA. Padahal terdapat kemajuan teknologi KA yang amat besar di dunia sejak 1950 seperti yang terlihat dii Jepang, Eropa Barat dan sekarang China.

Pengembangan KA tidak hanya penting untuk menyediakan transportasi massal yang relatif murah, tetapi juga untuk menyediakan kesempatan kerja banyak. Ini yang menjadi sikap pemerintah China yang setelah tahun 1980 melakukan pengembangan KA besar-besaran. China tidak hanya meluaskan jaringan KA-nya untuk memberikan keleluasaan bergerak rakyatnya. Juga dibangun KA berkualitas tinggi dengan KA Supercepat dengan kecepatan di atas 200 km/jam. Malahan sekarang China mempunyai jaringan KA Supercepat terluas di dunia dengan KA tercepat pula dengan kecepatan 350 km/jam yang telah beroperasi antara Guangzhou dan Wuhan serta belakangan disusul hubungan antara Beijing-Shanghai. China sekarang mengungguli Eropa Barat dan Jepang dalam KA, padahal 20 tahun lalu masih jauh tertinggal.

Indonesia belum memerlukan jaringan KA Supercepat, tetapi memerlukan jaringan KA yang luas dengan menghubungkan banyak tempat di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dn Papua, yang terkelola dengan baik. Pengelolaan yang baik menghasilkan perjalanan KA yang tepat waktu, dalam frekuensi tinggi dan kecepatan antara 60-120 km/jam. KA digerakkan oleh bahan non-BBM khususnya tenaga listrik. Dan harganya terjangkau oleh rakyat kecil. Dengan moda angkutan KA seperti itu masyarakat akan lebih berpaling ke KA dari pada angkutan motor. Hal itu terjadi di Eropa dan Jepang dan akan sangat mengurangi konsumsi BBM, sedangkan rakyat dapat bergerak leluasa dengan harga sesuai kemampuannya.

Kekurangan kedua dalam pendekatan masalah energi hingga kini terdapat dalam kebijakan perlistrikan. Listrik adalah sumber energi yang amat menentukan sejak umat manusia masuk zaman modern. Memang bangsa Indonesia telah meningkatkan daya listriknya sejak merdeka, tetapi jumlahnya amat kurang memadai dibandingkan jumlah penduduknya yang sekitar 230 juta orang, keempat terbesar di dunia. Daya listrik juga kurang memadai untuk keperluan produksi yang terus meningkat dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6 % setahun.

Kapasitas terpasang pada tahun 2009 sebesar 25.000 MW yang meningkat sekitar 2% setahun untuk penduduk Indonesia yang sekitar 230 juta orang. Padahal Thailand dengan penduduk 60 juta orang mempunyai kapasitas listrik sebesar 26.000 MW. Sebagai perbandingan lain, China dengan penduduk terbesar dunia 716.000 MW, India dengan penduduk kedua terbesar 159.000 MW, Russia ketiga terbesar dengan 221.000 MW. Sedangkan AS dengan penduduk lebih sedikit 995.000 MW dan Jepang 279.000 MW. Jadi nampak sekali betapa masih kurangnya perlistrikan yang dibangun di Indonesia.

Yang amat penting dilihat dari sudut penggunaan minyak adalah bahwa tenaga listrik dapat diciptakan dengan bahan bukan minyak, seperti tenaga air, batu bara, panas bumi, matahari, tenaga ombak laut yang semua cukup banyak tersedia di negara kita. Apalagi kalau tumbuh kemampuan menggunakan tenaga nuklir secara aman, sebagaimana dibuktikan bangsa-bangsa lain, termasuk tetangga kita.

Juga adanya sistem pelistrikan yang luas dan bermutu di Indonesia, akan sangat meluaskan kemampuan produksi berbagai usaha. Termasuk Usaha Mikro-Kecil-Menengah (UMKM) di berbagai sektor, termasuk pertanian dan industri, sehingga kesejahteraan rakyat benar-benar menjadi kenyataan. Selain itu tersedianya listrik dengan memadai lebih menarik investor untuk membangun produksi di berbagai sektor. Hal itu memberikan kesempatan kerja yang jauh lebih banyak dari kondisi sekarang, hal mana juga sangat mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat.

Selalu dipakai alasan bagi kelemahan ini bahwa diperlukan investasi yang amat besar sedangkan Indonesia terbatas dananya. Alasan ini menunjukkan bahwa mutu kepemimpinan dan kenegarawanan di Indonesia amat perlu ditingkatkan. Sebab Indonesia mempunyai potensi kekayaan alam dan potensi lainnya yang jauh lebih besar dibandingkan Jepang dan Jerman ketika bangsa-bangsa itu mulai membangun perkeretaapian yang luas. Jadi yang kita perlukan adalah kepemimpinan dan kenegarawanan yang kuat tekadnya membangun kesejahteraan rakyat yang luas. Dan sadar bahwa untuk itu diperlukan pembangunan jaring KA dan jaring listrik yang luas dan terkelola baik. Tekad itu secara kreatif akan menemukan jalan yang pasti mendapat dukungan rakyat luas. Tentu usaha demikian akan selalu mengalami masalah. Akan tetapi kepemimpinan dengan tekad kuat dan keyakinan bahwa ditempuh jalan yang benar akan justru menggunakan masalah itu untuk meningkatkan mutu usahanya.

Memang kita telah salah pendekatan sejak 1950 hinggga kini, tetapi itu tidak berarti kita harus putus asa dan menyerah. Semoga kita dalam waktu tak terlalu lama dapat perbaiki pendekatan salah ini dan dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat yang kita dambakan. Tentu sebagai permulaan harus ditemukan jalan yang menimbulkan kepercayaan rakyat bahwa kenaikan harga BBM tahun ini adalah satu keperluan untuk mewujudkan pendekatan terhadap masalah energi yang sungguh-sungguh berorientasi kepada kepentingan rakyat.

Jakarta, 15 Maret 2012

RSS feed | Trackback URI

4 Comments »

Comment by Wahyuni
2012-05-22 09:46:31


Bapak,
Bagaimanakah cara untuk menghubungi Anda, jika berkenan untuk wawancara?

 
Comment by Wahyuni
2012-05-22 09:44:27


Jenderal,

apakah menurut Anda pendekatan pemerintah efektif dalam hal BBM?

 
Comment by Sayidiman Suryohadiprojo
2012-04-13 11:53:44


Sdr Sofjan, memang banyak yg hrs dilakukan untuk kepentingan rakyat, juga termasuk hal2 yg Anda sebut. Semoga pemerintah sanggup melakukannya.
Salam,
Sayidiman S

 
Comment by Sofian
2012-04-01 20:32:26


Akhirnya diputuskan juga oleh DPR dgn ditunda nya kenaikan BBM tapi sayangnya berpotensi melanggar konstitusi , keputusan nya masih berbau politis yg pragmatis , menurut jendral apakah tidak sebaiknya agar pendekatannya tdk salah sebaiknya Pemerintah fokus untuk bebas biaya pendidikan 12 tahun , kesehatan masyarakat dgn biaya murah, serta lapangan pekerjaan yg tersedia , apa mampu mempersiapkannya hal hal tsb dalam satu tahun kedepan…….?

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post