DENGAN NASIONALISME BERDASARKAN PANCASILA MEMBANGUN INDONESIA YANG MAJU SEJAHTERA

Posted by Admin on Sunday, 20 May 2012 | Opini

Sayidiman Suryohadiprojo

Kebangkitan Nasional tahun 1908

Gerak para mahasiswa STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah Dokter Pribumi) membentuk perkumpulan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 merupakan langkah penting dalam perkembangan gerakan kebangsaan atau Nasionalisme di Indonesia. Adalah Dr. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeradji yang merupakan pendiri Boedi Oetomo, disertai peran Dr. Wahidin Soediro Hoesodo yang tidak kalah pentingnya.

Sebenarnya Boedi Oetomo tidak bergerak di bidang politik, melainkan lebih bersifat ekonomi, sosial dan kebudayaan. Juga lebih banyak meliputi orang suku Jawa. Meskipun demikian, karena sebelum itu tidak pernah ada pembentukan organisasi orang-orang Indonesia yang dihalangi penjajahan Belanda, dampak dan pengaruh berdirinya Boedi Oetomo sangat besar sebagai inspirasi kepada orang Indonesia untuk bangkit memperbaiki nasibnya. Itu sebabnya saat berdirinya Boedi Oetomo kemudian dinamakan Hari Kebangkitan Nasional.

Perlu kita sadari bahwa pada permulaan abad ke 20 tidak hanya bangsa Indonesia yang mengalami kebangkitan. Hampir semua bangsa Asia yang terjajah mengalami hal serupa karena semuanya terpengaruh oleh keberhasilan Jepang, satu bangsa Asia, mengalahkan Russia, satu bangsa Eropa, dalam perang Jepang-Russia(1904-1905). Baik di darat maupun di laut angkatan perang Jepang berhasil mengalahkan Russia. Ini merupakan peristiwa penting karena sebelumnya tidak pernah terpikir bahwa ada satu bangsa Asia mengalahkan bangsa Eropa yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Ternyata perubahan yang terjadi di Jepang mulai tahuun 1868, dikenal dengan sebutan Restorasi Meiji,berhasil membuat bangsa Jepang menyamai bangsa Eropa dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Atas dasar itu Jepang dapat membangun kekuatan militer yang berhasil mengalahkan Russia dalam perang dengan penggunaan teknologi modern. Hal inilah membuat bangsa-bangsa Asia lainnya bangkit karena mulai sadar bahwa bangsa Asia tidak selamanya dapat diungguli bangsa Barat. Berkembanglah nasonalisme di Asia, terjadi selain di Indonesia juga di India, China, Filipina dan lainnya.

Pengaruh berdirinya Boedi Oetomo antara lain berupa berkembangnya berbagai gerakan kaum muda seperti Jong Java, Jong Soematra, dan lainnya yang mulai bergerak di bidang politik. Gerakan kaum muda ini yang kemudian mencetuskan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Saat itulah secara nyata berkembang gerakan kebangsaan atau nasionalisme Indonesia. Orang di Jawa, Sumatera, Ambon dan bagian lain tanah jajahan Nederlands Oost-Indie merasa senasib dan bergerak untuk bersatu menjadi satu bangsa atau nation yang bernama Indonesia. Orang mulai sadar harus berBangsa Satu, berTanah Air Satu dan berBahasa Satu, yaitu Indonesia. Sebab itu dikatakan bahwa ada hubungan erat dan fungsional antara Kebangkitan Nasional 1908 dan Sumpah Pemuda 1928.

Nasionalisme yang berkembang kemudian menetapkan untuk mengubah tanah jajahan Nederlands Oost Indie menjadi Negara Indonesia yang Merdeka.

Perkembangan sejarah menunjukkan penyerahan kekuasaan kolonial Belanda kepada Jepang pada tahun 1942 dalam Perang Dunia 2 yang berarti akhir dari kekuasaan kolonial itu. Hal ini dimanfaatkan oleh gerakan kebangsaan Indonesia untuk mencapai tujuannya, yaitu membentuk Negara Indonesia Merdeka. Usaha ini mencapai klimaksnya ketika Jepang kalah perang dan menyerah sepenuhnya kepada Sekutu Barat pada tahun 1945. Dan pada 17 Agustus 1945 Soekarno dan Mohamad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Negara Republik Indonesia atas nama seluruh Rakyat Indonesia.

Negara dan Bangsa Indonesia yang Maju dan Sejahtera

Sejak Negara Indonesia Merdeka dibentuk para Pemimpin Bangsa Pendiri Negara selalu mengatakan bahwa terwujudnya Negara Merdeka dan Berdaulat bukan Tujuan Akhir perjuangan kebangsaan Indonesia. Negara Merdeka baru satu jembatan, meskipun jembatan yang amat penting, menuju ke Tujuan Akhir Perjuangan, yaitu satu Indonesia yang Maju dan Sejahtera lahir batin.

Pada tanggal 1 Juni 1945 Bung Karno dalam rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengajukan pendapat bahwa Negara yang akan dibentuk harus mempunyai landasan filsafah, pandangan hidup, satu Weltanschauung kalau mau menjadi Negara kuat dan berdiri sampai ke akhir zaman. Kemudian beliau mengutarakan bahwa Negara baru harus mempunyai Lima Dasar, yang beliau namakan Pancasila. Usul Bung Karno ini disetujui Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan diadakan peralihan urutan nilai-nilai yang diusulkan. Sejak itu Pancasila adalah Dasar Negara Republik Indonesia yang tidak pernah berubah hingga masa kini.

Bung Karno selalu mengatakan bahwa Pancasila bukan kreasi beliau, melainkan merupakan nilai-nilai yang beliau gali dari kehidupan bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Sebab itu Pancasila tidak hanya Dasar Negara RI tetapi sekali gus bersifat Jati Diri Bangsa Indonesia.

Karena itu Pancasila seharusnya melandasi dan menjadi dasar segala usaha bangsa Indonesia, terutama usaha yang bersifat mendasar. Pancasila sebagai Jati Diri Bangsa harus menjadi dasar budaya Indonesia, demikian pula dasar bagi kehidupan politik, ekonomi, sosial dan segenap kegiatan bangsa .

Maka membangun Indonesia yang Maju Sejahtera lahir batin tidak bisa lain harus diwujudkan melalui gerakan kebangsaan atau Nasionalisme yang berdasarkan Pancasila.

Hanya dengan cara itu Tujuan Perjuangan itu akan tercapai dengan benar.

Kekuatan dan Kelemahan dalam Perjuangan Nasional Indonesia

Bangsa Indonesia telah mencapai satu prestasi yang dapat dibanggakan ketika berhasil mewujudkan Negara Republik Indonesia yang Merdeka dan Berdaulat serta mendapat pengakuan dari mayoritas bangsa di dunia. Prestasi ini tidak ditunjukkan banyak bangsa, sebab kebanyakan memperoleh kemerdekaannya sebagai pemberian bangsa yang menjajahnya Sebab itu dapat dikatakan bahwa prestasi bangsa Indonesia ini merupakan kekuatan Pejuangan Nasional Indonesia.

Sayang sekali kemudian timbul pula kekurangan dan kelemahan dalam perjuangan nasional. Kekurangan dan kelemahan itu ternyata cukup luas sehingga sampai saat ini 67 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan terwjudnya masyarakat yang maju sejahtera lahir batin sebagai Tujuan Utama Perjuangan Nasional, masih jauh sekali.

Kekurangan dan kelemahan itu sudah mulai terjadi segera setelah bangsa Indonesia mencapai keunggulannya. Sebenarnya sejak berhasil mengakhiri RIS dan menjadikan Negara Kesatuan RI bentuk negara yang sah, para Pejuang Kemerdekaan harus mengadakan konsolidasi ke dalam tubuhya sendiri. Sebab adalah kenyataan bahwa dalam diri NKRI, selain terdapat para Pejuang Kemerdekaan Nasional juga ada banyak yang bukan pejuang. Malahan tidak sedikit yang memihak Belanda sejak tahun 1945 hingga Belanda harus keluar dari Indonesia.

Yang lebih penting lagi adalah bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa masih banyak yang belum memahami, termasuk di lingkungan Pejuang Kemerdekaan. Jadi sebenarnya tahun-tahun pertama setelah NKRI tegak di Bumi Indonesia harus ada pemantapan jiwa dan semangat kebangsaan Indonesia. Terutama perlu dilakukan usaha Pemerintah untuk menumbuhkan pemahaman tentang Pancasila pada seluruh bangsa. Perlu ada pendalaman dan riset tentang Pancasila, diikuti dengan pendidikan kepada seluruh bangsa tentang nilai-nilai Pancasila, dan disertai terbentuknya kepemimpinan dengan semangat dan jiwa Pancasila di tingkat nasional maupun tingkat daerah, untuk menjadi tauladan bagi seluruh rakyat.

Hal itu tidak terjadi, juga tidak ketika pada tahun 1962 seluruh wilayah nasional masuk wewenang NKRI dengan bergabungnya Irian Barat (sekarang disebut Papua) ke dalam lingkungan NKRI. Bung Karno sebagai Presiden NKRI pertama melibatkan NKRI terlalu banyak dalam urusan politik dan diabaikan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan Rakyat. Padahal Bung Karno sebagai Penggali Pancasila selalu mengatakan pentingnya kesejahteraan Rakyat. Beliau selalu mengatakan bahwa bagi Indonesia demokrasi bukan hanya demokrasi politik, tetapi juga demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Bung Karno mengatakan pentingnya nation & character building bagi negara baru, tetapi dalam kenyataan tak pernah ada usaha itu secara sungguh-sungguh.

Di masa kepemimpinan Pak Harto mula-mula dilakukan usaha yang baik untuk memperbaiki ekonomi nasional. Akan tetapi usaha itu kemudian diselewengkan dengan memberikan peran asing yang berlebihan. Pengaruh Bank Dunia dan IMF yang amat kuat terhadap ekonomi Indonesia, disertai pimpinan ekonomi yang kuat berorientasi pada sistem ekonomi klassik Barat, menciptakan jurang yang makin lebar antara pihak orang kaya yang sedikit jumlahnya dengan mayoritas bangsa yang masih miskin. Bersamaan dengan itu kondisi politik kurang sekali memberikan kesempatan kepada rakyat umum untuk mengemukakan pendapat. Padahal pemerintah menyatakan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam politik NKRI.

Kemudian diadakan Reformasi yang semula dikira akan membawa NKRI kepada arah dan jalan yang benar, yaitu menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara kenyataan di bumi Indonesia. Akan tetapi kepemimpinan Reformasi tidak sadar bahwa pihak asing berusaha “membajak” Reformasi untuk menjadikan sikap bangsanya berlaku kuat di Indonesia, yaitu sikap hidup Barat yang mengutamakan individualisme dan liberalisme sebagai pedoman hidup. Demikian efektif usaha mereka sampai UUD 1945 dapat di amandemen 4 kali dan menjadikan Batang Tubuhnya berbeda sekali, bahkan bertentangan dengan Pembukaan UUD. Padahal MPR yang melakukan amandemen itu diketuai tokoh utama Reformasi, demikian pula tokoh Reformasi utama lainnya menjabat Presiden RI.

Maka pada tahun 2012 NKRI hasil perjuangan unggul Nasionalisme berdasarkan Pancasila, telah jauh sekali menyeleweng dari arah perjuangan yang sebenarnya. Bahkan sukar ditemukan adanya Nasionalisme berdasarkan Pancasila. Ini semua adalah akibat dari kelemahan dan kekurangan dalam perjuangan bangsa.

Bumi Indonesia yang menyajikan potensi begitu banyak dan bervariasi dalam sumberdaya Alam, dan dihuni oleh Rakyat yang kuantitatif dan kualitatif cukup tinggi nilainya, serta memiliki lokasi Geografi yang demikian strategis, tidak mendapat kepemimpinan dan manajemen yang sepadan. Maka hasilnya hingga kini bukan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, melainkan kemiskinan lahir batin pada bagian terbanyak bangsa Indonesia. Serta merajalelanya korupsi di mana-mana.

Bagaimana menghadapi Masa Depan.

Melihat kondisi bangsa Indonesia yang negatif ini kita harus kembali pada fitrah perjuangan nasional, yaitu kembali menjadikan Nasionalisme berdasarkan Pancasila motor perjuangan. Harus kita usahakan agar perjuangan nasional kembali menunjukkan kekuatan dan membuat bangsa Indonesia berprestasi tinggi.

Hal ini bertambah penting karena ternyata antara sekarang dan tahun 2035 Indonesia mengalami demographic dividend atau “bonus kependudukan”. Ini terjadi karena dalam masa ini jumlah penduduk dalam umur produktif jauh melebihi yang dalam umur kurang produktif. Hal itu, apabila dimanfaatkan dengan tepat dapat menghasilkan kesejahteraan tinggi bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya, apabila tidak ada usaha demikian justru menjadikan penduduk destruktif dalam jumlah besar. Gejala ini sekarang sudah mulai nampak dengan banyaknya kekerasan dalam berbagai aspek.

Sebagaimana kekuatan perjuangan nasional dalam melahirkan Negara Merdeka sangat ditentukan oleh Kepemimpinan yang bermutu, maka sekarang juga perlu berkembang Kepemimpinan bermutu untuk mewujudkan kekuatan dan keunggulan.

Kepemimpinan yang berjiwa Patriot dan Nasionalis Pancasila sejati, yang dengan penuh semangat pengabdian kepada Negara dan Bangsa dapat mengajak dan memotivasi bangsa untuk berjuang mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Namun untuk menghasilkan kekuatan perjuangan nasional sekarang di samping Kepemimpinan, diperlukan pula kemampuan Manajemen atau Pengelola yang secara cerdas dan berani menggarap seluruh potensi bangsa untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Kombinasi Kepemimpinan dan Manajemen menjadi kunci terwujudnya keunggulan dan kekuatan perjuangan nasional.

Kepemimpinan Nasional yang melakukan Manajemen Nasional dengan efektif mulai dengan mengubah sikap pemimpin atau elit bangsa yang sekarang meluas, yaitu sikap yang kurang peduli terhadap masa depan bangsa dan mengutamakan kepentingan pribadi. Digelorakan kembali Perjuangan Nasional dan Pancasila dengan pemberian Tauladan yang menimbulkan kembali percaya diri pada seluruh bangsa terhadap Masa Depan yang penuh Kemajuan dan Kesejahteraan.

Yang penting ditunjukkan adalah sikap yang tidak hanya pandai dan banyak bicara tetapi juga disertai perbuatan nyata untuk menjadikan yang dibicarakan realitas nyata. Semangat kuat dalam menunjukkan perbuatan nyata menimbulkan elan perjuangan yang amat diperlukan bangsa Indonesia untuk menghadapi umat manusia yang sedang mengalami berbagai perubahan dalam banyak aspek kehidupan.

Dengan kemampuan Manajemen bermutu Kepemimpinan Nasional melakukan berbagai prakarsa untuk menjadikan berbagai potensi nasional kekuatan nyata. Dimulai dengan Sumber Daya Manusia yang sedang menyajikan Bonus Kependudukan selama dua dekade mendatang.

Adalah jelas sekali bahwa Pendidikan menjadi sarana yang amat penting, baik untuk memantapkan Pancasila sebagai Jati Diri Bangsa maupun untuk mengembangkan berbagai pengetahuan dan kecakapan. Melalui Pendidikan pula diperkuat Karakter bangsa sehingga langkah demi langkah ditinggalkan karakter dan sifat bangsa yang sekarang banyak yang negatif. Sebab itu diperlukan Pendidikan yang bermutu baik sebagai Pendidikan di Lingkungan Keluarga, Pendidikan Sekolah maupun Pendidikan dalam Masyarakat.

Dengan menyelenggarakan Pendidikan bermutu di semua aspek kehidupan akan terwujud SDM yang amat berharga dalam usaha menciptakan Kemajuan dan Kesejahteraan.

Sumber Daya Manusia yang bermutu itu perlu bekerja dan produktif. Sebab itu Kepemimpinan Nasional secara cerdas dan berani mengadakan dan merangsang investasi di berbagai segi lapangan kehidupan, terutama di bidang manufaktur yang mengolah berbagai hasil pertanian, kelautan, pertambangan dan lainnya untuk mencipatakan Nilai Tambah yang begitu penting bagi Kemajuan dan Kesejahteraan.

Mengingat luasnya wilayah Indonesia serta potensi yang dikandugnya maka investasi dalam berbagai segi Infrastruktur, baik prasarana jalan, pelabuhan laut dan udara, berbagai moda komunikasi dan transportasi maupun pengembangan berbagai energi, seperti minyak bumi dan gas alam, panas bumi, air, matahari, angin, laut.

Kenyataan adalah bahwa potensi Indonesia dalam berbagai hal ini cukup besar. Akan ttetapi hingga kini kurang ditangani secara cerdas dan berani, sehingga kurang menimbulkan manfaat bagi bangsa Indonesia. Atau malahan lebih dimanfaatkan bangsa lain dengan segala keuntungan yang diperolehnya.

Usaha ini semua tak mungkin terwujud kalau bangsa Indonesia tidak digelorakan semangatnya, dikuatkan tekadnya dan diciptakan kemampuan kerjanya. Kombinasi pengembangan Sumber Daya Manusia dan pengolahan Sumber Daya Alam memerlukan Kepemimpinan dan Manajemen bermutu yang selain cerdas juga berani dan sanggup berbuat, kepribadian yang berkarakter.

Tantangan yang kita hadapi sekarang adalah membentuk Kepemimpinan Nasional yang dapat menjadi penggerak utama usaha ini. Ini nerupakan satu kewajiban yang tidak mudah dan tidak ringan. Dengan menyebarkan landasan pikiran ini semoga terjadi dinamika dalam masyarakat yang memungkinkan tumbuhnya Kepemimpinan Nasional yang kita perlukan. Adalah satu kenyataan alam bahwa akan terjadi perubahan ketika kondisi sudah amat buruk.

Kiranya Legiun Veteran Republik Indonesia yang anggota-anggotanya di masa lampau telah turut aktif dalam menghasilkan keunggulan Perjuangan Nasional, sekarang dengan cara yang tepat kembali turut aktif menghasilkan keunggulan kedua yang makin mendekatkan bangsa kepada Tujuan Perjuangan Nasional, yaitu Masyarakat yang Maju, Adil dan Sejahtera berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Jakarta , 20 Mei 2012

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post