DENGAN PANCASILA MEMBANGUN KESEJAHTERAAN BANGSA | Sayidiman Suryohadiprojo

DENGAN PANCASILA MEMBANGUN KESEJAHTERAAN BANGSA

Posted by Admin on Sunday, 15 July 2018 | Opini

PANCASILA KURANG MENDAPAT PERHATIAN

Pancasila sejak 18 Agustus 1945 telah disahkan sebagai Dasar Negara RI. Akan tetapi hingga sekarang, 73 tahun setelah disahkan, Pancasila tidak memperoleh wujud nyata dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila tidak menjadi satu Living Reality di Bumi Indonesia, khususnya dalam Kesejahteraan Bangsa.

Presiden Sukarno sebagai Penggali Pancaslla sering mengatakan bahwa beliau kurang berminat pada Ekonomi. Dan jelas sekali Pancasila tidak dijadikan Dasar untuk membangun Kesejahteraan dalam pemerintahan beliau. Dalam pemerintahan Presiden Suharto ada satu Tim Ekonomi yang besar wewenangnya untuk melakukan pembangunan ekonomi, Akan tetapi Tim itu menggunakan Neo-Liberalisme sebagai dasar pembangunan ekonomi. Karena Neo-Liberalisme bersumber paham Individualisme yang bertentangan dengan Pancasila, maka hasil dari pembangunan ekonomi jauh dari Pancasila. Contohnya adalah usaha mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa ada perhatian apakah pertumbuhan itu menyentuh kehidupan rakyat banyak. Akibatnya adalah terjadinya kesenjangan yang dalam antara kesejahteraan sejumlah kecil orang yang kaya dengan kesejahteraan rakyat banyak. Setelah ada Reformasi di Indonesia pada tahun 1998 kehidupan makin menyeleweng dari Dasar Negara Pancasila. Oleh tokoh-tokoh Reformasi UUD 1945 di-amandemen 4 kali yang menjadikan Konstitusi kita banyak meninggalkan Pancasila. Pembangunan Kesejahteraan makin mengikuti dasar Neo-Liberalisme. Dan itu terjadi hingga sekarang.

Jadi ucapan bahwa kita harus setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara hanya Wacana belaka, sebab dalam kenyataan hampir tidak ada implementasi dengan nilai-nilai Pancasila. Akibatnya adalah bahwa sekarang Kemiskinan di Indonesia mencapai 10,8 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 28 juta orang Sedangkan Kesenjangan antara Kaya dan Miskin ada pada tingkat Gini 0,39. Padahal bangsa Indonesia mendapat karunia Allah berupa berbagai Sumber Daya Alam dengan kualitas dan kuantitas tinggi. Serta faktor geografi yang amat menguntungkan. Meskipun begitu bangsa Indonesia tertinggal kesejahteraannya oleh bangsa-bangsa lain di sekitarnya yang tidak mendapat karunia Allah yang sama.

PANCASILA MENGANDUNG BANYAK KEKUATAN

Hakekatnya dalam Pancasila terdapat nilai penting yang dapat digunakan untuk membangun Kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia, yaitu nilai Kebersamaan. Bung Karno selalu mengatakan bahwa apabila Pancasila diperas, maka diperoleh Trisila dan kalau diperas terus maka yang timbul Gotong Royong. Sifat Gotong Royong ini menghasilkan Kebersamaan , satu nilai yang berlawanan dengan paham Individualisme.

Kebersamaan mengajak masyarakat Indonesia untuk hidup bersama untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Untuk itu Manusia hidup berkelompok dan dengan kelompoknya masing-masing akan mewujudkan kehidupan yang maju dan sejahtera. Setiap warga yang dewasa membangun hidupnya dengan memilih pekerjaan yang dirasa cocok. Ia melakukan itu dengan membentuk kelompok bersama warga lain yang sama pilihan kerjanya. Atau ia bergabung dengan kelompok kerja yang sudah terbentuk. Ada kelompok di Dunia Usaha, lingkungan pekerjaan untuk Pemerintah, Dunia Pendidikan, Pertanian, Kelautan dan berbagai jenis pekerjaan lainnya.

Dalam kelompok kerja itu dilakukan kegiatan dengan cara Kebersamaan atau Solidaritas, bukan atas dasar kepentingan Individu. Melalui Solidaritas Kelompok terwujud sinergi dari kegiatan setiap warga yang lebih tinggi nilainya dari pada usaha Individu satu per satu.

Sebab Solidaritas kelompok mendorong setiap warga berbuat terbaik untuk kelompoknya. Dan ia akan memperoleh Rasa Harga Diri sesuai dengan keberhasilan kelompoknya serta penilaian masyarakat atas kelompoknya. Agar kelompoknya mencapai keberhasilan tinggi dan mendapat penilaian tinggi dalam masyarakat, maka warga kelompok berbuat terbaik untuk kelompok. Sinergi yang timbul dari perbuatan para warga kelompok membuat kelompok menghasilkan performa yang bermutu. Dengan penilaian tinggi yang diperoleh kelompok atas performanya, maka segenap warga merasa mendapat Harga Diri yang tinggi pula.

Ini berbeda dengan perilaku dalam kehidupan berdasar Indivuidualisme yang mengutamakan perbuatan setiap individu. Dalam hal ini tak dipentingkan solidaritas kelompok dan seluruhnya pada dasarnya tergantung pada individu yang memimpin kelompok. Akibatnya seluruhnya berpusat pada kepentingan individu itu. Dan warga kelompok harus menyesuaikan diri dengan kehendak individu itu serta kepentingannya.

Dalam Kebersamaan atau Solidaritas kelompok ada yang menjadi Pimpinan dan Anggota. Dalam Dunia Usaha terdapat Manajemen Perusahaan dan Karyawan. Hubungan antara Pimpinan dan Anggota bersifat Kekeluargaan yang saling menghargai fungsi dan peran masing-masing. Dan semua dengan Solidaritas kuat mengabdikan diri pada kepentingan Kelompok mereka. Berbeda dengan masyarakat atas dasar Individualisme yang menunjukkan hubungan yang keras antara Pimpinan dan Anggota, masing-masing dengan kepentingannya sendiri. Dalam masyarakat Pancasila Gerakan Karyawan atau Buruh berorientasi pada perusahaan kelompoknya (company oriented labour organization) , beda dengan masyarakat Kapitalis yang organisasi buruhnya membentuk kekuatan nasional untuk mewujudkan kepentingannya berhadapan dengan berbagai Pimpinan Perusahaan.

Hubungan yang bersifat Kekeluargaan menimbulkan kondisi saling mendukung untuk mencapai keberhasilan bersama yang tinggi. Dalam Perusahaan sikap Pimpinan Perusahaan terhadap karyawan atau buruh adalah mengusahakan agar karyawan dapat berfungsi sebaik mungkin. Untuk itu keperluan pribadi karyawan diperhatikan , seperti adanya gaji memadai sehingga karyawan tidak terganggu masalah rumah tangganya, membantu dalam keperluan sosial aneka ragam. Seperti di Jepang umpamanya adalah lazim bahwa Perusahaan yang mengurus pernikahan anak karyawan. Sebab itu organisasi karyawan tak perlu melakukan Mogok Kerja untuk menuntut perbaikan nasib seperti di AS. Dan sebaliknya, karena karyawan juga berkepentingan Perusahaannya sukses, maka tuntutan yang diajukan kepada Pimpinan memperhatikan kemampuan Perusahaan agar tidak merugikan performanya. Karena Pimpinan benar-benar memperhatikan kebutuhan Karyawan, umumnya tak perlu ada tuntutan kepada Perusahaan. Juga prinsip Pengerjaan Sepanjang Umur (Life-time Employment) menunjukkan bahwa Perusahaan tidak akan membebastugaskan (lay off) karyawan kalau Perusahaan mengalami kesulitan. Dan bersama-sama mencari solusi mengatasi kesulitan itu. Hubungan Kekeluargaan itu menghasilkan Daya Saing tinggi dari tiap Perusahaan. Kalau terjadi persaingan antara Perusahaan maka Pemerintah yang mengatur agar tidak merugikan kepentingan nasional. Sebab Perusahaan mengikuti petunjuk Pemerintah demi kebaikan keseluruhan.

Pada tingkat Negara maka Negara dengan Dasar Pancasila menunjukkan kebersamaan dengan Rakyatnya. Oleh sebab itu Pemerintah Negara itu akan melakukan pengaturan yang membantu Rakyat mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Tidak hanya diberi tempat dan kesempatan kepada yang kuat dan kaya, tetapi juga kepada yang lemah. Maka terbentuklah banyak Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang bergerak di berbagai bidang usaha. Akan tetapi juga ada Usaha Besar , baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun Swasta, yang melakukan pengusahaan skala besar dan dengan itu memperoleh hasil besar. Namun antara Usaha Besar dan Usaha Mikro, Kecil Menengah juga ada hubungan yang saling mendukung. UMKM dapat menjadi subcontractor untuk UB dan bersama-sama membentuk satu grup. Sebagai contoh : di Jepang perusahaan otomotif seperti Toyota atau Honda membuat 30% dari keperluan pembuatan satu mobil, seangkan 70% dihasilkan oleh UMKM sebagai subcontractor. Sikap Kebersamaan menjadikan Grup itu menghasilkan performa tinggi. Dalam kenyataan pengusahaan berdasar Solidaritas tidak kalah dari yang berdasar Individualisme. Itu terbukti dari Daya Saing tinggi dari perusahaan2 Jepang dan Korea menghadapi perusahaan AS.

Sikap Pemerintah dari satu Negara dengan dasar Kebersamaan juga tak akan mengorbankan unsur-unsur Negara itu kepada pihak Negara lain, sekalipun mungkin secara langsung memberikan keuntungan. Seperti ketika harga beras di AS pada tahun 1980-an lebih murah dari harga beras Jepang, pemerintah Jepang tidak mau mengimpor beras AS sekalipun akan menurunkan harga beras di Jepang . Sebab kalau mengimpor beras AS itu para Petani Jepang akan menghadapi kesulitan dan akan berpengaruh pada produksi beras Jepang selanjutnya. Ketika itu pemerintah Jepang menolak semua desakan pemerintah AS untuk mengimpor berasnya, Namun di pihak lain para petani Jepang akan mengusahakan agar produksinya dilakukan dengan mutu tinggi dan tidak menjadi manja karena dilindungi pemerintahnya. Hal itu tidak hanya berlaku untuk beras tetapi juga komoditi lainnya. Dan itu membuat masyarakat Jepang mencapai kesejahteraan yang merata dan tidak hanya kaum kaya yang terus bertambah kaya. Hal serupa terjadi di Korea yang juga menganut prinsip Kebersamaan kuat.

Maka sebenarnya, kalau Pancasila digunakan dengan sungguh-sungguh untuk membangun Kesejahteraan, akan diperoleh Kesejahteraan Rakyat yang tidak saja tinggi nilainya, tetapi juga merata di seluruh Rakyat Indonesia.

PERAN PENDIDIKAN DALAM MEMBANGUN KESEJAHTERAAN

Pendidikan mempunyai peran penting dalam usaha Kebersamaan untuk membangun Kesejahteraan. Baik Pendidikan Keluarga maupun Pendidikan Sekolah harus turut serta dalam pelaksanaan peran itu.

Para warga masyarakat harus sejak dini dididik dan dibiasakan hidup berdasarkan Kebersamaan serta mempunyai Semangat Juang tinggi untuk membuat kelompoknya unggul dan sukses. Hal ini di Indonesia amat mendasar karena sejak lepas dari penjajahan pada tahun 1950 hal ini tidak pernah dilakukan secara serieus. Memang Presiden Sukarno selalu mengatakan pentingnya Nation and Character Building atau Pembangunan Bangsa dan Karakter bangsa. Akan tetapi dalam kenyataan tak pernah ada implementasi yang teratur dan konsisten. Maka sifat-sifat masyarakat terjajah yang negatif, seperti rasa kurang harga (inferiority complex ) masih kuat menghinggapi banyak warga kita. Kurang ada Semangat Juang yang terbukti dalam Perjuangan Kemerdekaan ketika hanya sebagian kecil jumlah bangsa benar-benar melawan Belanda. Sedangkan mayoritas bangsa tunggu hasil dan turut yang menang. Kemudian bangsa Indonesia dihujani Neo-Liberalisme dan Individualisme yang sama sekali tidak memperhatikan Kebersamaan. Bahkan Reformasi yang seharusnya mewujudkan kehidupan yang lebih kuat dasar Pancasila, malahan terbalik dan makin menyingkirkan Pancasila ketika tokoh-tokoh Reformasi mengamandemen UUD 1945 sampai empat kali. Jadi warga Indonesia dewasa ini masih jauh dari hidup dengan dasar Kebersamaan.

Di samping itu perkembangan umat manusia dan ilmu pengetahuan dan teknlogi yang bukan main cepatnya dan luasnya juga perlu dipahami Manusia Indonesia dengan cukup agar dapat hidup dengan efektif bersama dan menghadapi bangsa-bangsa lain. Ini pula harus dilakukan Pendidikan untuk membuat Manusia Indonesia siap dan cakap menghadapi tantangan Masa Kini dan Masa Depan.

Oleh sebab itu peran Pendidikan amat menentukan masa depan bangsa dan terwujudnya kesejahteraan. Pendidikan Keluarga mengharuskan para orang tua untuk mendidik putera putrerinya mempunyai karakter yang kuat untuk dapat sukses menghadapi kehidupan Masa Kini dan Masa Depan. Karakter kuat itu berusaha menjadikan anak-anak kita sejak dini terbiasa hidup dalam Kebersamaan. Dan mempunyai Semangat Juang yang tidak sudi menyerah menghadapi tantangan. Anak-anak yang senantiasa siap melakukan kegiatan dan mengimplementasikan berbagai kehendak yang dipikirkan dan diomongkan. Biasa hidup bersama anak-anak lain yang berbeda sifatnya dan beda pikiran dan perasaannya tanpa menimbulkan konflik yang merugikan. Sebaliknya malahan biasa mencapai sinergi dengan temannya berdasar Kebersamaan. Pendidikan agama membuat anak-anak kita terbiasa untuk selalu berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa. Hal ini memperkuat Semangat Hidup anak-anak kita sepanjang hidupnya. Sikap Cinta Tanah Air yang dibawa dalam Pendidikan Keluarga menjadikan pemuda-pemuda kita Patriot-Patriot yang tidak kalah kuat patriotism-nya dari pemuda Jepang, Korea dan China.

Di samping itu Pendidikan Sekolah melanjutkan dan menyempurnakan pendidikan karakter yang telah diperoleh anak di Keluarga. Selain itu memberikan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang memadai mutunya, sehingga pemuda Indonesia cakap menghadapi pemuda lain di dalam negeri maupun di berbagai bagian luar negeri. Kemudian membuat pemuda Indonesia juga cakap mengimplementasikan berbagai Iptek dalam kehidupan dengan Semangat Juang yang menghasilkan performa tinggi dan mencapai keunggulan. Juga perlu ada Pendidikan Olah Raga yang membuat para pemuda kita terbiasa bergerak dalam Team dan menghadapi tantangan.

Kemampuan bangsa Indonesia untuk menyelenggarakan Pendidikan yang bermutu dan meliputi banyak warga akan menjadi penentu bagaimana Masa Depan akan berkembang bagi bangsa kita. Apakah Indonesia akan Jaya atau takluk pada bangsa lain yang ingin menguasai negara kita.

PERAN PEMERINTAH HARUS MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN

Sudah dikemukakan bahwa Negara RI yang berdasar Pancasila harus dipimpin Pemerintah yang sungguh-sungguh yakin akan kebenaran Pancasila sebagai Pedoman untuk kemajuan, keadilan, kesejahteraan dan keselamatan bangsa Indonesia . Keyakinan itu memotivasi orang-orang yang memegang pemerintahan untuk senantiasa mencari usaha terbaik bagi kehidupan seluruh Rakyat Indonesia yang jumlahnya melebihi 250 juta orang.

Pemerintah itu menjalankan Kepemimpinan Nasional yang menciptakan dinamika kehidupan yang membawa kemajuan, keadilan, kesejahteraan dan keselamatan bagi bangsa Indonesia. UUD 1945 fasal 33 secara jelas dan tegas menyatakan hal-hal yang harus terwujud di Indonesia dalam membangun Kesejahteraan. Hal ini harus dilakukan setiap Pemerintah NKRI. Jiwa dari segala ketentuan yang dimuat UUD 1945 adalah Kebersamaan. Maka menjadi kewajiban Pemerintah NKRI untuk melaksanakan itu dan meninggalkan segala hal yang berbau Neo-Liberalisme dan Individualisme. Ini menyangkut pekerjaan yang luas, termasuk peninjauan kembali banyak produk perundang-undangan. Bahkan UUD 1945 yang selama Refomasi di-amandemen 4 kali harus dikaji kembali agar kita mempunyai Konstitusi yang benar-benar sesuai dengan Pancasila sebagai Dasar Negara.

Selain itu harus ada penyelenggaraan pemerintahan yang makin nyata menuju kepada terwujudnya Pancasila sebagai satu Living Reality. Seperti adanya Pendidikan yang menjamin Masa Depan yang Jaya berupa Pendidikan Keluarga dan Pendidikan Sekolah yang telah diuraikan sebelumnya. Menjalankan Politik Dalam Negeri yang memotivasi seluruh Daerah yang banyak jumlahnya dan beda dalam banyak hal senantiasa sadar bahwa untuk kepentingan masing-masing daerah harus tercipta Persatuan dalam Perbedaan. Akan tetapi juga diusahakan agar tidak ada Kesenjangan dalam kemajuan dan kesejahteraan antara Daerah-Daerah. Dan setiap Daerah serta pimpinan dan rakyatnya dimotivasi untuk menciptakan berbagai usaha yang menjadikannya menonjol dalam Kebaikan. Persaingan dalam mewujudkan Kebaikan itu akan menimbulkan dinamika Kehidupan Nasional yang positif bagi bangsa Indonesia. Menjadikan Indonesia lebih kuat Daya Juang dan Daya Saingnya.

Pemerintah menjalabkan Politik Luar Negeri yang menjamin berkembangnya Kepentingan Nasional Indonesia dalam dinamika internasional. Membuat Indonesia bersahabat dengan bangsa-bangsa lain dan bersama-sama mengusahakan Perdamaian dan Kesejahteraan Umat Manusia. Akan tetapi juga mampu menangkal bangsa lain berbuat hal-hal yang merugikan kepentingan bangsa Indonesia, apalagi yang hendak mengancam Kedaulatan NKRI.

Hal-hal ini dan diperkuat dengan kemampuan untuk senantiasa mengemnbangkan produksi dalam berbagai aspek kehidupan bangsa, seperti Pertanian, Kelautan, Industri, Pertambangan, Jasa dan lainnya, akan menciptakan Kesejahteraan yang bernilai tinggi dan merata di seluruh Rakyat Indonesia. Keberhasilan Pemerintah Presiden Jokowi untuk divestasi Freeport sehingga NKRI memperoleh 51% dalam pemilikan tambang Freeport amat membesarkan hati. Hendaknya hal ini diikuti dengan tindakan lain di bidang Pertambangan, khususnya Minyak dan Gas Bumi, yang belum sesuai dengan fasal 33 UUD 1945. Juga keberhasilan melakukan tindakan terhadap Illegal Fishing perlu dilanjutkan agar kekayaan laut Indonesia memberikan kontribusi lebih besar kepada Kesejahteraan Rakyat.

Bersamaan dengan itu langkah demi langkah segala usaha itu terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan menyentuh serta berdampak pada seluruh lapisan masyarakat. Kemiskinan semakin berkurang dan Kesenjangan makin mendekati tingkat Gini 0. Maka akan kita capai kenyataan bahwa :

DENGAN PANCASILA TELAH TERWUJUD KESEJAHTERAAN DAN KEJAYAAN BANGSA INDONESIA !

Jakarta, 15 Juli 2018

Sayidiman Suryohadiprojo

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post