Cara Berfikir sebagai Sumber Persoalan

Posted by Admin on Monday, 18 November 2002 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

UMAT manusia sudah biasa menghadapi persoalan. Akan tetapi rasanya belum pernah kita terlibat dalam begitu banyak persoalan seperti sekarang. Perasaan demikian tidak timbul hanya karena kita sebagai bangsa sedang benar-benar dalam keadaan yang serba terpuruk. Kalau kita mengamati kondisi internasional tidak kurang pula persoalan yang dihadapi dunia.

Di antara semua persoalan itu yang paling menonjol dan mempengaruhi perasaan kita adalah banyaknya penggunaan kekerasan untuk memaksakan kehendak atau untuk memperoleh sesuatu untuk memenuhi kepentingan sendiri.

Setelah Perang Dunia II selesai kaum idealis Barat memprediksi bahwa tidak akan terjadi perang lagi. Mereka mengira bahwa umat manusia cukup kapok untuk berperang melihat besarnya jumlah korban di semua pihak, baik yang kalah maupun yang menang. Akan tetapi prediksi itu meleset sekali, karena belum ada lima tahun perang berakhir sudah mulai timbul konfrontasi antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet yang tadinya bersekutu dalam mengalahkan Jerman dan Jepang.

Konfrontasi itu berkembang menjadi Perang Dingin yang langsung mengakibatkan satu perang panas di jazirah Korea dengan korban yang besar, baik dalam bentuk manusia maupun benda. Perang Dingin memuncak dengan kedua pihak mengakumulasi senjata nuklir demikian banyak sehingga dapat digunakan untuk menghancurkan planet Bumi berkali-kali.

Baru pada tahun 1990 Perang Dingin berakhir dengan kemenangan blok Barat di bawah pimpinan AS. Kembali kaum idealis mengatakan bahwa ini adalah akhir dari semua macam konflik.

Akan tetapi salah lagi perkiraan itu, sebab perang antara Israel dan Palestina tidak selesai dan malahan kemudian AS sendiri dikejutkan oleh serangan ke jantung kekuasaannya ketika gedung World Tarde Center (WTC) di New York dan Pentagon di Washington DC dipukul kaum terroris. Jawaban AS jelas: Perang terhadap Terrorisme. Barangsiapa tidak berpihak ASa dianggap berpihak terroris. Afganistan diserang dan sekarang AS siap untuk menyerang Irak tanpa peduli apakah disetujui PBB dan ada negara lain mendukung.

Di dalam negeri penggunaan kekerasan malahan bukan barang aneh. Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia, kekerasan belum pernah ada hentinya. Apalagi sekarang setelah reformasi kekerasan berbentuk macam-macam dengan tingkat kekejaman yang tinggi.

Ada dalam bentuk perlawanan daerah terhadap pusat seperti Aceh yang tentu dibalas pula dengan kekerasan oleh yang dilawan. Ada serangan fisik etnik yang satu terhadap etnik pendatang seperti di Kalimantan Barat dan Tengah. Ada pula perkelahian dengan senjata antara kelompok Islam dan Kristen di Maluku dan Sulawesi Tengah. Dan yang tidak kalah kejam adalah perbuatan kriminal yang terjadi di mana-mana di Indonesia.

Mengamati penggunaan kekerasan yang dilakukan oleh bangsa yang menamakan diri paling maju dan beradab sampai pada perbuatan kriminal perampok, kita mau tidak mau bertanya diri apa yang sesungguhnya menjadi sebab orang berbuat kekerasan itu. Maka kita perlu mempertimbangkan pendapat pakar-pakar yang dapat diandalkan.

Salah satu kesimpulan yang dapat ditarik dari pendapat para pakar adalah bahwa sebenarnya cara berpikir manusia merupakan sebab utama kekerasan itu. Edward de Bono, yang dikenal sebagai pakar dengan reputasi internasional dalam creative thinking (berpikir kreatif) mengatakan dalam satu TV-talkshow yang dimuat buku Closer to Truth, Challenging Current Belief, (diedit Robert Lawrence Kuhn) antara lain : On the whole, our thinking has been rather disastrous. The three Greeks, Socrates, Plato, Aristotle, really wrecked Western thinking, which has been concerned only with truth, analysis, judgment, argument. This type of thinking has led to persecutions, wars, discrimination, programs. What we’ve left out is "What can be?" thinking. "What can be?" thinking is design, creativity, synthesis -putting things together to achieve something new. We’ve had a very limited thinking system – a system excellent in itself, but only as the front left wheel of a motorcar is excellent. By itself, it’s inadequate.

Ia mengatakan lebih lanjut bahwa mengutamakan otak bagian kiri memang telah mendatangkan kemajuan besar bagi dunia Barat, tetapi juga merupakan sumber konflik. Pembelajaran cara berpikir harmonis dapat sangat mengurangi terjadinya konflik. Ia menceritakan, bahwa di pertambangan Afrika Selatan biasa terjadi perkelahian, pertentangan dan lain konflik antara tujuh macam suku sebanyak 210 kali dalam sebulan.

Setelah diadakan pembelajaran cara berpikir harmonis jumlah perkelahian itu menyusut drastis sampai hanya empat kali dalam sebulan. Hal serupa telah dilakukannya untuk mengakhiri perkelahian antara pelajar di London.

Memperhatikan pandangan De Bono tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan pembelajaran cara berpikir yang tepat dapat diatasi penggunaan kekerasan. Yang diperlukan adalah membiasakan berpikir yang mengharmonisasikan otak kiri dan kanan.

Akan tetapi hal itu memerlukan pembelajaran ulang secara luas di seluruh umat manusia. Sebab dengan kekuasaan dunia Barat atas umat manusia, cara berfikir Barat yang diuraikan de Bono turut meluas di mana-mana. Malahan orang yang tidak berpikir seperti itu dinilai terbelakang dan tidak mungkin mencapai kemajuan, apalagi kesejahteraan. Tidak mudah mengubah paradigma lama yang sudah amat mapan, apalagi telah mendatangkan kesejahteraan tinggi sekalipun juga mengakibatkan kesengsaraan orang banyak.

Satu contoh yang kecil: adalah kesulitan yang dihadapi Dr Husen Achmad Md PhD untuk memperoleh idzin dari Dinas Kesehatan Jawa Barat untuk kliniknya yang mengadakan pengobatan holistik. Padahal praktiknya telah membuktikan keberhasilannya pada banyak orang yang gagal diobati secara konvensional. Juga orang yang terpelajar pun tidak mudah diajak meninggalkan paradigma lama sekalipun dengan perubahan akan diperoleh kemajuan yang menguntungkan.

Apalagi untuk mengurangi konflik dan penggunaan kekerasan antarbangsa. Menurut John J Mearsheimer dalam bukunya The Tragedy of Great Power Politics, sudah merupakan sifat negara, khususnya negara besar (great power) untuk mengejar hegemoni. Kalau belum ada keyakinan bahwa dirinya sepenuhnya berkuasa, maka negara besar tidak akan berhenti untuk meluaskan kekuasaannya, termasuk dengan penggunaan kekerasan dan perang.

Berdasarkan teori itu dapat kita pahami mengapa AS begitu bernafsu untuk menyerang Irak dan setelah Irak mungkin (pasti ?) menyerang negara lain yang ia belum kuasai sepenuhnya. Baru akan berhenti kalau akhirnya kehabisan napas karena berlebihan usahanya (overextended) sebagaimana dikemukakan oleh Paul Kennedy dalam bukunya The Rise and Fall of Great Powers.

Meskipun mungkin sulit untuk melakukan usaha luas dalam pembelajaran ulang dalam cara berpikir, namun kiranya kita di Indonesia perlu mulai melaksanakannya. Khususnya di antara kita yang menyetujui konsep pemikiran itu perlu dimulai kegiatan bersama untuk memperoleh hasil yang kongkret dan makin meluas.

Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0211/18/opini/cara34.htm

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post