Regenerasi ABRI, dan Teori Urut Kacang

Posted by Admin on Monday, 12 August 1996 | Wawancara

”Yang Dipilih Hanya Orang Kepercayaan”

Jawa Pos, 12 Agustus 1996

Jakarta, JP.-
Munculnya generasi baru ABRI yang menduduki jabatan-jabatan strategis memunculkan pula beberapa penafsiran. Ada yang menganggap regenerasi kali ini berjalan di luar tradisi ABRI, karena nuansa politiknya yang lebih kental.
   
Beberapa bintang muda yang melesat adalah Brigjen Johny Lumintang (Akmil 70), Brigjen Soesilo Bambang Yudhoyono (Akmil 73), dan Brigjen Syafri Syamsuddin MBA (Akmil 74). Mereka inilah yang diperkirakan akan mengendalikan kepemimpinan ABRI di masa depan.
   
Jenderal-jenderal muda itu memang menyalip banyak pendahulunya yang lebih senior. Mereka yang lulusan Akmil 66, 67, 68, 69, masih mandek, kecuali Mayjen TNI Agum Gumelar yang kini bersama generasi baru itu mendapatkan posisi panglima Kodam VII/Wirabhuana.

Pengamat militer dan mantan Deputi KSAD dan Gubernur Lemhannas Letjen (pur) Sayidiman Suryohadiprojo mempunyai pandangan tersendiri mengenai fenomena baru ini. Berikut petikan wawancaranya dengan Jawa Pos.
   
Bagaimana pengamatan Anda soal naiknya generasi baru ABRI ke pucuk pimpinan sekarang ini?

Apanya yang baru? Generasi baru ABRI itu naik sudah sejak 1983. Sekarang ini, misalnya pimpinan ABRI menaikkan generasi baru seperti Johny Lumintang, Soesilo Bambang Yudhoyono, adalah sesuatu yang normal dan wajar. Perwira lulusan 70, 73, dinaikkan, itu tidak soal.
   
Jadi, Anda sendiri menilainya bukan sesuatu hal yang baru?
     
Kalau saya sih nggak. Masalahnya kalau sudah jabatan Pangdam, yang dipilih hanya orang kepercayaan. Dan, tidak perlu lagi harus menggunakan teori urut kacang. Memang tidak bisa, kalau yang baru pangkatnya letnan kok ingin jadi Pangdam, ya tidak bisa dong ha..ha..ha. Tapi, kalau yang dipilih itu pangkatnya sudah brigjen, ya berarti unsur kepercayaan yang menonjol. Yang bisa dipercaya itu tentunya mereka sudah pilihan. Di negara mana pun kok sudah biasa seleksi model begitu.
   
Masa hal itu biasa? Kalau yang diganti lulusan AMN 65, penggantinya lulusan 73, apakah tidak menimbulkan kesenjangan dan pertanyaan besar bagi perwira-perwira yang dilangkahi adik- adiknya?
     
Sekali lagi, model seleksi kepemimpinan di ABRI seperti yang terjadi sekarang di negara mana pun hal biasa. Memang di negara kita kesannya belum normal. Tapi, kalau dilihat di Jepang, hal semacam itu tidak menjadi masalah. Orang satu kelas ada yang diangkat menjadi pimpinan tertinggi. Katakanlah lulusan 67 jadi orang nomor satu di angkatan darat, perwira-perwira lulusan 67 lainnya secara suka rela mengundurkan diri. Kalau kita, tidak begitu. Maka, saya bilang, kalau pergantian itu diambilkan dari generasi yang lebih muda (lulusan 73), tidak berarti timbul stagnasi kader di ABRI.
   
Mengapa? Pada model seleksi untuk kolonel ke atas, kenaikan pangkatnya dilakukan secara selektif. Apalagi ini memilih perwira yang ditempatkan menjadi panglima di daerah atau orang nomor satu di TNI AD dan di Mabes ABRI misalnya, tentunya kenaikan itu dilakukan sangat selektif. Tidak mungkin dong semuanya menjadi panglima atau ingin menjadi orang nomor satu di TNI AD.
   
Tapi yang harus menjadi pertimbangan, apakah regenerasi model itu tidak akan menimbulkan perwira-perwira yang dilangkahi itu putus asa. Karena, tidak mendapat jatah?
     
Lho, nggak boleh begitu. Masa orang sudah tingkat perwira tidak mengerti jenjang kenaikan pangkat dan jabatan? Soal ini nggak ada istilah jatah-jatahan. Semua perwira itu sudah tahu penempatan di pos-pos penting itu. Apalagi di ABRI itu kan ada Dewan Jenjang Kepangkatan, ada juga Wanjakti –Dewan Jenjang Kepangkatan Perwira Tinggi. Jadi, mestinya perwira-perwira lainnya yang tidak terpilih nggak perlu berpikir macam-macam. Apalagi, soal jatah-jatahan. Nggak ada itu perwira yang memiliki pemikiran begitu. Mereka sudah tahu sendiri kok.
   
Seperti pengalaman beberapa bulan lalu, ketika tiga letnan jenderal –Letjen TNI Moh Ma’ruf (mantan Kassospol), Letjen TNI Sofian Effendi (mantan Asop Kasum ABRI), dan Letjen TNI Soerjadi (mantan Wakasad)– tidak mendapat tempat, semuanya ramai-ramai menggunjing kok ada tiga jenderal yang menganggur?
     
Yang ramai kan di luar. Yang bersangkutan tidak apa-apa kok.
   
Sekarang kembali lagi pada generasi baru yang dijadikan panglima itu, apa sudah waktunya dan layak? Atau hanya karena penilaian sekilas saja?
     
Ah…saya rasa tidak begitu. Mereka yang diangkat ini orang kepercayaan Pak Harto semua. Di mata Pak Harto, mereka itu sudah tepat. Untuk jabatan tinggi memang begitu, harus diambil orang kepercayaan.
   
Apakah naiknya Bambang Yudhoyono ini ada unsur politisnya, misalnya ingin mempercepat Prabowo bisa naik bintang dua. Sebab, kalau Prabowo lebih dahulu ke bintang dua, kesannya tidak lazim. Karena, Bambang yang lulusan Akmil 73 belum naik, kok Prabowo yang lulusan Akmil 74 sudah bintang dua?
     
Ah..biasalah kalau ada orang yang ngomong begitu. Saya rasa ndak ada lah yang menilai begitu. Di Singapura saja ada brigjen yang usianya baru 33 tahun. Prabowo sekarang berapa? Sudah 44 tahun kan?
   
Satu lagi, apakah naiknya generasi baru ini ada kaitannya dengan pengamanan Pemilu 1997 dan SU MPR 1998?
     
Nggak bisa dikaitkan secara langsung. Nggak ada pemilu, nggak ada SU MPR, situasinya harus tetap dipelihara menjadi aman agar stabilitas terkendali. Memang banyak orang mengkritik pendekatan stabilitas, tapi kalau tidak ada stabilitas mana mungkin bisa membangun. Kan begitu, simpel toh? (saf)

Source : http://www.jawapos.co.id/indones/jawapos/news/today/headline/depan-5.htm

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Comment by dedi
2010-09-22 21:24:24


ya semuanya sudah dikatakan wajar-wajar saja. yang korupsipun begitu di penjara dapat pasilitas hebat. ya wajar-wajar saja orang dia yang punya duit.

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post