Kegelisahan Sayidiman di Usia 80 Tahun

Posted by Admin on Monday, 29 October 2007 | Artikel

Oleh Suradi, Wartawan Sinar Harapan

Jakarta – Transisi politik dan demokrasi belum juga tuntas. Implikasi krisis ekonomi dan politik di penghujung masa Orde Baru masih terjadi hampir di semua sektor menggelisahkan banyak pihak, termasuk Sayidiman Suryohadiprojo. Kalau banyak orang mengungkapkan kegelisahan tersebut dalam ruang seminar, diskusi, dan bentuk obrolan lainnya, mantan Dubes RI untuk Jepang (1973-1974) dan mantan Gubernur Lemhannas (1974-1978) ini menuangkannya dalam buku berjudul Rakyat Sejahtera Negara Kuat.
Dalam buku setebal 415 halaman yang diluncurkan Senin (29/10) sore, Sayidiman mengupas sejumlah persoalan, mulai dari sejarah lahirnya bangsa ini, masalah pembangunan sumber daya manusia (SDM), sistem pendidikan yang masih amburadul, pengamanan energi dan kelestarian lingkungan, tentang pengembangan kebudayaan, pembangunan TNI, etika politik di kalangan elite, ekonomi yang belum mensejahterakan rakyat, dan posisi Indonesia dalam kancah global.
Kegelisahan yang diungkapkan tersebut disertai jalan keluar untuk mengatasinya. “Sampai saat ini belum ada upaya yang serius untuk mensejahterakan rakyat. Para pemimpin lebih banyak bicara ketimbang mengimplementasikan konsep dan gagasannya,” kata lelaki kelahiran Bojonegoro, 21 September 1927 dalam perbincangan dengan SH, di rumahnya, Jalan Prapanca II/5, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.
Mantan Wakil KSAD ini termasuk rajin menulis buku dan masih aktif mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Meski usianya sudah sepuh, fisiknya masih prima. “Saya menjaga kebugaran dengan berolah raga,” katanya.

Jago Konsep, Minim Praktik
Dari sekian problem bangsa yang menggunung, kata Sayidiman, sebenarnya bisa diatasi kalau saja para pemimpin mau dan sungguh-sungguh membuat rakyatnya sejahtera. Jalan menuju kesejahteraan rakyat itu memang panjang dan sektor-sektor yang mengarah ke sana harus diatasi. Caranya, ya dengan langsung berbuat dan bukan cuma berucap.
“Sebenarnya para pemimpin kita mulai dari Presiden Soekarno hingga Yudhoyono semua pandai dan mampu merumuskan konsep-konsep pembangunan bangsa.

Sayangnya, konsep itu lebih banyak diwacanakan dan kurang dibumikan sebagai sebuah kebijakan terarah dan terukur. Mungkin Presiden Soeharto yang agak lumayan, meski pendidikannya terbatas, tapi kemampuan implementasinya cukup bagus dibanding presiden lain,” tuturnya.
Dia menyebutkan Soekarno yang secara original melahirkan konsep Pancasila, ternyata juga tidak mampu mempraktikkan falsafah Pancasila dalam kehidupan politik dan kenegaraan. Begitu juga Presiden saat ini, Yudhoyono, yang menguasai berbagai ilmu dan bahasa, masih asyik dengan wacana konsep perubahan. “Yang kita butuhkan, praktik atau implementasi gagasan perubahan, misalnya bagaimana secepatnya mengurangi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan agar negara kita makin kuat,” kata Sayidiman.
Bagaimana peluang Yudhoyono mendatang? “Saya tidak bicara ke arah sana. Yang jelas, masih ada waktu bagi Presiden untuk membuat prestasi. Prestasi itu adalah membuat rakyat makin sejahtera dan bukan makin miskin. Kalau rakyat sudah sejahtera, negara akan kuat,” katanya.
Kegelisahan Sayidiman juga menyangkut soal kebudayaan. Padahal dari sini kita bisa membangun manusia Indonesia yang kuat, cerdas, dan tidak mementingkan diri sendiri atau kelompok. Sayangnya, saat ini budaya harmoni atau gotong royong sudah mulai ditinggalkan, bukan saja oleh masyarakat perkotaan yang makin individualis–bahkan lebih individualis dari bangsa lain–juga di kalangan masyarakat pedesaan. Salah satu sebabnya adalah kemiskinan.
“Kita harus membudayakan kembali sikap gotong royong dan membantu sesama. Pemerintah juga harus menerapkan politik kebudayaan yang jelas. Mau dibawa ke mana budaya Indonesia ini?” tanyanya.
Sikap budaya tersebut menurut Sayidiman juga menjalar ke kalangan politisi. Era persaingan multipartai tidak diimbangi dengan sikap dan etika politik yang santun. Sebaliknya para politisi asyik saling serang dan menyalahkan.
“Mengapa mereka tidak bekerja sama untuk membangun sistem politik yang baik dan untuk kemajuan bangsa ini?” tanyanya lagi.

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by M.HARJONO KARTOHADIPRPDJO
2008-09-14 13:07:42


1. Mengenai kepemimpinan yg terjelma setelah adanya reformasi adalah merupakan hasil dari kwalitas pendidikan Orde Baru.Dimana pendidikan kebangsa an ditekankan melalui P4 yang dipaksakan dan dilakukan secara doktriner,sehingga makna yang sesungguhnya dari isi yang sangat berharga dari Pancasila tidak mengena pada benak dan hati sanubarinya.Selain diikuti contoh2 yang sangat contra- dictive dari kehidupan dan perangai dan kehidupan pemimpin2 negara pada masa itu. Inilah yang mengakibatkan kaum muda yang sekarang memimpin tidak memiliki landasan yang kuat didalam memikirkan pembangunan untuk kepentingan bangsanya,terutama untuk berpikir dalam kebersamaan sehingga menjadi berprilaku idividulistis.
2. Penekanan pembangunan Orde Baru yang mengutamakan pembangunan ekonomi dengan mengutamakan “pengembangan ekonomi/economic groth” dengan harapan adanya”pelimpahan/tricle down”, tanpa melihat keadilan dan pemerataan pada era Orde Baru kelihatannya/dianggap berhasil dan dinikmati sebagian kecil bangsa kita,bahkan berkembang menjadi kapitalis2 yg memilki klas regional. Keadaan semacam ini menjadi tujuan hidup dari kaum muda,bahkan tidak memahami akibatnya dimasa akan datang, bahkan mereka melihat telah disanjung dan memperoleh pujian dari Bank Dunia dan IMF atas keberhasilannya.Maka pemimpin2 saat ini masih mencontoh yang telah diperbuat oleh Senior2 nya.Selain sistim demokrasi yg tumbuh saat ini memerlukan dana yg besar bagi kedudukannya di DPR dan Pemerintahan. Pernilaian suksesnya seseorang pejabat atau ataupun saudagar dilihat dari kekayaan probadinya bukan dari karyanya lagi. Sehingga istilah pengusaha pejuang bagi pertumbuhan bangsanya sudah tidak populer lagi.Era Dasaad, Hasyim Ning, Raman Thamin , Soedarpo dll. sudah tidak ada lagi. Yang ada dan tumbuh adalah pedagang kaya dengan rumah besar melebihi kebutuhannya dan pesta besar bagi suatu hajat.Hal ini adalah tumbuh sejak Orde Baru dan mencapai puncaknya pada saat ini.
Mereka tidak memikirkan proyek untuk pembangunan negara , tetapi proyek untuk kekayaan individu. Hal ini tumbuh dari perpaduan kekuasaan dan wira swasta.Lihat:Jumlah armada milik warga negara kita jauh bertambah ( dengan bendera nasional maupun asing)dibandingkan pada era thn 1960-1980, tetapi tidak membawa arti strategis pada pertumbuhan perekonomian nasional, membangun armada sekedar cari untung se-besar2nya.
3. Hingga saat ini sejak Indonesia merdeka belum ada pemimpin Indonesia yang memperhatikan nasib petani/nelayan dengan sungguh2, yang jumlahnya 60% dari Bangsa Indonesia. Sehingga tumbuhnya popularitas PKI dan mendapat suara cukup besar pada pemilu awal thn 1950 an , karena PKI menggembar gemborkan janji, jika mereka menang akan memberikan petani/nelayan kehidupan lebih baik dng membagi tanah. Tetapi sayang pemerintahan Pres.Suharto pada awal Orde Baru tidak melihat masalah policy yang disuarakan PKI itu adalah yang ditunggu-tunggu oleh rakyat kecil, walaupun perlu dilakasana kan lebih manusiawi dan sesuai budaya bangsa Indonesia.Dilain pihak petani dipicu untuk menaikan produksi beras , tetapi tujuannya bukan untuk memamurkan petani, tetapi untuk menjaga supaya inflasi rendah dengan tujuan supaya bunga bank dapat sesuai bagi perkembangan industri. Bukan untuk memperkaya dan memakmurkan petani.Pada benak para pemimpin saat ini masih sama , mereka hanya mengumbar janji pada petani untuk memberikan kemakmuran supaya dapat memperoleh popularitas dan suara di pemilu pada saat kampanye.

Pendidikan kesadaran berbangsa dan bernegara perlu dikaji ulang, dan ditanamkan azas kebersamaan dan gotongroyong yang telah/ masih kita miliki dipedesaan terutama diluar Jawa. Bhineka Tunggal Ika yang ada pada jiwa Pancasila,terutama setelah diterapkannya otonomi daerah pada sistim pemerintahan kita perklu mendapatpengkajian, penetrapan dan penerangan yang sempurna. Kekurangan,kesalahan dan kelemahan sistim P4 perlu dikaji dan diperbaiki.Pada saat ini masarakat golongan bawah sudah banyak merasakan keganjil an dan rasa ketidak adilan dari perobahan kehidupan yang telah menuju liberalisme dari akibat individulisme yang yang dikembangkan para pemimpin saat ini,yang tidak memahami kehidup an gotongroyong karena kesalahan indoktrinasi pada jaman Orde Baru. Kemiskinan semakin besar,pembangunan telah menggusur kehidupan mereka , lihat bencana Lapindo, selain tumbuhnya Mall,Dept.Store, Super Market,Bank asing yang merupakan nett work dari pedagang asing dan sangat mematikan pedagang lokal.
Memang pada akhirnya kita memerlukan pemimpin yang kuat, terutama memiliki kharisma yang luas pada masarakat Indonesia dan memiliki pandangan mementingkan kesejahteraan rakayat dari golongan bawah,selain berpengetahuan kedudukan suatu kekuatan bangsa dalam kehidupan globalisasi. Karena demokrasi sudah menjadi suatu eforia dari kehidupan bangsa kita saat ini.

Comment by Sayidiman Suryohadiprojo
2008-09-27 09:01:43


Terima kasih No, atas tanggapanmu. Saya setuju dengan pendapatmu. Akan tetapi meskipun keadaan Indonesia sekarang jauh dari menyenangkan, kita dan khususnya kaum muda jangan putus asa. Marilah kita terus memperjuangkan Indonesia yang maju, adil dan sejahtera dengan Pancasila sebagai pedoman dan landasan perjuangan. Memang perjuangan tidak mudah dan tidak ringan, sebab yang kita hadapi adalah kekuatan2 yang mapan dan kuat modalnya. Akan tetapi dengan niat yang baik dan kuat serta komitmen penuh pasti perjuangan kita akan berhasil. Salam.

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post