Silaturahmi Elite Hanya untuk Siasat Kekuasaan

Posted by Admin on Thursday, 25 October 2007 | Artikel

Oleh Suradi, Wartawan Sinar Harapan

Jakarta-Silaturahmi yang kini makin aktif dilakukan para elite politik memang baik. Namun, sampai saat ini langkah itu lebih untuk meraih simpati publik dan merupakan bagian dari siasat mencari dukungan guna meraih kekuasaan.
Elite partai belum sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan rakyat dan hanya kepentingan kelompok saja yang diutamakan.
Penilaian kritis tersebut dikemukakan mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan juga mantan Wakasad Sayidiman Suryohadiprojo (80) dalam perbincangan dengan SH di kediamannya, kawasan Jalan Prapanca, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (24/10) sore.
Seharusnya para elite politik ini mampu membangun budaya politik yang mengutamakan kepentingan rakyat, karena mereka mendapat mandat dari rakyat. Tugas utama mereka, dan juga tugas semua kalangan, adalah bagaimana membangun social trust atau tanggung ja-wab sosial sehingga masyarakat tergerak juga untuk membantu yang lain.
Saat ini, para politisi memang aktif melakukan silaturahmi dalam kaitan penjajakan kerja sama atau koalisi, terutama untuk proses pencalonan presiden dan wakil presiden menyongsong pemilu presiden 2009.

Tidak Berubah
Lelaki kurus tinggi yang sudah berusia 80 tahun namun masih kelihatan fit ini mengungkapkan kegelisahannya akan perkembangan masyarakat Indonesia yang kian tertingal dari bangsa-bangsa lain, termasuk dari Malaysia dan bahkan Vietnam. Kegelisahan itu di-tuangkan dalam buku yang baru saja diterbitkan, Rakyat Sejahtera Negara Kuat: Mewujudkan Cita-cita Proklamasi 17 Agustsu 1945.
Dalam kaitan itu, dia mengungkapkan semua pihak, terutama elite politik, harus melakukan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menjadikan negara Republik Indonesia ini kuat. “Semua orientasi harus diarahkan ke sana sehingga perubahan yang nyata bisa dinikmati bersama oleh rakyat,” katanya berapi-api.
Membandingkan kehidupan partai politik di masa Orde Baru yang hanya tiga kekuatan politik—Golkar, PPP, PDI—dan zaman mul-tipartai di era reformasi ini, Sayi-diman menyatakan tidak ada perbedaan, karena orientasi elite partai tetap pada kepentingan kelompoknya. Jika orientasi mereka pada rakyat, pasti saat ini rakyat sudah merasakan manfaatnya.
Ditanya soal peran pemerintah, dengan tegas Sayidiman menyatakan Presiden Yudhoyono masih bermain pada tataran konsep. “Untuk konsep dan soal pemerintahan, Presiden memang hebat, tapi bagaiaman implementasinya di lapangan? Inilah yang menjadi kendala sampai saat ini, manusia Indoensai lebih berkutat pada konsep dan kurang implementasinya,” ujarnya sambil menambahkan bahwa soal itu bukan hanya pada Presiden Yudhoyono saja, sejak masa awal Soekarno pun hingga Soeharto sama.
Bedanya pada masa Soeharto, penguasa Orde Baru itu lebih bagus dalam mewujudkan konsep pemerintahannya, walaupun akhirnya terjerumusnya juga akibat terlalu membela anak-anak dan kroninya. n

Source : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0710/25/nas07.html

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post