Hubungan Kondisi Masyarakat dengan Pendidikan

Posted by Admin on Monday, 29 March 2004 | Opini

Oleh Sayidiman Suryohadiprojo

AMAT kuat rasa ketidakpuasan banyak pihak atas keadaan pendidikan di Indonesia. Semua orang menginginkan agar pendidikan diperbaiki. Ada yang melihat perbaikan pendidikan dari sudut perbaikan mutu guru yang memerlukan perbaikan pendidikan guru, pembinaan karier, dan penghasilan guru. Ada pula yang melihatnya dari manajemen sekolah dan manajemen pendidikan umumnya.

Bahkan, ada pakar pendidikan mengemukakan bahwa tidak mungkin ada perbaikan dalam kepemimpinan bangsa kalau mayoritas sekolah dasar dan sekolah menengah belum mencapai mutu sekurang-kurangnya sama dengan HIS (Hollandsch inlandsche school) dan ELS (Europeesche lagere school) untuk sekolah dasar serta MULO (meer uitgebreid lager onderwijs), AMS (algemeene middelbare school), dan HBS (hoogere burger school) untuk sekolah menengah pada masa penjajahan Belanda.

Tanpa menyanggah validitas berbagai pendapat tersebut, perlu dikemukakan bahwa yang mungkin lebih mendasar adalah kondisi masyarakat. Di satu pihak pendidikan bertujuan untuk menciptakan kondisi masyarakat yang lebih baik, lebih maju, dan lebih sejahtera bagi rakyat seluruhnya. Namun, untuk itu, pendidikan memerlukan pegangan dan pedoman ke arah mana masyarakat akan bergerak. Pandangan dan sikap hidup apa yang dikehendaki masyarakat dalam perjuangannya mencapai tujuannya. Hal ini berpengaruh kuat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.

Dalam masyarakat Amerika ada keyakinan bahwa liberalisme adalah yang paling cocok untuk membawa kemajuan. Oleh sebab itu, pendidikan paling rendah sampai yang paling tinggi berpedoman pada pendidikan liberal. Sebaliknya dulu di bekas Uni Soviet pendidikan berpedoman pada komunisme yang berbeda sekali dengan pandangan liberal. Di Jepang pandangan hidup yang mengutamakan solidaritas masyarakat berpengaruh kepada seluruh aspek kehidupan dan juga menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pendidikan. Terbukti bahwa masing-masing dapat menghasilkan pendidikan bermutu bagi masyarakatnya. Sebab, pedoman itu membawa perkembangan pemikiran dan perasaan yang sesuai dengan pandangan masyarakatnya. Itu kemudian menjadi kekuatan utama dalam meraih dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan begitu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidaklah netral, melainkan berkaitan erat dengan pandangan dan sikap hidup masyarakat. Tidak dapat dikatakan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bekas Uni Soviet atau Jepang lebih rendah daripada di Amerika. Kalaupun ada perbedaan, itu semata-mata terletak pada besarnya investasi dalam lembaga pendidikan atau penelitian tertentu.

SEBENARNYA bangsa Indonesia secara resmi telah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Itu berarti bahwa pendidikan di Indonesia harus berpedoman pada Pancasila yang meliputi sistem nilai yang luas. Memang secara formal hal itu dinyatakan dalam Undang-Undang Pendidikan maupun berbagai ketentuan lainnya. Akan tetapi, dalam kenyataan, Pancasila belum menjadi pandangan dan sikap hidup masyarakat. Sejak Indonesia berdiri sebagai negara merdeka, bangsa kita telah dibombardir dengan berbagai ideologi dan pandangan hidup yang berbeda dari Pancasila. Banyak pihak berkepentingan untuk menguasai alam pikiran bangsa Indonesia. Sedangkan dalam tubuh bangsa kita sendiri ada yang lebih condong kepada pandangan hidup yang berbeda dari Pancasila.

Akibatnya adalah bahwa dalam masyarakat Indonesia terjadi pergulatan pemikiran dan perasaan antara berbagai pandangan hidup itu, yaitu yang terutama pandangan berdasarkan Pancasila, liberalisme-kapitalisme, sosialisme, dan berbagai agama. Memang Pancasila sebagai dasar negara adalah satu ideologi terbuka. Akan tetapi, tidak berarti bahwa pengertian "terbuka" sama dengan menggantikan Pancasila dengan pandangan hidup lain, apalagi yang berbeda atau bertentangan dengan Pancasila. Bahwa hal ini bukan hal yang berlebihan telah dibuktikan ketika beberapa waktu yang lalu seorang intelektual yang bergelar doktor ilmu politik (jadi bukan sembarang orang!) secara lugas mengajukan pendapat untuk membuang saja Pancasila.

Sebaliknya, Prof Dr Sri Edi Swasono, Prof Dr Mubyarto, dan beberapa pakar ekonomi lain mengatakan bahwa pendidikan ilmu ekonomi di semua perguruan tinggi berpedoman pada liberalisme dan pandangan neoklasik sehingga mengabaikan pandangan ekonomi yang dikehendaki Pancasila. Akibatnya, pendidikan itu menghasilkan pakar-pakar ekonomi yang tidak sesuai, dan karena itu kurang siap, untuk menciptakan perkembangan ekonomi yang cocok bagi bangsa Indonesia.

Akan tetapi, yang lebih mendasar adalah pendidikan di taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah. Apabila pada tingkat itu kita tidak dapat mewujudkan landasan berpikir dan berperasaan yang sesuai dengan Pancasila, maka hasil pendidikan tinggi juga sukar memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

ADA orang mengatakan bahwa pendidikan dan ilmu pengetahuan itu bersifat universal. Semua ideologi dan pandangan hidup harus menyesuaikan diri dengan sifat universal itu. Mereka mengatakan bahwa apa yang putih ya putih, merah ya merah, baik bagi orang yang berfaham Pancasila, liberalisme-kapitalisme atau sosialisme. Namun, pandangan demikian sudah dijungkirbalikkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan sendiri. Bukankah Teori Kuantum mengatakan bahwa sesuatu dapat bersifat cahaya atau gelombang tergantung dari yang melihatnya? Bukankah dengan begitu juga segala aspek kehidupan tergantung dari yang melihatnya?

Maka, selama di Indonesia terjadi pergulatan faham dan pandangan hidup, akan terus berlangsung kekacauan dalam cara berpikir dan sikap hidup. Menggantikan Pancasila sebagai dasar negara tampaknya tidak akan mungkin karena faham lain tidak akan mendapat dukungan masyarakat yang cukup luas. Pancasila dapat ditetapkan sebagai dasar negara karena sistem nilainya mengakomodasi semua pandangan hidup dunia tanpa mengorbankan kepribadian Indonesia. Akan tetapi, masalahnya adalah karena belum pernah ada usaha yang komprehensif dan intensif untuk menetralisasi gangguan faham lain secara memadai.

Dalam kondisi umat manusia sekarang tidak akan mungkin untuk sama sekali meniadakan gangguan terhadap Pancasila. Akan tetapi, kalau ada usaha yang efektif untuk menjadikan Pancasila pedoman dalam setiap aspek kehidupan bangsa, gangguan itu masih tolerable. Itu pula yang diperlukan untuk mewujudkan pendidikan bermutu. Segala aspek teknis pendidikan baru akan membawa manfaat konkret dan jangka panjang apabila pendidikan berpedoman pada Pancasila secara konkret, dan tidak hanya sebagai semboyan yang mungkin sekarang sudah ada.

Agar Pancasila tidak hanya semboyan dan makin mampu bergulat dan bekerja sama dengan faham serta pandangan hidup lain, perlu ada usaha yang nyata, komprehensif, dan intensif. Itu memerlukan kepemimpinan, baik kepemimpinan untuk menghasilkan konsep dan sistem maupun kepemimpinan untuk menyelenggarakan usaha itu.

Source : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0403/29/opini/885342.htm

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post