Kepemimpinan ABRI dan Masa Depan

Posted by Admin on Sunday, 10 November 1996 | Artikel

Republika Online , Minggu, 10 Nopember 1996

@Pengantar Red:Pengantar:

Buku ini saya tulis untuk generasi muda guna membantu mereka memahami sejarah. Inilah pernyataan Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo mengantar bukunya, kemarin (11/11).

Acara peluncuran buku terbaru Sayidiman berjudul Kepemimpinan ABRI dalam Sejarah dan Perjuangannya itu lalu diramaikan oleh bedah buku yang menghadirkan Mayjen TNI (Purn) ZA Maulani, Prof Dr Juwono Sudarsono, Dr Salim Said, dan Prof Dr Wagiono Ismangil sebagai pembahas. Berikut adalah catatan Eep Saefulloh Fatah atas jalannya diskusi.

________________________________________________________________

Tak ada prajurit yang bodoh, hanya ada perwira yang bodoh. Tak ada rakyat yang bodoh, hanya ada pemimpin yang bodoh. Ungkapan ini disitir Prof Dr Juwono Sudarsono untuk menggarisbawahi arti penting kepemimpinan.

Diakui oleh Juwono bahwa soal kepemimpinan merupakan soal penting dan krusial saat ini. "Indonesia adalah negara yang paling undermanaged di Asia Tenggara, dan ini tentu punya kaitan dengan rendahnya kualitas manajerial dan kepemimpinan," kata Juwono. Penyelenggaraan pemerintahan selama ini masih mengandalkan manajemen improvisasi, lanjutnya.

Di tengah diskusi tentang kepemimpinan ABRI, peringatan Juwono tentu menarik dicatat. Jika benar kualifikasi kepemimpinan kita layak dipersoalkan, maka persoalan yang sama layak pula diajukan pada kepemimpinan ABRI. Bukankah — seperti direfleksikan oleh buku Sayidiman Suryohadiprojo — kepemimpinan ABRI merupakan pemberi nafas penting bagi kepemimpinan nasional Indonesia, setidaknya dalam lebih dari separuh masa kemerdekaan? Ya. Merekonsruksikan kepemimpinan di Indonesia dengan menanggalkan perbincangan tentang kepemimpinan ABRI jelas sebuah kesia-siaan. Kepemimpinan ABRI nyaris bersifat omnipresent (selalu ada) sepanjang masa kemerdekaan itu, dan menempati posisi penting.

Dalam bukunya (p. 8-11), Sayidiman menyebut tujuh pilar yang telah menyangga kepemimpinan ABRI itu: (1) semangat kebangsaan; (2) semangat kerakyatan; (3) kebangkitan rakyat dalam bentuk gerakan sukarela; (4) semangat kemandirian; (5) semangat integrasi nasional; (6) semangat pertahanan rakyat semesta; dan (7) rasa tanggung jawab nasional.

Pertanyaannya: Adakah pilar-pilar yang menyejarah itu masih bisa disaksikan hari-hari ini? Mayjen TNI (Purn) ZA Maulani menjawab pertanyaan ini dengan kerisauan.

"Kalau tak diwaspadai, semangat kerakyatan ABRI bisa mengalami metamorfosa," tutur Maulani. Boleh jadi ABRI sekarang sulit untuk merasa dihidupi oleh rakyat, melainkan merasa ‘ditentukan nasibnya’ oleh pihak yang di atasnya. Potensi penurunan semangat kerakyatan ini, menurut Maulani, dibukakan oleh jarak fisik antara tentara dan rakyat yang memang makin menjauh.

Maulani tidak risau sendirian. Pandangan Dr Salim Said mengenai belum terujinya kepemimpinan ABRI oleh situasi internasional baru pasca Perang Dingin, misalnya, sebetulnya mewartakan kerisauan sejenis.

Dijelaskan Salim Said, di masa pasca Perang Dingin sekarang, paradigma internasional mengenai kepemimpinan militer mengalami pergeseran. Di masa Perang Dingin, politik militer memang terdukung oleh kecenderungan Barat untuk menolak Komunisme. Pemakzulan pemerintahan militer, misalnya, seringkali didukung untuk sekedar menghindari dan menahan kekuasaan Komunis.

Pasca Perang Dingin, paradigma yang berkembang berbeda. Desakan masyarakat internasional ke arah proyek-proyek sipilisasi menguat. Politik militer dianggap tidak relevan. Seperti dinyatakan Juwono: "Militer yang berpolitik digugat sebagai sesuatu yang tidak wajar, tidak sehat, dan tidak benar." Tentu tak ada paksaan untuk menerima pandangan internasional itu sepenuhnya. Namun hadirnya kerisauan dan tantangan itu tentu membutuhkan respons sepadan dari kalangan ABRI. Dalam konteks inilah, misalnya, semua pembicara diskusi sepakat agar semangat kerakyatan dipertahankan dan kembali dibangun sungguh-sungguh.

Dr Salim Said pmenawarkan respons dalam gaya lain. "Kita tak perlu cemas dengan keroposnya pilar-pilar kepemimpinan ABRI, kita rumuskan kembali saja doktrin-doktrin yang sudah ada sejalan dengan dinamika masyarakat," ajaknya. Dalam bahasa Jenderal (Purn) Soemitro yang hadir dalam diskusi: "Kita perlu membangun visi baru menuju abad ke-21. Visi yang menanggalkan pola dan budaya politik lama yang tak sesuai perkembangan zaman." Ajakan yang cukup hangat memperoleh sambutan dalam diskusi ini tampaknya memang kebutuhan penting dalam agenda masa depan kepemimpinan ABRI. Bahwa yang diperlukan adalah reaktualisasi doktrin-doktrin dan ajaran-ajaran yang telah tumbuh menyejarah dari masa lalu. Mengutip lagi Salim Said, "Setiap generasi tidak bisa hidup dengan jawaban yang sudah disediakan nenek moyangnya."

Source : http://www.republika.co.id/9611/10/10ABRI.16X.html

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Comment by chiki
2009-05-24 10:41:10


beli bukunya di mna y?
pingin cari nih…

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post